Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (16)


__ADS_3

     Saat alarm waktu tahajud tiba. Fatih membangunkan Mentari, untuk sholat berjamaah. Dia pun mendatangi kamar Zahra. Dilihatnya wajah istrinya yang sembab karena menangis. Fatih merasa bersalah kepada Zahra. Kemarin saat tidur bersama Zahra, Mentari menangis di kamarnya. Semalam Fatih tidur bersama Mentari, giliran Zahra yang menangis.


     Fatih jadi serba salah, kalau emosi kedua istrinya lagi labil seperti ini. Dikecupnya kening Zahra, agar istrinya itu bangun. Saat Zahra membuka matanya dan melihat ada Fatih di depannya dengan senyuman hangat khas dia. Zahra langsung menghambur memeluk tubuh suaminya.


     Satu ciuman Zahra, mendarat di bibir suaminya. Fatih pun membalasnya. Setelah puas, Fatih mengajak bangun Zahra dan solat tahajud berjamaah.


     Fatih dan kedua istrinya menghabiskan waktu bersama sampai adzan Subuh berkumandang. Fatih dan para lelaki lainnya berjamaah ke mesjid. Sedangkan yang perempuan berjamaah di rumah.


******


     Seperti biasa Mentari suka membuat salad buah. Dia dan Zahra sambil memotong buah-buahan, mereka bercengkrama dan sering diselingi dengan tawa. Aurora dan Sinar merasa senang saat melihat kedua istri Fatih itu sudah tidak setegang dan setakut kemarin.


     Ummi masuk ke ruang makan yang luas dan mewah dekorasi interiornya. Dia melihat Zahra sedang memotong-motong buah apel yang ada di atas meja.


"Zahra! Apa yang kamu lakukan? Kamu itu harusnya istirahat, jangan bekerja seperti ini. Bukannya sudah banyak pembantu! Kamu itu sebagai nyonya muda mereka, harusnya tidak perlu melakukan pekerjaan apapun. Buat apa mereka di gaji kalau Nyonya Rumah masih saja ikut bekerja," kata Mirna dan itu membuat Aurora dan beberapa pelayan yang sedang bekerja di sana, merasa tersinggung.


"Tidak apa-apa, Ummi. Ini hanya pekerjaan ringan. Zahra suka melakukan ini daripada harus berdiam diri di kamar," jawab Zahra dengan lembut.


"Zahra apa yang Ummi kamu katakan itu, benar. Sebaiknya kamu istirahat saja, kalau ada apa-apa nantinya, kita juga yang akan kena marah," kata Aurora dengan nada lembut tapi menyindir. Aurora pun mengambil pisau buah dari tangan Zahra. Aurora meminta salah seorang pelayan di sana untuk membantu Mentari, menyelesaikan memotong buah-buahan yang akan di buat untuk stok.


     Zahra menatap kecewa kepada Mirna. Dia akhirnya pergi ke kamarnya, dan menguncinya. Tangisan pilu kembali terdengar di kamar mewah di lantai dua.


******


     Fatih yang baru pulang dari mesjid bersama papa dan kedua mertuanya. Mereka pulang ke rumah agak siangan karena tadi di masjid, sempat berbicara dulu dengan para pengurus DKM. Sampai mereka lupa waktu.


     Fatih melihat Mentari, sedang menyusun boks-boks plastik yang berisi salad buah yang baru saja selesai dia buat. Untuk dimakan nanti siang atau sore dan malam. Siapapun yang ingin boleh memakannya. Tak jarang pula para pelayan suka dengan salad buah buatan Mentari.


"My lovely, apa sudah selesai pekerjaannya?" tanya Fatih sambil memeluk Mentari dari belakang karena istrinya itu masih menyusun boks-boks plastik itu agar tersusun rapi.


"Alhamdulillah, sudah Mas."

__ADS_1


"Ke kamar, yuk! Sambil menunggu waktu sarapan," ajak Fatih dengan berbisik mesra.


"Mas, lihat dulu keadaan Zahra! Sepertinya tadi dia terlihat sedih," suruh Mentari kepada suaminya, dia sebenarnya tahu kalau Zahra tadi pasti menangis karena matanya sudah berkaca-kaca dan genangan air matanya juga sudah terlihat.


******


     Fatih pun mendatangi kamarnya yang dilantai dua. Kini Fatih dan Zahra duduk di balkon kamar. Sambil menikmati suasana pagi dengan udara yang segar dan sinar mentari yang mulai hangat.


     Zahra duduk di atas pangkuan Fatih dan menyandarkan kepala di dada bidang milik suaminya mendengarkan detak jantung yang mengalun tenang. Fatih diam dan mengusap-usap punggung istrinya, sambil mendengarkan curahan hati Zahra yang sering dibuat sulit oleh ibunya. Dia merasa kalau ibunya itu sudah berubah. Zahra merindukan sosok ibunya yang dahulu saat dia masih kecil.


