Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (26)


__ADS_3

     Saat siang hari, Mentari dan Sinar duduk di teras belakang sambil melihat kolam ikan dan sesekali mereka melempar pakan sehingga ikan di dalam kolam saling berebut. Mentari menyukai pemandangan itu.


     Terdengar suara bel rumah, menandakan ada tamu. Maka Sinar pun bergegas pergi ke teras depan untuk mengetahui, siapa tamu yang berkunjung?


"Siapa, Bun?" tanya Mentari.


"Tukang Pos! Ada surat untuk kakak!" Sinar menyerahkan amplop yang berukuran besar itu.


     Mentari pun menerima amplopnya. Namun, di sana tidak ada nama juga alamat pengirim. Akhirnya, Mentari pun menyimpan dulu surat itu karena sudah terdengar adzan dzuhur. Dia memilih sholat terlebih dahulu.


******


     Kondisi Zahra memburuk lagi. Tekanan darahnya rendah. Bahkan dia belum sadar semenjak tadi. Semua orang yang ada di sana sangat cemas. Zahra ditempatkan di ruang isolasi, yang masih berada dalam satu ruangan inapnya. Ruangan khusus yang dibuat untuk Zahra, itu semuanya komplit. Agar Zahra tidak meski jauh-jauh saat dipindahkan dari ruangan satu ke ruangan yang lainnya. Hanya di pisah oleh dinding kaca khusus. Sehingga semua orang masih bisa melihat kondisinya.


     Fatih dan Khalid duduk di sofa yang berhadapan dengan Abah dan Ummi. Keempat orang itu sedang membahas, perkembangan Zahra.


"Nak Fatih, Ummi mohon kabulkan permintaan Zahra!" Mirna berderai air matanya sejak tadi karena melihat kondisi putrinya.


"Ummi, tidak boleh memaksa! Lihat kondisi Zahra juga tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan!" Abah sidak setuju dengan permintaan istrinya.


"Ummi, bukannya Fatih tidak ingin mengabulkan permintaan Zahra. Itu bisa dilaksanakan ketika Zahra sudah sembuh. Kalau memaksa sekarang, nanti malah memperparah kondisi tubuhnya. Akan sia-sia pengobatan yang sudah dilakukan selama ini. Jika, Zahra sudah sembuh. Bebas mau pergi kemanapun! Jangankan ke Karimunjawa, keliling dunia pun akan Fatih turutin," kata Fatih yang menahan kekesalannya.


"Kita tidak tahu sampai kapan Zahra, akan hidup. Kemarin lusa dia bilang ingin pergi ke sana dan melihat pemandangan yang indah bersama kamu." Mirna mengingat-ingat apa yang pernah dikatakan oleh Zahra.


     Khalid melihat ke arah Fatih, yang sangat jelas terlihat sedang kesal. Kemudian dia berdiri, "sudah masuk waktu dzuhur. Kita pergi dulu ke masjid!" ajak Khalid dan diikuti oleh Fatih dan Abah.


     Maka, tinggallah Mirna seorang diri di ruangan itu. Dia melihat handphone milik Fatih, yang berbunyi tanda ada beberapa pesan yang masuk. Dilihatnya dilayar itu tertulis My Love, ada tiga pesan yang masuk darinya. Mirna tahu itu kiriman dari Mentari. Maka Mirna pun menonaktifkan handphone milik Fatih, dan menyimpannya kembali di atas nakas. Namun, dia halangi dengan kresek buah-buahan.


******


     Fatih dan yang lainnya senang saat Zahra sudah sadar. Dokter pun menyarankan untuk jangan diganggu dulu. Jadi, tidak ada yang menemaninya di ruang isolasi. Abah pun sudah kembali ke pesantren karena harus mengajar. Khalid menemui klien yang akan bekerja sama dengannya. Kini tinggal Fatih dan Mirna yang ada di ruangan itu. Fatih memilih melanjutkan pekerjaan yang menumpuk dan harus secepatnya dia selesaikan.


     Fatih seakan lupa pada handphone miliknya karena terlalu sibuk akan pekerjaannya. Dia tidak tahu, jika ada pesan dari Mentari.


******


     Mentari yang sedang membaca, sesekali melihat handphone miliknya, untuk melihat apa ada pesan dari Fatih yang masuk. Namun, belum pesan dia belum juga dibuka.

__ADS_1


"Mau membalas pesan, bagaimana? Pesannya aja nggak dibaca!"


