
William yang duduk di atas kap mobil, melambaikan tangannya ke arah Fatih. Memintanya untuk menemani dirinya di sana.
Fatih pun memarkirkan mobilnya di depan pagar besi, di dekat mobil William. Sementara Zahra masuk ke dalam rumah Ja'far.
"Kakek Willi, ngapain di sini?" tanya Fatih sambil berjalan ke tempat William sedang duduk di kap mobilnya. Dia sungguh merasa heran dengan keberadaan William yang di luar rumah Ja'far.
"Lagi nunggu izin biar bisa masuk ke dalam rumah!" William malah cengengesan.
"Kenapa muka Kakek Willi, babak belur begitu?" Fatih melihat masih ada beberapa bekas memar yang di buat oleh Alex.
"Ini tanda cinta yang di buat oleh Al." William malah tertawa terkekeh.
Fatih mengerutkan keningnya karena tidak mengerti dengan maksud dari pembicaraan William. Kenapa butuh izin untuk masuk ke dalam rumah mertuanya? Serta kenapa pula Alex memberikan pukulan ke wajahnya?
"Apa ada masalah?" tanya Fatih penasaran.
"Ya. Aku sudah melakukan hal bodoh. Sehingga menyakiti Mentari begitu dalam," jawab William dengan tatapan sendunya.
Fatih yang sibuk belakangan ini, jarang bertukar kabar dengan saudara-saudaranya yang lain. Biasanya mereka akan saling menghubungi di pagi atau sore hari. Walau jarak mereka terpisah jauh, tapi saling memberikan kabar sudah menjadi kebiasaan yang sering dilakukan. Biasanya mereka akan saling mengunjungi dua atau tiga bulan sekali. Berbeda saat mereka masih lajang hampir tiap bulan selalu berkumpul.
"Hal bodoh apa yang sudah Kakek Willi lakukan?" tanya Fatih sambil ikut bersandar di kap mobil William.
William pun menceritakan apa yang sudah terjadi kepada dirinya dan Mentari. Dia bercerita dengan sangat menggebu-gebu, dan merutuki kebodohannya. Air matanya pun ikut meleleh dan membasahi pipinya dan rahangnya yang mulai ditumbuhi bulu halus.
"Kenapa Kakek Willi melakukan hal bodoh begitu? Kalau saja saat itu aku ada di sana, maka tidak akan kubiarkan itu terjadi!" Fatih geram saat mendengar cerita William tentang perlakuannya kepada Mentari.
"Bahkan akan aku buat Kakek memohon ampun kepada keluarga Mentari. Al, kurang banyak menghajar Kakek! Kalau perlu aku buat masuk rumah sakit sekalian." Fatih tertawa terkekeh saat melihat William memelototi dirinya.
__ADS_1
"Kamu itu …!" William mengangkat tangannya yang terkepal ke arah Fatih, dengan wajah kesal.
"Apa yang Kakek lakukan itu sudah keterlaluan! Bagaimanapun juga baik buruk perangai atau niat istri kita itu, harus kita perbaiki sebagai tugas seorang suami. Apalagi kita sudah bersumpah di hadapan Allah, akan menjadikan dia sebagai tanggung jawab di dunia dan akhirat. Jangan mudah mengucapkan kata berpisah, selagi itu masih bisa diperbaiki." Fatih menepuk pundak William sekedar mengingatkannya.
"Iya, aku terlalu terbawa emosi saat itu. Aku merasa sakit hati, karena cinta tulusku kepada Mentari telah di salah gunakan. Padahal itu tidak pernah terjadi. Ternyata cinta Mentari untukku jauh lebih besar daripada rasa cintaku untuknya." William menengadahkan kepalanya melihat ke arah kamar Mentari.
******
Mentari menyambut kedatangan Zahra yang semenjak pulang ke Indonesia, mereka hanya bisa lewat chat. Zahra yang berprofesi sebagai seorang Dokter Ahli Kandungan, belakang sangat sibuk. Bahkan membalas chat dari Mentari saat dia istirahat atau pulang ke rumah. Saat malam hari mereka baru bisa teleponan.
"Assalamualaikum, cantik!" salam Zahra saat Mentari membukakan pintu depan rumahnya.
