
Fatih yang hanya mendengarkan pembicaraan Arman bagian belakangnya saja. Karena dari tadi dia fokus kepada Mentari. Jadinya tidak memahami apa yang di bicarakan oleh Arman.
"Oh, kompak sekali kalian saling melindungi satu sama lain. Memang benar sich, sesama selingkuhan harus saling mendukung dan melindungi." Fatih menatap tidak suka kepada Arman.
Mentari hanya menundukan kepalanya, hatinya benar-benar sakit saat mendengar dengan telinganya sendiri. Kalau suaminya sudah menuduhnya selingkuh, dengan mulutnya sendiri, bahkan di depan umum.
"Aku tidak menyangka kalau Mas Fatih, akan memberikan tuduhan itu kepadaku," suara Mentari yang pelan tapi masih mampu didengar oleh Fatih dan Arman. Apalagi orang-orang yang ada di sana, terdiam memperhatikan mereka.
"Kamu tidak perlu menyangkalnya lagi!" Fatih yang sudah sangat marah karena merasa telah dikhianati, oleh istri yang dicintainya itu.
Kemudian Fatih melemparkan beberapa lembar foto ke meja mereka. Ada foto Mentari yang di peluk oleh Arman, foto mereka lagi tertawa bersama, lagi makan bersama.
"Apa masih perlu bukti lagi, kalau kalian berdua sudah berselingkuh!" Suara Fatih melengking tinggi, meluapkan amarahnya.
Mentari dan Arman, melihat foto-foto mereka yang diambil hari kemarin. Mentari sejak kemarin pagi, dirinya merasa seperti ada yang mengawasi. Ternyata benar saja, ada orang yang sengaja ingin mengadu domba dirinya dengan Fatih.
Mentari ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya telah terjadi, hari kemarin. Namun melihat keadaan Fatih yang sedang marah saat ini, itu semua akan sia-sia saja. Otaknya tidak akan bisa berpikir dengan jernih.
"Ini kejadiannya, tidak seperti yang Tuan bayangkan!" Arman mencoba menerangkan apa yang sebenarnya terjadi hari kemarin.
"Kamu pikir aku bodoh, tidak memahami gambar-gambar dari foto itu!" bentak Fatih kepada Arman.
Mentari hari ini dibuat terkejut oleh beberapa tindakan yang dilakukan oleh Fatih. Fatih bukanlah orang yang suka kegaduhan, apalagi ini menyangkut nama baik keluarganya. Dia juga tidak suka bentak-bentak orang. Berkata dengan kata-kata yang sangat menyakitkan bagi yang mendengarnya.
"Arman, sebaiknya kamu diam. Karena percuma berbicara dengan orang yang sedang marah. Kita tunggu sampai marahnya reda," kata Mentari saat Arman akan membalas perkataan Fatih.
"Bahkan kamu sudah berani terang-terangan membela dia, di hadapan aku?!" Fatih dengan nada mencemooh ke arah Mentari.
__ADS_1
Mentari mengambil semua foto yang ada di meja. Kemudian memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Berkas-berkas yang ada di kursi sebelahnya dia rapikan. Mentari dengan cepat meninggalkan restoran itu. Hati dan pikirannya sudah tidak mau mendengarkannya kata-kata yang diucapkan oleh Fatih.
Mentari melajukan mobilnya ke tempat yang nyaman baginya, untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dia melampiaskan tangisannya, seorang diri. Menumpahkan rasa sakitnya, akan perkataan suaminya itu. Entah berapa lama Mentari menangis di sana. Setelah puas menangis, Mentari kembali ke kantornya.
Karena pikirannya sedang kacau, dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Tanggung sedikit lagi kalau pulang. Maka dia menelepon Fatih, mau minta izin lembur. Namun panggilannya tidak di angkat olehnya. Jadinya dia menghubungi Zahra dan juga Aurora. Mentari bilang akan lembur karena tanggung, dia dan timnya akan bekerja menyelesaikan proposal kerja sama yang tadi siang telah disetujuinya.
