Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI - WILLIAM (24)


__ADS_3

    Mentari yang menuruni anak tangga, harus terhenti saat Sinar berdiri di bawah anak tangga. Pandangan mereka saling beradu.


"Ada apa, Kak?" tanya Sinar begitu melihat Mentari menuruni anak tangga.


"Hm … Kakak mau …," Mentari tidak melanjutkan ucapannya karena mana mungkin dia akan mengatakan ingin bertemu dengan William.


"Kakak jangan punya pikiran ingin bertemu dengannya! Setelah apa yang dia lakukan kepada Kakak. Bisa saja nanti akan mengatakan sesuatu yang lebih menyakitkan lagi. Lebih baik sekarang, Kakak memulihkan kondisi dulu agar lebih baik lagi. Kasihan dedek bayinya, kalau Mamanya nangis terus," kata Sinar menasehati putri sulungnya itu.


    Mentari terdiam mendengarkan kata-kata bundanya. Dia juga sebenarnya takut kalau kedatangan William hanya untuk mengantarkan surat cerai untuknya. Namun suara teriakan dari William yang meminta maaf kepadanya, dan ingin kembali bersama lagi membuat dirinya senang.


   Mentari merasa menjadi lemah kalau berhadapan dengan William. Dia begitu mencintainya, tapi satu sisi juga membencinya. Dia begitu merindukan suaminya yang suka membuat lelucon konyol dan mesum, tapi kesal setengah mati kepadanya sampai-sampai ingin memukulnya menggunakan tongkat pel.


     Mentari hanya menganggukkan kepalanya, saat mendengarkan kata-kata Sinar. Dia diam mematung, setelah bundanya pergi meninggalkannya, air mata keluar lagi dengan derasnya. Jadinya Mentari menahan tangis di tangga itu dengan menggunakan tangan untuk menutup mulutnya, agar suara tangisan dia tidak terdengar.


    Sementara itu William masih duduk di teras depan. Mungkin saja dia bisa bertemu dengan Mentari. William duduk terdiam merenungi segala kelakuannya akhir-akhir ini. Dia seperti bukan dirinya, yang selalu bisa sabar dalam menghadapi Mentari yang manja dan kadang masih kekanak-kanakan. Bahkan dia senang, karena merasa selalu dibutuhkan. Dia merasa menjadi orang yang berharga bagi Mentari.


    William melihat ke arah balkon kamar Mentari. Dia sedang mengukur kira-kira tinggi untuk mencapai lantai atas. Dengan kemampuan yang dia miliki, harusnya bisa menaiki dinding tembok itu.


   Maka William pun mundur beberapa langkah terus mengambil kuda-kuda. Kemudian berlari menginjakkan kakinya ke dinding dan menggapai pagar balkon.


    William pun berhasil mencapai pagar balkon kamar Mentari. Kemudian memanjatnya, agar bisa benar-benar sampai balkon dan masuk ke kamar Mentari.


"Alhamdulillah, bisa sampai juga akhirnya," kata William senang ketika berhasil mencapai balkon dengan selamat.


   William pun masuk ke dalam kamar Mentari. Namun wanitanya tidak ada di sana.


"Baby … kamu dimana?" William membuka pintu kamar mandi, tapi tidak ada siapa-siapa.


   Saat William berjalan mendekati pintu. Seseorang membukanya dari luar. William memandang sejenak sosok wanita pujaan hatinya itu. Wajah yang sembab dan matanya bengkak, hidung mancungnya berubah merah.

__ADS_1


  Mentari yang baru masuk ke dalam kamar. Melihat sosok laki-laki yang sudah membuat hari-harinya kacau belakangan ini. Sekarang sedang berdiri di depannya, dengan muka yang babak belur. Meski begitu masih terlihat tampan di matanya.


"Apa aku berhalusinasi?" gumam Mentari saat melihat William berdiri di depannya.


   William berjalan dua langkah, dan kini berada di hadapan Mentari yang hampir menempel dengan tubuhnya. Ditelisiknya wajah wanita yang sudah membuat dirinya terasa gila. Diusap air mata yang masih tersisa di ujung mata dan pipi ranum yang selalu merona itu.


"Baby," bisik William.


"Oppa," balas Mentari hampir tidak terdengar suaranya.


