
William mengunjungi rumah sakit bersalin, untuk menjenguk bayi kembarnya Alex, yang baru tadi pagi dilahirkan oleh Cantika. Langkah yang penuh semangat, William berjalan menelusuri lorong koridor rumah sakit.
William tersenyum lebar saat bertemu dengan Alex yang berjalan berlawan arah dengannya. Langkahnya pun dipercepat bahkan seakan dia berlari ke arah Alex.
"Al, aku dengar kalau Cantika sudah melahirkan bayi kembarnya tadi pagi?" William tersenyum kepada cucunya itu.
Alex yang marah karena kelakuan William, langsung saja memberikan tonjokan di wajahnya, saat mereka berdua bertemu.
"Punya muka juga, ternyata ya! Setelah melakukan kesalahan besar seperti itu. Datang untuk menemui Cantika!" Alex menekan kata-katanya kepada William.
"Apa maksudnya?" tanya William sambil berdiri dan menyeka darahnya yang keluar dari sudut bibirnya.
"Apa Kakek Willi tahu? Kalau Cantika harus melahirkan bayi yang masih prematur karena terlalu banyak beban pikiran! Akibat kelakuan Kakek Willi kepada Mentari!" Alex mencengkram kerah kemeja warna navy yang dipakai William.
"Aku minta maaf, kalau gara-gara masalah aku dan Mentari. Membuat Cantika harus melahirkan bayinya secara prematur," kata William dengan suaranya yang lirih.
Alex yang masih sangat kesal menonjok lagi muka William, "ini untuk bayi kembarku!"
"Ini untuk Cantika!" Alex menonjok pipi sebelah kiri gantian.
"Ini untuk Mentari!" Pukulan terakhir Alex begitu kuat sampai-sampai William terlempar beberapa meter ke halaman taman rumah sakit.
"Apa masih kurang Kakek Willi?" Alex berjalan ke arah William. Kemudian mengulurkan tangannya, membantu William berdiri.
William menerima uluran tangan Alex, sambil meringis kesakitan. "Sepertinya, tulang hidung aku patah! Tulang rahang juga!"
Alex hanya tertawa mendengar keluhan William. "Rasa sakit itu belum seberapa, dibandingkan oleh kedua wanita itu!" seru Alex," kalau tidak takut kualat, tentu aku masih ingin menghajar Kakek Willi, untuk melampiaskan semua amarahku."
"Kamu mau membunuhku!" William melotot ke arah Alex.
Alex menganggukan kepalanya, "kalau sampai terjadi sesuatu kepada Cantika dan kedua bayiku. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu, Kek!"
William terdiam, dia tahu Alex bukanlah orang yang asal bicara. Bisa saja kalau terjadi sesuatu kepada bayi-bayinya itu. Tadi dia langsung dibunuhnya di tempat itu tadi.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Alex sambil menatap mata William dengan tajam, seolah tidak mau melewatkan setiap pergerakannya.
"Aku sudah melakukan hal yang sangat bodoh …."
******
__ADS_1
Flashback on,
Beberapa saat sebelum kedatangan Mentari …
William sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Apalagi muncul beberapa masalah para pekerja, di perkebunan miliknya.
Terdengar suara ketukan di pintu, dan William menyuruh orangnya yang sedang mengetuk pintu itu untuk masuk, tanpa bertanya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, yang di buru oleh waktu.
Terdengar suara langkah yang ringan, dan William mengira itu Mentari. Dengan senyuman manisnya dia ingin menyambut istrinya.
"Beb--" kata-kata William terhenti, begitu juga dengan wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi kaku.
William memasang wajah tidak suka saat melihat Angel masuk ke dalam ruangannya. Wanita yang sudah beberapa hari ini di jauhinya.
"Ada apa Angel?" tanya William dengan suaranya yang dingin karena wanita yang sedang berjalan ke arahnya itu, mengabaikan perintahnya.
"Aku sungguh sangat rindu kepadamu, Sayang!" Angel kini berubah menjadi wanita yang berkata dengan nada yang manja, seperti Mentari.
William mulai jengah karena Angel sudah melanggar perintahnya. Kini dia meniru tingkah Mentari. Kalau istrinya itu sudah dari dulunya begitu. Enggak pura-pura, dimanja-manjakan suaranya.
"Keluarlah Angel! Aku sedang sibuk, tidak ada waktu untuk melayani obrolan kamu," kata William, kemudian dia fokus kembali ke berkas yang ada di depannya.
