Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI-WILLIAM (46)


__ADS_3

     Mentari sedang mengajak Liam berjemur di dekat kolam renang. Keduanya bercanda gurau, dan Liam tertawa menjerit-jerit. Mentari sangat senang saat melihat Liam yang tertawa lepas. Kini dia punya lebih banyak waktu bersama Liam. Sarapan sudah tidak ambil pusing lagi. Kini biar koki yang membuatkannya. Tidak perlu memikirkan bekal untuk Allura. 


    Hubungannya dengan William pun, menjadi suam-suam kuku. Mereka akan berkomunikasi hanya sewajarnya saja. Itu juga hanya menyangkut soal Liam saja. Aktivis bercinta pun jarang dilakukan. Kalau dulu tiap hari mereka lakukan, kini dalam seminggu cuma sekali atau dua kali.


    Bila William mulai berbicara mengenai Allura, pasti ujung-ujungnya mereka bertengkar. Baik Mentari maupun William tidak suka saat mereka harus saling berdebat. Jadi lebih baik saling mendiamkan saja.


"Anak siapa ini, yang pintar?" tanya Mentari sambil menggelitik perut Liam.


"Mom-my," jawabnya di sela-sela tawanya.


"Anak siapa ini, kok tampan sekali?" tanya Mentari masih menggelitik perut Liam.


"Dad-dy!" jawabnya sambil tergeletak dan tertawa karena geli.


     Liam usianya kini satu setengah tahun, dia sudah banyak menguasai kosakata. Jalannya pun sudah lancar. Hanya saja dia masih diberi ASI oleh Mentari. Liam belum di sapih, rencananya sampai nanti berusia dua tahun. 


     Interaksi antara Liam dan Mentari membuat Allura, yang sedang berdiri di dekat pintu itu cemburu. Dia sangat marah kepada balita yang sedang tertawa bahagian dengan ibunya. Kini dia sudah lagi bisa bermanja-manja kepada Mentari. Sebab Mentari selalu sibuk dengan mengurus Liam. 


     Allura sangat merindukan pelukan dan belaian sayang dari Mentari. Kini tidak ada lagi senda gurau dengannya. Membacakan buku dongeng saat akan tidur. Menemaninya belajar dan mengerjakan tugas. Membuatkan makanan untuknya. Mencoba membuat olahan makanan baru. Semua yang biasa dilakukannya dengan Mentari sudah tidak ada lagi. Bahkan Allura selalu membuat gara-gara, agar menarik perhatian Mentari. Namun, selalu tidak ditanggapi olehnya.


"Nona, sedang apa?" tanya Mone begitu datang dari arah belakang Allura.


"Tidak ada apa-apa," jawab Allura kemudian pergi dari sana.


"Aku tahu apa yang Nona, inginkan!" seru Mone saat Allura baru berjalan beberapa langkah darinya.


     Allura pun menghentikan langkahnya yang baru berjalan lima langkah dari tempatnya tadi. Kemudian dia membalikkan badannya dan menghadap ke arah Mone.


"O, ya. Apa itu?" tanya Allura dengan nada sindiran kepada Mone.


     Allura kini selalu terlihat kesal bila berhadapan dengan Mone. Sebab, gara-gara fitnah dan ancamannya dahulu. Kini dia harus dijauhi oleh Mentari. Dulu dia selalu menangis bila diabaikan oleh Mentari. Sikap Mentari yang tiba-tiba nggak peduli kepadanya, membuat hatinya terasa sakit. Apalagi setelah William mempekerjakan seorang nany 911. Membuat Allura semakin kehilangan perhatian dari Mentari.


     Mone berjalan dua langkah kehadapan Allura. Senyuman liciknya terpatri di wajahnya yang mulus.

__ADS_1


"Kalau Nona, ingin kembali mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari nyonya, seperti dulu lagi. Maka buat pengganggunya menghilang, dengan begitu semua akan kembali ke semula," kata Mone sambil berbisik.


     Allura yang masih kecil dan labil emosinya. Membenarkan apa yang dikatakan oleh pelayan pribadinya itu. Maka dia berpikir bagaimana caranya agar Liam, bisa di jauhkan dari Mentari.


******


     Mentari dan Liam masih bersenda gurau, saat seorang pelayan memberi tahu ada telepon dari Jennifer, yang sedang berada di Eropa.


"Sayang, ayo kita bicara dengan Grandma Jennifer!" Mentari pun masuk ke rumah dengan menggandeng tangan Liam.


