Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI - WILLIAM (42)


__ADS_3

     Mentari mendatangi kamar Allura sambil menggendong Liam. Dilihatnya William membuka pakaian Allura dibantu seorang pelayan.


"Oppa, biar aku saja yang memandikan Allura," kata Mentari dengan berjalan cepat ke arah Allura dan William.


"Biarkan Mone, saja memandikan Allura," balas William yang masih membantu mengelap wajah Allura dengan handuk.


     Allura pun pergi mandi dengan Mone. Tadinya dia senang kalau Mentari yang akan memandikannya. Namun tekanan dari tangan Mone, membuat dia menolehkan kepalanya ke arah pelayan itu. Mone menggelengkan kepalanya dan mencegah Allura melakukan itu. Allura pun cemberut. Tingkahnya Allura ditangkap oleh William kalau anaknya itu tidak mau sama Mentari.


     Mentari, hanya tersenyum miris saja. Dia pun pergi ke kamarnya Liam, untuk memandikannya. Saat ini dia tidak mauperkeruh keadaan. Tadinya dia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi. Melihat suasana hati William, akhirnya Mentari lebih baik mundur saja dulu.


     Mentari yang sedang memandani dan memakaikan baju Liam karena baru selesai mandi, terus di perhatikan oleh William. Mentari bersenda gurau dengan putranya itu, dan membuat putranya tertawa menjerit-jerit.


     William senang melihat interaksi Mentari dan Liam. Dihampiri istri dan putranya. Kemudian dipeluknya tubuh Mentari yang baru saja menyelesaikan mendandani Liam.


"Oppa ...." Mentari merasa heran dengan sikap William yang biasanya ikut heboh menggoda Liam. Namun kini hanya diam saja dan malah memeluk tubuhnya.


"Apa kamu bisa menyayangi Allura, seperti kamu menyayangi Liam?" tanya William yang masih memeluk tubuh Mentari dan menyesap wangi tubuh yang selalu dirindukannya itu.


"Tentu saja aku juga menyayangi Allura seperti anakku sendiri. Kenapa Oppa bertanya seperti itu?" tanya Mentari sambil memutarkan tubuhnya. Kini keduanya saling berhadapan.


"Allura itu sering merasa kesepian. Di sekolah dia dibully sama teman-temannya karena tidak memakai nama keluarga Green. Di rumah kamu terlalu sibuk dengan Liam. Dia merasa sedih karena menganggap tidak berarti keberadaannya." William menjawab pertanyaan Mentari dengan serius bahkan terkesan menuntut Mentari untuk membuat semuanya agar menjadi lebih baik bagi Allura.


"Aku sudah semampu aku melakukan yang terbaik buat Allura dan Liam. Saat bangun tidur aku meminta Oppa untuk melakukannya, bukan karena tidak mau. Hanya saja, aku ingin Oppa dan Allura punya waktu berinteraksi setiap harinya meski cuma sebentar." Mentari menatap William agar suaminya itu bisa melihat kesungguhannya. "Aku masih menemani dia mengerjakan tugas sekolah, kadang main dengannya saat Liam tidur atau dibawa Mommy. Membacakan buku sebelum tidur. Itu aku lakukan setiap hari. Jadi aku masih kurang perhatian padanya?"


     William menarik napasnya, dan pandangannya dia alihkan ke arah lain sejenak, akhirnya kembali melihat ke arah Mentari kembali. Dia tahu semua yang dilakukan oleh Mentari setiap harinya.


"Aku tahu semua yang kamu lakukan itu. Hanya saja beri perhatian lebih padanya karena saat ini jiwanya sedang labil. Dia sering mendapat tekanan dari teman-teman sekolahnya."


"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?" Tantang Mentari kepada William, karena dia mulai merasa kesal. "Apa aku harus mendatangi sekolah Allura? Atau aku mendatangi rumah orang yang telah membulli Allura dan menyuruhnya jangan melakukan itu lagi serta memintanya agar minta maaf!"

__ADS_1


     William melihat ketidak sukaan dalam mata Mentari. Dia mengira bahwa Mentari tidak benar-benar tulus menyayangi Allura. Seperti yang pelayan bermana Mone ceritakan. Kalau Mentari tidak pernah benar-benar mau memahami keadaan Allura.


