Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (40)


__ADS_3

"Apa Ummi tidak tahu betapa tertekannya Zahra karena Ummi, selalu membandingkan dia dengan Aisyah?


"Apa Ummi tidak sadar sudah menjadi duri dalam kehidupan rumah tangga anak Ummi sendiri." Fatih meluapkan emosinya karena masih saja menyudutkan dirinya dengan Mentari dan menekan perasaan Zahra


     Mirna terkejut saat mendengar ucapan Fatih barusan. Dia tidak menyangka kalau selama ini dirinya telah dibohongi oleh adik ipar dan keponakannya. Dia sebagai seorang ibu, tidak suka saat melihat anaknya disakiti oleh orang lain. Dia juga tidak sadar telah membandingkan Zahra dengan Aisyah malah membuat putri sulungnya itu tertekan. Maksud dia adalah agar Zahra mau memperjuangkan hak dirinya sebagai seorang istri pertama yang harus di utamakan. Jangan berat sebelah karena Mentari sedang hamil, semua perhatian tertuju kepadanya. Sedangkan, Zahra yang sedang sakit keras di nomor dua 'kan.


"Zahra, benarkah ... kalau ucapan Ummi itu, malah membuat kamu merasa ... tertekan?" Mirna bertanya dengan tergagap, air matanya jatuh dengan deras membasahi pipinya.


"Iya, Ummi. Zahra tidak suka saat Ummi membandingkan kehidupan Zahra dengan Aisyah. Kita berdua bisa mencari kebahagiaan dengan caranya masing-masing," jawab Zahra yang sesekali mengusap air matanya.


"Ummi, melakukan semua itu demi kebaikan kamu. Ummi ingin selalu melihat kamu bahagia, seperti dulu sebelum ada Mentari di dalam rumah tangga kalian," lanjut Ummi sambil menyeka air matanya. "Seharusnya, kamu mendengarkan omongan Ummi, dahulu. Jadinya, tidak akan begini!" Mirna menatap ke arah Fatih dan Mentari yang duduk berdampingan.


"Maaf Ummi, aku juga sejak awal menolak sama dengan Ummi. Aku tidak mau dicap merebut suami orang. Makanya, aku selalu menyuruh Mas Fatih untuk mengutamakan Zahra dulu baru aku." Mentari menggapi ucapan Mirna.


"Jadi, Jeng Mirna melakukan semua ini agar Fatih selalu bersama Zahra. Dan mengabaikan Mentari, begitu?" tanya Aurora tidak suka.


"Aku hanya ingin agar Fatih selalu ada untuk Zahra, itu saja. Bagaimanapun juga Zahra adalah istri pertama Fatih. Jangan karena dia sudah punya istri muda, istri tua dia abaikan," jawab Mirna dengan tanpa beban.


"Fatih tidak pernah mengabaikan Zahra. Justru waktu Fatih lebih banyak dengan Zahra. Apalagi tiga bulan terakhir ini. Pagi sampai sore Fatih bekerja di kantor. Pulang sebentar untuk menemui Mentari, lalu malam hari pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Justru Fatih merasa bersalah kepada Mentari. Disaat dia sedang hamil besar, Fatih tidak bisa menjadi penjaganya. Setiap malam Mentari mengalami kesusahan saat tidur karena merasakan ketidak nyamanan karena perutnya sudah sangat besar. Apa Mentari mengeluh ingin juga Fatih tidur dengannya setiap malam. Jawabannya tidak! Mentari menekan egonya.


"Hanya saja yang aku tidak habis pikir adalah kenapa Ummi menyembunyikan handphone milikku!"  Fatih yang masih kesal lupa dengan nasehat Mentari.


     Semua orang tahu kalau dulu Fatih kehilangan handphone miliknya. Namun, mereka tidak menyangka kalau itu ulah Mirna. Kini semua mata memandang ke arah Mirna untuk meminta penjelasan.


"Itu ... karena, Fatih ... selalu bermesraan di telepon dengan Mentari, di depan Zahra. Aku tidak suka melihatnya." Aku Mirna dan membuat hampir semua orang menggelengkan kepalanya, dengan cara berpikir Mirna.


