
Mentari dan Fatih makan romantis bersama di atap Hotel Luna, salah satu aset kekayaan milik Fatih. Walau hotel ini sebenarnya pemberian dari Alex, sepupunya. Karena rencananya terhitung dadakan, maka mau tak mau mereka harus berbagi tempat sama beberapa pasangan yang sudah membooking tempat di sana terlebih dahulu.
Atap paling atas dari Hotel Luna, dibuat menjadi tempat yang enak dan nyaman untuk menghabiskan malam romantis bersama pasangan. Tempat ini khusus hanya untuk pasangan suami-istri. Tempatnya di dekorasi minimalis modern, dan banyak dihiasi oleh lampu-lampu warna yang indah, dan bentuk yang unik, jadi terasa di dunia dongeng. Bentuk meja dan kursinya juga berbagai bentuk unik.
Fatih mengajak Mentari makan malam berdua, karena dia merasa kalau Mentari sedang menjaga jarak dengannya sekarang. Fatih tidak suka itu. Maka dia sengaja ingin menghabiskan malam ini hanya berduaan dengannya.
Menu makanan yang dihidangkan juga makanan kesukaan Mentari, yaitu seafood. Fatih meminta kepada manajer hotel untuk menyiapkan kamar miliknya. Karena dia juga akan menghabiskan malamnya di sana.
"Mentari, apa rasa makanannya sesuai dengan lidahmu?" tanya Fatih sambil melihat ke arah Mentari yang duduk di depannya.
"Ya, aku suka, Mas." Mentari balik memandang pria tampan yang belakangan ini sedang berusaha dijauhi olehnya. Dia hanya bersinggungan dengan Fatih hanya saat menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Selain itu, Mentari akan berusaha untuk tidak terlibat menghabiskan waktu dengan Fatih dan Zahra. Dia lebih suka membaca buku dan mengaji, untuk menghabiskan waktunya.
Setelah makan malam mereka sudah habis. Fatih mengajak Mentari untuk pindah ke kursi yang bermodel sofa. Sambil duduk berdampingan, Fatih meminta Mentari duduk bersandar kepadanya.
" Mentari, tadi sudah aku bilang. Malam ini aku hanya milik kamu, begitu juga sebaliknya. Malam ini kamu adalah milik aku sepenuhnya."
Mentari melihat senyum menawan dari bibir Fatih yang membuatnya terasa sangat senang saat melihatnya. Bagi Mentari senyuman Fatih yang seperti ini. Selalu membuat jantung Mentari berdetak lebih cepat dan terasa ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.
Mentari senang saat hanya berduaan saja dengan Fatih, tanpa adanya Zahra di antara mereka. Karena saat Fatih menunjukan perhatian yang berlebihan kepadanya. Mentari bisa melihat sorot kesedihan dan kecemburuan di mata Zahra. Mentari tidak suka melihat Zahra yang seperti itu. Seolah dirinya telah menjadi tokoh antagonis yang sudah merebut hati suaminya. Mentari hanya ingin Zahra kembali seperti dulu, di saat awal pernikahannya dengan Fatih. Mereka selalu bersama-sama bertiga, melakukan apapun itu, tanpa ada rasa iri, dan cemburu.
Mentari mengakui kini hatinya sudah terpaut kepada laki-laki yang sedang mendekapnya saat ini. Namun dia tidak mau harus menjadi wanita egois yang akan melakukan segala cara, agar hanya dia yang boleh memilikinya. Mentari tahu cintanya Fatih untuk Zahra sangat besar dari dulu, jadi dia hanya akan mencintai pria ini dengan cara diam-diam. Biarlah cintanya bertepuk sebelah tangan. Karena bagi Mentari, mencintai bukan berarti harus memiliki.
__ADS_1
Mentari akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin, saat dirinya hanya berduaan dengan Fatih. Dia tidak akan terlalu banyak menuntut, kepada laki-laki yang sudah banyak berkorban dan membantu dirinya, saat dia terpuruk dulu.
Mentari terbuai dalam pelukan suaminya saat ini. Dihirupnya wangi tubuh yang sudah di rindukannya lebih dari satu Minggu ini. Mentari mempererat pelukannya, saat mendapatkan rasa nyaman di sana.
Fatih semakin mendekap erat tubuh Mentari saat hidung dan bibirnya menempel di leher miliknya. Fatih pun mencium kepala Mentari sesekali. Tanganya mengelus lembut perut wanita yang sedang mengandung anak kembar miliknya. Satu Minggu tidak memeluk erat tubuh Mentari dan mengelus lembut perutnya yang mulai membuncit, membuatnya merasa ada yang hilang dalam dirinya.
