Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN ZAHRA (28)


__ADS_3

     Mentari, dan Zahra akan makan siang bersama dengan Fatih. Sesuai dengan rencana tadi pagi saat mereka jalan-jalan mengelilingi rumah mertuanya. Mereka berdua mendatangi kantor Fatih. 


"Assalamu'alaikum," salam Mentari dan Zahra bersaman saat membuka pintu kantor Fatih.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


     Saat masuk ke dalam kantor suaminya. Mereka melihat ada Jihan, Alif, dan Yuni, sedang ada di ruang kerja Fatih. Wajah mereka menunjukan raut tidak senang.


"Ada apa ini?" tanya Mentari setelah masuk ke dalam, dan di ikuti oleh Zahra.


     Fatih yang melihat kedatangan kedua istrinya. Langsung berdiri dari kursi kebesarannya. Dia menyambut keduanya dengan pelukan dan ciuman di kening mereka.


"Ada apa ini, Mas?" tanya Zahra kepada Fatih saat melepaskan pelukannya.


    Fatih menarik napasnya, dia tidak mau mengungkit masalah tentang obat perangsang lagi. Namun mau tidak mau, dia harus melakukannya.


"Jihan memasukan obat perangsang ke dalam minuman Alif," jawab Fatih dan itu membuat Zahra shock.


    Zahra menatap dengan pandangan marah ke arah Jihan. Zahra tahu, pasti bukan Alif sasaran sebenarnya. Dia marah karena lagi-lagi Jihan telah berusaha berbuat jahat kepada keluarganya.


    Zahra menghampiri Jihan dan hendak menamparnya kembali seperti dulu. Namun lebih ke dahuluan oleh Mentari. Jihan merasa panas pipinya, dan telinganya mendengung. Akibat tamparan begitu keras, yang di layangkan oleh Mentari di pipi kirinya.


    Zahra sampai menganga saat melihat Mentari menapar Jihan. Saking kerasnya tamparan Mentari, sampai terdengar suaranya. Bukan hanya Zahra yang terkejut oleh tindakan Mentari. Fatih, Alif, dan Yuni juga begitu terkejut. Mata mereka sampai terbelalak.


"Kamu berniat jahatkan pada suamiku!" bentak Mentari. Karena bayangan malam hari ketika Fatih tersiksa akibat dari obat perangsang kembali terlintas dalam ingatannya. Mentari sangat kasihan melihat Fatih pada malam itu. Kalau sekarang terjadi lagi, maka Mentari tidak akan memaafkannya lagi.


"Jihan kamu telah menyalah gunakan, kepercayaan aku. Dengan memasukkan kamu kerja di sini, karena desakan dari ibu dan bibi. Aku sungguh kecewa pada kamu!" teriak Zahra di depan Jihan yang kini menangis tergugu.


"Untung Pak Alif ada istrinya yang bekerja di sini. Kalau tidak … kamu bisa saja membahayakan nyawa orang lain!" lanjut Zahra sambil mengguncangkan bahu Jihan. Kini suara tangis Jihan pecah memenuhi suara ruangan kantor Fatih.


     Fatih mencoba melerai Zahra dan Jihan. Dia menarik tubuh istri pertamanya itu, dan mendekapnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu melakukan ini Jihan! Kenapa?!" teriak Zahra yang ada di dekapan Fatih.


      Mentari yang melihat Jihan hanya menangis saja, tanpa meminta maaf kepada mereka, jadinya gemas. Rasanya dia ingin mencakar wajahnya itu.


"Jihan kamu harus mempertanggungjawabkan atas tindakan kamu, tadi!" Yuni berkata dengan suaranya yang tegas.


     Alif memandang Jihan dengan geram. Karena dirinya telah menjadi korbannya. Dia bersyukur ada istrinya yang bekerja di sini. Bila tidak … sudah habis dia.


"Apa kalian akan melaporkannya ke polisi?" tanya Mentari sambil melihat ke arah Alif dan Yuni.


"Tidak! Aku mohon jangan laporkan aku ke kantor polisi," Jihan akhirnya mengeluarkan suaranya juga.


"Lalu kamu ingin lepas begitu saja, setelah melakukan kejahatan kepada orang lain!" bentak Mentari karena sudah berang dengan perbuatan Jihan.


"Aku hanya menjalankan apa yang disuruh oleh Mama aku," jawab Jihan sambil menangis tergugu.


