
Fatih baru selesai mandi, begitu juga Mentari baru selesai memandikan dan mendandani si kembar. Rencananya, hari ini mereka akan ikut menemani Fatih bekerja di kantor perusahaannya. Fatih dengan rambut yang masih basah dan hanya memakai handuk di pinggangnya. Malah memeluk tubuh Mentari yang hendak mengambil handuk miliknya.
"Mas, itu pakaiannya sudah aku siapkan. Tolong jaga dulu si kembar, ya!"
"Siap, Nyonya!" Satu ciuman Fatih berikan di pipi Mentari. Mentari pun hanya tersenyum menanggapi kelakuan suaminya.
Mentari pun mandi dengan cepat dan berdandan sederhana. Meski begitu tetap terlihat sangat cantik. Dia menggendong tas berisi perlengkapan si kembar. Mereka pun sarapan bersama dengan keluarga Ja'far. Fajar malah terlihat asik menggoda si kembar, sampai-sampai mereka tertawa terkekeh.
******
"Kak, si kembar bawa ke kantor aku saja, ya! Ngegemesin banget mereka." Fajar bukannya makan malah senang membuat si kembar tertawa.
"Tidak boleh! Nanti akan mengganggu kamu. Begitu juga nanti kamu malah asik bermain dengan si kembar. Bukannya bekerja!" Tolak Mentari atas permintaan adiknya.
Saat mereka makan sarapan, terdengar bunyi telpon rumah, memecah keseruan acara keluarga Ja'far. Maka Fajar pun mengangkat panggilan itu.
"Assalammualaikum,"
[Wa'alaikumsalam. Ini dengan rumah Ibu Sinar?]
"Iya, benar. Ini dengan siapa, ya?"
[Saya, pembantunya Bu Dewi. Apa bisa bicara dengan, Bu Sinar?]
"Iya, tunggu sebentar!"
Fajar pun memberitahu kalau ada pembantu Dewi ingin bicara dengan Sinar. Sinar pun merasa was-was takut terjadi sesuatu kepada Dewi.
Ternyata benar, apa yang diberitahu oleh pembantu Dewi. Membuat Sinar menjadi sedih, tetapi di sisi lain, dia juga tidak suka dengan perbuatan Anggit, yang telah dia perbuat untuk mencelakai Mentari. Tetapi, Sinar tidak bisa mengabaikan Dewi ketika dia terpuruk kembali. Sinar hanya menyayangkan saja kelakuan Anggit. Kenapa sifatnya berbeda dengan Dewi.
******
Fatih dan keluarga kecilnya pun berangkat ke kantor dengan suasana riang dari si kembar. Keduanya terus bersuara seolah sedang bernyanyi karena sedang melakukan perjalanan dengan kedua orang tuanya. Fatih dan Mentari pun tertawa melihat tingkah si kembar yang tidak mau diam.
Ketika mereka memasuki lobi kantor banyak karyawan yang memandang iri keluarga Fatih. Mereka memperlihatkan keharmonisan keluarganya. Apalagi Fatih memangku Raihan dengan satu tangannya dan satu tangannya memegang tangan Mentari. Senyum dari keduanya pun tidak pudar, sesekali mereka membalas sapaan dan salam kepadanya.
"Aduh Pak Presdir makin cakep aja!" ucap salah satu karyawan perempuan.
"Papa ter-Hot!"
"Pak Fatih, memang suami idaman."
__ADS_1
Pujian dari karyawan wanita banyak terdengar di lobi lantai satu dan itu membuat Mentari, agak cemburu. Begitu masuk lift khusus. Mentari meliriknya matanya sama Fatih.
"Kenapa, Honey?" tanya Fatih.
"Mas, senang 'kan dapat banyak pujian dari karyawan wanita tadi," jawab Mentari.
"Mas, lebih senang dapat pujian sama kamu. Apalagi omelan saat Mas, mengajak main si kembar sampai lupa waktu. Sudah kayak emak-emak," balas Fatih sambil tertawa terkekeh.
"Masa, Mas, semang aku berbuat dosa, begitu!" Mentari cemberut.
Fatih yang gemes akan tingkah Mentari, memencapit hidungnya. Si kembar malah tertawa melihat itu.
"Tuh lihat si kembar tertawa!"
"Bapak dan anak, sama saja." Mentari menjawail gemes pipi si kembar.
"Like Father like son." Fatih bicara sambil terkekeh.
******
Fatih sibuk mengerjakan pekerjaannya, yang dia tinggalkan selama dua hari kemarin. Mentari dan si kembar main di belah pojok ruangan yang sudah di ubah, untuk area bermain, si kembar. Mendengar suara istri dan kedua anaknya, membuat Fatih semangat bekerja.
"Mas, aku tidurkan dulu si kembar, ya! Sudah jam tidur siang," kata Mentari.
"Mas, istirahatlah sejenak!" Pinta Mentari begitu kembali ke ruang kerja Fatih.
"Pijat dong!"
Mentari pun memijat kepala Fatih, dengan lembut tapi bertenaga. Fatih begitu menikmati pijatan tangan Mentari sampai memejamkan matanya. Satu kecupan di kening, Mentari berikan untuk suaminya, sebagai tanda terima kasih karena sudah bekerja keras demi keluarganya. Niat awalnya ingin seperti itu, tetapi di nilai lain oleh Fatih.
"Mentari ... cintaku ... sayangku! Apa sekarang kamu sedang menginginkannya ...?" Fatih langsung membuka matanya.
"Menginginkan apa?" Mentari tidak mengerti.
Fatih pun menarik tangan Mentari agar maju ke depan dan didudukan di pangkuannya. Fatih memeluk tubuh Mentari dan mendaratkan kecupan di bibirnya.
"Bercinta?" bisik Fatih dan itu membuat Mentari membelalakkan matanya.
"Bukan itu maksudku. Aku hanya mengucapkan terima kasih banyak karena Mas, sudah bekerja keras demi keluarga kita." Mentari tersenyum manis sambil mengelus rahang Fatih.
"Tentu saja. Aku akan melakukan yang terbaik buat kalian semua," kata Fatih.
__ADS_1
"Lanjutkan lagi kerjanya!" Mentari membalikan badannya, melihat data statistik yang ada di layar laptop milik Fatih.
Mentari senang dengan peningkatan hasil produksi dari pabrik-pabrik yang membuat kebutuhan masyarakat. Penghasilan yang didapat juga terus mengalami banyak keuntungan.
"Bantuin dong!" Pinta Fatih yang masih memeluk Mentari dari belakang.
Akhirnya, Mentari pun ikut mengerjakan tugas Fatih, agar bisa meringankan pemeriksaan hasil laporan dari berbagai anak perusahaan cabang di luar kota. Mereka berdua pun bekerja bersama, di meja kerja Fatih kini ada laptop yang digunakan oleh Mentari. Sedangkan laptop untuk Fatih berada di sampingnya menggunakan meja kecil. Posisi Mentari masih di pangkuan Fatih karena tidak diizinkan untuk pindah. Jahilnya Fatih, tangan sebelah digunakan untuk mengetik dan sebelahnya lagi untuk memeluk Mentari dan kadang ciuman diberikan ke wajah istrinya itu, jika dia menanyakan sesuatu.
Tugas Fatih yang menggunung hampir selesai setengahnya saat waktu jam makan siang. Si kembar pun baru bangun, setelah kedua orang tuanya menyelesaikan makan siang mereka.
"Setelah selesai menyuapi bayi besar, kini giliran dua bayi kecil," kata Mentari.
Si kembar yang masih mengumpulkan nyawanya, diam tidak seenerjik biasanya. Tidak ada ocehan dari keduanya. Mereka cuma membuka mulut saat Mentari, menyusui keduanya. Fatih malah tertawa melihat keadaan si kembar yang antara sadar dan tidak sadar saat mereka menyusu. Matanya terbuka dan tertutup secara bergantian dan itu terlihat lucu.
Mendenagar suara Fatih tertawa membuat si kembar pun ikut tertawa. Kemudian, mereka mengoceh nggak bisa diam dan nggak jadi menyusu, inginnya main sama Ayahnya.
"Mas ... tuh jadinya mereka nggak mau menyusu," kata Mentari.
Fatih pun mengambil alih si kembar dan duduk di lantai beralaskan karpet. Bukannya melanjutkan kerjaannya. Malah Mentari yang kini bekerja di balik meja. Setengah jam kemudian, mereka baru menangis karena lapar dan haus.
"Nah ... nangis 'kan, kalau lapar. Sini sama Bunda!" Mentari berjalan ke arah Fatih yang sedang mencoba mendiamkan tangisan si kembar.
Saat Mentari menyusui si kembar, handphone milik Fatih berbunyi. Ada nama Aisyah tertera di layar. Hati Fatih sudah merasa tidak enak, kalau mendapat telepon dari keluarga Zahra.
"Siapa Mas?" tanya Mentari.
"Aisyah ... mudah-mudahan tidak terjadi hal buruk pada Zahra," jawab Fatih.
Mentari pun mendadak gelisah. Tadi dia menelpon Zahra dan akan menjemputnya sepulang dari kantor Fatih. Namun, Zahra masih ingin menginap di rumah Aisyah. Katanya Umi dan Abah akan datang menjenguk Aisyah dan bayinya. Kemungkinan mereka akan tiba malam hari. Mentari melarangnya untuk menginap karena Zahra harus banyak istirahat dan tidak boleh begadang. Mentari tahu semalam Zahra dan Aisyah begadang karena mereka menguploadnya di medsos milik Aisyah. Padahal dokter sudah melarang hal itu.
******
Kira-kira ada apa ya? Kenapa Aisyah menghubungi Fatih?
Tunggu kelanjutannya ya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.