"Ummi, Mas Fatih menghubungi Mentari karena dia merasa khawatir. Zahra juga tidak masalah saat Mas Fatih menghubungi Mentari, bahkan kadang Zahra ikut nimbrung berbicara dengan mereka. Tidak ada pembicaraan mereka yang membuat Zahra sakit hati atau marah," bantah Zahra.


"Abah merasa aneh dengan cara berpikir Ummi yang sempit. Apa Ummi tidak pernah berpikir berada di posisi Nak Fatih, atau Mentari. Coba setiap tindakan yang akan Ummi lakukan itu, berpikirlah seandainya kita menjadi mereka. Seandainya Ummi menjadi Nak Fatih, dari pagi sampai sore kerja di kantor. Malam sampai pagi di rumah sakit. Apa tidak ada rasa rindu untuk menghubungi keluarga yang lainnya. Apalagi ini setiap hari dan dalam waktu yang lama. Wajar kalau nak Fatih dan Mentari saling menelpon untuk mengobati rasa rindu mereka.


"Dosa Ummi ... dengan sengaja ingin menjauhkan Fatih dengan Mentari. Mereka itu pasangan suami istri yang sah, jadi mereka itu berhak untuk selalu bersama.


"Abah justru merasa salut sama nak Fatih. Dia mengurus semuanya, perusahaan, istrinya yang sedang sakit di rumah sakit, istrinya yang sedang hamil besar tinggal di rumah." Abah menasehati Ummi untuk kesekian kalinya.


"Ya, Fatih tidak akan mungkin sanggup menjalani itu. Jika, tidak ada dukungan dari Mentari. Mentari tidak pernah menuntut Fatih harus menuruti keinginannya. Dia justru selalu tahu apa yang harus Fatih utamakan terlebih dahulu. Hanya karena Fatih selalu menghubunginya, Ummi menyembunyikan handphone milikku. Fatih rasa bukan hanya karena menelpon istri, tidak bisa Ummi jadikan alasan untuk menyembunyikan Handphone milikku." Fatih kembali merasa jengkel.


"Ummi minta maaf karena sudah menyembunyikan handphone milik kamu, Fatih," kata Mirna.

__ADS_1


"Jeng Mirna, mudah sekali Anda berkata minta maaf seperti itu. Apa Jeng Mirna tahu gara-gara ulah Anda itu. Fatih dibenci Mentari karena saat itu melahirkan dan tidak bisa menghubungi suaminya. Fatih merasa bersalah karena tidak bisa melaksanakan janjinya untuk mendampingi Mentari saat melahirkan. Otak Anda itu dipakai untuk apa? Kenapa dangkal sekali cara pemikiran Anda itu!" Aurora jadi ikutan meluapkan emosinya.


    Semua orang sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Mirna. Cara berpikirnya yang malah membuat kerugian bagi semua orang.


     Sinar dan Ja'far malah semakin salut dan bangga dengan Mentari, semakin dewasa saat menghadapi masalah dalam hidupnya. Ternyata Mentari mampu menjalani semua itu dengan sabar dan tenang. Kegagalan rumah tangga di masa lalu membuatnya tidak mau gegabah dalam membuat keputusan seperti dulu. 


     Khalid justru bangga dengan Fatih. Banyaknya tekanan yang diarahkan kepadanya, tidak membuatnya menyerah dan lemah. Justru hanya dengan dukungan dari Mentari, putranya masih mampu berdiri kuat menjalani semuanya.


******


Maaf baru bisa up. Ini juga ngetik kehapus karena ketiduran, ngetik lagi kehapus lagi. Pusing sendiri jadinya. Kalau ada kata-kata aneh dan rancu abaikan saja ya.


Di atas ada dialog yang di akhirnya tidak dikasih tanda petik (") berarti itu masih lanjut ke dialog bawahnya. Biar mata teman-teman tidak sakit karena baca dialognya yang panjang. Maklum orang-orang pada nge-gas meluapkan isi hati mereka.


******


Dukung aku terus ya, klik like, bunga/kopi, votenya juga. terima kasih.


Oh iya rasa sosok ini cocok untuk menjadi visual WILLIAM GREEN, cinta pertama Mentari.

__ADS_1



__ADS_2