
Fatih akhirnya bisa membujuk Zahra, dan makan siang bersama. Saat mereka masuk ke ruang makan, sudah ada Mentari sedang makan salad buah kesukaannya, di meja makan.
"Katanya mau tidur. Baru ditinggal sebentar sudah menghabiskan hampir satu box salad buah," kata Fatih sambil tersenyum geli, melihat Mentari yang semangat makan seperti orang kelaparan.
"Sudah tidurnya. Tadi Mas bilang, bangun tidur terus makan yang banyak," jawab Mentari sambil menunjukan satu box bekas salad buah yang tadi habis dia makan.
"Astaghfirullahal'adzim, Mentari. Kalau kamu sakit perutnya, bagaiman?!" Fatih terkejut melihat berapa banyak salad buah yang dimakan oleh istri keduanya itu. Mentari hampir menghabiskan dua box salad buah, berukuran large.
"Zahra mau? Aku tadi buat lumayan banyak. Karena stok bahan buah-buahan baru datang tadi pagi."
"Boleh. Aku minta satu box saja," jawab Zahra sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kalian makan sesuatu itu jangan berlebihan. Satu box aja kalau dihitung-hitung lebih dari satu kilo beratnya. Dibagi dua saja, jangan banyak-banyak." Fatih melarang istri-istrinya makan berlebihan.
"Mas, aku 'kan makan untuk tiga orang." Mentari menolak karena dia masih ingin memakan salad buahnya.
"Iya. Tapi jangan terlalu kebanyakan. Berhenti sebelum kenyang!" Fatih mengingatkan sambil memencet hidung Mentari gemas. Sementara Mentari mengaduh kesakitan, Fatih malah tertawa.
Zahra lagi-lagi mendelikan matanya, ketika melihat interaksi antara Fatih dan Mentari. Hati Zahra seperti tertusuk jarum. Ada rasa sakit tapi tidak terlalu, tapi tetap saja tidak suka.
Mereka makan dengan tenang meski kadang Fatih sering menjahili Mentari, karena makan yang porsinya terlalu banyak.
Fatih pun akhirnya pergi ke kantornya setelah makan siang. Zahra dan Mentari pun akhirnya duduk di gazebo, dan menikmati suasana yang adem di sana.
"Kamu kenapa? Seperti sedang ada pikiran," tanya Mentari pura-pura tidak tahu saja.
"Apa Mas Fatih selalu berbuat seperti itu kepadamu?" Zahra malah balik bertanya.
"Maksud kamu? Perbuatan Mas Fatih, yang mana?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Merayu dan menggombal," jawab Zahra dengan nada datar dan tatapan malas.
"Perasaan malah aku deh, yang merayu dan menggombali Mas Fatih."
"Eh, bukannya Mas Fatih sering merayu Kamu!"
"Awalnya aku yang merayu. Masa Mas Fatih, manggil kamu 'Sayang', sedangkan sama aku, 'Mentari! Mentari!'. Aku juga kan ingin punya panggilan sayang. Seperti dulu, Oppa Willi, sering panggil aku Baby, Honey, Darling, atau apa pun itu, saat memanggil aku." Mentari mengeluh, dengan meniru suara panggilan Fatih, untuknya.
"Kalau di ingat-ingat lagi, emang benar sih, Mas Fatih selalu manggil kamu dengan nama."
"Iya. Makanya aku inisiatif saja sendiri. Mengeluarkan kata-kata gombal yang dulu Oppa Willi, ucapkan. Eh, jangan bilang-bilang sama Mas Fatih, ya. Nanti dia cemburu. Kamu tahu 'kan, bagaimana ekspresinya dia kalau lagi cemburu." Mentari meniru ekspresi Fatih yang selalu diam sambil melirik, dan bibir di katup.
Zahra dan Mentari malah tertawa bersama, saat mereka mengingat wajah ekspresi Fatih, yang belakangan sering seperti itu, gara-gara Mentari.
Kedua istri Fatih itu menghabiskan waktu ngobrol di gazebo. Saat asik berbicara segala sesuatu, ngalor-ngidul, dan menghilangkan beban pikiran, dan rasa penat di dada. Mentari juga perhatiannya dari rasa rindu kepada Liam dan Allura, bisa teralihkan.
Mentari tidak sengaja menjatuhkan handphone miliknya. Ketika, dia sedang asik bercanda dengan Zahra.
Disaat bersamaan, ada peluru meluncur ke arah tempat Mentari tadi duduk, dan menancap di sandaran kursi. Zahra yang melihat itu menjerit sekuat tenaga karena terkejut dan takut. Sehingga, membuat para pengawal langsung berlari ke arah mereka.
Mentari langsung berwajah pucat pasi. Dia nyaris saja kepalanya jadi korban tembakan peluru. Ternyata Allah, masih melindungi Mentari dengan cara menundukkan badannya dan mengambil handphone yang jatuh.
Para pengawal langsung membuat barikade perlindungan. Serta membawa kedua wanita itu masuk ke rumah.
Bagaskara, sebagai kepala keamanan keluarga Hakim. Langsung menyelidiki dari mana asal tembakan itu. Dia mengerahkan anak buahnya untuk berpencar ke titik yang diduga tempat pelaku, melakukan perbuatan kejahatannya.
Fatih, Khalid, dan Aurora, langsung pulang ke rumah. Begitu mendengar kabar, tentang kejadian penembakan terhadap Mentari dan Zahra. Mereka juga mendatangkan dokter pribadi untuk Mentari dan Zahra.
Fatih pulang dengan tergesa-gesa. Dia juga langsung mendatangi kamarnya Mentari. Ternyata di sana sudah ada kedua mertuanya. Ja'far dan Sinar, kebetulan datang untuk menjenguk Mentari. Sebab, sudah lama mereka tidak bertemu. Sewaktu Fatih di Amerika juga, Mentari tidak diizinkan menginap di rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Assalammu'alaikum, Ayah … Bunda! sejak kapan datang?" Fatih mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan orang tua Mentari.
"Tadi, beberapa saat setelah insiden penembakan di gazebo," jawab Ja'far sambil menyambut uluran tangan menantunya.
"Nak, sebenarnya kenapa ini bisa terjadi? Apa ada saingan bisnis?" tanya Sinar penasaran.
"Fatih juga tidak tahu, Bun. Karena selama ini, Fatih merasa tidak punya musuh atau saingan yang berusaha menjegal dengan cara-cara seperti ini," jawab Fatih sambil duduk di sisi Mentari, yang sedang rebahan di kasur karena sedang di periksa oleh dokter kandungan.
Kini perhatian Fatih terfokus kepada Mentari yang sedang di periksa. Wajah Mentari memang terlihat lebih pucat. Fatih memegang tangan istrinya itu dengan lembut. Kemudian mengecup sayang, keningnya.
"Tenangkan dirimu, agar si kembar juga ikut merasa tenang," bisik Fatih dan diangguki oleh Mentari.
"Dokter bagaimana hasilnya?" tanya Fatih dan Ja'far bersamaan ketika dokter sudah selesai memeriksa Mentari.
******
Bagaimana keadaan Mentari setelah terjadi insiden penembakan ?
Siapa pelaku yang melakukan penembakan itu?
Baca kelanjutannya selanjutnya ya .
Menemani malam Minggu kalian, semoga senang 🤗 (aslinya ketiduran, mau up tadi sore 🤭)
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.