
"Bismillahirrahmanirrahim,"
"Saya nikah dan kawinkan engkau William Green bin Christopher Green dengan putri saya Mentari Khairannisa Mochtar dengan mas kawin dua puluh juta dollar, dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Mentari Khairannisa Mochtar binti Ja'far Abdul Mochtar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"SAH!"
"SAH!"
"Alhamdulillah,"
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” (Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan)
Mentari yang berdandan begitu cantik membuat William tidak bisa memalingkan wajahnya dari gadis yang baru saja telah menjadi istrinya itu. Dengan langkah perlahan Mentari berjalan ke arah suami barunya. Kini keduanya berdiri berhadapan.
William memasangkan cincin nikahnya kepada Mentari. Kemudian Mentari mencium tangan William sebagai bukti penghormatan padanya. Sedangkan William berdoa dan meniupkan ke ubun-ubun Mentari.
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikan atas dirinya dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku mohon perlindungan kepadaMu dari kejelekan atas dirinya dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya."
Doa William yang di aamiin kan oleh Mentari. Mentari pun meminta keridhoan William agar bisa menjadi istri yang sholeha. Tempatnya berbagi dan mengharapkan ridho pahala dari Allah.
Setelah selesai menandatangani semua dokumen pernikahan mereka. Keluarga mereka memberi selamat dan mendoakan kebaikan bagi rumah tangga baru bagi William dan Mentari. Sekarang Mentari telah sah menjadi istri dari seorang William Green.
Christopher dan Jennifer sangat bahagia, menyaksikan pernikahan putra mereka. Edward dan istrinya juga menyempatkan datang ke Indonesia, disela-sela kesibukan mereka.
"Aku senang sekali, Baby. Akhirnya kamu menjadi istriku!" William memandangi wajah cantik Mentari dan tangan mereka saling menggenggam.
"Aku juga senang, akhirnya semua bisa berjalan dengan lancar," kata Mentari sambil tersenyum bahagia.
"Mentari … cintaku, sayangku, pujaan hatiku. Sungguh, aku tidak bisa mengungkapkan rasa bahagiaku saat ini!" William mengelus pipi Mentari dengan lembut. Mentari pun memejamkan matanya, menikmati sentuhan hangat tangan suaminya.
__ADS_1
"Hm … hm. Sudah dilanjutkan nanti saja, sekarang lagi banyak tamu." Alex yang mengganggu momen kebahagian William kini berdiri di depan keduanya.
Mentari sungguh sangat malu, kegiatannya bersama sang suami kepergok oleh Alex."Kak Al, mengganggu saja!" Mentari memasang wajah jutek kepada Alex.
"Aku cuma ngingetin kalian. Proses acara pernikahan belum beres!" Alex menunjuk ke arah orang tua kedua mempelai yang kini sudah duduk di kursi pelaminan yang berjajar di atas panggung.
William pun mengajak Mentari untuk melakukan sungkeman kepada orang tua mereka. Semua acara berjalan dengan lancar sampai sore hari.
Aurora dan Sinar sengaja, mengadakan proses ijab qobul langsung melakukan resepsi pernikahannya saat itu juga. Supaya Christopher tidak kelelahan, dan malam harinya bisa istirahat.
Banyak tamu yang hadir saat itu. Walau tidak sebanyak tamu undangan pernikahan Fatih dan Zahra. Namun itu membuat Mentari merasa pegal kakinya.
******
William dan Mentari melaksanakan sholat berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan sholat sunat. Mentari hatinya berdesir tiap kali mendengar suara William saat membaca ayat - ayat Alquran. