Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (25)


__ADS_3

    Mentari mendadak pucat wajahnya saat melihat Fatih memegang kotak musik yang berisi video dia dan keluarganya dulu. Apalagi melihat mata suaminya yang memerah. Sudah dipastikan kalau saat ini dia sedang marah.


"Apa kamu belum bisa melupakannya?" tanya Fatih yang mengira kalau kotak musik berisi kenangan itu sengaja disimpan oleh Mentari di rumahnya.


"Kotak musik itu ... kiriman entah dari siapa ... dan kemarin ... ada paket ...." Saking paniknya Mentari dia sampai tidak bisa menyusun kata-kata yang ingin dia ucapkan.


     Fatih mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Mentari. Fatih merasa kalau Mentari merasa sayang kalau harus membuang kotak musik itu.


"Dengar Mentari! Sekarang kamu adalah istri aku. Jadi, lupakan dia! Kotak musik ini apa tidak bisa kamu buang saja?!" perintah Fatih kepada Mentari.


     Mentari terdiam tidak berkutik untuk sesaat. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Apa dalam hati kamu masih ada Kakek Willi?" tanya Fatih dengan tatapan tidak suka.


"Buka itu masalahnya, aku tidak mau membuang kotak musiknya. Karena di dalamnya ada video Allura dan Liam. Jadi, aku akan menyimpannya. Hanya itu yang aku punya sebagai kenang-kenangan bersama Allura dan juga Liam. Aku tidak punya yang lainnya," jawab Mentari dengan berderai air mata. Dia sama sekali tidak punya foto kenang-kenangan karena saat meninggalkan mansion Green, dia tidak membawa handphone miliknya yang berisi video dan foto dia bersama Allura dan Liam. Foto Liam satu-satunya yang dia miliki juga itu sebenarnya milik Sinar.


"Aku harap alasannya hanya Allura dan Liam saja. Tidak dengan yang lainnya. Aku ingin kamu lupakan semuanya tentang dia!" Kata Fatih, dan itu memancing emosional hormon ibu hamil.


"Maksudnya aku harus melupakan semua ingatanku di masa lalu?" 


"Iya, tentu saja! Karena sekarang kamu adalah istri aku!"


"Bagaimanapun juga William adalah bagian dalam kehidupan di masa lalu aku. Mana mungkin aku akan bisa melupakan dia. Walau sekarang aku sudah tidak mencintainya. Tetap saja aku pasti akan mengingatnya."


"Itu karena kamu tidak benar-benar mau menghapus dia dari ingatanmu!" 


"Kalau begitu buat aku amnesia! Agar aku bisa melupakan semua hal dimasa lalu aku! Atau panggil dokter terhebat yang bisa mencuci otak atau menghilangkan ingatan aku tentang William!" Mentari memukul-mukul kepalanya sambil menangis.


"Kenapa kamu ngomongnya begitu?!"


"Bukannya itu yang kamu mau! Aku melupakan kehidupan dengan William, semuanya! Dia itu orang dari masa lalu aku! Agar kamu tidak marah dan cemburu lagi! Apa kamu tidak bisa menerima diriku dengan masa lalu yang aku miliki?"


     Mentari begitu sangat emosional memilih pergi ke kamar orang tuanya. Dan membanting pintu kamar. Dia pun mengunci pintu, dan mengurung  diri sendiri.


"Mentari, buka pintunya! Kita harus bicara dulu," kata Fatih.

__ADS_1


     Fatih pun mengejar, dan mengetuk pintu beberapa kali. Dia mengakui masih saja selalu cemburu bila mengingat kehidupan Mentari di masa lalunya. Walau dia tahu Mentari juga mencintai dirinya.


Saat ketegangan diantara keduanya, handphone milik Fatih berbunyi. Ada nama Abah yang tertera di layar. Fatih pun menghembuskan napasnya. Kini pikirannya terlintas kepada istri pertamanya.


"Assalamu'alaikum. Abah ada apa?"


"Wa'alaikumsalam. Nak Fatih, apa bisa segera datang ke rumah sakit! Zahra muntah-muntah."


"Apa sudah panggil dokter?"


"Sudah. Saat ini masih sedang diperiksa."


"Baiklah, Fatih akan ke rumah sakit sekarang!"


