Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (58)


__ADS_3

     Fatih mendatangi ruang isolasi. Dia melihat Zahra tersenyum lemah kepadanya. Matanya juga terlihat redup dan sayu. 


"Ada apa, Sayang?" tanya Fatih dengan lembut.


"Mas, a–aku rindu sama Mentari dan si kembar. Ingin sekali bertemu dengan mereka. A–Apa bisa hubungkan video call dengan mereka? Handphone punya a–ku sepertinya tertinggal di rumah A–Aisyah." Pinta Zahra dengan suaranya yang pelan dan tersendat-sendat.


     Fatih pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tangan yang tadi menggenggam jemari milik Zahra kini terlepas. Kemudian Fatih menarik meja pasien untuk meletakan handphone yang mengarah kepada mereka. Baru tiga suara panggilan, di layar sudah terlihat wajah cantik milik Mentari yang masih memakai mukena.


"Assalamu'alaikum, Mas. Eh, Zahra juga sudah bangun! Uh, rindu sekali aku padamu," Mentari memasang wajah imutnya saat melihat senyum Fatih dan Zahra. Senyuman itu pun berubah menjadi tawa karena Mentari mengedipkan mata dengan gayanya yang centil.


     Fatih dan Zahra pun malah terhibur dengan tingkah Mentari. Sampai lupa pada si kembar. 


"Tunggu, Mas. Tadi si kembar nyariin," kata Mentari sebelum menghilang dari layar.


     Zahra pun duduk bersandar di dada bidang Fatih. Dia menggenggam tangan suaminya itu.


"Mas, aku sangat bahagia. Bisa tertawa bersama seperti barusan," kata Zahra. Dalam hatinya dia ingin terus merasakan perasaan ini sampai akhir hayatnya.


     Tiba-tiba Mentari dan si kembar muncul di layar. Kedua bayi itu tertawa dan tangannya ingin meraih handphone yang diletakan dihadapan mereka. Si kembar dapat melihat wajah Fatih dan Zahra sehingga ingin menyentuhnya.


"Ya–yah!" Keduanya berteriak memanggil Fatih.


"Jagoan Ayah, apa kabar?" Fatih tersenyum lebar melihat kedua anaknya.


     Baru saja satu hari satu malam tidak bertemu dengan Rayyan dan Raihan. Fatih sudah sangat merindukan mereka. Dia juga senang melihat tingkah lucu anaknya yang terus berusaha meraih layar handphone.


"Baik, Yah," jawab Mentari menirukan suara anak kecil.


"Rayyan! Raihan!" Panggil Zahra sambil melambaikan tangannya ke arah layar.


"Bu–bu," kedua anak Mentari itu memanggil Zahra.


"Iya, Sayang. Ini Bu–bu," balas Zahra. Zahra senang karena si kembar mengenali dirinya.


     Kelimanya asik bercengkrama dan tertawa seperti saat masih di rumah. Bahkan, sampai mereka lupa waktu kalau tidak ada dokter masuk ke ruang isolasi. Dokter juga meminta Zahra untuk banyak beristirahat.


"Padahal baru sebentar aku bisa melihat si kembar dan Mentari." Zahra mengadu karena dia masih ingin bicara dengan Mentari.


"Besok lagi, Sayang. Kita bisa menghubungi mereka lagi," kata Fatih memberi semangat kepada Zahra. Agar dia bisa mendapat dukungan kalau besok mereka bisa bertemu lagi.

__ADS_1


"Mas, pulanglah dulu. Temui Mentari. Dia sangat merindukan kamu," ucap Zahra.


"Lalu ... kamu?" Fatih menatap wajah Zahra.


"Aku sebentar lagi juga tidur. Masih ada Abah sama Ummi, di ruang sebelah. Mas, juga sangat merindukan mereka bertiga 'kan?" Zahra menatap lekat wajah Fatih yang terlihat jelas rasa kekhawatiran pada dirinya.


"Mas, akan datang lagi nanti malam," balas Fatih.


     Zahra meraih tangan Fatih. Dia hanya menggenggam dan memejamkan mata saat Fatih mencium keningnya.


******


     Mentari duduk di lantai yang beralaskan karpet. Kedua bayi laki-laki itu malah asik bicara pakai bahasa bayi yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Kadang tertawa bersama, atau bicara dengan bergantian saling melihat satu sama lain.


"Walau dia sudah melihat Fatih dan Zahra lewat video call. Kenapa, masih juga rindu mereka, ya?"


"Rindu, siapa?" 


     Suara bisikan lembut terdengar dari arah samping. Mentari pun memalingkan wajahnya ke arah sumber suara.


