Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI - WILLIAM (27)


__ADS_3

   


    Zahra memegang perutnya yang masih belum juga hamil. Padahal di antara mereka bertiga, dirinya yang paling duluan menikah.


"Bagaimana kondisi kamu, setelah hamil? Apa merasakan ngidam?" tanya Zahra penasaran.


"Alhamdulillah semua baik-baik saja. Hm … kalau untuk ngidam, aku tidak tahu. Hanya saja aku selalu ingin melihat Oppa Willi, walau hanya sekilas." Mentari seperti memikirkan sesuatu yang lainnya.


"Kemarin sudah cek lagi keadaan bayinya? Kamu 'kan sudah melakukan perjalanan jarak jauh?" tanya Zahra merasa khawatir dengan kondisi bayi di dalam perut Mentari.


"Alhamdulillah, sudah aku cek, begitu sampai di sini," jawab Mentari sambil menganggukan kepalanya tak lupa senyum manis di wajahnya.


    Mentari dan Zahra banyak membicarakan hal-hal yang lainnya. Sampai tidak terasa waktu sudah memasuki waktu Dzuhur. Maka keduanya pun sholat berjamaah bersama Sinar dan Bi Eneng. Sementara William dan Fatih pergi ke masjid.


    Saat makan siang, William makan ditemani oleh Fatih di mobilnya. Tentu saja makanan yang mereka makan dikirim dari Mentari. Namun Zahra yang mengantarkannya. Mereka di rumah Ja'far sampai sore hari.


******


     Mentari membaca lagi surat dari William, yang dititipkan melalui Bi Eneng. Senyum bahagianya tidak pernah lepas dari wajah cantik yang kini mulai terisi pipinya.


Untuk istriku tercinta,


Baby, aku minta maaf karena sudah melakukan hal yang begitu bodoh dalam hidupku.


Aku begitu sangat mencintaimu, Mentari … sayangku, cintaku, cantikku …


Aku sangat merindukanmu,


Suara rengekanmu saat merajuk dan nyanyian melodimu yang selalu membuatku selalu ingin menyentuhmu,


Aku sangat merindukan,


Tingkah lakumu yang sering membuatku tersenyum bahkan tertawa.


Aku sangat merindukan …


Saat kita bersama-sama menghabiskan waktu hanya berdua saja melakukan banyak hal.


Bahkan aku juga sangat merindukan kata-kata omelan kamu saat aku lupa menaruh barang.


Baby, bisakah kita mengulang semua itu kembali?


Aku harap bisa.


Sungguh hanya kamu, satu-satunya wanita yang aku cintai.


Wanita penguasa seluruh hatiku, tidak ada yang lainnya lagi.

__ADS_1


Baby, maafkanlah aku.


Aku ingin kita bisa bersama-sama lagi membangun rumah tangga kita.


Membesarkan anak-anak kita yang lucu-lucu, mengalahkan si Trio Kancil itu. Apalagi si Kembar yang baru lahir.


Baby, maukah kamu kembali kepadaku?


William, laki-laki bodoh yang selalu mencintaimu sampai kapan pun.


    Mentari melipat kembali kertas itu dan menyimpannya di dalam laci meja riasnya. Dia berjalan ke arah balkon, dan dilihatnya William juga sedang memandang ke arah kamarnya.


   Keduanya saling melempar senyum. Seperti biasa William akan membentuk tangannya menjadi hati yang besar dan bilang 'I love you'  atau 'I Miss you'. 


     Sementara Mentari akan tersenyum malu-malu. Apalagi saat William melemparkan ciuman jarak jauhnya. Dia langsung merona pipinya, kemudian cepat-cepat masuk lagi ke dalam kamarnya. Seperti biasa dia akan berguling di kasurnya ke kanan dan ke kiri sambil memeluk gulingnya.


******


    Mentari merengek kepada Ja'far, agar masa hukuman William dikurangi jangan satu Minggu. Tentu saja Ja'far menolak keinginan putrinya itu.


    Mentari merajuk, kepada Bundanya. Sinar yang kasihan melihat Mentari, akhirnya membujuk suaminya itu. Dia juga meminta hukumannya dikurangi. Maka Ja'far pun setuju setelah Sinar turun tangan. Hanya saja cuma satu hari yang dia berikan.


