Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI - WILLIAM (19)


__ADS_3

    Mentari mengambil paspor, KTP, dan telepon genggam miliknya. Di dalam tas jinjing miliknya, yang dia bawa hari ini. Sisanya dia simpan di atas meja. Bahkan dia juga tidak membawa hasil tes kehamilan yang didapatnya dari Dokter Kandungan tadi.


"Aku pergi! Semoga kamu tidak menyesali ini semua," kata Mentari dengan suara yang lirih.


    Kepala pelayan yang sejak tadi hanya diam berdiri di depan pintu. Kini hanya bisa meneteskan air mata. Dia juga ikut bersedih melihat Nyonya muda yang selalu terlihat ceria itu. Kini harus pergi dari kediaman Green, dalam keadaan hati yang terluka. Bahkan dia yakin kalau Mentari bukan orang yang seperti yang dituduhkan itu. Apalagi dia sering melihat ketulusan Nyonya Muda saat mengurus Tuan Besar Christopher dahulu. Penuh kelembutan, sabar, dan telaten saat mengurus mertuanya yang sakit.


     Mentari yang kini sedang patah hati, sangat ingin sekali dihibur. Maka dia ingin mendatangi rumah Cantika. Karena saat ini dia yang bisa memberikan rasa kenyamanan dan juga selalu menghiburnya dengan kata-kata bijaknya, yang bisa membuat dia semangat lagi, selama ini.


"Ayah, kita ke rumah Kak Cantika dulu ya!" pinta Mentari kepada Ja'far yang sedang berjalan di halaman depan menuju gerbang.


"Iya, sepertinya kita masih bisa mengejar jam penerbangan terakhir nanti malam," jawab Ja'far sambil melihat arlojinya.


"Nyonya Muda, tunggu! Biar saya antar sampai tempat tujuan anda," kata Kepala Pelayan yang berlari menyusul keluarga Ja'far.


"Terima kasih. Bisakah antarkan kami ke rumah Kak Alex?" tanya Mentari dengan tatapan penuh harap, karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Cantika.


"Bisa Nyonya Muda!" Kepala Pelayan mengambil mobil pribadinya dan mengantarkan Mentari beserta keluarganya ke mansion super mewah milik keluarga Andersson.


******


     Jennifer yang baru saja selesai mandi. Mendatangi kamar William, ingin bertemu dengan Mentari. Dilihatnya kamar itu masih kosong, menandakan kalau penghuninya belum memasukinya. Karena keadaan kamar itu masih rapi.


     Kini Jennifer menuruni anak tanggan, dengan bersenandung riang. Akhirnya dia juga bisa mempunyai cucu. Walau waktu kelahirannya masih sangat lama. Dia pun mendatangi anaknya yang sedang duduk sendirian di sofa empuknya.


    Jennifer merasa, kalau hari ini adalah salah satu hati terbaiknya, setelah kematian suaminya, Christophar. Seorang keturunan Green, akan segera terlahir. Apalagi dia akan terlahir dari seorang wanita hebat, Mentari.


"Mentari mana?" tanya Jennifer kepada William yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya.


"Bisakah Mommy jangan menanyakan lagi keberadaan wanita itu!" William menghapus air matanya yang masih tersisa di pipinya.


"Apa maksudmu, William?" Jennifer begitu terkejut saat mendengar perkataan anaknya barusan.


"Aku dan dia memutuskan akan berpisah!" kata William sambil menatap wajah Jennifer.


"Apa maksudnya ... kalian akan ... bercerai?" tanya Jennifer dengan tergagap karena saking terkejutnya.


"Iya, William akan menceraikan wanita itu!" teriak William melampiaskan rasa kecewanya, dan rasa sakit hatinya.


    Jennifer memberikan sebuah gamparan yang sangat keras. Sampai pipi William berwarna merah. William pun merasakan panas di pipinya, dan telinganya mendengung.


     Jennifer begitu marah kepada William. "Apa kamu tahu yang kamu lakukan itu salah!" bentak Jennifer tepat di depan muka William.

__ADS_1


"Apa kamu yakin, kalau istri kamu benar-benar wanita yang gila akan harta!"


"Mentari merupakan salah satu wanita baik-baik yang aku kenal, dari sekian banyak wanita yang pernah aku kenal di dunia ini!"


"Dia begitu tulus dalam menjalankan perannya sebagai istri dan menantu keluarga Green!"


"Dia wanita hebat yang bisa melakukan apa saja. Bila dia tidak tahu atau tidak bisa. Dia tidak akan malu memulai untuk belajar,"


"Kamu akan hidup dalam penyesalan selama sisa hidup kamu, karena sudah melepaskan Mentari."


    Jennifer melampiaskan amarahnya dengan memarahi dan berteriak kepada William.


