
Mentari mulai sadarkan diri dia mengerejapkan matanya saat merasa pandangan dia kabur. Dirasakan belaian lembut di kepalanya dan saat mengarahkan penglihatan ke atas ada Fatih yang sedang tersenyum.
"Mas," suara Mentari lemah dan agak serak.
"Hm, ada apa? Mau minum?" tanya Fatih dengan lembut.
Mentari pun menganggukkan kepala karena memang dia merasa haus. Saat Fatih duduk disamping brankar, Mentari pun ikut duduk dan bersandar kepadanya. Satu gelas air putih langsung habis diminum dalam satu tarikan napas.
"Haus banget, ya?" tanya Fatih sambil tersenyum jahil.
"Iya, seperti baru buka puasa," jawab Mentari tersenyum lemah.
"Sebaiknya istirahat lagi. Jangan terlalu banyak pikiran. Kasihan calon bayi kita kalau ikutan stress." Fatih mengelus pelan perut Mentari.
Mentari mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya. Dia berpikir mana mungkin kalau saat ini sedang hamil lagi. Maka, Mentari menatap kepada Fatih meminta penjelasan.
Melihat Mentari seolah sedang bingung, Fatih tersenyum dan membisikan kata, "kamu sedang hamil lagi, honey."
Mentari begitu terkejut sampai dia bingung mau berkata apa. Dia malah mencubit lengan Fatih yang berada diatas perutnya dengan sangat kuat.
"Sakit, Honey! Kenapa?" Fatih meringis saat merasakan pedihnya rasa cubitan tangan istri tercinta.
"Kenapa aku bisa hamil? Ini pasti gara-gara Mas, selalu mengajak aku hampir tiap hari." Kali ini Mentari memukul dada Fatih.
"Honey, apa kamu tidak senang mengandung anak aku lagi?" tanya Fatih dengan suaranya yang melemah.
Mentari tidak suka kalau Fatih sudah seperti itu. Dia merasa sudah menjadi istri yang tidak bersyukur.
"Bukannya tidak senang, Sayangku, Cintaku! Hanya saja si kembar masih kecil. Mereka juga masih menyusu ASI." Mentari meletakan tangannya di pipi Fatih dan ibu jarinya memberi usapan.
"Jangan mulai, my lovely. Ini di rumah sakit!" Fatih mulai tergoda oleh perbuatan Mentari dan kata-katanya.
Mentari yang memahami maksud suaminya langsung membalikan badan dan tidur. "Mas selalu gitu!" rengeknya dengan kesal.
Fatih pun hanya tersenyum geli.
"Mentari sudah sadar!" Terdengar suara Sinar dan di susul oleh Ja'far yang berlari di belakangnya.
__ADS_1
"Mentari, tidak apa-apa'kan?" Dengan napas terputus-putus Ja'far langsung bertanya begitu masuk ruang rawat.
"Alhamdulillah, Mentari baik-baik saja. Maaf, Fatih tadi tidak sempat memberitahu Ayah dan Bunda. Saat ini Mentari sedang hamil lagi," kata Fatih.
"Apa?" Suara Sinar dan Ja'far terdengar begitu keras dan membuat Fatih menciut saat melihat kedua mertuanya melotot ke arahnya.
"Tadi Mentari pingsan. Saat dilakukan pemeriksaan dokter memperkirakan kalau dia sedang hamil, maka dilakukan pemeriksaan melalui USG dan usia janin di kandungan baru sekitar satu Minggu," jawab Fatih.
"Bagus!" Kedua Mertua Fatih tersenyum sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Menantuku memang hebat!" Kata Ja'far.
Fatih yang tadinya tegang karena takut mertuanya marah, kini bisa tersenyum lebar. Dia mengira kalau kedua Mertuanya akan marah karena sudah membuat Mentari hamil lagi.
Mentari yang pura-pura tidur, kini bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Mentari kini tahu kalau si kembar sekarang dalam pengawasan Erlangga–adik Cantika–yang kebetulan selalu datang ke rumah fajar sebulan sekali sengaja berkunjung ke rumah Ja'far, pamannya.
"Fatih, sekarang biar Bunda saja yang menjaga Mentari. Kamu tungguin Zahra, mungkin dia akan sadar kalau ada kamu disampingnya," kata Sinar.
"Sweetie, aku pergi ke ruang sebelah kalau ada apa-apa panggil saja aku," kata Fatih.
