
Mentari dan Fatih masuk ke kamar isolasi, mereka melihat Zahra tersenyum lemah. Mentari tidak kuat menahan tetesan air mata yang sudah penuh di pelupuk matanya. Fatih juga sama, matanya berlinang karena hatinya merasa sakit saat tahu kalau waktu Zahra tinggal sebentar lagi.
"Mas," panggil Zahra dengan suara sangat lemah.
"Iya." Fatih menggenggam tangan Zahra, kemudian menciumnya.
"Mentari," kali ini Zahra memanggil adik madunya.
"Iya, aku di sini." Mentari berdiri di samping Fatih dan ikut menggenggam tangan Zahra.
Zahra melihat kedua orang yang berharga dalam hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang tulus menyayangi dirinya. Tanpa minta imbalan balik, yang selalu membuat warna dalam hidup yang terasa datar. Cinta, sayang, cemburu, marah, sedih, senang, bahagia, kecewa, cemas, khawatir, tertawa, menangis, dapat Zahra rasakan. Bahkan melakukan hal-hal konyol dan gila karena Mentari dan Gaya ketika mereka masih gadis. Memberikan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidupnya.
"Aku sangat sayang sama kalian. Jadi, aku minta kalian harus selalu bersama sampai maut memisahkan." Meski suara Zahra sangat pelan, tetapi Fatih dan Mentari masih bisa mendengarnya.
"Iya, tentu saja." Fatih dan Mentari menganggukkan kepalanya. Zahra pun tersenyum.
"Mas Fatih, jaga Mentari dengan baik. Jangan sampai dia lepas dalam pelukanmu!" pinta Zahra kepada Fatih.
"Bukannya kamu sering bilang, kalau aku itu tidak bisa jauh dari Mentari. Jadi, mana mungkin aku akan melepaskannya," ucap Fatih. Zahra pun tertawa lemah.
Zahra sering bilang kalau sehari saja Fatih tidak melihat Mentari, seperti perempuan yang sedang datang bulan. Perasaannya sensitif, salah bicara sedikit saja akan jadi masalah. Selain itu, Mentari juga merupakan mood booster bagi Fatih.
"Mentari, titip Mas Fatih, ya. Dia itu sangat membutuhkan kamu. Kamu adalah sumber kebahagiaan dan kekuatan bagi Mas Fatih." Zahra menatap Mentari dengan penuh harap.
"Hm." Mentari menganggukkan kepala. Dia sekuat mungkin menahan suara tangisan agar tidak lolos keluar.
Mentari tahu dulu Zahra sering cemburu kepada dia karena Fatih sering tersenyum dan tertawa saat mereka bersama. Begitu juga, jika membutuhkan sesuatu apapun, orang yang pertama dicari oleh Fatih adalah dirinya.
"Kalian harus jadi orang tua terbaik bagi si kembar. Ah, aku rindu mereka." Zahra kali ini matanya berkaca-kaca saat membicarakan dua bayi tampan itu. "Aku ingin bertemu mereka!" pinta Zahra.
Fatih dan Mentari bingung mau bilang apa? Bagi mereka tidak masalah untuk mempertemukan Zahra dengan si kembar. Hanya saja dokter pasti tidak akan memberikan izin.
"Apa Video call, belum cukup untuk mengobati rindu kepada Rayyan dan Raihan?" tanya Mentari dan Zahra mengangguk sebagai jawaban.
"Aku ingin pulang!" Keinginan Zahra ini, dia berharap bisa di kabulkan.
"Kita harus tanya dulu ke tim dokter yang menangani kamu, Sayang," jawab Fatih.
Zahra melihat kepada Mentari, "bisa tolong tanyakan ke dokter, apa aku bisa pulang?"
__ADS_1
Mentari pun mengangguk dan pergi dari sana.
"Mas. Aku ingin pergi ke villa di puncak, tempat pertama kita memadu kasih."
Zahra menyukai tempat pertama yang di datanginya bersama Fatih dulu. Saat mereka masih menjadi pengantin baru. Fatih membawa Zahra ke villa di puncak karena tidak mau malam pertama mereka diganggu lagi. Biang kerok dari terganggunya malam yang harusnya indah itu, adalah Alex dan William. Kedua saudara dia, datang malam-malam hanya untuk curhat dan mencari informasi tentang Cantika. Ujung-ujungnya mereka tidur bersama pengantin pria.
"Kalau mendapat izin dari dokter, kita pergi kesana."
"Aku ingin pergi bersama-sama dengan yang lain. Semua keluarga kita, berkumpul di sana. Seperti keluarga besar Cantika yang sering berkumpul bersama jika dia pulang ke Indonesia."
