Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (18)


__ADS_3

     Fatih pulang ke rumah saat waktunya makan siang. Dia senang saat melihat orang yang membukakan pintu adalah Mentari. Setelah menjawab salam dari suaminya, Mentari mencium tangan Fatih dengan tazim, dan mendapat balasan kecupan di bibirnya.


"Mas sudah sampai?!" Zahra tiba-tiba muncul dari arah belakang Mentari.


"Iya. Gimana kabarnya sekarang, Sayang? Apa sudah baikan?" tanya Fatih saat Zahra mencium tangannya.


"Alhamdulillah, Mas," jawab Zahra kemudian dia menarik tengkuk leher Fatih dan memberikan ciuman hangat untuknya.


     Mentari merasa biasa saja karena dari dulu mereka suka melakukan kemesraan di depannya. Apalagi saat awal-awal dia menikah. Mentari berpikir itu hak mereka mau melakukan apapun yang disukai karena sudah menjadi pasangan suami-istri.


******


     Mentari lebih dulu pergi, meninggalkan mereka menuju ke ruang makan. Apalagi ada Sinar yang berdiri tidak jauh dari sana yang sedang menunggunya dari tadi.


"Apa Zahra selalu seagresif itu kepada Fatih?" tanya Sinar sambil berbisik.


"Jangan kepo, Bunda." Mentari bergelanyut di lengan Sinar. Keduanya pun masuk ke ruang makan dan melihat menu makanan yang sangat banyak jenisnya yang tertata rapih di atas meja dan jumlah piring yang lebih banyak dari biasanya.


"Ma, ini kok, jumlah piringnya kelebihan?!" tanya Mentari dengan heran.


"Akan ada temannya Fatih, yang ikut makan siang bersama," jawab Aurora.


    Mentari pun mengambil satu boks salad buah berukuran kecil, dari lemari pendingin. Dia membawanya dan memakan dulu salad buah miliknya, sebelum memakan menu yang sudah dihidangkan di atas meja.


     Saat Mentari menikmati salad buah miliknya, datang Fatih dan dua orang yang tidak dikenal olehnya. Mentari hanya menganggukkan kepalanya kepada tamu Fatih.


"Mama Aurora!" teriak James begitu melihat Aurora, sedang menata gelas di atas meja.


"James, kau 'kah itu?" tanya Aurora karena mengenali suaranya, tidak dengan raganya.


"Iya, Ma. Ini James!" James langsung berlari ke arah Aurora dan langsung memeluknya.


     Tindakannya itu membuat Khalid, membelalakkan matanya. Aurora yang melihat itu, langsung mengurai pelukan James untuknya.


"Wah, James ... kamu banyak berubah!" seru Aurora.


"Apa aku masih terlihat tampan di mata, Mama?" tanya James dengan tersenyum malu.


"Tubuh kamu kini semakin berisi dan kekar dibandingkan dulu! Kalau tampan ... Fatih masih nomer satu!" Aurora tertawa renyah dan diikuti oleh yang lainnya.


"Mah, kenalin dia Billi Smith, temannya James," kata Fatih mengenalkan seorang laki-laki tinggi berwajah datar, dan matanya hitam.


"Oh, halo Billi. Senang bertemu denganmu," sapa Aurora.


"Dia tidak bisa bicara, Ma." James berbisik kepada Aurora, dan diangguki bertanda mengerti.


     Semua orang makan dengan suasana ceria karena adanya James. Dia sejak awal melihat terus ke arah Mentari. Bila mereka saling adu pandang, maka dia akan tersenyum.


     Bukan hanya James yang memandangi Mentari, Billi juga terus menatap kepada istrinya Fatih itu. Seolah dia sedang melihat sesuatu yang tidak boleh dilewatkan.

__ADS_1


     Apa yang dilakukan oleh kedua orang itu, terlihat oleh Fatih dan itu membuatnya kesal. Dia tidak suka kalau ada laki-laki yang melihat Mentari seperti itu.


******


     Kini Khalid dan Fatih duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sedangkan James, Billi, dan Bagaskara berdiri di depan mereka. Dalam keadaan sigap, dan berdiri tegak. Mereka bertiga sudah tahu tugas apa yang akan mereka lakukan.


     Bagaskara yang merupakan ketua tim Keamanan Keluarga Hakim, diminta secara khusus oleh Zahra. Kalau dia ingin yang menjadi pengawalnya adalah orang yang sangat hebat dan cekatan, juga tidak banyak bicara.


     Billi, orang asing yang direkomendasikan oleh James untuk menjadi pengawal Mentari. Ternyata Billi seorang muslim juga. Jadi, James meminta dimana akan ada waktunya meninggalkan Mentari, saat dia beribadah. Khalid dan Fatih malah senang karena Billi orangnya bertanggung jawab.


