
Fatih malam itu tidur dengan Zahra, dilihatnya wajah istrinya itu semakin tirus dan pucat. Pipi yang dulu selalu merona kini, seakan kehilangan warnanya. Dia tidak bisa memarahi Zahra yang lupa minum obatnya saat menginap di rumah adiknya. Bagaimanapun, waktu tidak akan bisa diputar ulang kembali.
Wajah Zahra di belai secara perlahan oleh Fatih. Seakan terbuai oleh belaian suaminya, Zahra begitu nyenyak tidur malam itu.
Zahra juga selalu berusaha, menikmati hidup yang kini di jalaninya. Bahagia, hidup dengan suami dan madunya. Juga demi bayi-bayi yang sedang dikandung oleh Mentari. Meski bukan dia yang mengandung, tapi kelahiran si kembar, dia sudah tidak sabar menantikan kelahirannya. Zahra ingin merasakan menjadi seorang ibu, dalam hidupnya, walau hanya sebentar saja.
Saat Zahra mengadu kepada Mentari akan, alpanya minum obat. Dia menangis karena telah membuat kecewa semua orang, yang berjuang demi hidupnya. Namun Mentari membuatnya semangat lagi untuk bertahan menjalani hidupnya.
Terkadang rasa sakit bisa membuat orang itu rapuh. Namun banyak juga, karena sakit orang menjadi kuat. Zahra ingin menjadi yang ke-dua. Karena penyakitnya membuat dia menjadi orang yang kuat.
******
Saat sarapan di pagi harinya, Mentari merasakan mual saat ada Ghazali lewat akan duduk di samping Aurora. Maka Mentari pun berlari ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Fatih pun langsung mengikutinya.
"Kak Mentari sering mengalami morning sickness?" tanya Ghazali tanpa dosa.
"Kayaknya aku baru melihatnya mual-mual begitu setelah kehamilannya," jawab Zahra sambil melihat ke arah kamar mandi.
Tak berapa lama, Mentari pun kembali lagi ke meja makan bersama dengan Fatih yang memapahnya. Namun saat kembali melihat dan mencium wangi tubuh Ghazali, Mentari lari kembali ke kamar mandi. Dia kembali memuntahkan isi perutnya yang kosong, sehingga hanya air saja yang keluar.
"Sepertinya, kak Mentari mual saat mencium wangi tubuhku," kata Ghazali sambil menciumi bau tubuhnya.
"Tubuhku wangi begini! Kenapa kak Mentari muntah-muntah saat berdekatan denganku?" tanya Ghazali masih mengendus-endus wangi di tubuhnya.
Orang-orang yang ada di sana, hanya menahan tawanya saat melihat Ghazali berulang kali mengendus bau tubuhnya. Ghaza sudah menyakinkan dirinya tidak ada bau yang aneh. Wangi dari parfum miliknya juga tidak menyengat.
"Mah, tubuhku nggak bau 'kan?" tanya Ghazali sambil mengulurkan tangannya, ke arah Aurora.
"Nggak, mana mungkin anak bujang Mama, tubuhnya bau!" jawab Aurora sambil tersenyum geli.
"Kayaknya bayi-bayi di dalam perut Mentari bereaksi sama Ghaza!" Zahra akhirnya ketawa karena melihat Ghazali masih mengendus bau tubuhnya.
"Wah … wah, jangan-jangan mereka menyukai Om-nya yang tampan ini!" Aurora menggelitik dagu Ghazali.
"Masih bagus kalau sukanya, nggak buat aku kerepotan," balas Ghazali sambil manyun.
Mentari lebih memilih tiduran di kamar dan sarapan di kamarnya. Setelah dokter kandungan yang selalu memantau perkembangan bayinya, datang ke rumah, dan memeriksanya.
Mentari juga merasa tidak enak kepada Ghazali. Karena dari tadi Ghazali meminta maaf padanya. Bahkan sampai ganti baju baru yang tidak ada wangi parfumnya.
Justru setelah itu, Mentari selalu ingin mencubit pipi dan memencet hidung Ghazali. Sampai-sampai dia tidak sadar sudah melakukannya kepada Ghazali di depan semua orang.
"Mentari, gimana sekarang? Apa sudah baikan?" tanya Zahra saat masuk ke dalam kamar Mentari.
__ADS_1
"Ya, setelah memencet hidung Ghaza beberapa kali. Aku rasa sudah langsung baikan," jawab Mentari sambil tersenyum geli.
"Hahaha, hidung si Ghaza sampai memerah seperti itu!" balas Zahra sambil tertawa lepas teringat kembali ekspresi wajah Mentari saat tadi memencet hidung Ghazali. Begitu juga ekspresi wajah Ghazali saat pipi dan hidungnya jadi korban keganasan kakak iparnya, karena ngidam si bayi.
"Ini bayi masih di dalam perut saja sudah menyusahkan Ghazali, apalagi kalau nanti dia sudah lahir, ya?!" lanjut Zahra lagi sambil mengelus perut Mentari.
"Nggak apa-apa, toh dia om-nya sendiri!" balas Aurora yang datang entah sejak kapan.
Aurora, Zahra, dan Mentari menghabiskan banyak waktu di kamar Mentari. Mereka banyak membicarakan masalah ibu hamil dan bayi.
******
Fatih mendapat laporan dari beberapa orang kepercayaannya yang mengurus perusahaan-perusahaannya di Amerika. Mereka meminta Fatih untuk datang ke sana secepatnya.
