Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (53)


__ADS_3

     Mentari yang masih memegang tangan William, bisa merasakan kalau ada balasan genggaman, walau terasa lemah.


"Oppa, ayo buka mata kamu!" pinta Mentari.


"Kakek Willi, bangunlah dan lihatlah sendiri kalau saat ini Mentari, sudah bahagia berada di sisiku," kata Fatih.


    Mata William mulai membuka, dan senyuman terlihat di wajahnya. Meski hanya sedikit bibirnya tertarik. Fatih pun memanggil dokter, untuk memeriksa keadaan William saat ini.


    Dokter pun melakukan pengecekan secara menyeluruh. Kantong labu darah dari Ghazali dan Isabella juga semalam sudah sampai dan sudah ditransfusikan, semalam. Kondisi organ dalam William secara keseluruhan dapat berfungsi dengan baik.


     Mentari dan Fatih merasa senang karena William sudah sadar sepenuhnya, meski masih lemah. Aurora dan Khalid juga langsung datang ke rumah sakit, begitu mendengar kabar kesadaran William. Sedangkan, Alex sudah pulang tadi pagi.


"Kenapa Oppa tidak secepatnya sadar, kemarin? Semua orang begitu mengkhawatirkan keadaan Oppa." Mentari duduk di tepi brankar bersama Fatih, begitu William kembali ke ruang rawatnya setelah melakukan pengecekan.


"Kakek Willi, kedepannya jangan melakukan hal yang nekad!" pinta Fatih.


    Hanya senyuman yang diberikan William. Dia belum bisa banyak bicara. Hanya air matanya yang keluar membasahi pipinya. Dia bahagia karena orang-orang yang dia sayangi masih peduli padanya.


     Mentari pun menghapus air mata yang jatuh di pipi William. "Oppa harus cepat sembuh!"


     William pun menganggukkan sedikit kepalanya. Dia senang karena Mentari masih peduli padanya. 


"William akan Mama rawat sampai sembuh. Jadi, tinggalan dulu di Indonesia. Mansion Hakim juga masih menerima kamu," kata Aurora.


    William pun mengalihkan pandangan kepada ibu asuhnya. Aurora pun memeluk tubuh William. Terlihat jelas dari sorot matanya kalau dia ingin dipeluk.


"Kalian ini sudah pada besar, tapi jika di dekatku kelakuannya kembali jadi anak-anak." Aurora memeluk William dan mengusap kepalanya.


     Fatih pun hanya bisa tersenyum lima jari karena dia juga kadang masih suka bermanja sama mamanya. Apalagi kalau curhat kadang sambil tiduran di paha Aurora. Begitu juga dengan Ghazali, tiap pulang ke Indonesia, dia selalu memonopoli Aurora sampai dia puas.


     Mentari dan Fatih pun undur diri untuk pulang. Mereka tidak mau terlalu lama meninggalkan si kembar yang kini sedang bersama Sinar dan Ja'far.

__ADS_1


******


     Mentari telah selesai menyusui si kembar di kamarnya. Rencananya mereka akan menginap satu malam. Kebetulan Zahra juga sedang berkunjung ke rumah adiknya dan akan menginap di sana.


"Mas, kapan jadwal Zahra melakukan kemoterapi lagi? Katanya akan di undur karena dokternya pulang ke Singapore." Mentari yang berbaring dalam pelukan Fatih tiba-tiba mengingat Zahra.


"Iya, satu Minggu dimundurkan," jawab Fatih.


"Apa itu tidak apa-apa? Aku takutnya akan memberi efek buruk untuk kesehatan Zahra," kata Mentari lagi.


"Asal Zahra bisa menjaga kondisi tubuh dan tidak lupa minum obat. In sha Allah, tidak akan terjadi apa-apa pada Zahra."


"Masalahnya, belakangan ini cuaca tidak begitu bersahabat. Kadang panas tiba-tiba hujan badai, atau suhu yang begitu dingin. Aku takutnya kondisi Zahra, tidak kuat dengan cuaca ekstrem kali ini."


"Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan baik," balas Fatih.


******


"Wah, anaknya Mentari ganteng-ganteng!" Kata seorang ibu yang kebetulan sedang menyapu di pinggir jalan.


"Alhamdulillah, Bu. Itu karena Ayahnya berwajah ganteng," balas Mentari.


     Fatih yang mendengar pujian dari Mentari, merasa senang. Senyuman pun langsung tercipta dari bibirnya yang merah alami karena tidak pernah merokok.


"Mentari, kamu sangat beruntung dapat suami yang ganteng juga kaya!" kata si ibu lagi.


"Alhamdulillah, Bu. Selain itu, Mas Fatih juga seorang yang penyayang dan penyabar," lanjut Mentari memuji Fatih lagi.


"Pasti kamu sangat Mencintainya. Iya 'kan, Mentari?" tanyanya.


"Tentu saja, Bu. Selain mencintai, aku juga menyayangi, Mas Fatih."

__ADS_1


"Senang sekali mendengarnya!" 


"Terima kasih, Bu. Kami permisi dulu, mau melanjutkan jalan-jalannya," kata Mentari.


    Fatih pun berjalan dengan sebelah tangannya merangkul Mentari. Senyum di wajahnya terus terpatri, tidak hilang semenjak percakapan Mentari dengan tetangganya tadi.


    Mentari yang melihat kebahagian di wajah Fatih, ikut tersenyum senang. Dia pun merangkumkan sebelah tangan kanannya. Sedangkan sebelah tangan kiri mendorong stroller untuk bayi kembar bersama tangan Fatih yang satu lagi.


"I love you!" Satu ciuman di kening Fatih berikan kepada Mentari.


"I love you too!" Mentari menjinjitkan kakinya mencium pipi Fatih.


******


    Dewi yang sedang menyiapkan sarapan, dikejutkan dengan kedatangan tamu. Saat membuka pintu, ternyata ada dua laki-laki berseragam polisi.


"Assalammu'alaikum. Selamat pagi," sapa salah seorang polisi.


"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Pak?" Dewi merasa jantungnya berdetak dengan cepat. Dia begitu trauma, jika ada polisi datang ke rumahnya. Dulu, polisi datang ke rumahnya untuk menjemput Anggit, atas laporan percobaan pembunuhan terhadap Cantika.


"Kami membawa surat penahanan terhadap nona Anggit. Atas kasus penculikan berencana dengan Nona Melisa," jawab polisi satunya lagi.


     Ternyata apa yang ditakutkan oleh Dewi, kini menjadi kenyataan. Bahwa putrinya harus merasakan kembali dinginnya ruangan di balik jeruji besi. Dia yang kemarin berusaha untuk mengeluarkan Anggit dengan jaminan. Kini, baru saja keluar delapan bulan, harus kembali lagi ke penjara. Dewi pun pingsan di hadapan polisi, tidak kuat menahan luapan emosi dirinya.


"Mami!" Teriak Anggit yang kebetulan baru turun dari anak tangga. Kemudian berlari ke arah pintu. Polisi pun membopong tubuh Dewi ke sofa yang ada di dekat sana.


******


Baca juga karya baru aku ya! NO PELAKOR, NO POLIGAMI!


__ADS_1


__ADS_2