Mentari yang mendengar kata-kata Fatih, merasa sangat sedih kalau dia akan ditinggalkan olehnya. Dia pun membalikan badannya dan menarik Fatih ke dalam pelukannya.
"Aku tidak akan pergi kemanapun, apalagi sampai meninggalkan kamu." Fatih membalasnya dengan elusan lembut di punggung Mentari.
Mentari yang mendapat perlakuan lembut seperti itu kini langsung mencium Fatih dengan buas dan panas. Membuat Fatih salah tingkah antara napsu dan malu.
Sinar dan Ja'far hanya terkekeh melihat kelakuan anak mereka. Mentari memang kadang suka lupa kalau ada orang lain kalau sudah seperti itu dengan suaminya.
"Dia itu mirip siapa?" bisik Ja'far kepada Sinar.
"Bukannya sifat Mentari itu kebanyakan mirip sama kamu," jawab Sinar dengan mengerahkan bibirnya dan membuat Ja'far menciumnya sekilas.
******
Fatih melihat kondisi Zahra yang masih belum sadarkan diri. Dia pun untuk saat ini tidak diizinkan untuk masuk ke dalam sana. Jadinya, hanya berdiri dan memandangi dari dinding kaca.
"Kenapa kamu belum juga sadar," lirih Fatih.
__ADS_1
"Kalau kamu membuka mata sekarang, akan aku ikuti kemauan kamu. Apapun itu selagi aku sanggup melakukannya," gumam Fatih lagi.
Fatih melihat tangan Zahra berderak kemudian kepalanya. Maka, dia langsung memanggil dokter untuk melakukan pengecekan lagi kondisi Zahra sekarang.
Begitu tim dokter yang menangani Zahra selesai memeriksa kondisi Zahra. Mereka hanya menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Tuan Fatih. Sepertinya ini tidak memberikan efek untuk kesehatannya. Hanya tinggal menunggu waktunya saja."
Fatih yang emosi mendengar kata-kata dokter barusan, langsung mencengkram snelli dan menariknya kuat sampai kaki dokter itu berjinjit karena tercekik oleh kemeja dan snelli yang dipakainya.
Melihat itu Ghazali langsung menarik tangan Fatih, agar melepaskan cengkraman pada baju dokter yang kini sedang ketakutan. Bagaimanapun keadaan Zahra saat ini bukan salah dokter itu.
"Lepaskan, Kak!" Ghazali mendorong tubuh Fatih yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan si dokter.
"Dia berkata sesuatu yang tidak pantas diucapkan oleh seorang dokter!" Fatih masih tersulut emosinya.
Mentari yang baru saja datang dibuat bingung melihat wajah-wajah orang di sana sangat tegang. Apalagi Fatih dalam keadaan marah. Mentari pun langsung mendekatinya dan mengusap dadanya.
"Istighfar, Mas!" Pinta Mentari kepada Fatih dan kini ganti mengusap-usap punggungnya.
Fatih pun tersadar kemudian beristighfar. Dia seharusnya tidak marah kepada dokter, itu bukan salahnya. Kondisi Zahra itu memang begitu adanya. Dia hanya menyampaikan hasil pemeriksaan barusan. Fatih melihat Mentari yang kini matanya berkaca-kaca.
"Maaf, aku terlalu emosi. Terima kasih sudah menyadarkan aku," Fatih memeluk tubuh Mentari sesaat kemudian melepaskannya lagi.
"Dokter, maafkan aku. Aku terlalu terbawa emosi. Aku—" Fatih tidak mau melanjutkan kata-katanya lagi. Dia belum bisa membuat Zahra tertawa bahagia karenanya. Hanya dengan bantuan dari Mentari, dia baru bisa membuat Zahra tertawa bahagia. Sebelum Zahra meninggal dia ingin berbuat sesuatu yang membuatnya tersenyum bahagia. Membuat kenangan indah untuknya.
"Tidak apa-apa Tuan. Saya sungguh mengerti keadaan Anda saat ini." Dokter itu pun tersenyum kaku.
"Bolehkah kita masuk ke dalam, sekarang?" tanya Fatih.
"Iya, Boleh. Dari tadi Nyonya Zahra menanyakan Anda," jawab dokter dengan suaranya yang pelan takut menyinggung perasaan Mentari.
*****
Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya!
Dukung aku terus.
__ADS_1
Terima kasih untuk doa kalian semua. Semoga teman-teman semuanya juga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.