Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (34)


__ADS_3

     Fatih dan Mentari setiap Minggu akan menghabiskan waktu bersama, mau itu diam di rumah atau pergi ke rumah orang tua mereka. Kebetulan, pagi ini Mentari dan Fatih memilih bermain bersama di rumah. Mereka berempat duduk di halaman belakang rumah beralaskan tikar kain. Menikmati udara segar dan hangatnya sinar matahari pagi. Seperti biasa, si kembar sangat senang dan tidak ada hentinya mengoceh, sesekali tertawa.


"Bayi zaman sekarang, baru satu bulan saja sudah pada aktif begini," kata Fatih yang sedang memangku si sulung, Raihan.


"Namanya juga perubahan zaman, kalau dulu bayi satu bulan itu baru bisa melek," balas Mentari, sambil menyusui si bungsu Rayyan, yang kadang dilepas ngoceng dulu, lalu menyusu lagi. Belum lagi tangannya yang suka memegang dan mere masnya, yang membuat Mentari kadang meringis karena kuku bayi itu tajam meski pendek.


"Ini Rayyan, kalau nyusu kuat banget, ya? Dari tadi nggak kenyang-kenyang!" Fatih malah menjahili si bungsu yang sedang menyusu.


"Iya, dibandingkan Raihan, Rayyan kalau menyusu memang lama," jawab Mentari sambil menepis tangan Fatih yang sedang menjahili anaknya.


"Semoga mereka menjadi anak-anak yang beriman kepada Allah dan selalu menegakkan agamanya, anak yang soleh, dan berbakti kepada orang tua dan negara. Menyayangi dan di sayangi oleh saudara-saudaranya." Doa Fatih untuk kedua putranya, yang selalu dia panjatkan setiap waktu. Diciumnya ubun-ubun Raihan dan Rayyan.


"Aamiin. Terima kasih, Ayah." Satu kecupan di pipi kiri diberikan Mentari kepada Fatih.


"Kurang satu lagi, Bun!" Fatih menyodorkan pipi kanannya, dan mendapatkan satu ciuman dari Mentari. Kemudian, keduanya tertawa bahagia. Si kembar pun ikut-ikutan tertawa seperti orang tuanya.


     Mentari duduk bersandar di bahu Fatih, menikmati suasana yang nyaman dan tiupan angin sepoi-sepoi, hanya ada suara gemerisik pelan dari daun yang bergesekan karena tertiup angin. Baik Fatih ataupun Mentari, tidak ingin suasana ini cepat berlalu. Namun, bila terlalu lama di luar juga kasihan sama, si kembar. Dua jam, mereka menghabiskan waktu di sana. Jam juga masih menunjukkan pukul 08.45 masih banyak waktu untuk menghabiskan kebersamaan mereka nanti di dalam rumah.


"Mas, kita bawa mereka masuk ke rumah. Biarkan tidur, di kamar saja!" ajak Mentari sambil melihat kedua putranya yang sedang tidur karena sudah kelelahan dari tadi mereka mengoceh berdua.


*******


     Fatih dan Mentari menghabiskan waktu mereka di kamar. Mentari merasa tidak bebas karena banyak pengawal dan pelayan di rumahnya kini. Kalau dulu hanya mereka bertiga saja di rumah. Mau apapun tidak malu atau canggung. Apalagi kalau hanya berdua, bebas mau melakukan apa saja.


     Meski sudah ada si kembar, waktu Mentari untuk Fatih masih banyak. Dia mana mungkin menyisihkan suaminya. Kegiatan-kegiatan mereka dahulu masih bisa dilakukan, meski kadang terganggu sama si kembar kalau ingin menyusu. Fatih selama dua hari di rumah bebas memanjakan Mentari, atau sebaliknya. Dia akan bermanja-manja kepada Mentari, Fatih juga kadang tidak mau mengalah sama si kembar. Senyuman dan tawa pun selalu menghangatkan suasana rumah mereka.