"Apa dia masih marah?"


"Harusnya aku yang marah sama dia!"


    Gumaman Mentari, didengar oleh Billi. Maka, pengawalnya itu, memberikan catatan miliknya kepada Mentari.


'Telepon saja, kalau kamu merasa cemas. Jangan menggerutu seperti anak kecil'


    Mentari mendengus setelah membaca tulisan dari Billi. Kemudian mengembalikan lagi buku catatan itu.


"Terima kasih sarannya. Aku akan menelponnya!"


     Mentari pun menghubungi Fatih, ternyata handphonenya tidak aktif. Mentari mencoba beberapa kali, tapi tetap saja tidak aktif. Kini pikiran Mentari, terlintas akan keadaan Zahra. Dia takut terjadi apa-apa kepada Zahra.


"Bun, kita jenguk Zahra, yuk!"


"Memangnya nggak apa-apa kalau kita menjenguk ke sana?!" tanya Sinar.


"Ya, sudah. Bunda, siap-siap dulu."


******


    Mentari dan Sinar pergi ke rumah sakit, bersama Billi yang menjadi sopirnya. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana hampir satu jam.


    Saat Mentari dan Sinar masuk ke kamar milik Zahra. Ternyata, Zahra sedang berada di ruang isolasi sedang bersama Fatih. Mentari pun mengerti kenapa pesan dia belum dibaca oleh suaminya.


"Ummi, bagaimana keadaan Zahra?" tanya Mentari setelah mencium tangannya.


"Seperti yang kamu lihat. Dia malah semakin buruk kondisinya. Mentari tolong bantu kabulkan keinginan Zahra!" pinta Ummi.


"Memangnya apa keinginan Zahra?" tanya Mentari.


    Mentari merasa sesuatu yang tidak enak saat mendengar perkataan Mirna, tadi. Namun, dia menekan perasaan itu. Dia tidak boleh suudzon, kepada orang lain.


"Zahra ingin pergi ke Karimunjawa, bersama Fatih. Itu adalah keinginannya dari dulu. Sebelum kamu dan Fatih sebelum nikah. Namun, Fatih menolak keinginan Zahra itu!" kata Mirna.

__ADS_1


"Ummi, mereka bisa pergi saat Zahra sudah sembuh, nanti," jawab Mentari.


     Meski Mentari hampir satu jam di sana. Namun, dia dan Fatih tidak bertemu karena suaminya itu berada di dalam ruang isolasi menemani Zahra. Akhirnya, Mentari dan Sinar memilih pulang karena nggak mau kesorean saat sampai rumah.


     Mentari merasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Fatih. Dia hanya bisa melihat punggungnya saja.


     Sampai malam pun, pesan darinya tidak dibuka dan dibalas oleh Fatih. Mentari yang kesal memilih tidur bersama orang tuanya. Seperti biasa dia meminta punggungnya dielus-elus.


******


     Keesokan paginya, setelah selesai sholat subuh, Mentari membuka amplop yang kemarin dia terima. Begitu dia membaca isi yang tertera di sana, wajahnya langsung pucat, jantung dia terasa diremas dengan kuat, sangat sakit. Kertas yang berisikan surat gugatan cerai yang dilayangkan untuknya dari Fatih. Mentari mengingat kembali kata-kata yang dulu pernah dia dengar langsung dari mulut suaminya.


"Bukannya sejak awal Mas menolak keinginan kamu, untuk dimadu dengan Mentari!"


"Mas ... sudah memberi penjelasan, tentang anak ... kita bisa mengadopsinya."


"Kamu masih saja memaksa Mas untuk menikahi Mentari. Bahkan kamu mengancam saat itu. Membuat Mas tidak punya pilihan lain,"


Pikiran-pikiran buruk pun terbayang dalam otaknya. lngatan tentang Fatih yang terpaksa menikahi dirinya, sebenarnya dia sejak awal sudah menolak keinginan Zahra.


Mentari sudah tidak mampu menahan rasa keterkejutan ini sampai semuanya terasa gelap. Mentari pun jatuh pingsan, dan keningnya membentur ujung meja rias, dan kertas yang berisi surat gugatan cerai tergeletak di dekat kolong kasur.


******


Aduh ... bagaimana keadaan Mentari, selanjutnya?


Apa Fatih akan mengabulkan keinginan Zahra?


Tunggu kelanjutannya ya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2