Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (43)


__ADS_3

     Fatih tiba-tiba membuka pintu dan masuk ke kamar, itu membuat Zahra dan Mentari sangat terkejut.


"Aku tadi membeli masakan aneka seafood untuk makan siang. Kita makan siang bersama," kata Fatih dengan wajah datarnya.


"Oh, ya. Ayo, kita makan siang bersama!" ajak Zahra kepad Mentari.


     Mereka pun makan siang bersama. Tidak ada seorang pun yang banyak bicara. Ketiganya larut dalam pikirannya masing-masing.


     Mentari diam-diam memperhatikan Fatih. Dia yakin kalau suaminya itu mendengar perkataannya tadi. Namun, Mentari bingung harus memulainya dari mana. Dia tidak mau ada kesalahan pahaman yang terjadi di antara mereka.


     Setelah selesai makan, Fatih pun pergi ke masjid untuk menjalankan sholat Dzuhur. Mentari pun begitu selesai sholat, dia menunggu kedatangan Fatih.


"Zahra, bagaimana ini? Mas Fatih sejak diam saja, sepertinya sedang marah kepada kita," tanya Mentari dengan perasaan cemas.


"Apa dia marah karena obrolan kita tadi? Kalau gitu kamu bujuk agar Mas Fatih, memaafkan kita," jawab Zahra mencoba menenangkan Mentari.


    Keduanya pun duduk menanti kepulangan Fatih dari masjid. Mentari jujur tadi sangat terkejut dan diamnya Fatih, meyakinkan kalau dia sedang marah padanya.


     Fatih yang baru menginjakan kakinya ke dalam rumah sudah dihadang olah Mentari dan Zahra yang sejak tadi menunggu di ruang depan.


"Mas marah, ya sama kita berdua?" tanya Zahra sambil memegang ujung lengan baju koko yang dipakai oleh Fatih.


"Tidak! Kenapa aku harus marah kepada kalian?" Fatih berbicara dengan nada yang datar.


"Kita merasa kalau Mas, sedang marah kepada kita karena dari tadi diam saja, nggak ngajak bicara," balas Zahra sambil menatap wajah Fatih.


"Itu hanya perasaan kamu saja. Aku harus kembali bekerja, pekerjaan aku masih banyak," ucap Fatih dan berjalan ke arah ruang kerjanya.


    Sementara Mentari mengingat kembali kejadian satu Minggu yang lalu saat kedua netra mereka bertemu.


'Sudah aku duga dia masih marah,' batin Mentari.


     Fatih meninggalkan kedua istrinya dan memilih menyelesaikan pekerjaan laporan perusahaan yang masih banyak. Mentari sebenarnya ingin mencegahnya untuk pergi. Hanya saja dia harus berbicara berdua saja tanpa Zahra.

__ADS_1


"Mentari ternyata benar Mas Fatih sedang marah kepada kita. Apa yang membuatnya marah begitu, ya?" tanya Zahra kepada Mentari.


     Kemudian Mentari menceritakan kejadian seminggu yang lalu. Apa yang sudah terjadi kepadanya dan Fatih.


"Mentari kenapa kamu bicara seperti itu! Jelas Mas Fatih akan marah. Dia itu sangat mencintai kamu. Jika, kamu merasa menyesal dengan pernikahan ini jelas hatinya terluka." Zahra kecewa kepada Mentari.


"Apa kamu bisa memahami perasaan aku? Aku yang sudah masuk ke dalam rumah tangga kalian yang tadinya bahagia. Begitu aku masuk, kamu merasa kebahagian yang dulu ada menjadi hilang! Aku sangat sakit membayangkannya. Bagaimana jika posisi kita terbalik?" Mentari mengungkapkan perasaannya.


"Terus sekarang kamu mau apa? Minta piasah sama, Mas Fatih?" Zahra semakin kesal dengan Mentari.


"Jika itu keinginan kalian dan bisa mengembalikan kebahagian keluarga kalian. Akan aku terima!" Mentari juga mulai tersulut emosinya.


     Satu tamparan dilayangkan Zahra kepada Mentari. Air mata Zahra langsung menyeruak membasahi pipinya yang tirus.


"Apa kamu sadar dengan ucapan kamu barusan!" Zahra membentak Mentari.


     Mentari yang merasakan sakit dan panas di pipinya. Menatap balik ke arah Zahra.


"Ya. Tentu saja!" balas Mentari.


"Ya, aku mencintainya!" jawab Mentari dengan jujur.


"Kalau begitu kamu seharusnya pertahankan dia! Bukan melepaskannya!" Zahra mengguncangkan kedua lengan Mentari.


"Bagiku mencintai tidak berarti harus memiliki." Mentari melepaskan tangan Zahra dari lengannya.


"Apa kamu begini karena kata-kata Ummi?" tanya Zahra dengan nada suara yang rendah.


     Mentari diam tidak menjawab karena itu adalah kebenarannya. Jika dia meng-iya kan takut melukai hati Zahra.


"Dengar Mentari. Kebahagiaan Mas Fatih itu ada pada kamu! Kalau kamu pergi, itu sama saja kamu menghilangkan kebahagiaannya!" kata Zahra sambil mengusap air matanya.


"Tapi keberadaan aku membuat kamu tidak bahagia!" Mentari membalas perkataan Zahra.

__ADS_1


"Siapa bilang?" tanya Zahra.


     Mentari diam tidak menjawab.


"Apa ada yang bilang kalau aku tidak bahagia sekarang? Katakan!" pinta Zahra.


"Tidak. Ini hanya perasaan aku saja. Kalau aku merasa sudah berbuat jahat sama kamu. Karena telah merebut cinta Mas Fatih!" Mentari memegang dadanya yang terasa sakit.


"Kamu salah! Kamu tidak pernah merebut cinta Mas Fatih dariku," kata Zahra.


"Tapi ...."


"Dengar Mentari. Sekarang kamu temui Mas Fatih dan jelaskan semuanya. Minta maaflah padanya! Aku tidak mau mendengar lagi, kalau kamu rela membuang kebahagian dirimu demi aku!" Zahra mendorong Mentari ke arah ruang kerja Fatih.


"Tunggu ... dulu!" Mentari mencoba menahan langkahnya yang didorong oleh Zahra.


"Apalagi?" tanya Zahra dengan kesal karena Mentari mengulur-ulur waktu.


"Aku rasa ini akan banyak memakan waktu. Jadi, nitip si kembar," kata Mentari.


"Iya, tenang saja. Sekarang ada hal lebih penting yang harus kamu lakukan!" Zahra kembali mendorong Mentari untuk masuk ke ruang kerja dan menyelesaikan kesalah paham mereka.


******


Bagaimana cara Mentari agar bisa berbaikan lagi dengan Fatih?


Anggit, William kalian istirahat dulu, ya! kapan-kapan munculnya.


******


Mbak aku tidak tahu siapa kamu. Aku pinjam dulu wajahnya, ya.


Cocok 'kan buat visual untuk MENTARI KHAIRUNNISA MOCHTAR

__ADS_1



__ADS_2