
Fatih mendudukkan dirinya di kursi pesawat pribadi keluarga Hakim, dan mencari posisi yang nyaman. Dia melihat pantulan wajahnya di kaca jendela. Senyuman bahagia terlukis di wajah campuran bule miliknya. Saat melihat ada bekas jejak cinta peninggalan Mentari, tadi pagi, di lehernya yang kokoh.
Mentari, adalah sosok istri yang sangat dicintainya dan selalu menjadi candu bagi Fatih. Dia bahkan selalu membuatnya merasa menjadi pasangan pengantin baru. Selalu enggan bila berjauhan darinya. Fatih benar-benar selalu dibuat mabuk kepayang oleh istri keduanya itu.
Bagi Fatih, Mentari adalah istri yang sempurna di matanya. Dia tidak pernah bilang itu kepada siapapun. Cukup dirinya saja yang tahu karena dia yang merasakan.
Zahra adalah wanita pertama dalam hidup Fatih. Wanita yang pemalu dan pendiam, tetapi punya sisi yang begitu manja kepada dia. Fatih menilai istri pertamanya itu adalah sosok yang sabar. Banyak sekali ujian dalam hidup Zahra, yang membuat Fatih selalu ingin berada di sisi dia. Untuk memberi dukungan dan perhatian kepadanya.
Zahra kadang menjadi sosok yang rapuh karena kekurangan yang ada pada dirinya. Meski begitu, Fatih selalu berusaha agar dia bisa menjadi penyemangat bagi istrinya.
******
Fatih memeriksa lagi barang bawaan yang disimpan dalam tas kecil yang dibawa tadi. Kecerobohan pertama dalam hidupnya dan tidak pernah terpikirkan adalah ketinggalan flashdisk laporan perusahaan di Amerika, yang lupa dia bawa di rumahnya.
"Astaghfirullahal'adzim, kenapa flashdisk laporan dari perusahaan semalam nggak ada!" Fatih terkejut karena kehilangan sesuatu yang penting. Padahal kemarin semua sudah disiapkan.
"Apatah jatuh di rumah?" Fatih bertanya kepada dirinya sendiri.
Fatih pun minta kepada pilot dan co-pilot, untuk menunda keberangkatannya. Dia pun turun kembali dari pesawatnya. Kemudian menelepon Mentari, untuk menanyakan tentang flashdisk miliknya.
Sudah beberapa kali melakukan panggilan, tetapi nggak diangkat juga sama Mentari. Itu malah membuat Fatih khawatir.
"Kenapa Mentari tidak menjawab panggilanku?" gumam Fatih sambil berlari ke luar bandara.
"Ya Allah, semoga keluargaku selalu ada dalam lindungan-Mu!" Fatih berdoa dengan penuh harap.
******
Ditempat salah satu sudut bandara, Mentari sangat terkejut saat ada seseorang yang menarik tubuhnya, menjauh dari toilet wanita. Mentari benar-benar tidak menyangka akan melihat William, lagi setelah sekian lama. Sosok itu kini berdiri tepat di depannya. Laki-laki masa lalu yang sudah mengukir cerita indah dan menyakitkan bagi dirinya.
"Halo, Baby!" suara bariton dari seorang pria dari masa lalunya yang kini berada di depannya. Membuat tubuh Mentari bergetar dengan hebat.
"Oppa?!" suara pelan Mentari memanggil laki-laki yang kini sedang mengungkungnya.
"Senang bisa berjumpa kembali denganmu, Sayang," bisik William sambil menatap Mentari dengan penuh rasa rindu.
__ADS_1
Tubuh Mentari bergetar, dia takut kalau pertemuan dengan William, akan membuat masalah dalam keluarganya. Dia tahu Fatih, itu suami posesif dan pencemburu. Apalagi kali ini dia berdekatan dengan William, mantan suaminya.
"Mau apa Oppa, menemui aku?" tanya Mentari dengan bibir yang bergetar.
"Untuk membawamu kembali ke sisiku," jawab William dengan sungguh-sungguh.
Mentari tidak suka mendengar jawaban dari William. Keduanya saling bertatapan. Terlihat jelas ada ketakutan di wajah Mentari. Berbeda dengan William yang memancarkan rasa cinta dan rindunya kepada wanita yang tidak pernah hilang dalam pikiran dan hatinya.
