Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (32)


__ADS_3

    Fatih dan Billi yang sedang memasukan dan menata barang-barang milik Mentari dan si kembar, di mobil, Dikejutkan dengan teriakan Mentari.


"Mah, ini bukan anakku!" teriak Mentari dan membuat semua orang terkejut.


     Fatih dan Billi pun berlari mendekati Mentari, Aurora dan Sinar. Terlihat wajah pucat dari semuanya.


"Honey, ada apa?!" tanya Fatih yang baru sampai.


"Mas! Wanita itu ... naik taxi ... membawa si sulung!" Penyakit Mentari yang sedang panik suka buat kata-kata rancu, kumat lagi. Untungnya Fatih memahami maksud dari perkataan Mentari.


"Kamu jangan panik! Tenang. Jaga si bungsu. Kembali dulu ke atas bersama Mama dan Bunda, ya!" pinta Fatih dan Mentari yang masih menangis pun menganggukan kepalanya.


"Billi, kejar mereka pakai motor!" Perintah Fatih dan dia sendiri juga mendatangi parkiran dan meminjam motor yang ada di sana.


******


     Fatih menjalankan motornya dengan kecepatan maksimal. Bukan hal aneh buat dia membawa kecepatan 250/km per jam. Apalagi sekarang jalanan tidak terlalu padat karena sedang jam kerja.


"Apa sudah diketahui plat nomor mobil taxi itu?" tanya Fatih kepada seseorang lewat earphone.


"Oke. Baik, terima kasih!" 


     Fatih pun memberi tahu Billi ke mana arah mobil taxi itu pergi. Tidak butuh lama sekitar sepuluh menit. Fatih dan Billi bisa menghadang mobil taxi itu. Fatih sengaja mengambil posisi di depan mobil taxi. Sedangkan, Billi berada di sisi kiri. Sehingga, mobil itu mau tidak mau menurunkan kecepatannya saat Fatih dan Billi mengurangi kecepatan laju motor mereka. Sampai akhirnya Fatih dan Billi menghentikan kendaraan mereka.


     Fatih yang sedang dalam mode emosi level tujuh. Langsung menggedor kaca mobil agar dibuka. Namun, para penculik itu tidak juga membukanya. Maka, Fatih mengambil batu berukuran sangat besar yang berada di sisi jalan. Dia lemparkan ke arah kaca depan mobil. Sampai kaca itu pecah. Fatih mengatur kekuatannya, agar pecahan itu tidak berhamburan sampai ke kursi penumpang yang ada di belakang. Jangan sampai anaknya terkena pecahan kaca itu.


     Para penumpang mobil taxi itu, memilih bertahan di dalam mobil. Mereka terlalu takut menghadapi Fatih. Fatih pun naik ke kap mobil dan menarik si supir taxi, keluar lewat depan. Namun, terhalang karena dia masih menggunakan sabuk pengaman.


"Buka, kuncinya sekarang juga!" Perintah Fatih sambil menarik kerah baju si supir. Mau tidak mau si supir akhirnya, membuka juga. Dia tidak mau mati sendirian. Lebih baik mengajak temannya.


     Billi menarik paksa wanita yang duduk di kursi penumpang bagian belakang. Namun, si wanita itu melawan dan akhirnya Billi pun menghajarnya tanpa ampun. Tidak peduli kalau lawannya itu wanita. Dia hajar sampai tidak sadarkan diri, dengan beberapa pukulan dan tendangan.


     Fatih pun menghajar dua orang laki-laki rekan si wanita. Entah serangan yang seperti apa Fatih layangkan kepada dua lelaki itu, sampai mereka muntah darah. Namun, masih dalam keadaan sadar. Fatih sengaja tidak membuatnya pingsan karena ingin menginterogasi dulu para penculik itu.

__ADS_1


     Ada satu hal yang mereka lupakan. Kalau sekarang mereka itu sedang berada di jalan umum dan mengundang perhatian para pengguna jalan.


"Tuan, ada apa ini?!" tanya salah satu warga yang ikut berkumpul di sana.


"Penculikan bayi, Pak!" jawab Fatih.


"Maksudnya, orang-orang ini adalah penjahat?" tanya warga lainnya.


"Iya. Mereka menculik anak saya." Fatih pun membuka pintu mobil dan mengeluarkan anaknya.


     Untungnya wajah anaknya itu mirip dia, jadi orang-orang percaya. Fatih pun menghubungi tim Keamanan Keluarga Hakim, agar menginterogasi ketiga penculik anaknya.


"Assalammu'alaikum, Honey."


