Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI - WILLIAM (3)


__ADS_3

    Saat sore hari menjelang magrib Mentari diantar pulang oleh William. Apalagi nanti malam selepas isya, akan ada acara lamaran Cantika dan Alex. Begitu sampai di halaman rumah orang tua Mentari. William membuka sabuk pengamannya. Juga sabuk pengaman milik Mentari, yang kini sudah ketiduran semenjak di perjalanan pulang tadi. Mungkin karena kelelahan.


    William tidak rela membangunkan Mentari yang sedang tertidur. Makanya William diam 'kan saja dia. Itu juga menjadi pemandangan yang indah bagi William. Melihat Mentari yang sedang tertidur dengan pulasnya. Kemudian dia curi beberapa foto Mentari sedang tertidur itu.


    William bukanlah laki-laki bereng sek, yang akan memanfaatkan, ketidakberdayaan Mentari yang sedang tertidur. Melihat bibir ranum milik Mentari, siapa yang tidak tergoda olehnya. Namun William, tidak mau mencuri ciuman pertamanya dengan Mentari.


    Hampir setengah jam, William memperhatikan wajah Mentari. Sampai-sampai dia tahu di mana letak tahi lalat kecil di sudut ujung matanya. Kira-kira seberapa mancung hidungnya yang mungil lancip ujungnya. Bulu matanya yang hitam panjang dan lentik. Pipinya yang ranum berisi tapi tidak chubby.


    Mentari tersadar dari bangunnya, dan betapa terkejutnya dia. Saat melihat kalau mobil yang mereka sudah tumpangi sampai dan terparkir di halaman rumahnya. Dilihatnya William yang sedang memeluk stir mobil. Sambil tersenyum manis dan melihat ke arahnya. Melati pun jadi salah tingkah.


"Kenapa Oppa Willi nggak membangunkan aku, kalau sudah sampai?" Mentari menutup mukanya memakai ujung pashmina karena terlalu malu.


    William hanya tertawa, melihat tingkah Mentari yang sedang merasa malu itu.


"Kenapa, mukanya di tutupi pakai kerudung?" William malah balik bertanya.


"Tentu saja karena aku malu!" jawab Mentari sambil sedikit menurunkan ujung pashminanya, sehingga hanya terlihat matanya saja.


   William malah tertawa makin kencang, melihat Mentari yang malu-malu seperti itu. Dia rasanya ingin menarik ke dalam pelukan dan merengkuhnya dengan erat.


   Sementara Mentari semakin merah saja mukanya. Karena dia terlalu malu, tertidur di depan laki-laki yang disukainya. Dia takut kalau sudah mengigau atau apa, saat dirinya tidur tadi.


"Aku mau turun!" kata Mentari sambil membuka pintu mobil, tapi William cepat-cepat menahannya.


"Tunggu sebentar!" pintanya, kemudian William turun terlebih dahulu. Selanjutnya berlari mengitari mobilnya, dan membukakan pintu untuk Mentari.


   Mentari yang diperlakukan seperti itu, sungguh sangat terharu, senang, dan deg-degan. Senyum manis, dia berikan kepada William sebagai ucapan terima kasihnya.


"Aku jemput kamu nanti, ya?!" kata William saat dia mengantar Mentari masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Nggak perlu Oppa. Aku sekarang akan langsung ke sana. Nanti kita ketemuannya, di sana saja." Mentari tersenyum manis kepada William sebagai permintaan maafnya.


    Sementara William, dia harus menahan diri. Agar tidak melakukan yang tidak-tidak. Mungkin nanti malah membuat Mentari kecewa kepadanya. Jadinya dia juga hanya memberikan senyuman terbaiknya dan mengucapkan salam saja, serta melambaikan tangan saat akan pergi meninggalkan rumah Mentari.


******


     Mentari datang ke rumah Cantika dengan perasaan bahagia. Senyuman kebahagiaan tidak pernah luntur dari wajahnya. Dia pun menebar keceriaan dan kebahagian bagi orang-orang di sekitarnya.


   Mentari ikut mendandani dirinya, saat Cantika memoleskan sedikit sapuan make up kepada wajahnya yang memang sudah cantik. Dia belum cerita tentang dirinya yang sudah jadian dengan William. Baik kepada orang tuanya maupun pada Cantika. Hanya saja Gaya selalu saja mengejeknya, karena Mentari terlihat bahagia, seperti orang yang sudah pacaran dengan pujaan hatinya.


