Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (42)


__ADS_3

     Fatih menangkup wajah Mentari. Rasa cinta untuk istri keduanya itu dari waktu ke waktu semakin bertambah. Bahkan Fatih sendiri tidak menyangka, kalau dia akan sebegitu cintanya kepada Mentari. Seandainya saja dulu tahu kalau dia akan sebegitu cintanya seperti ini. Begitu Mentari lulus SMA, langsung saja dia ajak nikah dan membawanya ke Swiss. Jadi, nggak perlu menjalani poligami. Namun, jika dia tidak menikah dengan Zahra, tidak akan tahu kesabaran dan ketabahan dalam menjalani hidup. Zahra itu wanita pertama milik Fatih, yang banyak memberikan pelajaran baginya. Sedangkan Mentari, wanita kedua yang menjadi ratu di hatinya, yang selalu berpikiran positif dan pemaaf. Kedua istri miliknya adalah wanita hebat dan istimewa.


"Aku tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Aku merasa sangat bahagia bisa menikah dengan kamu. Apa kamu tidak merasa bahagia?" tanya Fatih dengan suaranya yang lembut mengalun indah, ke pendengaran Mentari.


"A-Aku ... merasa sudah membuat Zahra terluka. Seandainya saja dulu aku menolak pernikahan ini mungkin, tidak akan begini keadaannya." Mentari menjadi linglung dengan pikirannya karena perkataan Mirna tadi. Dia merasa kalau hidup Zahra menjadi tidak bahagia gara-gara dirinya.


"Jadi, kamu menyesal telah menikah dengan aku?" tanya Fatih dengan hati yang terluka dan sangat sakit dia rasakan.


    Mentari diam saja, tidak menjawab pertanyaan Fatih. Itu membuat Fatih menarik napasnya dengan cara kara kasar. Fatih pun berdiri dan melangkah menjauhi Mentari. Dirinya memilih berdiri dekat si kembar yang sedang tertidur. Saat ini dia kecewa terhadap Mentari.


"Mas ...," panggil Mentari.


"Istirahatlah! Mungkin kamu sangat lelah hari ini," jawab Fatih tanpa melihat ke arah Mentari.


    Mentari pun membaringkan tubuhnya di kasur dan membalikan badannya. Memunggungi Fatih agar air matanya tidak terlihat, saat mengalir membasahi sudut matanya.


     Malam ini, Fatih memilih tidur di sofa di ruang kerja. Dia sedang ingin sendiri. Lelah fisik dan pikiran, sekarang ditambah Mentari malah merajuk seperti itu, membuat sakit hatinya. Tidak ada tempat untuk berbagi perasaannya.0


     Saat sarapan pun mereka tidak banyak berbicara dan berinteraksi. Acara berjemur bersama yang sering dilakukan, Fatih pun tidak ikutan. Tugas kantor yang banyak, belum lagi jadwalnya semakin padat karena akan melakukan liburan keluarganya nanti.


     Sudah satu Minggu Fatih, menyibukkan dirinya dengan bekerja agar bisa berjalan sesuai rencana mereka. Sebenarnya, Fatih merasakan tidak enak badannya. Namun, dia memaksakan bekerja.


     Zahra menyangka kalau Fatih selama satu Minggu ini tidur dengan Mentari. Begitu juga sebaliknya, Mentari menyangka kalau Fatih tidur dengan Zahra. Mereka melakukan semua kegiatan harian seperti biasa. Hanya saja, senyuman yang selalu terukir di wajah mereka kini tidak terlihat.


     Mentari yang merasa tidak nyaman dengan kondisi rumahnya yang seperti ini membuat dia memilih mengurung diri dikamar. Zahra juga merasa keadaan rumahnya menjadi aneh terasa aneh. Seperti di tempat asing.


"Mentari!" Zahra pun mengetuk pintu kamar Mentari.

__ADS_1


"Ya, ada apa Zahra?" tanya Mentari penasaran.


"Ada yang mau aku bicarakan," jawab Zahra.


    Mentari pun membuka pintu kamarnya lebar agar Zahra, bisa  ke kamarnya.


"Eh, anak ibu ternyata sudah bangun," kata Zahra dan memangku salah satu dari si kembar.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Mentari sambil memangku Rayyan.


"Aku merasa ada yang aneh saja di rumah ini. Tapi tidak tahu apa itu," jawab Zahra.


"Iya. Aku juga merasa begitu. Apa, Mas Fatih baik-baik saja?" tanya Mentari.


"Kenapa tanya kepadaku? Bukannya selama satu Minggu lebih dia selalu tidur dengan kamu!" Zahra mengerutkan keningnya.


     Baik Mentari maupun Zahra sama-sama terkejut. Mereka menyadari kalau Fatih selama ini tidak tidur dengan salah satu dari mereka.


"Apa ada masalah?" tanya Zahra kepada Mentari.


     Mentari diam dia memikirkan lagi kejadian satu Minggu yang lalu. Saat Fatih bertanya mengenai pernikahannya.


"Zahra, jawab dengan jujur! Apa setelah aku memasuki rumah tangga ini, kamu merasa sering tidak bahagia?" tanya Mentari dengan melihat ke arah Zahra dengan lekat.


     Zahra yang diberi pertanyaan seperti itu bingung mau menjawab apa. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Hanya ingin tahu saja," balas Mentari.

__ADS_1


"Bohong kalau aku bilang selalu bahagia. Tapi bukan berarti aku tidak bahagia. Adakalanya cemburu itu datang. Juga perasaan iri terhadap kamu, muncul. Tapi, itu tidak seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan saat kita tinggal di rumah ini bersama-sama," Zahra jujur dengan perasaannya.


     Mentari pun diam memikirkan apa yang Zahra, katakan barusan. Dia juga dulu ada kalanya sakit hati. Sekarang Mentari mengingat-ingat lagi. Apa banyak bahagianya atau sedihnya saat menjalani rumah tangga ini.


"Lalu, kalau kamu! Apa bahagia menjalani hidup berpoligami?" tanya Zahra penasaran.


"Hm, entahlah. Kadang aku merasa sangat bahagia atau sebaliknya," jawab Mentari pelan dan ragu.


"Jadi, bagimu kehidupan pernikahan ini tidak membuat kamu bahagia?" tanya Zahra dengan nada tak percaya.


    Disaat bersamaan Fatih membuka pintu kamar dan mendengar pembicaraan Zahra dan Mentari.


*******


Maaf baru bisa up.


Terima kasih buat kalian yang selalu menunggu up.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


BUNGAN, KOPI, ATAU KOIN


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2