     Zahra semakin marah, dia sudah tahu kalau istri pamannya itu bukan wanita baik. Bibinya juga sering memberi pengaruh buruk kepada ibunya.


******


    Kini semua orang duduk di ruang rapat di kantornya. Widuri memeluk Jihan yang menangis kembali saat melihat ibunya itu.


"Ada apa ini Nak Fatih?" tanya Ustadz Ahmad kepada menantunya.


"Begini Abah, tadi Jihan memasukan obat perangsang ke dalam minuman Alif. Dia mengira minuman itu punyaku. Jadinya Alif yang merasakan penderitaan karena gairahnya yang tiba-tiba meningkat. Untung saja ada istrinya yang bekerja di sini. Seandainya saja tidak ada istrinya, bisa-bisa nyawa Alif terancam. Apalagi setelah di cek di laboratorium, di air minum itu terkandung zat berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak." Fatih menjelaskan menggunakan bahasa yang kira-kira dipahami oleh semua orang.


"Astagfirullahaladzim, Jihan kenapa kamu melakukan hal yang sekeji itu kepada orang lain?!" Ustadz Ahmad mengelus dadanya dan melihat ke arah Jihan yang masih berada dalam pelukan Widuri.


"Kang Ahmad, jangan menyalahkan Jihan. Bisa saja itu perbuatan orang lain dan menuduh Jihan sebagai pelakunya!" Widuri tidak terima saat anaknya menjadi tersangka dan dihakimi oleh banyak orang.


    Mentari dan Fatih saling pandang, dan mengerutkan kening mereka, saat mendengar perkataan Widuri barusan. Kemudian Mentari tersenyum miring, karena pemikiran Widuri yang punya daya khayal yang tinggi.

__ADS_1


"Ini bukan pertama kalinya, mereka melakukan ini, Abah!" kata Zahra membantah Widuri.


"Dulu saat Bibi Widuri dan Jihan tinggal serumah dengan kami pun. Mereka pernah melakukan hal yang sama kepada Mas Fatih," lanjut Zahra sambil memandang sinis ke arah Widuri dan Jihan.


     Mendengar pernyataan dari putri sulungnya itu, membuat Ustadz Ahmad sangat terkejut. "Apa maksud kalian melakukan itu kepada menantu aku!"


    Widuri dan Jihan merasa ketakutan mendengar suara Ustadz Ahmad yang meninggi. Karena selama ini jarang ustadz Ahmad berbicara dengan suaranya yang tinggi.


"Ayo jawab, Bibi!" pinta Zahra kepada Widuri yang kini wajahnya sangat pucat.


     Suasana di ruangan itu menjadi tegang dan hening. Tidak ada yang bicara seorang pun. Fatih memegang jemari tangan Zahra, berusaha menenangkan perasaan istrinya itu.


"Kalau tidak mau menjawab biar aku saja yang menjawabnya," kata Zahra lagi.


"Apa Abah tahu, saat malam itu minuman Mas Fatih diberi obat perangsang oleh Bibi Widuri. Kemudian Jihan menawarkan keperawanannya kepada Mas Fatih yang saat itu menderita karena menahan harus napsunya. Saat itu Mentari sedang ada acara di keluarganya. Jadi Mas Fatih harus meredam keinginannya dengan berendam air dingin. Padahal saat itu sudah malam hari!" jelas Zahra sambil berderai air matanya, teringat saat malam itu dia tidak berdaya karena tidak bisa menolong Fatih.


    Ustadz Ahmad mendengarkan cerita Zahra sambil beristighfar dan mengelus dadanya. Karena begitu terkejut dengan berita yang baru diketahuinya hari ini.


"Untungnya, Mentari cepat-cepat pulang. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi kepada Mas Fatih."


    Zahra menghapus air mata di pipinya dengan menggunakan sebelah tangannya. "Apa Abah tahu, kenapa mereka melakukan itu?" Zahra menarik napasnya, "itu karena Bibi Widuri ingin Jihan dijadikan istri ketiganya Mas Fatih. Makanya malam itu Jihan mengajak Mas Fatih untuk berzina dengannya."


"Apa semua itu benar Widuri? kamu mau menghancurkan masa depan anak kamu!" Ustadz Ahmad menatap murka kepada adik ipar dan keponakannya itu.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2