    Saat acara berlangsung William terus melihat ke arah Mentari. Begitu juga sebaliknya, Mentari selalu curi-curi pandang kepada William. Saat mereka adu pandang, maka keduanya akan saling melempar senyum.


    Setelah acara selesai, William menemui Mentari yang sedang mengantri mengambil makanan. Akhirnya keduanya pun makan bersama di teras samping halaman Cantika. Mereka tidak tahu kalau orang-orang yang ada di teras depan sedang heboh karena kedatangan Arga.


    William pun akhirnya memberanikan diri menemui Ja'far dan Sinar. Untuk meminta restu untuk hubungannya bersama Mentari.


   Ja'far dan Sinar terkejut dengan ucapan yang baru saja diucapkan oleh William. Karena Ja'far dan Sinar belum mengenal dan tahu banyak tentang William. Apalagi bagi Ja'far, dia hanya tahu tentang William dari cerita Mentari yang kalau lagi curhat. Itu juga katanya Mentari baru kenal minggu-minggu ini.


"Ayah, hanya meminta kalian, jangan sampai melewati batas. Akan lebih baik kalian berdua menjaga diri. Kalau memang kalian sudah ditakdirkan bersama, maka akan bersatu. Jangan sampai karena kalian menjalin hubungan, dan berbuat melewati batas. Padahal kalian tahu, itu hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah halal." Ja'far menasehati Mentari dan William.


"Maksudnya, kalau William yakin ingin menjadikan Mentari seorang istri. Maka dia merestui, tapi kalau hanya pada-pada suka, tanpa ada niatan untuk membangun rumah tangga, dia tidak merestuinya. Sebaiknya kalian jangan pacaran. Karena itu perbuatan yang akan mendekatkan kepada zina," jelas Sinar dengan suara pelannya.


   Mentari hanya menundukan kepalanya, dan William terdiam mendengarkan ucapan dari kedua orang tua, gadis pujaan hatinya. Kemudian senyumannya mengembang.


"Tentu saja saya serius ingin menjalin hubungan dengan Mentari. Saya harap Ayah dan Bunda memberikan restu kepada kami, yang ingin membangun masa depan secepatnya." William berkata dengan serius.


"Namun sekarang, kedua orang tua saya belum bisa diajak bertemu dengan Ayah dan Bunda." Wajah William mendadak berubah sedih.


    Mentari yang semenjak tadi tak menentu perasaannya. Kini merasa tenang, karena sudah mendapat lampu hijau dari kedua orang tuanya. Tinggal mendapat restu dari kedua orang tua William. Ada rasa takut di sudut hati Mentati, karena takut orang tua William tidak memberikan restu untuk hubungan mereka.

__ADS_1


"Tapi saya punya wali di sini, apa perlu meminta mereka berbicara kepada Ayah dan Bunda. Kalau aku serius menjalin hubungan dengan Mentari," kata William dengan serius, dan itu membuat Mentari berkeringat karena gugup.


    Kebetulan Khalid dan Aurora berjalan ke teras samping. Melihat William dan kedua orang Mentari sedang berbicara. Akhirnya memutuskan menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" tanya Aurora begitu sampai di sana.


"Ah, kebetulan. Mama Aurora, tolong lamarkan Mentari untukku juga!" pinta William begitu melihat Aurora.


"Wah … ternyata kita akan punya mantu lagi, Pah!" Aurora tersenyum ke arah Khalid.


"Sejak kapan kamu mau menjadikan Mentari sebagai istri?" tanya Khalid, karena William itu orangnya nggak mau kalah sama Fatih dan Alex. Jangan karena ingin ikutan punya istri, harus mengorbankan anak gadis yang polos.


"Sejak Mentari selalu mau diajak mencari jajanan di pinggir jalan, Pah!" jawab William langsung dengan yakin.


    Mendengar jawaban dari William, membuat bengong semua yang ada di sana. Bahkan Mentari tersenyum miris, karena alasan yang diberikan oleh William.


******


AKU SENGAJA BUAT SEASON 2, FLASHBACK CERITA MENTARI DAN WILLIAM, BIAR KALIAN TIDAK PUSING DENGAN ALURNYA NANTI.


UNTUK MENTARI-FATIH-ZAHAR, NANTI DI LANJUT DI SEASON 3.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2