
Mentari terbangun dari tidurnya, ketika seorang pelayan memanggil namanya. Dia merasa tubuh dan kepala terasa ringan. Setelah tertidur cukup lama di gazebo.
"Hm, kenapa bajuku wangi parfum laki-laki, ya?" gumam Mentari sambil mengendus-endus gamis yang sedang dia pakai.
"Nyonya Mentari, ada telepon dari nyonya Aurora," kata pelayan sambil menyerahkan telepon rumah Wireless--telepon tanpa kabel.
"Terima kasih, Bi." Mentari pun, kemudian berbicara dengan Aurora.
******
Zahra masih disibukan dengan acara di pesantren. Orang-orang yang mengenal Zahra dan tahu kehidupan rumah tangganya, banyak yang kepo. Apalagi, barusan Fatih meneleponnya dan mengingatkan untuk minum obat.
"Teh Zahra, apa mas Fatih selalu berbuat adil sama istri-istrinya?" tanya salah seorang kerabatnya yang ikut menyediakan makan prasmanan.
"Alhamdulillah, Mas Fatih adil kepada istri-istrinya," jawab Zahra sambil tersenyum.
"Ah, Teh Zahra. Adil itu relatif kelihatannya. Menurut kita sudah adil, tapi belum tentu buat yang lainnya." Kerabat lainnya menimpali.
"Asal kalian tahu saja. Mas Fatih itu, selalu melakukan yang terbaik buat istri-istrinya," balas Zahra lagi, sambil mencubit pipi kerabatnya itu.
"Oh, so sweet!" ucap anak-anak muda di sana yang sejak tadi mendengarkan.
Zahra hanya tersenyum simpul, menanggapi ocehan mereka. Memang Fatih, selalu berbuat yang terbaik untuk dirinya dan Mentari.
"Tapi, kayaknya Mas Fatih, itu cinta banget sama, Teh Zahra!" Salah seorang sepupu Zahra menimpali.
"Iya, bener. Kita sering lihat, Mas Fatih selalu menggandeng tangan Teh Zahra, dengan mesra, saat jalan turun dari mobil," kata kerabat lainnya.
"Apa bener, Mas Fatih cinta banget sama Teh Zahra? Kalau cinta, dia tidak akan berpoligami!" Sepupu yang lainnya berargumen.
Gadis-gadis muda yang ada di sana terdiam sesaat dan saling pandang. Zahra yang tadinya tersenyum menanggapi obrolan saudara-saudaranya itu, kini dia juga mendadak kaku.
"Apa karena Teh Zahra belum juga punya anak? Jadinya Mas Fatih menikah lagi?" tanya gadis berhijab hitam. Zahra mengenalnya sebagai seorang santri teladan, dan sudah di khitbah oleh sepupu laki-laki dia.
"Hush," salah seorang dari mereka, menyenggol 'kan lakinya kepada santri tadi.
Zahra diam tidak menanggapi, dia juga secepatnya menghabiskan makanannya dan meminum obat. Setelah itu dia pergi ke rumah Wa Haji, untuk bantu-bantu di sana. Dia tidak suka kalau ada orang yang membicarakan tentang kehamilan dirinya.
******
Fatih pun menghubungi Mentari, setelah tadi terlebih dahulu menelepon Zahra. Bagi Fatih bicara dengan Mentari itu terasa mengalir begitu saja, obrolan mereka tidak ada putusnya. Walau kadang Fatih merasa aneh, semenjak pergi ke Amerika, Mentari jadi sering menggombal. Katanya itu bayi mereka yang ngomong. Padahal Fatih tahu kalau itu kata-kata ungkapan isi hati Mentari, yang sebenarnya.
"Mas, kapan ... pulang?" tanya Mentari dengan nada manja seperti biasanya.
__ADS_1
"Hm, sepertinya satu Minggu lagi. Ternyata pekerjaan di sini sangat banyak!" Fatih menjawab dengan penuh keyakinan, hanya untuk menggoda Mentari.
"Apa! Satu Minggu lagi? Kok jadi tambah lama. Bukannya Mas, sering begadang demi menyelesaikan pekerjaan lebih cepat?" tanya Mentari dengan nada penuh kecewa.
"Kenapa, my sweet heart? Kamu sudah merindukan aku?" Fatih malah balik bertanya.
"Bukan aku yang merindukanmu, Mas. Tapi, si kembar! Mereka sudah rindu sama Ayahnya." Mentari bicara begitu dengan muka yang sudah sangat merah karena malu.
"Oh, jadi yang rindu itu si kembar. Bundanya tidak?" Goda Fatih sambil tersenyum.
"Sudah ah, Mas. Sana kembali bekerja! Ini sudah setengah jam, bahkan lebih," kata Mentari.
"Baiklah. I love you (aku mencintai kamu), Mentariku!"
"I'm in love with you, Mas (aku jatuh cinta padamu, Mas)."