__ADS_1


******


     Zahra, di rumah sakit bersama Aurora. Kata dokter, kalau kondisinya stabil, dia bisa pulang dua hari lagi. Tentu saja itu kabar bahagia, bagi semua orang. Apalagi Mentari, dia langsung berbenah kamar milik, Zahra. Merubah dekorasinya agar terlihat lebih luas kamarnya. Biar Zahra tidak merasa pengap saat berada di kamarnya. Padahal luas kamar Zahra itu tiga kali lipat kamar Mentari di rumah Ja'far. Jadi, mana mungkin pengap.


     Mentari juga, menata kebun bunga di halaman yang bisa dilihat dari jendela kamar Zahra. Agar dia juga bisa menikmati pemandangan yang menyenangkan dan menyehatkan mata, dan tentunya supaya Zahra tidak merasa bosan.


     Ummi sama Abah juga sangat senang kalau Zahra, sudah bisa pulang. Perjuangan Zahra selama dua bulan lebih ini, akhirnya tidak sia-sia. Meski belum dinyatakan sembuh, karena masih harus menjalani pengobatan lagi nanti. Ini baru tahap awal, dan hasilnya bagus. Meski, dulu sering terjadi penurunan kondisi Zahra, pas awal-awal pengobatan.


******


     Fatih yang sedang berada di kantor perusahaannya, sangat senang mendengar kabar ini. Perjuangan dia dan Zahra ada hasilnya. Kenangan-kenangan selama Fatih mengurus Zahra, kembali berputar di dalam otaknya. Kesabaran ekstra dia, dalam membangun rasa percaya diri Zahra, agar tidak mudah drop. Wajah kesakitan Zahra, yang setiap hari dia lihat, saat melakukan kemoterapi. Hal yang sering dia rasakan lainnya adalah rasa kesalnya kepada wanita yang sudah melahirkan Zahra. Ummi, selalu membuatnya tersudutkan, semua hal terjadi kepada Zahra, selalu dirinya yang disalahkan. Fatih, kadang ingin menghardiknya, jika dia tidak sayang sama Zahra. Bila dia melakukan itu Zahra pasti akan sedih dan terluka hatinya. Fatih yang sering dipojokan oleh ibu mertuanya, jadi merasa kebal. Apalagi kalau dia menghubungi Mentari, sindiran halus sering Ummi lontarkan. Namun, Fatih bodoh amat, dia tidak bisa melawan rasa rindunya kepada Mentari.


'Raga kamu di sini, tetapi hati dan pikiran kamu ada di rumah.' Kata-kata sindiran Ummi untuk Fatih.


******


     Anggit berjalan bak model kelas Internasional. Dia, sudah janjian dengan temannya di sebuah resto yang ada di dalam mall. Dia masuk ke room private. Dilihatnya seorang teman yang dia kenal saat di lapas penjara.


"Hai, Melisa, sudah lama?" tanya Anggit dengan gaya anggunnya.


"Baru lima menit," jawab Melisa sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Maaf, kita baru bisa bertemu. Aku harus memperbaiki kembali struktur manajemen perusahaan karena ditinggalkan aku sama papi," kata Anggit.


"Tidak apa-apa, kok. Oh, iya. Kenapa kamu tidak bilang kalau Mentari itu menantu keluarga Khalid?" tanya Melisa.

__ADS_1


"Aku juga baru tahu karena yang aku tahu dulu dia menikah sama laki-laki bule, anak angkat Khalid, juga sih," jawab Anggit.


"Untung saja, aku membatalkan niatku saat tahu dia menantu keluarga Khalid. Kalau tidak sudah tamat riwayatku!"


     Anggit malah tertawa kencang. Membayangkan temannya harus berhadapan dengan Tim Keamanan Keluarga Hakim. Dia mengingat kejadian dulu, saat dirinya ditahan karena yang merencanakan penculikan si Trio Kancil dan percobaan pembunuhan kepada Cantika. Meski niat awalnya hanya ingin mencelakainya saja tanpa ada keinginan untuk membunuhnya.


"Jadi, apa rencana kita selanjutnya?"


******


Apa yang akan direncanakan oleh Anggit dan Melisa?


Zahra akhirnya bisa pulang ke rumah!


Apa yang akan terjadi setelah Zahra ada di rumah?


Tunggu kelanjutannya ya!


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2