******


     Dilantai bawah Ja'far dan Sinar mendengar Mentari membanting pintu. Mereka yakin kalau saat ini pasti sedang terjadi masalah antara Mentari dan Fatih. Namun, mereka tidak mau ikut campur nanti malah memperkeruh keadaan.


"Ayah, Bunda. Fatih titip Mentari. Dia sedang marah karena ada sesuatu yang membuat kita bersitegang. Kondisi Zahra di rumah sakit drop lagi. Kini Fatih harus ke rumah sakit."


"Apa pengobatannya tidak berjalan lancar?" tanya Ja'far.


"Sejauh ini perkembangannya sangat lambat," jawab Fatih.


"Kamu hati-hati di jalan! Mentari biar Bunda yang menenangkan. Biasa ibu hamil itu moodnya sering cepat berubah."


"Fatih titip Mentari, ya Bun."


******


     Fatih berlari ke ruang inap tempat Zahra dirawat. Ada Abah, Khalid, dan Mirna di sana. Fatih yang baru saja sampai, sudah mendapat pertanyaan beruntun dari Mirna.


"Nak Fatih, kenapa meninggalkan Zahra? Kamu sendiri tahu 'kan kalau istri pertama kamu itu sedang sakit parah. Kenapa ditinggal?" Mirna menatap Fatih dengan kesal.


"Fatih menemui Mentari. Bagaimanapun juga dia sama istri Fatih. Sudah satu Minggu kita tidak bertemu. Fatih juga punya tanggung jawab terhadap istri kedua. Dia juga sedang hamil, Fatih juga selalu mencemaskan dia dan bayi-bayi yang ada di dalam rahimnya. Lagian semalam sudah ada Abah yang menungguinya."

__ADS_1


"Tapi, lihat! Apa yang sudah terjadi dengan Zahra. Jika, tidak adanya kamu di sisi dia. Zahra langsung drop lagi kondisinya!" Lanjut Mirna lagi.


"Sudah Ummi. Fatih juga punya kewajiban terhadap Mentari. Dia juga sama punya hak untuk mendapatkan perhatian dari suaminya." Abah menuntun Mirna untuk duduk di kursi tunggu.


     Fatih memilih lebih baik diam. Setelah pertengkarannya tadi dengan Mentari, membuat emosi dan pikiran dia kacau. Sekarang tidak ada keinginan untuk berdebat. Abah pun menenangkan istrinya yang masih saja ngedumel.


     Sedangkan Khalid memilih diam, tidak ada gunanya berdebat. Ada yang lebih penting dari itu menurutnya.


"Bagaimana kabar, Mentari?" tanya Khalid saat Fatih duduk di sampingnya.


"Keadaan dia baik. Hanya saja tadi aku dan Mentari terjadi perdebatan," jawab Fatih.


     Khalid terkejut mendengar hal itu. Dia bertanya apa permasalahan yang sedang terjadi di antara mereka. Fatih pun menceritakan tentang kotak musik yang dia temukan di meja rias kamar Mentari.


"Kamu sebaiknya minta maaf sama Mentari. Cemburu boleh asal jangan buta. Seharusnya kamu yakin akan perasaan cintamu yang bisa membahagiakan Mentari. Sehingga dia tidak akan pernah bisa memalingkan dirinya kepada laki-laki lain. Meski nanti William datang menggodanya untuk rujuk kembali."


"Tidak! Fatih tidak akan membiarkan Mentari lepas dan kembali sama Kakek Willi!".


Fatih yang kelelahan baik pikiran, hati, dan fisiknya. Mengakibatkan dia tidak bisa berpikir dengan tenang dan jernih. Tekanan yang sedang dia rasakan sekarang membuat emosinya labil. Dia membutuhkan seseorang untuk bisa menumpahkan apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan olehnya. Fatih merasa semua selalu hal yang dia lakukan salah.


"Ya Allah, aku tahu Engkau tidak akan menguji hamba-Mu, melebihi kemampuannya. Aku yakin, pasti bisa mengatasi semua masalah yang sedang aku hadapi." gumam Fatih dalam hatinya. Matanya dia pejamkan seolah ingin mengistirahatkan segalanya. Hati, pikiran, dan raganya.


******


Aku lagi malas ngetik. Ditambah tugas yang masih menumpuk. plus tamu bulanan.


Nggak mood buat mikir. kalau ada kata-kata yang aneh atau typo maklum saja ya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2