
Mentari yang baru saja keluar toilet, dihadang oleh seseorang. Ternyata orang itu adalah William, mantan suaminya.
"Oppa, mau apa?" Mentari menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya,takut nanti dicium kembali oleh William. Apalagi sekarang Fatih tidak ada disisinya.
William yang melihat tingkah Mentari malah dibuat terkekeh. Dia kini mengurung tubuh Mentari yang bersandar ke dinding.
"Baby, aku merindukanmu!" William berbisik dengan suara baritonnya, didepan wajah dan membuat Mentari, merinding. Saat mendengarnya, barusan.
"Oppa ... aku itu sudah menikah dan cintaku ... sekarang hanya untuk suamiku!"
"Apa kamu tidak mau memberi aku lagi kesempatan, untuk menebus semua dosa yang kulakukan padamu."
"Oppa, maaf saja kalau aku tidak mau kembali lagi kepadamu. Aku sudah bahagia menjadi istrinya mas Fatih."
"Baby, jangan gila kamu! Kenapa kamu mau menikah dengan Fatih? Dan mau di jadikan istri keduanya."
"Karena aku tahu kalau mas Fatih akan selalu ada untuk aku dan mempercayaiaku. Dan akan menginatkan aku bila sudah berbuat kesalahan. Ini adalah kehidupan pernikahan yang terbaik buatku. Aku merasa bahagia saat ini dan ikhlas menjalaninya."
"Aku tahu kamu terpaksa 'kan? Karena rasa balas budi kamu kepada Fatih, yang sudah menyelamatkan nyawamu!"
William semakin maju hingga kini tubuh mereka hampir menempel. Mentari tubuhnya semakin bergetar karena dia bisa mencium wangi parfum milik William, sama dengan yang tertinggal di bajunya saat tertidur di gazebo. Mentari begitu takut kalau beneran saat itu ada William di sana, dan melakukan sesuatu kepadanya saat di tidur.
"Ada apa, Baby? Kenapa wajah kamu mendadak pucat seperti ini?" William menelisik wajah Mentari, dan menyentuh wajahnya yang mengeluarkan keringat. Kemudian mengusapnya dengan lembut.
"Lepas! Menjauh dariku!" Mentari mendorong sekuat tenaga tubuh William, dan begitu ada celah, dia langsung melarikan diri dari kungkungan mantan suaminya itu.
Mentari langsung berlari ke arah meja tempat Zahra, menunggu. Para pengawal langsung berdiri, begitu melihat Mentari, datang dalam keadaan lari dan panik. Tubuhnya juga bergetar hebat.
"Zahra, ayo kita pulang!" Mentari kemudian mengambil tas jinjing yang di simpan di atas meja.
"Ada apa?" tanya Zahra yang ikutan menjadi panik karena melihat keadaan Mentari.
__ADS_1
"Nanti aku ceritakan di dalam mobil!" Mentari menarik tangan Zahra agar keluar dari resto itu.
"Tunggu! Bukannya kamu ingin sekali makan udang asam manis?!"
"Saat ini aku ingin pulang!" Mentari tidak menghiraukan keinginannya makan seafood lagi.
Zahra meminta salah seorang pengawalnya, untuk membungkus makanan pesanan mereka. Sebab dari semalam dia juga sudah ingin makan lobster dan cumi asam pedas. Begitu juga dengan Mentari yang ngidam ingin udang dan makanan seafood lainnya.
Meski sudah meninggalkan mall dan sudah di dalam mobil. Zahra melihat tubuh Mentari, masih bergetar. Kemudian, dia memeluknya untuk memberikan ketenangan.
"Tenanglah! Katakan ada apa? Apa sudah terjadi sesuatu kepadamu?" tanya Zahra bertubi-tubi tidak sabaran ingin tahu yang sudah terjadi dengan Mentari, saat pergi ke toilet tadi.
"Oppa Willi, tadi aku bertemu dengannya di area toilet," jawab Mentari yang masih dalam pelukan Zahra.
"Apa?!" Zahra mengurai pelukannya saking terkejut saat mendengar Mentari menyebut nama William.
"Tadi kamu bertemu Kakek Willi! Apa yang kakek Willi, inginkan?" tanya Zahra sambil melihat ke arah Mentari yang menundukkan kepalanya.
"Jangan mau!" Zahra menjadi marah karena mengingat lagi kelakuan si Kakek Willi kepada keluarga suaminya dan juga Mentari dulu.