"Tidak, Oppa! Aku sudah menikah dan tidak akan pernah kembali lagi ke sisi--"
Mentari tidak bisa melanjutkan lagi kata-katanya karena mulutnya di bungkam oleh bibir William. Mentari sangat terkejut akan tindakan dari mantan suaminya itu. Tidak pernah terpikirkan, kalau William akan melakukan hal nekad seperti itu.
William mencium bibir mantan istrinya, dengan begitu lembut dan menuntut. Namun pelukannya sangat erat karena Mentari melakukan pemberontakan. Mentari menangis, hatinya sangat sakit. Dia merasa telah dilecehkan oleh mantan suaminya.
Kaki Mentari berulang kali menendang tulang kering William. Namun, mantan suaminya itu tidak melepaskan pagutannya. Malah kini ciuman semakin ganas. Mentari dibuat tidak bisa berkutik lagi. Semua perlawanan dia sia-sia.
Mentari tidak suka ini, mungkin dulu saat William masih suaminya, dia tidak akan segan-segan membalas pagutan dan sesapan darinya. Kini mereka sudah bukan lagi suami istri. Membuat Mentari merasa jijik. Dia merasa sudah ternodai harga dirinya. Air mata Mentari begitu deras keluar dari matanya.
Zahra yang baru keluar dari toilet, merasa heran karena Mentari tidak ada di sana. Padahal dia tadi bilang akan menunggunya di luar.
"Mentari kemana, ya?"
"Assalamu'alaikum, Mas," salam Zahra begitu mengangkat panggilan dari Fatih.
"Wa'alaikumsalam. Zahra, apa Mentari ada bersamamu saat ini?" tanya Fatih.
"Tidak, Mas. Justru sekarang aku sedang mencari Mentari," jawab Zahra dengan gugup.
"Apa, maksudnya!" Suara Fatih terdengar panik, dan ada suara berisik jadi latar belakang yang terdengar oleh Zahra.
"Mas, sedang dimana?" tanya Zahra karena mana mungkin di dalam pesawat pribadi terdengar suara berisik.
"Mas berada di parkiran bandara. Flashdisk milik Mas, sepertinya ketinggalan di rumah. Makanya mau tanya Mentari," jawab Fatih.
"Sebenarnya, aku juga sedang mencari Mentari. Tadi kita berdua pergi ke toilet, di bandara. Mentari keluar terlebih dahulu. Katanya mau menunggu aku di luar. Tapi, begitu aku keluar toilet, Mentari tidak ada." Zahra bercerita dengan suaranya yang bergetar.
__ADS_1
"Sayang, tenang dulu. Sekarang posisi kamu sedang ada dimana?" tanya Fatih dengan suaranya yang dibuat setenang mungkin, padahal hatinya ketar-ketir, takut terjadi sesuatu kepada Mentari.
"Aku sedang dekat toilet wanita," jawab Zahra.
"Baik. Jangan kemana-mana! Tetap disitu!" perintah Fatih kepada istri pertamanya.
Fatih pun berlari ke arah toilet wanita, dan berhasil menemukan Zahra. Akhirnya mereka pun memutuskan mencari Mentari, bersama-sama. Namun, langkah mereka terhenti saat Aurora, memanggil.
Akhirnya mereka pun berpencar mencari Mentari. Fatih berlari menelusuri area parkir. Dia berharap kalau Mentari masih ada di area bandara dan dalam keadaan baik-baik saja.
Fatih melihat ada dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang berciuman. Dia tersadar saat melihat baju yang dikenakan oleh si wanita, sama dengan baju yang dipakai oleh Mentari tadi.
Maka dengan penuh amarah, Fatih menarik tubuh si pria kemudian memberikan pukulan ke arah wajahnya. Sampai dia jatuh tersungkur. Fatih tidak tahu siapa yang sudah di tonjok olehnya. Perhatiannya kini tertuju hanya kepada Mentari yang sedang menangis dan jatuh terduduk di lantai.
Fatih menarik tubuh Mentari ke dalam pelukannya. Dia tidak menghiraukan laki-laki yang kini sedang mencoba berdiri.
"Mentari," bisiknya dengan pelan dan lembut.
Mentari yang mendengar suara suaminya, kini membalas pelukannya dengan erat.
"Maaf … Mas," kata Mentari di sela isakan tangisnya.
******
APAKAH FATIH DAN WILLIAM AKAN ADU JOTOS LAGI?
BAGAIMANA HUBUNGAN FATIH & MENTARI SELANJUTNYA?
TUNGGU KELANJUTANNYA YA :)
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV,, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.