Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
Ekstra Part 2


__ADS_3

     Ekstra Part kali ini akan menjelaskan lebih terperinci dari bab " Mentari, Fatih, Zahra & William (66), setting waktu dini hari sebelum Zahra meninggal. Di bab itu aku buat versi dialog Mentari dan Fatih. Sedang di bab ini akan dibuat versi kejadiannya. Semoga kalian lebih memahaminya. 


    Selamat Membaca.


******


     Alarm berbunyi ketika waktu menunjukan jam 03.00 waktu untuk sholat tahajud. Fatih pun bangun dari tidurnya. Dia masih memeluk tubuh Zahra yang sejak semalaman menggigil kedinginan. Setelah mematikan bunyi alarm itu, dia membangunkan Zahra karena dia bilang minta dibangunkan jika waktu tahajud.


"Sayang, bangun!" Fatih membelai pipi tirus Zahra. Bukannya bangun Zahra semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang, katanya ingin sholat Tahajjud berjamaah," lanjut Fatih. Tangan Zahra menepuk keningnya. Fatih pun mengerti keinginan Zahra.


     Fatih melayangkan satu ciuman di kening Zahra. Lalu Zahra membalasnya dengan mengecup bibir suaminya. Mata sayu Zahra pun terbuka dan senyum malu-malu tercipta di wajahnya yang pucat.


"Mau shalat Tahajjud berjamaah?" tanya Fatih lagi.


"Iya." Zahra pun mengulurkan tangannya dan Fatih menggendongnya membawa ke kamar mandi.


***


     Setelah selesai sholat, Fatih membawa Zahra ke atas kasur dan memposisikan dia agar duduk bersandar. Dia pun duduk di samping istrinya. Fatih mengaji dan Zahra mendengarkannya. 


"Tidurlah lagi masih ada waktu tiga puluh menit lagi menjelang adzan Subuh." Fatih pun membaringkan tubuh Zahra.


"Tapi dipeluk, ya!" pinta Zahra. 


     Maka, Fatih pun memeluk dan mengusap punggungnya agar cepat tertidur kembali. Terdengar napas Zahra yang sudah teratur, menandakan dia sudah tidur. Fatih bangun karena ingin ke kamar mandi.


     Mentari tidur sekitar 10 menit, dia terbangun karena tidak merasakan kehadiran Fatih di sisinya. Dia takut kalau Fatih meninggalkan sendirian saat ajal datang menjemputnya karena bagaimana pun dia membutuhkan bimbingannya.

__ADS_1


'Mas Fatih kemana? Apa menemui Mentari?' tanya dalam hati. 


     Namun, suara gemericik air terdengar olehnya. Maka Zahra pun tersenyum karena suaminya masih berada di dekat dirinya. Pintu kamar pun ada yang mengetuknya dari luar.


"Masuklah!" perintah Zahra.


     Mentari pun masuk dan melihat Zahra sudah duduk di atas ranjangnya. Senyum Mentari langsung terukir dan Zahra pun membalasnya.


"Sudah bangun rupanya." Mentari menghampiri Zahra.


"Iya, ini baru bangun." Zahra menarik tangan Mentari agar duduk di dekatnya.


"Ada apa?" tanya Mentari sambil menatap Zahra.


"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting kepadamu," jawab Zahra.


"Apa itu?" lanjut Mentari.


"Tidak apa-apa, aku ridho. Itu juga kewajiban Mas Fatih untuk menjaga dan menghibur kamu." Mentari menghapus air mata yang menetes di pipi Zahra yang semakin terlihat pucat. Hati Mentari terasa teriris melihat keadaan Zahra saat ini.


"Tapi, aku merasa sudah berbuat nggak adil sama Mas Fatih. Dia juga pastinya merasa rindu padamu," kata Zahra dengan bibir bergetar.


     Mentari tidak bisa komentar apapun karena itu menyangkut perasaan Fatih. Dia tidak tahu harus jawab apa? Dia juga sebenarnya sangat merindukan suaminya. Namun, dia tahu kalau saat ini Zahra sangat membutuhkan kehadiran suaminya agar selalu berada di dekatnya.


"Selain itu, aku juga minta maaf. Jika, ada salah kata atau ucapan aku yang membuat kamu sakit hati." Zahra berkata dengan sungguh-sungguh.


"Aku juga sama. Maafkan segala perkataanku dan perbuatanku kepadamu. Jika selama kita tinggal bersama, banyak dosa yang aku perbuat tanpa sadar kepadamu." Mentari memeluk tubuh Zahra dan menangis, "maafkan aku!"


"Aku memaafkan kamu. Apa kamu juga mau memaafkan kesalahan-kesalahan aku, yang membuat aku berdosa kepadamu," pungkas Zahra dengan diiringi tangisan.

__ADS_1


"Iya, aku memaafkan kamu." Keduanya pun menguraikan pelukan mereka.


"Lalu jangan biarkan ada wanita lain memasuki rumah tangga kalian nanti. Cukup kamu satu-satunya saja wanita di rumah!" pinta Zahra.


"Hm, iya. Terima kasih karena kamu sudah memilih aku sebagai madumu. Seandainya waktu itu kamu nggak memaksa aku untuk menikah dengan Mas Fatih. Mungkin, aku nggak akan merasakan kebahagian ini," jujur Mentari.


"Justru aku berterima kasih kepada kamu, sudah membawa kebahagian dalam rumah tangga kami." Keduanya pun tersenyum


"Terima kasih karena aku dipaksa menikahi cucu mantan suami, sama kamu dulu." Mentari dan Zahra tertawa terkekeh.


"Ya, dan butuh 1 bulan, 30hari, hampir 24 jam. Aku terus memaksa kamu, sampai kamu menyerah." Zahra bicara diselingi tawanya.


"Iya, kamu lebih kejam dari debt kolektor!" Mentari dan Zahra semakin tertawa.


"Aku harap kamu bisa pulih kembali dan kita bisa bersenang-senang lagi kayak dulu." Mentari bicara dengan lirih.


"Itu mustahil. Terima kasih, ya. Kamu selalu membuat aku senang dan bahagia. Walau kadang aku jadi korban kejahilan kamu dan Gaya." Zahra memanyunkan bibirnya.


"Tapi kamu suka 'kan?" Mentari mulai menggoda Zahra.


"Sudah sana pergi! Nanti si kembar nangis cari sumber ASI nya nggak ada!" usir Zahra dengan menahan tawanya.


"Wah, sekarang kamu sudah bisa bicara lelucon juga, ya!" Mentari turun dari ranjangnya dan berlari karena Zahra sudah siap mengambil bantal. Dia pergi sambil tertawa.


"Kasih lelucon juga tuh buat suami kamu yang kaku!" Mentari melongokan kepalanya di daun pintu dan itu membuat Zahra kesal.


"Masih saja ingat kata-kata itu," gumam Zahra sambil tersenyum geli.


******

__ADS_1


Aku tulis part pas bagian Mentari dulu, ya. Nanti part bagian Fatih menyusul. Semoga kalian suka dan mengeri pas bagian part ini.



__ADS_2