Tanpa Mentari dan Zahra ketahui, salah seorang pengawal mereka, memberikan laporannya kepada Fatih, apa yang sudah terjadi kepada Mentari. Akibatnya Fatih, merasa marah dan gusar, serta ingin cepat-cepat pulang ke Indonesia, dan menghajar laki-laki yang sering dia sebut brengsek itu, akhir-akhir ini.
******
Mentari mengurung diri di kamar. Bahkan dia mengunci semua jendela dan pintu kamarnya. Dia takut kalau nanti William bisa menyusup ke dalam kamarnya. Dugaan kalau saat dia ketiduran di gazebo dan benar ada William bersamanya, membuat dia ketakutan. Otaknya William memang pintar kalau urusan taktik baik untuk urusan bisnis atau berkelahi dan melakukan penyusupan, tapi kalau masalah lainnya otak dia mendadak tumpul.
Kebaikan hati William, juga sering dimanfaatkan oleh orang lain, dan bodohnya lagi dia tidak pernah menyadarinya. Bahkan dimanfaatkan oleh lawannya sendiri. Bagi William, selama orang tidak berbuat jahat kepadanya dan keluarganya, berarti dia itu orang baik. Pemikiran dia yang seperti itu, sering membuat teman-teman jengkel kepadanya. Sebab dia tidak tahu kalau ada yang namanya musuh dalam selimut.
******
Fatih semakin panik karena tidak bisa menghubungi Mentari. Maka dia menelepon Zahra, dan menanyakan keadaannya. Zahra sendiri tidak bisa masuk ke kamar Mentari, karena dikunci dari dalam. Maka Fatih menyuruh membuka paksa pintu kamarnya, menggunakan kunci cadangan.
__ADS_1
Semua penghuni kediaman Khalid panik karena Mentari mengurung diri di dalam kamar, sampai Khalid dan Aurora, pulang ke rumah lebih cepat dari jadwal biasanya.
Begitu pintu kamar berhasil di buka, mereka melihat Mentari sedang tidur pulas sambil memeluk baju milik Fatih. Mereka yang tadinya panik, kini malah tersenyum geli.
"Sudah semuanya keluar! Biarkan Mentari tidur," titah Khalid kepada orang-orang yang berkumpul di sana.
Khalid pun memberitahu Fatih akan keadaan Mentari. Meski sudah di bilang baik-baik saja. Fatih tetap tidak tenang. Apalagi Kakek William masih berkeliaran di sekitar istrinya. Fatih tahu bagaimana perasaan kakek William kepada Mentari, karena dia juga saat ini sedang merasakannya. Rasa cinta untuk Mentari itu mudah sekali datangnya, tapi langsung terpatri kuat di dalam hati. Bahkan Fatih sendiri yakin rasa cintanya untuk Mentari tidak akan pernah hilang. Rata-rata orang yang mengalir darah keluarga Green, selalu setia kepada pasangan sejatinya. Mereka tidak pernah selingkuh, dan hanya maut yang memisahkan mereka. Meski mereka menikah lebih dari satu kali.
******
Rasa ketakutan yang dirasakan oleh Mentari. Membuatnya tidak mau keluar dari kamarnya. Makan pun diantarkan oleh pelayan. Bahkan saat Aurora mengajaknya jalan-jalan ke taman pun Mentari, langsung ketakutan dan tubuhnya bergetar hebat.
Mentari tidak menceritakan kepada siapa pun, tentang perkiraan dia, apa yang terjadi di gazebo taman belakang. Dia memang tidak punya bukti. Hanya saja saat Mentari mengingat kembali, dia merasa ada seseorang yang berada di dekatnya.
"Ya Allah, lindungi aku dan keluargaku. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi pertengkaran antara hamba-Mu yang lemah ini dengan suami hamba. Kuatkan 'lah rasa kepercayaan kami satu sama lainnya. Janganlah sampai terjadi kembali perpisahan di dalam kehidupan rumah tanggaku ini." Mentari selalu meminta kepada Tuhannya agar keluarga selalu dalam keadaan baik-baik saja, dan hanya maut saja yang memisahkan mereka.
******
APA YANG AKAN DILAKUKAN OLEH FATIH TERHADAP MENTARI, SAAT PULANG NANTI?
TAKTIK APA YANG AKAN DILAKUKAN OLEH WILLIAM AGAR BISA KEMBALI BERSAMA MENTARI?
TUNGGU KELANJUTANNYA YA.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1