"Mommy, tidak tahu sifat asli di belakangnya. Dia hanya pura-pura cinta kepada Willi. Sebenarnya dia mau menikah denganku, karena harta keluarga Green!" balas William yang tidak mau disalahkan karena keputusannya itu adalah sudah tepat.


"Bagaimana kamu tahu, kalau Mentari itu menikahimu karena harta keluarga Green!" Jennifer membelalakan matanya di hadapan putranya itu.


"Dari percakapan dia dan Cantika, yang berhasil direkam oleh Angel," William mengambil tape recorder yang dilemparkannya tadi di atas meja. Kemudian diputarkannya isi pembicaraan antara Mentari dan Cantika, agar Jennifer bisa mendengarkan percakapan mereka berdua.


    Jennifer terdiam saat mendengarkan isi dari percakapan itu. Kemudian dia menatap wajah anaknya yang menurutnya sekarang berubah jadi orang yang bodoh.


"Mommy, dengarkan isi pembicaraan mereka! Sekarang Mommy masih akan bilang kalau Mentari adalah seorang wanita baik-baik!" William menahan amarahnya kali ini.


"Mommy, mau tanya sama kamu?" Jennifer menatap mata William.


"Apa di hati kamu, sudah tidak ada rasa cinta untuk Mentari?" tanya Jennifer dengan suara lembut, agar William tidak meledak-ledak lagi emosinya.


    William terdiam, bagaimanapun rasa cinta untuk Mentari itu masih ada di dalam hatinya. Makanya saat mendengar rekaman percakapan tadi, dia tidak mempercayainya. Namun Angel terus meyakinkan dirinya kalau Mentari itu tidak sebaik yang dikira kebanyakan orang. 


"Mom, aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadanya sampai seperti ini. Mana mungkin semudah itu hilang rasa cintaku untuknya," William duduk dan menundukan kepalanya. Dia kembali menangis.


"Hatiku hancur saat mengetahui ini! Sakit sekali rasanya …." William menangis tergugu.


"Terus sekarang kamu akan menyerah! Tidak mau memperjuangkan cinta kamu!"


"Kalau Mentari beneran cuma memanfaatkan harta kamu saja. Buat dia juga jatuh cinta sama kamu! Apa kamu mau menjadi laki-laki sengsara yang cintanya bertepuk sebelah tangan!"


"Kalau kamu yakin dirimu itu hebat! Buktikan bisa membuat Mentari juga mencintaimu!"


    Jennifer kesal dengan William saat ini. Sudah jelas-jelas Mentari itu cinta banget padanya. Dia malah berpikir kalau istrinya itu tidak cinta dan hanya terarik dengan hartanya.


"Apa kamu tahu, kalau Mentari saat ini sedang mengandung anak kamu?" tanya Jennifer sambil menatap William dengan intens, karena ingin melihat reaksinya seperti apa.

__ADS_1


    William begitu terkejut saat mendengar perkataan Jennifer. Matanya berkaca-kaca dan bibir William bergetar.


"Mentari … hamil?" William mengulang kembali perkataan Jennifer, hanya untuk meyakinkan pendengarannya.


"Ya! Dia sedang hamil anak kamu. Usia kandungannya sudah tiga bulan," kata Jennifer memberi tahu William.


"Mommy …." William meneteskan tangisannya, tapi bibirnya tersenyum.


"Ya, Mentari sedang mengandung anak kamu. Betapa bahagianya dia saat tahu dirinya hamil."


"Ah … tidak! Bukan hanya Mentari yang bahagia. Mommy juga merasa sangat bahagia sekali."


    Jennifer tersenyum bahagia, apalagi saat membicarakan tentang cucunya yang kini sudah hadir di dalam rahim sang menantu.


"Anak Willi, Mom!"


"Emangnya anak siapa lagi kalau bukan anak kamu! Tiap hari kamu bercocok tanam dengannya, itulah hasilnya!" kata Jennifer kesal, karena anaknya sering membuat menantunya kelelahan setiap harinya.


"Mentari sekarang dimana Mom?" tanya William sambil berdiri dan ada semangat dalam dirinya yang terpancar dari matanya.


"Kenapa tanya Mommy!"


"Cari dia! Dan bawa kembali kesini menantu kesayangan Mommy itu!" perintah Jennifer dengan suaranya yang tegas.


******


Aduh... aku nggak bisa konsentrasi saat buat BAB ini... si William kurang aku kasih pelajarannya!!!


Dah ahk, besok lagi aja lagi!!! buat dia kasih pelajarannya!!!


William : author ... kamu maunya apa???


author : bikin kamu kapok!!! hahaha... biar tahu rasa!


William : jangan sadis dong Thor!!!


author : bodo amat.


Alex : Thor biar aku saja!


author : oh silahkan kakang mas 😍

__ADS_1


__ADS_2