     Saat Mentari bicara dengan Jennifer, di telepon. Liam asik memainkan mobil-mobilan miliknya. 


    Allura tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, setelah mendengarkan apa yang harus dilakukannya kepada bayi yang baru berusia satu setengah tahun itu.


     Saat Liam berjalan mengejar mobilnya yang bisa bergerak sendiri. Allura pura-pura berjalan di dekatnya. Kemudian dia menjegal kaki bocah yang sedang fokus ke arah mainannya yang bergerak. Akibatnya Liam terjatuh dengan kepala membentur ujung meja, kemudian jatuh ke lantai.


      Suara dari benturan dan jatuhnya tubuh Liam, ke lantai. Membuat Mentari yang sedang berbicara dengan Jennifer, mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.


"Liam!" teriak Mentari bersamaan dengan pecahnya suara tangis Liam.


"Astaghfirullah, Liam!" Mentari terkejut melihat wajah putranya bersimbah darah.


    Digendongnya tubuh Liam, dengan menggunakan tangannya sebelah. Tangan yang satunya lagi menutup luka yang masih mengeluarkan darah, menggunakan ujung hijabnya.


     Mentari berteriak meminta tolong kepada pelayan untuk membersihkan darah yang ada di lantai. Kemudian dia juga meminta sopir untuk secepatnya mengantarkan mereka ke rumah sakit.


    Para pelayan heboh dengan kejadian barusan. Mereka berbisik-bisik dan menduga kenapa tuan mudanya bisa sampai mengalami kecelakaan itu.


     William yang baru turun untuk sarapan, di buat geram oleh para pelayan yang sedang berkumpul. Dia tidak suka kalau para pekerjanya bermalas-malasan, sementara pekerjaannya belum selesai dikerjakan.


"Ada apa ini?! Kenapa kalian malah berkumpul di sini?!" William berdiri di dekat kerumunan para pegawainya.


"Itu ... Tuan, barusan tuan muda celaka dan kepalanya mengeluarkan banyak darah. Sekarang nyonya sedang membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


"Tadi nyonya, sedang asik berbicara di telepon. Sehingga dia tidak memperhatikan tuan muda, yang sedang berlari mengejar mainan mobil miliknya. Tuan muda terjatuh dan kepalanya terluka, mengeluarkan banyak darah," kata Mone dan Allura pun menganggukkan kepalanya.


     William langsung menyusul Mentari dan Liam ke rumah sakit. Dia mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Suasana kota di pagi hari masih lenggang dengan lalu lalang kendaraan. Dalam waktu yang singkat, William bisa menyusul anak dan istrinya ke rumah sakit.


     William melihat Mentari sedang berada di ruang UGD. Maka dia pun menghampiri istrinya itu.


"Baby, sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya William begitu berdiri di samping Mentari.


"Aku tidak tahu awalnya, kenapa Liam sampai kecelakaan seperti ini," jawab Mentari sambil sekilas menatap ke arah suaminya. Mentari terlihat pancaran sinar kemarahan dari mata William.


"Kamu tidak tahu karena terlalu asik bergosip di telepon?!" William berkata dengan nada sindiran kepada Mentari yang kembali melihat ke arah Liam. Putranya yang sedang di obati oleh seorang dokter dan perawat.


"Kenapa Oppa bisa berbicara seperti itu? Apa Oppa melihat semua kejadiannya?!" Mentari yang pikirannya sedang kacau karena kepanikannya tadi. Kini mulai kembali tersulut emosinya.


"Banyak pelayan yang menyaksikannya dengan mata mereka sendiri!" kata William dengan menekan kata-katanya dan menatap tajam ke arah Mentari.


"Oh, ya. Dan aku yakin kalau pelayan yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri itu adalah Mone!" Balas Mentari dengan menekan kata-katanya juga. Tidak lupa tatapan tajam matanya dia layangkan juga buat William.


"Harusnya kamu introspeksi diri. Gara-gara kelalaian kamu, Liam sampai celaka!" kata William sambil menunjuk putranya yang baru saja selesai di obati.


     Mentari merasakan sakit sekali hatinya. Dia juga sejak tadi sudah menyalahkan dirinya sendiri. Akibat kelalaiannya dari mengawasi sekitar Liam, membuat putranya celaka.


******


HAI TEMAN-TEMAN, TANGGUNG YA, MENTARI-WILLIAM SAMPAI AKHIR TAHUN :)


SEMOGA KALIAN PADA SABAR MENUNGGUNYA.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2