"Wa'alaikumsalam," balas Mentari sambil tersenyum lebar menyambut kedatangan temannya itu, sekaligus cucu menantu.
Kedua wanita itu pun duduk di sofa dan ngobrol sambil di temani sama beberapa Snack kesukaan Mentari dan Zahra. Sambil memangku toples kue nastar isi selai, Mentari memulai ceritanya. Sedangkan Zahra mendengarkan sambil makan kacang telor kesukaannya.
Mentari menceritakan dengan detail apa yang sudah di alaminya kemarin, saat di Amerika. Zahra pun mendengarkan sambil sesekali menyeka air matanya. Hatinya ikut terenyuh dengan kisah sahabatnya itu.
"Ternyata sulit juga ya, bersaing dengan orang yang pernah ada di hatinya. Apalagi dia cinta pertama dan kekasih pertamanya Oppa Willi," kata Mentari dengan roman muka yang sendu.
"Bukannya kini hanya kamu yang ada di hatinya?" tanya Zahra sambil memperhatikan Mentari yang mengambil gelas di atas meja.
"Entahlah … aku juga tidak tahu. Bisa saja itu hanya ucapannya saja!" Mentari menggelengkan kepalanya."Kalau mengingat perlakuan dia kepadaku saat ada Angel, membuat aku meragukan perasaannya. Namun saat hanya kita berdua saja, aku bisa merasakan betapa besar rasa cintanya dia kepadaku."
Zahra terdiam, meresapi setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Mentari. Kedudukannya sebagai sahabat Mentari tentu saja dia akan membela dan mendukung Mentari. Namun kini dia harus bisa bersikap bijaksana.
"Meski masih ada rasa untuk Angel, tapi kamulah ratu di hatinya! Mungkin bagi William kenangan dengan Angel memberikan ruangannya tersendiri, jadi meski sudah jadi mantan dia tetap tidak bisa mengabaikan keberadaannya. Apalagi dia lagi sakit dan membutuhkan biaya untuk pengobatannya yang besar,"
__ADS_1
"Salahnya adalah … memperhatikan kebaikan untuk Angel, dengan menyakiti hati kamu!"
"Seharusnya hanya cukup dengan mencarikan Dokter terbaik untuknya. Tanpa harus ada kontak selanjutnya. Dengan begitu tidak akan menyakiti hati kamu karena rasa cemburu."
Zahra mengambil minuman di gelas yang ada di depannya. Untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering.
"Untuk kamu juga, Mentari. Jangan kasih kendor perhatian kamu kepada William, karena banyak wanita diluar sana yang suka menggoda suami orang," kata Zahra sambil meletakan gelasnya lagi.
"Itu juga sering aku lakukan. Kurang perhatian apa aku sama si Oppa Willi? Oppa-nya saja yang tidak bisa menahan serangan dari godaan si Mak Lampir!" Mood Mentari langsung berubah jika membicarakan Angel.
Zahra menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Mentari bila menyebut nama Mak Lampir, dan juga nada bicaranya yang menggebu-gebu.
"Kenapa tertawa?" tanya Mentari saat melihat Zahra menutup mulutnya yang sedang tertawa.
"Nggak … aku rasa kamu itu setiap bilang Mak Lampir. Inget sama Anggit dahulu, yang kamu tidak terima kalau kamu bersaudara dengan Mak Lampir!" Zahra akhirnya tertawa lepas tidak kuat menahan tawanya karena mengingat kejadian dahulu.
"Iya yang namanya Mak Lampir itu ngeselin setengah mati!" kata Mentari penuh emosi.
"Astagfirullahaladzim, jauhkan sifat jelek itu dari kami Ya Allah," pinta Mentari berdoa sambil mengusap perutnya, agar dia dan anak dalam kandungannya dijauhkan dari sifat suka merusak kebahagiaan orang lain.
Zahra yang melihat Mentari mengusap perutnya yang mulai terlihat membuncit merasa iri dengan kehamilan sahabatnya itu.
******
HAI TEMAN-TEMAN SAMBIL MENUNGGU UP KELANJUTAN DARI MENTARI - WILLIAM.
MAMPIR KE KARYA SAHABAT AKU YA ... RAMAIKAN LAPAKNYA 🥰
__ADS_1
KASIH LIKE JUGA KOMEN DUKUNGAN UNTUK KITA 😘