"Tentu saja baik. Bagaimanapun aku harus menjadi istri yang baik baginya. Agar aku bisa mengeruk semua harta dia sampai habis." Suara Mentari kali ini.
"Hahaha, iya. Seperti kamu kemarin telah berhasil mendapatkan satu perusahaan dari Mbah Christopher. Kamu menjilat dia dengan kata-kata manis dan perbuatan yang menyenangkan hatinya. Langsung satu perusahaan berhasil dalam genggaman," suara Cantika tertawa dengan renyah.
"Ah … itu adalah saat-saat paling melelahkan. Aku harus berpura-pura menjadi menantu yang baik. Mengurus Kakek tua bau tanah itu sungguh merepotkan. Banyak maunya … tapi yah lumayan kalau bayarannya satu perusahaan itu, setimpal aku rasa." Suara Mentari mendesah dan kesal.
"Terus kali ini kamu akan mengeruk harta kakek Willi?" suara Cantika terdengar bersemangat.
"Iya, tentu saja! Memangnya aku menikah sama dia karena apa? Kalau bukan karena hartanya!" Suara Mentari terdengar begitu tegas.
"Hahaha, benar aku juga menikahi Alex karena hartanya yang begitu banyak! Nggak ada habisnya!" Suara Cantika terdengar begitu gembira.
"Semoga tujuan kita bisa segera tercapai!" Suara Mentari yang penuh semangat itu kini terdengar.
"Hahaha … dasar penggila harta! Apapun akan kamu lakukan," suara tawa Cantika terdengar sumbang.
"Hahaha … ya! demi harta yang banyak! Apapun akan aku lakukan. Bahkan menikahi laki-laki bodoh seperti William!" Suara tawa Mentari begitu terdengar gembira.
__ADS_1
Angel memutar tape recorder yang berisikan percakapan suara Mentari dan Cantika. Suaranya diputar dengan nada yang tinggi.
William membelalakan matanya, saat mendengar rekaman itu. Dia tidak percaya dengan informasi yang dibawa oleh Angel saat ini.
"Kamu kira aku akan percaya dengan informasi palsu itu!" William tersenyum mengejek ke arah Angel yang kini sudah berdiri menjulang di depannya. Hanya terjalang meja kantornya.
"Ayolah Sayang … mana mungkin aku membohongi kamu!" Angel memasang wajah tanpa dosanya dengan nada suaranya yang dibuat manja.
"Tidak. Mentari dan Cantika bukan wanita seperti itu!" William mengabaikan Angel, dan melanjutkan lagi memeriksa berkas yang ada di hadapannya.
Angel tidak patah semangat, agar William bisa percaya dengan informasi palsu itu. Dia berpikir cara yang akan bisa membuat William percaya padanya.
"Kamu tidak percaya kepadaku, karena ini hanya berupa percakapan suara mereka berdua saja, iya 'kan?" tanya Angel sambil menutup berkas yang sedang dibaca oleh William.
"Kamu periksa saja cctv di restoran XXX. Waktu di sana mereka membicarakan ini!" Angel bersikukuh agar William percaya kepadanya.
"Sudahlah bagi aku itu tidak penting!" balas William sambil menyingkirkan tangan Angel, yang menutupi berkas yang sedang dia baca.
"Kasihan sekali kamu Sayang. Dibodohi oleh bocah itu. Kalau dia benar-benar cinta sama kamu! Maka aku pun akan mundur demi kebahagian kamu, tapi ini …," Angel hanya menggelengkan kepalanya.
"Karena aku tulus mencintai kamu, Sayang. Jadi aku ingin yang terbaik untuk kamu!" Kata-kata Angel sungguh menggoda, agar William percaya kembali kepadanya.
"Tidak ada salahnya, kalau kamu periksa cctv di restoran XXX. Maka kamu akan mengetahuinya." Angel menatap William dengan pandangan yang bersungguh-sungguh.
Maka William pun meretas kamera cctv di restoran XXX. Dilihatnya ada Mentari dan Cantika duduk di meja paling pojok. Mereka berdua sedang asik berbicara dan sesekali tersenyum dan tertawa bersama.
"Lihat! Aku nggak bohong kan!" Angel tersenyum puas.
"Aku duduk di belakang mereka," kata Angel sambil menunjuk seseorang yang memakai topi dan mantel berwarna hitam.
William pun terdiam, hatinya mulai bimbang.
"Benarkah Mentari tidak mencintaiku?" gumam William dalam hatinya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.