     Saat Mentari melihat ke arah kanan karena dia merasa ada suara di sebelah sana. Satu ciuman dia dapatkan dari orang yang baru saja dibilang rindu.


"Ma–Mas, kenapa ...." Fatih lagi-lagi mencium bibir Mentari dengan mesra.


"Baik, Nyonya!" Fatih pun mencuri satu kecupan lagi di bibir yang selalu menjadi candunya.


"Mas!" Mentari malah dibuat gemas dengan tingkah suaminya yang kini berlari menaiki anak tangga.


******


     Waktu menunjukan jam 14.00 ada satu jam lebih lagi menjelang asar. Mentari dengan cepat membawa si kembar ke kamarnya dan menidurkan mereka. Untung kedua bayi tampan itu cepat tertidur, jadi dia punya banyak waktu untuk berduaan dengan Fatih.


     Mentari pun masuk ke kamar dan dilihatnya Fatih juga baru menyelesaikan mandinya. Dia hanya menggunakan handuk saja, untuk menutupi asetnya yang paling berharga.


"Mas ... jangan menggoda aku," kata Mentari begitu masuk ke kamar, langsung tergoda oleh tubuh milik Fatih.


     Kedua insan itu akhirnya menikmati waktu bercinta menjelang sore hari. Rasa rindu yang membuncah, mereka melampiaskan sampai benar-benar puas.


"Mas, kenapa pulang? Kalau ada apa-apa bagaimana?" tanya Mentari sedih.

__ADS_1


"Justru Zahra yang meminta aku pulang ke dalam pelukan kamu. Dia tahu kalau kita berdua sedang menahan rindu." Fatih mengusap puncak kepala Mentari dan senyuman manis tercipta di wajahnya yang terlihat berbinar-binar.


"Kayak di film saja. Rindu apanya? Mas setiap hari bertemu sama aku," kata Mentari.


     Mentari yang sedang memanyunkan bibirnya, membuat Fatih gemas dan satu ciuman panas kembali mereka lakukan. Keduanya pun mengulangi kembali menikmati indah surga dunia karena gairah naik ke level tinggi.


******


     Setelah sepanjang siang dan sore menghabiskan waktu bersama Mentari dan si kembar. Fatih kembali ke rumah sakit.


"Sweetie, My Lovely, aku harus panggil apa lagi. Jangan banyak pikiran! cukup pikirkan si kembar saja." Fatih memeluk tubuh Mentari di depan teras rumah saat hendak naik ke mobilnya.


"Mas juga, jangan begadang. Istirahat yang cukup," balas Mentari.


"Siap, Nyonya Fatih Green Hakim! Akan saya laksanakan!" Fatih memberi tanda hormat kepada Mentari. Mentari pun malah tertawa pelan.


******


Fatih ketika sampai di rumah sakit, dia meminta Abah dan Ummi untuk beristirahat dirumahnya. Namun, mereka tidak mau. Takut terjadi sesuatu kepada Zahra, saat mereka sedang tidak berada didekatnya.


     Akhirnya Fatih meminta Abah dan Ummi, tidur di ruangan khusus yang kemarin dipakai oleh Aurora, selama merawat William. Kebetulan, tadi pagi William pulang ke rumah Khalid, dan akan mendapatkan perawatan di sana.


     Kini tinggal Fatih dan Zahra yang tinggal di dalam ruang isolasi. Seperti kemarin, Fatih pun kembali mengaji di samping Zahra. Keadaan Zahra, selama ditinggalkan tadi baik-baik saja.


"Mas, tidurlah! pinta Zahra kepada Fatih, saat dirinya terbangun tengah malam.


"Hm. Tanggung sedikit lagi. Tidurlah, lagi!" suruh Fatih sambil mengusap punggung Zahra. Sebab, posisi istrinya itu menghadap kepadanya. Zahra pun kembali tertidur, dan terlihat senyuman di wajahnya.


"Semoga kamu selalu bahagia." Fatih mengusap lembut pipi tirus dan pucat milik Zahra.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjadikan kamu satu-satunya dalam hidupku. Terima kasih sudah setia menemani aku selama ini." Hati Fatih terasa tergores saat mengatakan semua ini.


"Semoga kamu tidak pernah menyesal telah menjadi bagian dalam hidupku." Air mata Fatih pun akhirnya meleleh.


"Zahra, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan kamu. Dan menjadi suamimu, orang yang dicintai olehmu."


******


Teman-teman ramaikan karya Aku untuk lomba Merubah Takdir.

__ADS_1


NO Pelakor dan Genre Romantis komedi. Biar nggak pada panas terus. Walau nanti akan ada bagian sedih, marah, yang dialami para tokohnya.



__ADS_2