Zahra sering melihat video dan foto-foto milik Aisyah, jika sedang berkumpul bersama keluarga suaminya. Cantika adalah sepupu Andromeda, suaminya Aisyah. Bahkan keluarga Mentari sepupu dari pihak ibunya pun selalu ikut serta. Kebahagian keluarga mereka selalu membuat Zahra ingin ikut serta di sana. Meski, nantinya Alex akan memboyong keluarganya mengadakan acara yang sama bersama keluarga Khalid. Namun, kesannya terasa berbeda.
"Keluarga kita tidak sebesar keluarga Cantika, Sayang. Apa aku juga harus memanggil Alex dan Cantika kesini bersama anak-anaknya. Agar suasana lebih meriah. Ah, pastinya akan ramai kalau ada si Trio Kancil." Fatih tersenyum karena pasti akan ramai jika ada ketiga bocah itu.
"Kalau mereka bisa datang, kenapa tidak?" Zahra tersenyum bahagia.
"Jika itu membuatmu senang dan bahagia. Akan Mas turuti," ucap Fatih.
******
Dokter pun memanggil Fatih dan Khalid, untuk membicarakan sesuatu terlebih dahulu. Bagaimanapun juga dia masih memiliki hati nurani.
"Aku berharap dokter juga ikut kami ke villa. Untuk memantau ke ada Zahra, selama berada di sana," kata Fatih.
"Aku akan menyediakan peralatan medis yang diperlukan dalam perawatan Zahra," ucap Khalid.
"Baiklah, saya dan dua orang lainnya akan ikut serta bersama Anda," jawab dokter.
******
Tanpa Fatih harus hubungi, ternyata Alex dan Cantika sudah datang. Mereka sengaja datang ke Indonesia untuk menjenguk Zahra. Setelah mengetahui kondisinya dari William.
"Terima kasih, kalian sudah mau datang kesini." Fatih memeluk tubuh Alex.
"Ya dan dalam satu Minggu ini, aku dua kali bolak-balik Indonesia-Amerika," ujar Alex.
"Maaf membuatmu repot." Fatih merasa bersalah kepada Alex yang pastinya kelelahan dalam perjalanan, belum lagi kemarin darahnya baru diambil untuk transfusi darah William.
"Tidak apa-apa, kita 'kan saudara. Kalau ada satu yang sakit, maka yang lainnya pun akan ikut sakit," tukas Alex.
__ADS_1
Cantika yang sedang hamil besar sengaja datang karena ingin bertemu dengan Zahra. Dia merengek kepada Alex agar bisa pulang ke Indonesia. Padahal kemarin saat Mentari melahirkan dia dilarang suaminya untuk datang melihat di kembar.
Aurora mengelus perut Cantika dengan lembut. Sinar juga duduk di sebelah Cantika.
"Ini sepertinya sebentar lagi mau lahiran," kata Aurora.
"Mama, jangan bilang begitu. Aku tidak bawa persiapan buat melahirkan di sini. Meski dokter kandungan ikut ke sini.
"Tapi ini sudah dibawah posisi bayinya." Sinar ikutan mengelus perut Cantika.
"Kehamilan kali ini agak berbeda. Bayinya satu tapi sering nggak mau diam. Aktif terus sampai pergerakan dalam perut seperti saat hamil Shine dan Sky. Aku sampai minta dokter cek ulang lagi beneran ini bayinya cuma satu."
"Ngomong-ngomong soal kehamilan, sekarang Mentari sedang hamil lagi," kata Aurora dengan penuh semangat.
Cantika terkejut saat mendengarnya. Sepupu yang baru saja melahirkan, kini sudah hamil lagi. Cantika, membayangkan rasa sakit saat melahirkan kemarin pastinya masih terbayang dengan kuat dalam ingatan.
"Apa Mentari tidak di KB?" tanya Cantika yang merasa simpati kepada istri muda dari Fatih.
"Katanya di KB. Mungkin karena Fatih adalah laki-laki hebat. Makanya dia mudah membuat Mentari hamil." Aurora membanggakan putra sulungnya itu.
"Iya juga, ya. Mentari juga langsung hamil saat dia baru menikah dengan Fatih." Sinar mendukung kalau menantunya adalah laki-laki hebat dalam membuat anak.
"Apa tidak kasihan sama Mentari tiap tahun harus melahirkan?" tanya Cantika.
Aurora dan Sinar saling pandang, setelah mendengar pertanyaan Cantika. Mereka tidak mendengar keluhan dari Mentari saat dia hamil baik yang pertama atau yang sekarang.
******
Bagaimana cerita di villa nanti?
Apa akan seseru yang diharapkan oleh Zahra?
Tunggu kelanjutannya ya!
Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.
Dukung aku terus.
Terima kasih.
__ADS_1