Selama seminggu itu, Fatih selalu mencoba mendekati Mentari. Namun selalu saja ada yang membuat dia pergi menjauh darinya. Seolah Mentari sedang memasang benteng pertahanan agar tidak ada yang boleh mendekatinya. Berciuman dengannya saja, selama seminggu itu bisa dihitung dengan jari tangannya. Pergi ke kantornya pun selalu di jemput oleh Fajar, adiknya yang kini sedang belajar mengelola perusahaan milik keluarganya.
Makan siang pun tidak pernah mereka lakukan selama seminggu ini. Alasannya akan pergi dengan rekan bisnisnya atau sudah makan siang dengan kliennya. Selama seminggu ini Fatih merasa hampa dalam hari-harinya. Tidak mendengar banyolan dari Mentari. Tidak ada canda tawa sesat sebelum dirinya tidur. Bahkan ciuman penyemangat dari sang istri, saat mengantarnya ke kantor perusahaan mertuanya itu, tidak bisa dia rasakan.
"Mentari, apa kamu senang malam ini?" bisik Fatih dengan suaranya yang lembut, dan membuat tubuh Mentari langsung meremang.
"Iya, Mas. Aku sangat senang." Mentari mendongakan wajahnya ke arah Fatih. Jarak yang begitu dekat membuat mereka berdua bisa merasakan hembusan napas satu sama lainnya.
Walau disana sudah tidak ada siapa-siapa, dan hanya ada mereka berdua. Fatih lebih suka menghabiskan waktunya dengan Mentari, di kamar. Dia merasa bebas mengekspresikan apa yang sedang dirasakannya, dan apa yang ingin diperbuatnya.
"Mentari, kita ke kamar saja, yuk!"
"Hm."
Maka Fatih pun menghabiskan malam itu dengan menyalurkan kerinduan kepada wanita yang telah mengacaukan hati dan pikirannya selama seminggu ini. Mentari pun sangat bahagia malam itu, karena bisa mengekspresikan rasa cinta diam-diam yang dia rasakan kepada Fatih.
__ADS_1
Dua orang yang saling jatuh cinta, tanpa tahu perasaan sesungguhnya dari pasangannya itu. Karena keterdiaman Mentari, yang menjadi penghalangnya di antara mereka berdua.
"Mentari aku mencintaimu … sangat mencintaimu," bisik Fatih ketika mereka telah menyelesaikan mengarungi surga dunia. Diciuminya ubun-ubun Mentari yang wangi shampo, dan didekapnya dalam pelukan hangat miliknya.
******
Di tempat lain, atau lebih tepatnya di rumah milik Fatih. Zahra sedang menangis tersedu-sedu seorang diri, di kamarnya. Karena dia tidak menemukan suami dan istri mudanya itu. Tadi dia meminta Andromeda, adik iparnya untuk mengantarkannya pulang.
Jujur Zahra tidak ingin membiarkan Fatih jatuh lebih dalam lagi, akan cintanya kepada Mentari. Zahra merasa dirinya bodoh menjadikan wanita yang punya banyak kelebihan itu menjadi madunya. Setidaknya, dia ingin cinta suaminya lebih besar untuknya, sampai kematian menjemputnya.
Namun saat kesempatan hidupnya bisa lebih lama lagi, Zahra menjadi serakah. Dia ingin memonopoli suaminya hanya untuk dirinya. Cinta suaminya untuk istri kedua, hanya boleh berupa sisa-sisa darinya. Dia ingin menjadi yang utama dan dipertamakan oleh suaminya itu.
Zahra yang masih menangis, terus mencoba menghubungi Fatih dan Mentari. Sudah ratusan kali dia melakukan panggilan kepada suami dan madunya itu. Puluhan pesan juga sudah dia kirim kepada mereka. Namun tidak ada satupun yang mereka balas dan angkat panggilannya.
Zahra yakin kalau saat ini, mereka pasti menghabiskan malam bersama-sama. Meski kemarin dia mencoba melakukan hubungan suami istri, tetap saja tidak bisa membuat suaminya puas, meski Fatih tidak bicara apa-apa. Katanya sudah untung tidak sampai membuat Zahra masuk rumah sakit lagi. Hanya karena ingin mendapatkan kepuasan dirinya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.