"Tidak perlu. Seharusnya itu tugasku. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa," jawab William kemudian membalikkan badannya dan pergi dari kamar putranya.


     Semenjak itu tidak ada lagi pembahasan mengenai Allura. Mentari seperti biasa dalam mengurus William, Allura, dan Liam. Namun Allura masih saja suka merengek pada Mentari saat ingin diperhatikan olehnya.


     Jennifer yang dari awal tidak suka kepada Allura, lebih senang saat mengajak bermain berdua saja dengan Liam. Meski ada Allura di dekatnya, dia tidak memperdulikan keberadaannya.


******


     Tanpa sepengetahuan Jennifer, William menambahkan nama Green ke dalam daftar nama keluarganya. Hanya saja itu menjadi rahasianya. Sehingga Allura tidak lagi dibulli oleh teman-temannya.


     Kehidupan keluarga William pun tetap harmonis dan adem ayem. Bila ada masalah dibicarakan baik-baik. Walau keduanya harus menahan diri demi keutuhan keluarganya. Tidak jarang Mentari sering sakit hati karena dianggap kurang perhatian kepada Allura oleh William. Begitu juga dengan William, yang mencoba memahami posisi Mentari yang pasti mengutamakan Liam dari pada Allura.


     William juga selalu menghabiskan waktu liburannya bersama keluarganya. Mau itu main di rumah. Atau pergi rekreasi ketempat wisata. Dia tidak mau kehilangan waktu berharganya bersama orang-orang yang di sayangi dan dicintai olehnya.


******


     Allura pun semakin hari, dia bertambah iri kepada Liam. Bayi yang baru bisa merangkak kesana-kemari semakin membuat gemas semua orang. Apalagi kini Liam sudah bisa memahami perkataan orang sekitarnya. Menjawab dengan perkataannya, walau hanya kata ujungnya saja. Meski belum ada delapan bulan usianya, Liam sudah pandai memainkan mainannya. Dia akan menekan tombol on off pada mainannya agar bergerak, nanti dia akan mengejarnya. Semua orang yang ada di mansion itu suka dan sayang kepada Liam, kecuali Allura dan Mone.


******


     Mentari masih kadang tidak mengerti dengan kata-kata yang diucapkan oleh William. Selalu ada nada sindiran bila menyangkut Allura. 


     Saat Allura mengeluh sakit perut, sesaat setelah pulang dari sekolahnya. Mone menelepon William, agar cepat pulang ke rumah, karena sakit. Sementara Mentari yang berada di kamar Liam yang sedang menyusui, tidak diberitahu.


    William pun pulang dengan tergesah-gesah. Saat William menaiki anak tangga, dia bertemu dengan Mentari yang hendak turun ke lantai bawah.


"Oppa, tumben jam segini sudah pulang! Ada apa" tanya Mentari.

__ADS_1


"Allura sakit," jawab William singkat dengan nada yang dingin.


"Allura sakit? Kok aku nggak tahu?" tanya Mentari dan berbalik arah mengikuti William menuju kamar Allura.


"Kamu tidak tahu kalau Allura sedang sakit? Padahal kalian satu rumah, dan kamar juga bersebelahan," kata William sambil tersenyum mengejek. Melihat ekspresi wajah suaminya membuat Mentari tidak enak hati.


     William langsung mendekati Allura yang meringkuk di atas kasurnya. Dibelai sayang rambut anaknya itu.


"Sayang, mana yang sakit? Daddy panggilkan dokter, ya?" tanya William dengan lembut.


"Allura, kamu sakit apa? Kenapa tidak bilang sama Mommy?" tanya Mentari yang duduk di samping William.


"Aku sakit perut. Rasanya seperti diremat dengan sangat kuat. Sungguh sangat sakit sekali, " jawabnya di sela-sela isakannya.


    Mentari pun merentangkan tubuh Allura. Kemudian mengusap-usap perutnya.


"Tadi di sekolah makan apa?" tanya Mentari lembut.


"Nggak makan yang aneh-aneh," jawab Allura pelan.


"Sebaiknya kita panggil dokter saja. Mungkin ada bakteri dari makanan yang tadi dimakan olehnya," kata William. Mentari pun menganggukan kepalanya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


BACA JUGA KARYA AKU YANG LAINNYA YA.



__ADS_2