[ "Wa'alaikumsalam, Mas. Bagaimana? Apa si sulung selamat?"]


"Alhamdulillah, si sulung sudah selamat. Sekarang, Mas akan ke rumah sakit.


["Dia tidak terluka 'kan, Mas?"]


******


     Fatih pun kembali ke rumah sakit setelah datang Tim Keamanan Keluarga Hakim. Mentari dengan mata yang memerah karena menangis terus, langsung menghambur ke arah Fatih dan menggendong anaknya. Fatih pun menenangkan Mentari yang masih menggendong si sulung ke dalam pelukannya.


"Maaf, Bunda. Sayang," bisik Mentari dan di respon dengan tawa anaknya.


"Sudah di maafkan, jangan nangis lagi! Tuh si sulung juga sudah bisa tersenyum lagi melihat Bundanya." Kata Fatih sambil mengusap punggung Mentari.


      Satu kecupan Mentari berikan kepada suaminya yang sudah menjadi seorang pahlawan bagi anak-anaknya. "Terima kasih, Mas. Kamu sudah menjadi pahlawan bagi kami. Makin cinta, deh!"


     Mendengar kata-kata Mentari barusan, membuat Fatih, melambung hatinya. Dia pun dengan ciuman mesra dan pelukan hangat, tidak peduli ada mama, bunda dan Billi di sana.


******

__ADS_1


     Malam harinya acara akikah si kembar benar-benar meriah banyak tamu yang datang. Banyak doa-doa kebaikan diberikan untuk si kembar. Acara itu juga berbarengan dengan di pesantren milik keluarga Hakim, yang dijalankan oleh keluarga adik-adiknya Kakek Lukman. Sebagai pengurus pesantren yang sudah berdiri hampir satu abad itu. Para kerabat juga antusias menyambut keluarga baru, keturunan dari Khalid. Begitu juga dengan para santri. Walau keluarga Khalid terjun di dunia bisnis dan bukan pengurus dan pengajar di pesantren, tapi keluarganya selalu aktif terlibat dalam kegiatan yang diadakan di sana.


******


     Keluarga Khalid pun menginap di pesantren. Anak Fatih mendadak menjadi tontonan, saudara-saudaranya. Para sesepuh pun sangat senang karena si kembar selalu anteng dan merespon pembicaraan mereka. Satu Minggu, Fatih dan keluarganya tinggal di pesantren. Selanjutnya akan tinggal di rumah Ja'far, Kakek dan nenek si kembar sudah tidak sabar ingin dikunjungi juga sama mereka. Fatih masih bolak-balik mengurus Zahra. Ketidakhadiran Mirna, justru membuat perkembangan kesehatan Zahra berjalan baik. Aurora dan Fatih serta Abah yang selalu memberikan dukungan dan perhatian membuat hati dan pikiran Zahra merasa tenteram dan damai.


     Setiap pagi Mentari juga selalu melakukan video call dengan Zahra. Begitu juga dengan si kembar, walau hanya lima menit, tapi itu memberikan mood booster bagi Zahra.


     Fatih tidak sengaja menjatuhkan sendok, saat akan memberikan makan untuk Zahra. Dia pun mencucinya kembali dan saat akan dikeringkan. Handphone miliknya yang dulu hilang ada di dalam laci nakas. Fatih tidak pernah merasa pernah menyimpan handphone di sana. Apalagi terlihat ada bekas sidik jari yang jelas-jelas bukan miliknya. Ukuran jarinya lebih kecil dari jari Fatih.


"Sayang, apa kamu yang menyimpan handphone milikku ke dalam laci nakas?" tanya Fatih kepada Zahra, tanpa memberitahu handphone yang lama maksudnya.


"Tidak, Mas. Aku tidak pernah menyentuh handphone milikmu. Kenapa?" Zahra balik bertanya.


"Tidak. Hanya bertanya saja," jawab Fatih kemudian menyuapi Zahra.


'Apa ada suatu rahasia yang tidak boleh aku ketahui,' batin Zahra sambil memandang Fatih.


******


Cuap-cuap para tokoh: Billi vs Author


Billi: Thor aku kok, munculnya sedikit-sedikit?


Author: Nanti kalau banyak-banyak, Fatih cemburu.


Billi: Aku kapan beraksi lagi?


Author: Nanti kalau konflik berat dan puncaknya Masalah.


Billi: Akan ada konflik besar, ya?


Author: Kalau nggak ada konflik nggak akan ada cerita!

__ADS_1


Billi: Oke deh kalau begitu. aku akan menyiapkan diri.


******


__ADS_2