   Sebenarnya Mentari masih ingin waktunya dikurangi lagi sampai tiga hari. Namun saat melihat ibunya menggelengkan kepalanya, dia pun akhirnya pasrah.


******


    Hari-hari William yang berada di depan rumah Ja'far dan tidak masuk ke dalam rumah. Menjadi buah bibir di kalangan para tetangganya. Mereka mulai penasaran karena sudah tiga hari ini, William masih saja diam di dalam mobilnya.


     Omongan para tetangga itu terdengar sampai ke Sinar, saat ibu-ibu pengajian. Maka Sinar pun membenarkan ucapan William.


"Wah, Jeng Sinar nanti cucunya pasti cakep deh! Campuran sama bule!" kata ibu A.


"Anaknya pasti mirip Mister! Karena ngidamnya nggak mau melihat muka bapaknya. Pasti nanti dia mirip Mister Willi!" kata ibu B.


    Sinar hanya tersenyum menanggapi obrolan para teman pengajiannya itu, saat mereka pulang dari masjid. Sinar juga sebenarnya kasihan saat melihat Mentari yang suka diam-diam mencuri kesempatan agar bisa melihat William dari balkon kamarnya.


     Seandainya dulu William tidak mengatakan kata-kata yang merendahkan Mentari dibandingkan seorang wanita penghibur. Tentu dia tidak akan terlalu sakit hatinya. Ibu mana yang tidak akan sakit hati saat putri kebanggaanya di katakan lebih rendah dari wanita yang selalu melayani laki-laki hidung belang. Padahal Mentari selalu menjaga dirinya dari para lelaki. 


     Soal harta kekayaan, meski harta melimpah, tapi mereka dididik untuk hidup sederhana. Jauh gaya hidupnya dari foya-foya. Itu sudah di tanamkan oleh keluarga Muchtar dari dulu.


******


      Sinar pun menceritakan kepada Ja'far tentang kejadian hari ini. Akhirnya Ja'far pun mengurangi lagi hari hukumannya. Maka tinggal hari besok yang harus dijalani William sebagai hukumannya.


    Mendengar kabar itu Mentari tentu saja senang. Senyum di wajahnya tak pernah hilang, selama menanti kedatangan suaminya itu. Dia berharap mereka berdua bisa menyatu kembali merajut mahligai rumah tangga yang sesuai idamannya.


    Saat Bi Eneng mengantarkan makan siang untuk William. Mentari menyelipkan sebuah surat untuknya. Tentu saja William sangat senang saat mendapat balasan surat dari Mentari.

__ADS_1


Oppa Willi yang aku cintai,


Aku bukanlah wanita yang bisa menjadi istri yang sempurna.


Terlalu banyak kekurangan dalam diriku ini.


Sehingga aku tidak bisa menyenangkan dirimu.


Bila kita sudah berjodoh, mau apapun cobaan yang datang menghadang hubungan kita. Maka kita akan tetap bersama menjalani kehidupan rumah tangga ini.


Sungguh aku mengharapkan kita berjodoh di dunia sampai akhirat nanti.


Saat Oppa Willi bilang sangat mencintaiku dan selalu merindukanku.


Sungguh sangat senang diri ini.


Bila Oppa Willi masih mengharapkan aku,


Maka bertahanlah sampai akhir.


Aku pun akan bertahan sampai akhir juga.


Sungguh aku ingin mengulang kembali lagi, hal-hal yang dulu sering kita lakukan bersama-sama.


Mentari, perempuan manja yang selalu menunggumu.


    William pun tersenyum, dan menengadahkan kepalanya ke arah kamar Mentari, seraya berkata "aku akan bertahan sampai kapanpun itu!"


******


     Saat William berjamaah sholat Magrib, di masjid bertemu dengan ayah mertuanya.


"Persiapkan dirimu! Karena aku akan menginterogasi malam ini!" kata Ja'far kepada William saat mereka bersalaman.


    Mendengar hal itu membuat William tersenyum senang. Itu tandanya dia masih diberi kesempatan untuk bisa bersama lagi dengan Mentari.


******


*Teman-teman ini BAB sudah aku revisi.


Kemarin terjadi error' jadi double UP.


Terima kasih.


*****


JANGAN LUPA KLIK, LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH**.


__ADS_2