
Kini pikiran buruk pun langsung terbayang dalam otak Mentari. Ingatan tentang Fatih yang terpaksa menikahi dirinya, sebenarnya sejak awal dia tidak mau menikah dengannya.
Mentari sudah tidak mampu menahan kesadarannya, sampai semuanya terasa gelap. Dia pun jatuh pingsan, dan keningnya membentur ujung meja rias, dan kertas yang berisi surat gugatan cerai tergeletak di dekat kolong kasur. Sedangkan kepalanya mengeluarkan banyak darah.
Billi merasa aneh karena Mentari, tidak terlihat di balkon. Biasanya menjelang matahari terbit, Mentari selalu duduk atau berdiri menikmati udara pagi dan hangatnya sinar matahari pagi. Billi pun masuk ke rumah dan mengetuk pintu kamar Mentari. Namun, sudah berkali-kali dia mengetuknya, tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya, Billi mendobrak pintu kamar Mentari karena dia takut terjadi sesuatu kepadanya.
"Mentari!" teriak Billi ketakutan karena melihat Mentari, yang tergeletak di lantai dengan kepala yang berdarah.
"Mentari ... bangun!" Billi memeriksa denyut nadi dan napas Mentari, masih dapat dia rasakan.
Kemudian, Billi membopong tubuh Mentari mau dibawa ke rumah sakit. Langkah Billi begitu cepat dan saat melewati Sinar dan Ja'far, dia tidak melihatnya.
"Billi, Mentari kenapa?!" Sinar dan Ja'far berlari menyusul Billi. Namun, seolah berubah menjadi tuli, Billi langsung melajukan mobilnya, begitu dia masuk ke dalam dan memasang sabuk pengaman.
"Bun, ayo!" Ja'far sudah menyalakan mesin mobilnya dan bersiap meluncur mengikuti mobil yang dibawa Billi.
******
Billi membawa Mentari ke rumah sakit terdekat karena takut terjadi apa-apa. Dia tidak membawa ke Rumah Sakit Harapan, sebab terlalu jauh.
"Dokter! Tolong periksa dia!" teriak Billi begitu masuk ke ruang UGD.
Seorang dokter dan perawat memeriksa keadaan Mentari. Perawat juga membersihkan darah yang hampir melumuri sebagai wajah Mentari.
"Tolong panggilkan dokter bagian kandungan!" Pinta dokter yang sedang memeriksa kondisi Mentari.
Luka kening Mentari mendapat jahitan, karena lukanya agak dalam. Sedangkan dokter kandungan baru datang setelah setengah jam kemudian.
******
Sementara itu Fatih, sedang bicara kepada bagian informasi kalau dia sudah kehilangan handphone miliknya. Sejak semalam dia mencari benda pipih itu saat ingin melakukan video call dengan Mentari. Bahkan dia pergi ke Masjid tempat dia sholat selama di rumah sakit. Namun, hasilnya nihil tidak bisa menemukan handphonenya.
Fatih bingung mau menghubungi Mentari. Handphone milik Zahra dibawa sama Mirna. Dia tidak ingat nomor telpon rumah mertuanya. Biasanya dia menghubungi lewat handphone. Sedangkan sekarang di rumah sakit tidak ada yang menjaga Zahra, kecuali dirinya. Fatih pun ngirim pesan lewat email. Dia berharap kalau Mentari membaca pesannya.
******
Ja'far dan Sinar sangat panik, saat tahu kalau Mentari harus melahirkan si kembar lebih cepat. Saat diperiksa oleh dokter kandungan, ternyata air ketuban sudah merembes keluar. Mentari yang sudah sadar saat itu, meminta untuk lakukan apapun agar kedua bayinya selamat.
Mereka lupa tidak membawa handphone karena tadi dalam keadaan panik dan menyusul Billi, sehingga mereka kesulitan mau menghubungi Fatih. Maka, Ja'far pun menghubungi nomor Rumah Sakit Harapan dibantu oleh pihak administrasi, untuk menghubungi Fatih yang sedang berada di ruang khusus yang dipakai untuk merawat Zahra. Meminta tolong untuk memberi tahu kalau Mentari sedang melahirkan bayinya.
Mentari pun diberi obat untuk merangsang pembukaan agar si kembar bisa keluar secara normal. Mentari pun merasakan kalau si kembar sudah tidak sabar ingin lahir dan melihat alam dunia.
Melahirkan kali ini terasa lebih menyakitkan bagi Mentari, dibandingkan saat dia melahirkan Liam. Entah karena dia sedang terluka hati dan fisiknya, atau karena lahirnya secara mendadak dan dia tidak siap karena waktunya masih jauh dari perkiraan.
Tanpa diketahui oleh Sinar dan Ja'far, Mentari melahirkan dengan di dampingi oleh Billi. Dokter mengira Billi adalah suami dari pasiennya. Billi memberi semangat kepada Mentari agar bisa melahirkan kedua jagoannya.
__ADS_1
"Ayo, Sayang! kamu pasti bisa!" Billi memberi semangat.