   Keduanya saling pandang dan menyelami kedalaman perasaan mereka. Hingga akhirnya kedua insan itu, saling menautkan bibir mereka. Menyalurkan rasa rindu di hatinya. Keduanya bahkan berpelukan erat, dan menghirup wangi tubuh yang mereka sama-sama rindukan.


    Namun sayang, keduanya harus mengakhiri semua itu, karena Ja'far menarik tubuh Mentari dari William. Sehingga kedua orang, pasangan suami istri itu, harus berpisah.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Ja'far dengan bentak William.


"Ayah, izinkan William kembali lagi dengan Mentari," pinta William dengan nada memohon.


"William masih begitu mencintai Mentari. Biarkan Willi menebus segala kesalahan ini, dengan mengabdikan hidupku untuk Mentari dan anak kita!" William kukuh dengan permintaannya.


    Ja'far yang menarik Mentari ke dalam pelukannya. Tidak akan membiarkan putri kesayangannya, disakiti kembali oleh laki-laki yang berdiri di depannya sekarang ini.


"Sayang, kamu jangan mau kembali kepadanya karena di sudah membuatmu menderita. Bisa saja kedepannya dia akan mengulanginya kembali," kata Ja'far kepada Mentari.


   Mentari hanya diam saja karena dalam hati kecilnya, dia ingin kembali ke sisi suaminya itu. Membesarkan anaknya bersama-sama, melihat tumbuh berkembang buah hatinya.


"Sebaiknya kamu pergi dari rumahku! Sebelum aku lapor polisi, dengan laporan sudah memasuki rumah tanpa izin dan melakukan perbuatan tidak menyenangkan!" Ja'far mengusir William dengan suaranya yang terdengar membentak.


    William menatap Mentari dengan tatap memohon, jangan biarkan dirinya disuruh pergi dari rumah itu. Namun Mentari diam dan melihat ayahnya.

__ADS_1


"Mang Asep!" panggil Ja'far.


    Tidak lama Mang Asep datang dengan tergopoh-gopoh. "Iya Pak! ada apa?" tanya Asep.


"Tolong ajak keluar William, dan jangan biarkan dia masuk lagi ke rumah ini!" perintah Ja'far.


    Mang Asep malah bengong. Dia mencoba mencerna kembali perintah tuannya itu. Dilihatnya William yang sedang berdiri di dekat pintu kamar Mentari.


"Pak nggak salah? Mang Asep di suruh mengusir Mister Willi?" tanya Mang Asep lagi sambil menunjuk ke arah William.


"Iya, Mang Asep. Mulai sekarang jangan biarkan dia masuk ke rumah ini lagi!" jawab Ja'far dan isyarat tangannya.


     Ja'far membawa Mentari bersamanya, meninggalkan William yang sedang berdiri mematung. Mentari yang berjalan sambil di tuntun oleh Ja'far, melihat ke arah William, dan air matanya kembali mengalir di pipinya yang mulus.


    William bisa saja menculik Mentari, dengan kemampuan bela dirinya. Namun dia tidak mau membuat masalah baru. Dia juga menghormati Ja'far sebagai seorang ayah.


    Akhirnya William, pasrah saat mang Asep menggiringnya ke luar rumah, bahkan pintu gerbangnya. William menunggu di luar pagar besi. Duduk bersandar di mobilnya yang mewah, sambil melihat ke arah kamar Mentari.


    William benar-benar menunggu di luar gerbang sampai malam dan tidur di mobilnya. Dia pergi ke masjid saat waktunya sholat. William dan Ja'far bertemu di masjid pun saling diam, cuma saling menatap saja.


   Mentari juga duduk di dekat jendela kamarnya. Hanya untuk bisa melihat William. Walau cuma bayangannya saja itu sudah membuat moodnya senang. Mentari diam-diam meminta kepada Bi Eneng, untuk mengantarkan makanan dan minuman buat William. Mentari tidak mau kalau William sampai kelaparan, dan akhirnya malah sakit.


     William begitu mendapatkan makanan dari Mentari. Dia langsung menulis kata-kata I ♥️ U pada baju yang dipakainya menggunakan spidol yang ada di dashboard mobilnya. Tentu saja perbuatan mereka berdua diketahui Ja'far.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA MUMPUNG LAGI HARI SENIN.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.

__ADS_1


MAMPIR JUGA YA KE KARYA TEMAN AKU, AUTHORNYA KECE ABIS. MAMPIR DAN KASIH LIKE SAMA KOMENTAR. TERIMA KASIH. 🥰🥰



__ADS_2