Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI - WILLIAM (9)


__ADS_3

     Mentari sengaja hari ini, seharian mengikuti William. Biar nggak punya kesempatan untuk menemui Angel. Namun ternyata dugaan dia salah.


"Mentari, ayo ikut aku!" William menggandeng tangan Mentari dengan mesra.


"Mau kemana kita, Oppa?" tanya Mentari saat dirinya akan naik ke dalam mobil.


"Menemui Angel!" jawab William.


    Jantung Mentari terasa berhenti berdetak selama tiga detik. Ada rasa marah muncul di hatinya. Karena suaminya itu mau menemui selingkuhannya dengan mengajak dirinya.


   Selama perjalanan itu, Mentari diam saja. Dia sedang menata hatinya, agar nanti di sana tidak sampai meledak-ledak. William juga diam saja, tidak berusaha mengajak bicara Mentari.


   Hampir satu jam perjalanan yang mereka tempuh. Selama itu juga keduanya terdiam tidak ada yang bicara. Akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. William turun terlebih dahulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Mentari. Digandengnya tangan Mentari dan berjalan ke sebuah rumah sederhana yang berukuran kecil.


"Ayo kita masuk!" ajak William saat Mentari melihat rumah yang kecil dan sederhana, tapi nyaman untuk ditinggali.


    Mentari pun berjalan mengikuti William dan menaiki anak tangga yang hanya beberapa buah itu. Ternyata pintu rumah itu tertutup, dan William pun mengetuknya beberapa kali.


"Angel! Ini aku!" William memanggil Angel dengan suara yang lumayan keras.


"Masuk saja! Tidak di kunci pintunya!" Terdengar suara perempuan dari dalam rumah.


"Ayo," William menggandeng tangan Mentari.


    Mentari hanya diam dan mengikuti suaminya itu, masuk ke dalam rumah. Ternyata di dalam rumah itu hanya ada sedikit perabotan.


    Terdengar suara orang menuruni anak tangga. Seorang wanita dewasa berpakaian panjang-panjang dengan wajah yang sangat pucat, menuruni anak tangga di depan Mentari dan William.


"Hai, William. Oh … apakah dia, Mentari?" Angel yang berdiri di depan William, melihat ke arah Mentari.


"Ya, dia adalah Mentari. Wanita yang sangat aku cintai sekarang," jawab William sambil tersenyum bahagia.


"Iya … iya. Tidak perlu di perjelas seperti itu, aku juga sudah tahu." Angel menatap sebal ke arah William.


"Halo, Mentari senang bisa bertemu denganmu!" Angel mengulurkan tangannya yang kurus dan ruas jarinya panjang-panjang.

__ADS_1


"Aku juga senang bisa bertemu denganmu, Angel." Mentari mengulurkan tangannya dan tersenyum hangat ke arah Angel.


"Ah ternyata benar kata William. Kamu adalah wanita yang sangat cantik, apalagi saat tersenyum seperti barusan!" Angel memegang pipi Mentari yang mulus dan sedikit merona.


   Mentari terkejut saat mendengar, perkataan dari Angel barusan."Apa maksudnya, ya? Apa mereka sering membicarakan aku saat mereka bertemu?" gumam Mentari dalam hatinya.


    Angel yang melihat Mentari mengerutkan alisnya, hanya tertawa. Melihat wajah Mentari itu membuatnya ingin terus tersenyum.


"Mentari apa kamu tahu, kalau setiap hari William selalu membanggakan dirimu di depan teman-temannya?" Angel tersenyum ke arah Mentari.


    Mentari melihat ke arah matanya Angel. Ada rasa tidak suka dari tatapan matanya. Namun Mentari membiarkannya, tidak mau peduli.


"Oh, ya. Seperti apa? Karena selama ini Oppa Willi sering menggombal kepada wanita-wanita yang ditemuinya," sindir Mentari sambil tertawa basa-basi.


    William mengerutkan alisnya saat mendengar ucapan Mentari barusan. Dia merasa Mentari lain dari biasanya.


"Dia bilang sudah menikahi gadis kecil yang berwajah cantik. Punya hobi makan, dan sering bertingkah manja dan lucu seperti anak kecil," jawab Angel sambil mengerlingkan matanya ke arah William yang berdiri di samping Mentari.


"Hahaha … iya aku adalah gadis kecil yang manja, beruntung bisa menikah dengan Oppa Willi, karena punya wajah yang cantik!" Mentari menatap William ingin melihat ekspresi wajah William.