     Sedangkan James akan bergerak sesuai keinginannya sendiri dalam menyelesaikan masalah Thomas Brown. Tanpa diminta oleh Fatih, dia juga mempunyai urusan pribadi dengannya. Maka Fatih tidak boleh ikut campur. Fatih pun menyetujuinya karena hal utama baginya adalah keselamatan Mentari dari Thomas Brown.


******


     Mentari yang sedang membaca di balkon sambil menikmati semilir angin, dikejutkan oleh Fatih yang tiba-tiba saja mengambil bukunya. Ditariknya tubuh Mentari kedalam pelukannya.


"My sweetie, ada yang mau aku tanyakan."


"Apa itu?" tanya Mentari mendongakkan kepalanya.


"Jawab dengan jujur!"


"Iya."


"Kamu istrinya siapa?" 


"Jawab!" Fatih mencubit hidung mancung Mentari dengan gemas.


"Sepertinya nggak perlu di jawab," kata Mentari sambil memegang hidungnya.


"Untuk mengingatkan kamu saja," balas Fatih dengan memasang mimik cemberut.


     Mentari tersenyum geli, melihat ekspresi wajah suaminya. Kemudian, diciumnya pipi kiri dan kanan Fatih.


"Nama suami aku ... Al Fatih Green Hakim. Laki-laki pencemburu yang suka merajuk," jawab Mentari sambil tersenyum.


"Awas jangan lupakan itu!"


"Tentu saja, Mas."


"Lalu siapa orang yang paling kamu cintai?"


"Hm ... Ayah, Bunda, Fajar. Lalu ... Papa Khalid, Mama Aurora ...."


     Fatih malah dibuat gemas sama Mentari, saat menyebutkan nama-nama anggota keluarganya. Justru itu membuat Mentari, menahan senyumnya.


"Mas Fatih yang paling aku cintai!" Mentari berbisik dengan nada suara yang menggoda.


     Merasa sudah di jahili sama Mentari. Fatih membalas dengan ciuman panasnya yang bikin Mentari kewalahan.

__ADS_1


"Ingat baik-baik, my lovely. Jangan biarkan ada laki-laki lain masuk ke dalam hatimu. Hanya aku saja. Cukup aku saja!"


"Tapi, Mas. Anak yang aku kandung keduanya juga laki-laki." Mentari tersenyum geli.


"Itu beda lagi," jawab Fatih lesu, "pokoknya jangan sampai kamu suka sama Billi atau James bahkan laki-laki manapun!"


     Melihat suami berkata serius. Mentari pun mengiyakan. Mentari baru tahu kalau Billi akan menjadi pengawalnya selama dua puluh empat jam.


******


     Fatih pun mendatangi kamar Zahra. Dilihatnya Zahra sudah tidur. Dia mengecek obat milik istrinya, kalau-kalau dia lupa tidak meminumnya. Apalagi sebentar lagi akan ada jadwal pengobatan dengan kemoterapi. Diselimutinya tubuh Zahra, dan dicium keningnya.


     Saat Fatih akan beranjak, tangan Zahra menariknya. Fatih pun kembali duduk di pinggir ranjang.


"Sayang. Apa kamu terbangun oleh aku barusan?" tanya Fatih sambil membelai rambut Zahra dan lagi-lagi banyak yang menempel di tangannya.


"Temani aku tidur, Mas!" Pinta Zahra dengan tatapan memohon.


     Fatih melihat jam ditangannya sudah menunjukan pukul 13.30 dan akan ada rapat jam 14.00 dengan perusahaan lain. Fatih pun membaringkan tubuhnya di samping Zahra. Dipeluknya tubuh Zahra yang semakin kurus.


"Tidurlah, Sayang. Kamu harus banyak istirahat. Jangan banyak pikiran dan aktivitas. Ingat siapkan hati dan ragamu, untuk pengobatan nanti ...." Fatih tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi karena Zahra membungkam dengan bibirnya. Fatih mengikuti apa maunya Zahra.


"Kalau seperti ini, kapan akan tidurnya." Fatih berbisik dengan lembut dan itu malah membuat kembali menciumnya.


"Aku ingin pergi berlibur, Mas! Hanya berdua denganmu, sebelum kemoterapi di mulai."


"Sayang, saat ini keadaan sedang tidak memungkinkan untuk kita pergi berlibur. Nanti saja, ya? Kalau kamu sudah sembuh, kita baru pergi ke tempat yang kamu mau!" Fatih memberikan saran.


******


Apakah Fatih akan mengabulkan permintaan Zahra?


Apakah Billi bisa melindungi Mentari?


Tunggu kelanjutannya ya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


******


Mampir juga ke karya aku yang berjudul TRIO KANCIL


__ADS_1


__ADS_2