Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (66)


__ADS_3

     Fatih menahan senyumnya saat melihat Mentari menatap padanya. Fatih ingat dengan mode Emak-emak yang lagi marah karena menjadi korban sinetron. Mereka sudah marah-marah duluan belum juga tahu akhir ceritanya.


"Kenapa kamu menjadi marah, Honey?" Fatih memegang tangan Mentari. "Perasaan itu ada yang membulak-balikaan. Aku tanya sama kamu, bagaimana perasaan kamu ke aku saat awal menikah?" tanya Fatih.


     Mentari terdiam dia mengingat kembali perasaannya pas awal menikah dengan Fatih saat itu. Dia belum ada rasa cinta untuk Fatih saat ijab qobul dilaksanakan, meski mereka berdua berjanji untuk saling membuka hati, saat lamaran dilaksanakan. Namun, pas malam pertama mereka, mulai ada rasa cinta ke suaminya itu. Meski dirinya tidak terlalu mengharapkan balasan cinta sang suami saat itu karena yang dia tahu, kalau Fatih dan Zahra saling mencintai.


"Aku sudah suka sama Kakak saat malam pertama kita. Bukannya Kakak bilang untuk membuka hati aku," jawab Mentari.


'Kakak? Mentari lagi mode marah plus merajuk, aku tidak boleh membuatnya semakin emosi,' batin Fatih.


"Sama aku juga sudah membuka hati aku untuk kamu sebelum pengucapan ijab qobul, waktu itu." Fatih malah pasang senyum paling menawan untuk memikat Mentari dan itu malah membuatnya menjadi salah tingkah.


"Jadinya 'kan, Zahra waktu itu marah sama aku, tanpa tahu apa sebabnya, kemudian dia meminta maaf kepadaku karena sudah cemburu buta. Aku juga meminta maaf kepadanya karena sudah mencintai kamu. Waktu itu aku sampai berpikir untuk menyerah dan pergi dari kehidupan rumah tangga kalian. Karena aku tidak mau merebut kebahagiaan orang lain."


"Iya dan itu membuat aku hampir gila. Kamu yang bilang akan pergi dan berpisah dengan aku," balas Fatih. "Tapi, itu semua sudah aku dan Zahra selesaikan dengan baik. Zahra pun ridho dengan perasaan aku untukmu. Dan kamu pun tidak jadi pergi karena aku bilang, aku mencintaimu!"


     Mentari tersenyum tersipu malu mengingat kejadian pengungkapan perasaan mereka dahulu saat dikantornya. Perasaan cinta itu terus tumbuh dan kuat setiap harinya.

__ADS_1


"Tunggu, masalah ini sudah lama banget terjadi dan sudah diselesaikan antara aku dan Zahra. Kenapa kamu ungkit hal ini?" Fatih yakin kalau Zahra tidak akan memberi tahu Mentari dengan hal yang terjadi diantara mereka berdua. Seperti Mentari yang tidak akan membicarakan masalah dengan dirinya kepada Zahra.


"I–Itu, aku baca buku catatan milik Zahra tentang perasaan dia. Belum semuanya aku baca, baru sebagian," jawab Mentari dengan suaranya yang lemah.


"Astaghfirullahal'adzim, Mentari. Kamu itu seperti membaca berita yang sudah kadaluwarsa. Mengungkit masalah yang sudah selesai." Fatih sudah sport jantung saat tadi Mentari mulai marah padanya. Bisa-bisa nanti tidak izin untuk tidur bersama dengannya.


     Mentari pun hanya bisa menyeringai, karena malu. Hormon ibu hamilnya sudah membuat dia sensitif. Mentari pun berjalan dan duduk di pangkuan Fatih.


"Maaf. Aku sudah membuat, Mas terkejut dan bingung tadi." Mentari sedang merayu Fatih, dia tidak mau nanti dirinya dilaknat oleh malaikat karena sudah membuat marah suaminya.


"Iya. Mas sudah memaafkan semua kesalahan kamu. Jangan ulangi lagi, ya!" Fatih memencet hidung Mentari dengan gemas. Mentari hanya meringis sedangkan Fatih tertawa kecil.


"Apa Mas tahu kalau Zahra meminta aku untuk menjadi satu-satunya wanita yang mendampingimu sampai akhir hayat. Jangan biarkan ada wanita lain yang boleh memasuki rumah tangga kita."


"Mas nggak mau lagi nambah istri. Sudah cukup ada kamu, aku tidak mau yang lain. Awas ya, kamu jangan coba-coba mencarikan istri untuk aku! Aku hanya ingin satu wanita yaitu kamu." Fatih mencium mesra bibir Mentari.


     Fatih kini tahu kenapa saat dia keluar kamar mandi Zahra menangis tergugu waktu itu. Saat ditanya kenapa? Zahra malah memeluknya dan meminta maaf kepada Fatih karena selalu merepotkan selama mereka menjalani rumah tangganya. Dia pun langsung memaafkan Zahra dan bilang kalau merasa tidak direpotkan, malah dirinya yang meminta maaf atas semua perbuatan dan perkataannya kepada Zahra. Zahra pun bilang kalau dia ridho karena tahu masih menjadi orang yang berharga bagi Fatih.

__ADS_1


     Hal aneh lain adalah permintaan Zahra jangan ada wanita lain dalam kehidupan rumah tangga dirinya dengan Mentari. Tentu saja tidak akan ada wanita lain, dirinya juga berterima kasih karena sudah menjadikan istrinya. Kalau dulu Zahra tidak memaksa bahkan mengancam, mungkin dia tidak akan pernah tahu arti mencintai yang sesungguhnya dan juga memiliki anak. Sebenarnya Fatih masih ingin menanyakan beberapa hal yang lainnya, tetapi kumandang adzan Subuh mulai terdengar jadinya pembicaraan mereka terputus.


"Iya. Terima kasih, Mas. Jadikan aku ratu kamu satu-satunya dan limpahkan cinta kamu hanya untukku," bisik Mentari.


"Iya, tentu saja. Tapi, Mas tidak janji kalau hanya kamu satu-satu perempuan di rumah ini," kata Fatih dan itu membuat Mentari memberengut.


"Bagaimana jika bayi yang di dalam kandungan ini perempuan? Berarti nanti akan ada penghuni perempuan yang lainnya." Fatih tertawa kecil dan mencubit pipi Mentari. Mentari pun ikut tersenyum senang.


"Ya, aku juga tidak sabar dengan menanti dia, terlahir ke dunia ini. Jika, bayi ini perempuan, aku ingin menamainya dengan nama Zahra." Mentari mengelus perutnya yang masih rata.


"Iya, aku tidak masalah dengan nama itu." Fatih mencium kening Mentari dengan penuh sayang. Dirinya harus bisa menjaga mood ibu hamil, jangan sampai emosi karena itu tidak baik bagi ibu dan janin di dalam kandungannya.


******


Terima kasih buat kalian semuanya, atas dukungannya. I love you full pokoknya.


Jangan lupa klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.

__ADS_1


Dukung aku terus ya. Terima kasih.


Novel "Ayu sang Penakluk" in sha Allah mulai up ya teman-teman. Karena sudah disuruh oleh editornya.


__ADS_2