"Dorong Bunda, kepala bayinya sudah kelihatan!" perintah dokter.
"Aku bisa ... Allahu Akbar!"
"Alhamdulillah, satu sudah berhasil keluar. Tinggal satu lagi, Bunda," kata dokter.
"Ayo! Mentari, demi anak-anakmu. Pasti bisa!" Lagi-lagi Billi memberi semangat kepada Mentari.
Mentari pun kembali berjuang mengeluarkan anak keduanya, kali ini tiga kali mengejan, bayinya langsung keluar.
"Allahu Akbar!" Mentari mengerahkan seluruh tenaganya, sampai dia lemas.
Kedua bayi Mentari bisa lahir dengan selamat. Kini Mentari beristirahat karena kelelahan setelah melahirkan kedua bayinya. Kedua bayi milik Mentari di masukan ke dalam inkubator karena bayinya terlahir prematur.
******
"Kamu hebat, Mentari!" bisik Billi kemudian mencium kening Mentari.
Dokter dan perawat yang berada di sana melihat pasangan yang menurut mereka romantis.
"Dokter lakukan penanganan yang terbaik untuknya. Aku tidak mau terjadi sesuatu kepadanya. Pantau terus kondisinya sampai dia dinyatakan bisa pulang." Billi memberi perintah kepada Dokter dan perawat yang membantu proses persalinan Mentari tadi.
******
Fatih yang sedang menyiapkan sarapan untuk Zahra, dikejutkan oleh suara ketukan seseorang di pintu. Fatih pun membuka sedikit pintunya kemudian keluar.
"Tadi ada orang yang mengaku bernama bapak Ja'far, meminta saya untuk memberitahu kalau Nyonya Mentari sedang melahirkan di Rumah Sakit Pelangi."
"Anda tidak bohongkan?!"
"Tidak. Saya hanya menyampaikan apa yang diminta oleh mereka."
"Panggilkan seorang perawat perempuan ke sini! Sekarang juga!" Suara Fatih terdengar bergetar.
Fatih merasa ada batu besar yang menghantam tubuhnya. Kaki dia terasa lemas, dengan langkah diseret dia mendekati Zahra.
"Sayang, Mentari katanya saat ini sedang melahirkan. Aku harus pergi ke sana untuk menemaninya. Aku sudah berjanji akan mendampinginya saat melahirkan."
"Kenapa Mentari sudah melahirkan? Bukannya ini baru tujuh bulan?!" tanya Zahra dengan suaranya yang lemah.
"Aku juga tidak tahu. Aku harus ke sana sekarang!"
"Tunggu, Mas!" Zahra meraih tangan Fatih dan menciumnya dengan takzim. Fatih pun mencium kening Zahra.
"Sampaikan salamku untuknya. Hati-hati di jalan!" Bisiknya.
__ADS_1
"Iya, Assalamu'alaikum." Fatih pun menganggukkan kepalanya.
"Wa'alaikumsalam." Zahra tersenyum dengan lemah.
******
Fatih pun datang dengan berlari sampai ke depan ruang rawat Mentari. Begitu masuk dia melihat Mentari yang sedang tidak sadarkan diri. Ada Sinar yang duduk di sampingnya. Sedangkan Ja'far dan Billi duduk di sofa dekat jendela.
"Bunda, bagaimana keadaan Mentari?" tanya Fatih sambil membelai wajah Mentari.
"Setelah melahirkan dia belum juga sadar. Mungkin karena kelelahan," jawab Sinar.
"My Honey, bangun. Maafkan aku, yang tidak mendampingimu saat kamu berjuang untuk anak-anak kita." Air mata Fatih mengalir membasahi pipinya, dia merasa sudah berdosa karena mengingkari janjinya untuk mendampingi Mentari.
"Apa kamu sudah melihat si kembar?" Sinar mengingatkan Fatih akan kedua jagoannya.
"Belum, Bun. Fatih ingin melihat mereka."
******
Cuap-cuap para tokoh: Zahra vs Author.
Zahra: Thor kamu sadis banget sama aku, sudah nggak bisa hamil, dikasih penyakit mematikan, eh berobat juga masih dikasih drop melulu.
Author: Kalau kamu sehat, tidak akan ada kamu meminta Fatih untuk menikah lagi sama Mentari. Benarkan? Maka tidak akan ada cerita ini.
Zahra: Lalu aku kapan bahagianya, Thor?
Author: Terserah kamu maunya kapan, kalau kamu ikhlas menjalani ujian ini, maka akan terasa mudah dan hidup kamu terasa bahagia. Banyak orang-orang Sholeh yang hidupnya bahagia meski dia punya penyakit mematikan, tidak mengeluh atau mencari perhatian orang lain. Mereka memasrahkan dirinya kepada Allah.
Zahra: Ya, setidaknya aku ingin bahagia seperti tokoh-tokoh dalam novel yang lain?!
Author: kalau itu terjadi berarti karya aku END.
******
Jangan tanya kenapa Billi bisa bicara! nanti akan diceritakan.
Apa yang akan Mentari lakukan setelah dia sadar?
Tunggu kelanjutannya ya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.