     Fatih hanya bisa menasehati dan mendoakan yang terbaik buat Zahra. Zahra kini hatinya sudah merasa tenang, bahkan senang. Dia pun meminta untuk sarapan di kamarnya saja. Sebab masih kesal sama sikap Mirna. Maka Fatih pun mengizinkannya.


"Beneran Mas, nggak apa-apa?!" Mata Zahra berbinar-binar.


"Iya, Sayang. Kamu mau makan di dalam kamar atau di balkon?" Fatih membelai kepala Zahra yang berbalut jilbab.


"Di sini saja," jawab Zahra dengan senyum kebahagian di wajahnya yang semakin tirus.


"Oke. Nanti suruh pelayan membawakan sarapannya ke sini!" Fatih memasang senyum hangatnya.


"Nggak mau bertiga, ditambah Mentari?" tanya Fatih, sambil menaikan satu alisnya.


"Hm." Zahra menggelengkan kepalanya.


"Baiklah kalau itu keinginan kamu," Fatih pun mengecup kening Zahra, sebelum dia menghubungi bagian dapur, agar mengantarkan sarapan untuknya dan Zahra.


     Zahra sangat bahagia bisa menghabiskan waktu paginya dengan Fatih, hanya berdua saja. Seperti dulu saat Fatih belum berpoligami. Zahra pun meniru apa yang dilakukan oleh Mentari kepada Fatih, yaitu merayu dengan gombalannya. Awalnya Fatih terkejut, tapi kemudian mengikuti apa yang diinginkan oleh Zahra. Fatih menghargai usaha istri pertamanya itu. Agar bisa membuat tertawa dan senyum bahagia untuk Zahra, akan Fatih lakukan apapun itu.


     Zahra benar-benar memonopoli Fatih pagi itu. Dia tidak menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya, bahkan mereka mandi bersama. Zahra juga mengantar Fatih sampai masuk ke dalam mobil. Ciuman panas Zahra berikan kepada Fatih, dan Mentari melihat itu.


******

__ADS_1


     Zahra pun memutuskan untuk membaca buku yang belum selesai dia baca. Namun, Mirna malah mengekorinya masuk ke dalam kamar.


"Zahra, apa yang kamu lakukan tadi itu sudah bagus!" Mirna mengacungkan dua ibu jari tangannya.


     Zahra hanya senyum simpul menanggapi omongan Mirna. Dia lebih memilih membaca buku. Dia tidak mau suasana hati yang sedang berbunga-bunga ini harus rusak kembali karena mendengar ucapan ibunya itu.


"Seharusnya kamu yang lebih banyak mendapatkan perhatian darinya," kata Mirna tapi tidak ditanggapi apa-apa oleh Zahra. Bagi Zahra, Fatih selalu berusaha bersikap adil kepadanya maupun pada Mentari.


"Apa kamu tahu tadi, Mentari terlihat sangat kesal saat tahu Fatih sarapan bersama kamu berdua di kamar." 


"Seharusnya tadi Zahra ajak Mentari sarapan bersama saja, ya?!" kata Zahra tanpa memalingkan dari buku bacaannya.


"Kamu jangan berbuat bodoh! Harusnya perbanyak waktu hanya berduaan saja dengan suami kamu itu. Kalau tidak ingin di depak dan di ceraikan oleh Fatih. Rebut kembali perhatian Fatih seperti dulu saat hanya ada kamu dan suamimu." 


     Zahra mengalihkan perhatiannya ke arah Mirna. "Ummi, jangan memprovokasi Zahra! Aku capek," kata Zahra dengan nada memohon.


"Apa kamu tidak ingin seperti Annisa yang selalu mendapatkan limpahan cinta dan kasih sayang suaminya itu. Dia begitu diperhatikan meski sangat sibuk. Annisa begitu bahagia dengan rumah tangganya. Sedangkan kamu, hanya kesedihan dan kekecewaan yang Ummi lihat!" Mirna meneteskan air matanya.


"Ini tidak adil bagimu Zahra! Harusnya kamu itu bisa menikmati sisa umur hidupmu dengan limpahan rasa cinta, kasih sayang, dan perhatian dari suamimu." Mirna menangis tergugu sambil memeluk tubuh Zahra.


"Kamu berhak hidup bahagia, sampai akhir nanti!" ucap Mirna penuh emosional.


******


Bagaimana dengan Zahra kedepannya? Apa akan mengikuti perkataan ummi-nya? Atau akan membangkang?


Tunggu BAB selanjutnya ya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2