"You're my other half , Mentari(kamu adalah separuh hidupku, Mentari)."
"Sudah ah, Mas. Jangan diterusin lagi. I Miss you (aku merindukanmu)."
"I yearn for you (aku sangat merindukanmu)."
"Mas ... sudah jangan diterusin lagi!" pinta Mentari yang kini wajahnya mulai terasa panas, sampai-sampai dia mengibaskan tangan di depan mukanya.
"Aku 'kan cuma mengembalikan kata-kata semalam yang kamu bilang kepadaku," kata Fatih terkekeh, dia yakin kalau Mentari kini wajahnya sudah kayak kepiting rebus. "Masih banyak yang mau aku ucapakan balik kepadamu, my lovely."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
******
Zahra memilih pulang ke rumah mertuanya, ketika hari masih pagi. Dia lebih menyukai tinggal di rumah sendirian sebenarnya. Tidak akan mendengar omongan dan pembicaaan dari keluarga atau kenalannya.
Tentu saja kedatangan Zahra, di sambut gembira oleh Mentari. Dipeluknya tubuh Zahra yang semakin terasa kurus. Mentari pun merasa wajah Zahra, semakin pucat.
"Zahra, kamu pasti lelah, ya. Apa di sana banyak pekerjaan yang harus kamu bantu?" tanya Mentari sambil menelisik keadaan Zahra.
"Iya, begitulah. Kalau ada acara Reuni Akbar, pasti akan banyak tamu yang datang," jawab Zahra.
"Kalau begitu, kamu istirahat. Biar cepat kembali tenaganya. Kasihan juga tubuhmu, pasti terasa remuk," kata Mentari sambil terkekeh, dan di ikuti oleh Zahra.
******
__ADS_1
Zahra yang merasa kesal tidak melakukan apa-apa mengajak Mentari untuk jalan-jalan ke mall. Minta diantar membeli buku dan gamis. Mentari pun setuju karena gamisnya dia juga sudah mulai ketat karena perutnya sudah semakin besar.
"Kita minta izin dulu ke Mas Fatih!" suruh Mentari, dan Zahra pun mengiyakan.
Zahra pun menghubungi Fatih dan meminta izin untuknya dan Mentari, untuk pergi ke mall mau beli buku sama gamis. Fatih menolaknya, dia bilang nanti setelah pulang akan mengajak kedua istrinya berbelanja. Namun, Zahra dan Mentari terus merengek ingin pergi ke mall karena di rumah terus juga suntuk. Apalagi mertua mereka masih sibuk menyelesaikan kasus di perusahaan mereka. Akhirnya, Fatih pun memberikan izin dengan catatan harus didampingi oleh para pengawal.
******
Mentari dan Zahra pun akhirnya pergi ke Mall Mega milik Erlangga. Mereka sangat antusias saat melihat banyak model gamis keluaran terbaru. Baik Mentari maupun Zahra, membatasi jumlah pembelian baju. Fatih tidak suka kalau cuma dibeli, tetapi tidak dipakai. Jadi mereka beli secukupnya.
Acara berbelanja mereka berdua benar-benar di nikmati. Meski ada para pengawal yang membuntuti mereka.
Setelah membeli baju, tujuan mereka selanjutnya adalah membeli buku. Kalau sudah di tempat seperti ini, mereka akan lupa waktu. Sampai Fatih menelepon Zahra, mengingatkan dia untuk minum obatnya.
"Sudah tengah hari. Sebaiknya kita makan di resto bawah saja. Sambil menunggu waktu Dzuhur," kata Mentari dan disetujui oleh Zahra.
Mereka dan para pengawal pun makan siang di sana. Tentu dengan meja yang berbeda. Para pengawal yang berjumlah empat orang, duduk di meja samping kanan dan kiri, tempat Mentari dan Zahra. Mereka membebaskan para pengawal itu mau makan dan sebanyak apa, terserah. Asal mereka menghabiskannya.
"Zahra, aku ke toilet dulu,ya!" Mentari sudah kebelet ingin buang air kecil.
"Iya. Ajak satu atau dua pengawal!" suruh Zahra.
"Ssstt, kamu malu-maluin aku. Aku pergi aja sendiri. Lagian tuh toiletnya!" Mentari menunjuk ke pojok area resto yang bertuliskan toilet.
Mentari pun pergi sendiri, tapi keempat pasang mata para pengawal mengikuti terus ke arah Mentari, pergi. Mereka sebenarnya tidak setuju untuk melepas nyonya mudanya. Kalau ada apa-apa, pasti bisa kena hukuman.
"Halo, Baby!"
Langkah Mentari terhenti saat ada seseorang yang menghalangi jalannya.
"Oppa …."
******
Ada Oppa Willi datang lagi. Kira-kira kali ini dia akan melakukan apa, ya? Kepada Mentari!
Tunggu Bab-Bab selanjutnya ya.😉
Jangan bilang part nya pendek, ya. Ini hampir 1200 kata. 😁
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.