"Apa Pak Bos, mau pergi ke sana? Karena semenjak menikah, belum pergi ke Amerika lagi!" Alif melihat Fatih sedang berpikir sambil memejamkan matanya dan memutar-mutar kursinya ke kanan ke kiri.
"Aku bingung, sekarang kondisi Zahra sedang tidak baik, begitu juga Mentari tadi pagi muntah-muntah, karena melihat Ghaza."
"Apa, Zahra tidak cocok berobat dengan dokter dari Singapura itu?!" tanya Alif penasaran.
"Saat menginap di rumah adiknya, dia lupa meminum obatnya dua kali," jawab Fatih dengan lemah.
"Astagfirullahaladzim, kok bisa gitu?!" Alif sangat terkejut, karena Zahra yang dulunya seorang dokter sampai teledor terhadap kesehatannya.
"Apanya?" Fatih malah balik bertanya.
"Ke Amerika! Di sana 'kan banyak perusahaan milik kamu!" jawab Alif gemas, karena kalau Fatih ke Amerika, tugas di sini pasti akan diambil alih olehnya.
"Nanti akan aku bicarakan dulu, dengan kedua istriku!" balas Fatih sambil tersenyum, karena melihat ekspresi wajah Alif yang sudah pasrah akan kembali lembur karena diberi tanggung jawab perusahaannya di sini.
******
Fatih membicarakan masalah ini dengan Zahra dan Mentari. Dia meminta solusi kepada istri-istrinya itu. Karena dia tidak mungkin mengajak keduanya ke Amerika. Dalam kondisi kesehatan keduanya yang lagi drop. Kalau keadaan mereka dalam kondisi baik, Fatih pasti akan membawa keduanya.
"Aku tidak keberatan. Kalau Mas akan pergi ke Amerika. Zahra di sini saja bersama Mentari dan Mama," jawab Zahra saat Fatih meminta izin pergi ke Amerika, untuk mengecek beberapa perusahaan miliknya.
"Mentari juga, nggak apa-apa kok. Asal Mas selalu menghubungi kita di sini! Jangan membuat kami khawatir," jawab Mentari juga.
"Baiklah. Meski Mas ada di sana, kesehatan dan keadaan kalian pasti terus dipantau!"
"Terutama … Zahra, jangan sampai lupa minum obatnya lagi," kata Fatih sambil melihat ke arah Zahra yang kini tersenyum lebar dan kaku karena merasa bersalah.
Malam itu Fatih tidur giliran bersama Mentari. Dipeluknya tubuh Mentari, dengan erat. Perasaan Fatih tidak menentu. Ada rasa takut untuk meninggalkannya. Apalagi keberadaan William yang sedang berada di Indonesia.
__ADS_1
Setelah pertengkaran hebat dengannya dulu, mereka tidak pernah bertemu kembali. William memutuskan tali silaturahmi dengan semua saudara-saudaranya. Padahal mereka dulu selalu bersama-sama.
******
Keesokan harinya, Fatih berangkat ke Amerika. Semua keluarganya mengantar dirinya ke bandara. Fatih pergi menggunakan jet pribadi milik keluarganya. Rencananya dia akan seminggu berada di Amerika.
"Jaga dirimu baik-baik, ya! Ingat, banyak istirahat, makanan yang banyak, dan jangan lupa minum obat!" Fatih memberi wejangan untuk Zahra. Diciumnya kepala, mata, dan bibir Zahra. Kemudian pelukan hangat untuknya.
"Dede bayi, baik-baik ya? Jangan buat Bunda kerepotan dengan selalu ingin memencet hidung Om kalian setiap melihatnya. Kasihan, Bunda kalian malu!" Fatih menurunkan badannya hingga sejajar dengan perut Mentari. Dia mengelus perut istrinya itu dengan perlahan dan menciuminya beberapa kali.
Kali ini Fatih akan berpamitan kepada Mentari. Dipeluknya wanita yang sudah membuat banyak perubahan dalam hidupnya. Pelukan hangat yang terasa enggan untuk dilepaskan.
"Jaga dirimu baik-baik. Aku pasti akan selalu merindukan tingkah lakumu dan cerita-cerita lucu darimu," kata Fatih dengan berbisik di telinganya Mentari.
"Mas juga jaga diri, di sana dengan baik-baik. Aku juga akan selalu merindukanmu di sini," jawab Mentari yang masih berada dalam pelukannya.
Fatih pun mencium kepala, mata, dan bibi Mentari. Fatih berangkat setelah berpamitan ke semua keluarganya.
*****
Saat akan masuk ke dalam mobil, Mentari tiba-tiba ingin pergi ke toilet. Zahra pun sama. Maka mereka pun pergi berdua ke toilet terlebih dahulu.
"Zahra! Aku tunggu di luar, ya!" kata Mentari sebelum dia keluar dari toilet.
Saat Mentari selesai terlebih dahulu, dia menunggu Zahra di luar toilet wanita. Mentari begitu keluar, ada seseorang yang menariknya, dan menariknya menjauh dari toilet.
"Halo, Baby!" suara bariton dari seorang pria dari masa lalunya yang kini berada di depannya. Membuat tubuh Mentari bergetar dengan hebat.
"Oppa?!" suara pelan Mentari memanggil laki-laki yang kini sedang mengungkungnya.
******
SEASON 1 TAMAT
NANTIKAN SEASON 2 : MENTARI - WILLIAM
TERIMA KASIH UNTUK DUKUNGAN KALIAN SEMUANYA.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.