    William mengajak Angel makan siang bersama. Dalam perjalanan itu hanya Angel yang bicara dengan William. Sedangkan Mentari hanya menjawab seperlunya saja.


     Mereka makan di restoran italia, tempatnya sangat nyaman dan tenang. Tidak banyak pengunjung di sana. Mentari tidak terlalu menyukai makanan Italia. Makanya dia hanya makan spaghetti saja yang masih bisa diterima oleh lidahnya. Berbeda dengan Angel yang begitu lahap memakan semua makanan yang ada di atas meja. Begitu juga dengan William yang hanya memesan pizza berukuran medium.


    Mereka bertiga menghabiskan waktu sampai sore hari di daerah perbukitan itu. Mentari tidak begitu memperdulikan keberadaan Angel, dia lebih suka memperhatikan awan yang bergerak atau dedaunan yang tertiup angin. Karena dari tadi Angel terus saja mengajak bicara William. Sambil menatapnya penuh memuja.


    William merasa tidak enak, karena sejak tadi pagi Mentari berubah menjadi pendiam. William tahu kalau Mentari sudah membuka handphone miliknya. Serta membaca pesan yang dikirim oleh Angel. Makanya dia sengaja mengajak Mentari untuk bertemu dengan Angel.


"Oppa Willi, sudah sore. Sebaiknya kita pulang!" ajak Mentari sambil melihat jam tangan bermerk yang melingkar di tangan kirinya.


"Kenapa sudah mau pulang?" tanya Angel dengan nada terkejut karena tiba-tiba mengajak William pulang.


"Maaf, Angel aku harus memasak untuk makan malam nanti," jawab Mentari sambil melihat ke arah Angel dan William bergantian.


 "Kita makan malam saja di sini!" pinta Angel sambil tersenyum semanis mungkin kepada Mentari.

__ADS_1


"Maaf, tapi ibu mertua juga pasti ingin makan malam bersama dengan keluarganya," balas Mentari dengan menatap balik Angel.


    Akhirnya Mentari dan William pulang, dan meninggalkan Angel seorang diri di rumahnya. Dalam perjalanan pulang pun Mentari diam dan malah memejamkan matanya. Dia melakukan itu, guna menghindari percakapannya dengan William.


    William melihat ke arah Mentari yang duduk dan langsung memejamkan mata begitu mobil mereka keluar dari rumah Angel. Diusapnya kepala yang ditutupi oleh jilbab lebarnya, dengan penuh rasa sayang. William tahu kalau saat ini Mentari sedang pura-pura tidur.


"Sepertinya kamu tidak menyukai Angel?" William memulai pembicaraannya.


"Padahal aku berharap kalian bisa menjadi teman," 


"Angel itu hanya masa lalu dariku, yang tidak akan bisa masuk lagi ke dalam hatiku ini. Karena di hatiku sekarang sudah penuh oleh kamu, Mentari."


"Aku hanya ingin menolong Angel yang divonis penyakit HIV/AIDS oleh Dokter,"


"Percayalah kepadaku! Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai."


    William terus saja berbicara tanpa meminta Mentari menjawabnya. Dia hanya ingin Mentari mendengarkan isi hatinya.


"Angel itu hidupnya penuh penderitaan. Tidak seberuntung hidup kita." Lanjut William sambil melihat sekilas kearah Mentari.


    Mentari hanya diam saja, karena saat ini hatinya sedang dongkol. Semenjak dia bertemu dengan Angel tadi siang. Angel memperlihatkan kepada Mentari, kalau dia juga orang penting dalam hidup William. Jadinya Mentari diam dan mengamati dahulu, apa yang sebenarnya sedang terjadi. 


    Tadi pagi, Mentari sempat menelepon Cantika dan membicarakan tentang isi chat antara suaminya dengan perempuan bernama Angel. Dengan penuh emosi, Mentari mengungkapkan isi hatinya. 


     Cantika memberi saran jangan buru-buru ambil kesimpulan dengan informasi apa yang kita tahu saat ini. Karena itu belum mencakup semua kejadian yang sebenarnya sedang terjadi. 


    Mentari menelaah dulu setiap ucapan dan perbuatan dari Angel dan William. Mentari juga tidak mau menghancurkan rumah tangganya yang baru seumur padi itu. Apapun yang terjadi dia akan mempertahankan rumah tangganya. Mentari tidak suka dengan perselingkuhan dan perceraian.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2