Mentari pulang jam tujuh malam, saat mereka semua akan makan malam. Mentari mengucapkan salam pada semuanya. Mereka juga menjawabnya dengan senyuman hangat mereka, kecuali Fatih. Dia masih marah padanya.
"Mentari sini, makan dulu!" ajak Aurora sambil melambaikan tangannya.
"Iya, Mah. Mentari mau menyimpan tas dulu ke kamar," jawab Mentari sambil tersenyum.
Mereka makan malam dengan tenang tidak ada candaan dari Mentari. Karena dia sedang nggak mood untuk berbicara. Apalagi saat melihat Fatih, dia selalu memalingkan mukanya, saat mereka tanpa sengaja beradu pandang.
Mentari merasa teriris hatinya, saat suaminya itu tidak mau melihatnya. Mentari merapalkannya kata sabar dan tenang dalam hatinya, seperti mantra. Setelah makan, Mentari masuk ke dalam kamarnya dan mandi dengan air hangat ditambah wewangian aroma terapi.
"Apa kamu lupa Mentari, jadwal malam ini adalah milik Zahra. Tentu saja di tidak akan datang padamu," gumam Mentari sambil memeluk bantal, yang masih menyisakan aroma milik Fatih.
Saat pagi harinya, ketika akan jalan-jalan pun Fatih tidak menghiraukannya. Mentari hanya tersenyum miris melihat kelakuan suaminya itu. Mentari pun jalan-jalan pagi di belakang Zahra dan Fatih yang sudah tertinggal jauh. Mentari mencoba menguatkan hatinya.
"Ayo, Mentari bangkit! bangkit! Jangan gara-gara masalah ini kamu jatuh terpuruk," gumam Mentari menyemangati dirinya sendiri.
Saat sarapan pagi, Zahra juga yang melayani Fatih. Tidak sekalipun dia mengajak Mentari bicara.
"Mah, apa Mentari boleh bawa bekal makanan untuk makan siang nanti. Karena sedang ada proyek, takut nggak keburu makan siang," kata Mentari kepada Aurora.
"Mulai sekarang kamu tidak boleh pergi ke kantor lagi. Apalagi keluar rumah!" Itu kata-kata pertama Fatih untuk Mentari semenjak kemarin.
__ADS_1
"Tapi Mas, aku sedang mengerjakan proyek yang baru saja kemarin aku tandatangani. Mana mung--"
"Kalau kamu mau dengar kata suami, lakukan. Kalau masih kekeh, terserah saja. Aku tidak peduli!" kata Fatih kepada Mentari.
Bagai disambar petir, Mentari mendengar kata-kata dari suaminya itu. Air matanya langsung tumpah tanpa bisa dia cegah.
Semua orang yang ada di sana sangat terkejut mendengar kata-kata Fatih barusan. Khalid sampai menghentikan makannya dan mengalihkan pandangannya kepada putra sulungnya.
"Apa maksudmu, Fatih!" suara Khalid menggelegar di ruang makan.
"Kalau dia masih ingin menjadi istri Fatih, maka turuti kata-kata aku!" kata Fatih dengan suaranya yang tegas.
Tubuh Mentari bergetar begitu hebat, saat mendengarkan ucapan Fatih barusan. Bayangan harus bercerai kembali dengan laki-laki yang menjadi suaminya, sudah terbayang di depan matanya.
"Fatih! Apa kamu sadar dengan apa yang telah kamu katakan barusan!" Aurora menggebrak meja makan dengan keras, sampai air minum yang di gelas masih penuh itu pada tumpah.
"Iya, Fatih sadar! Fatih tahu apa yang sudah aku katakan barusan!" Ini pertama kali dalam hidup Fatih membalas ucapan orang tuanya dengan suara membentak.
Mentari yang sudah tidak kuat lagi mendengar perkataan Fatih. Pergi dari ruang makan dan mengunci dirinya di dalam kamar sambil menangis.
Zahra yang masih terkejut, dengan kelakuan suaminya itu hanya duduk terdiam. Dia merasa ada yang aneh dengan suaminya itu. Zahra seperti melihat orang lain, dan itu bukan suaminya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.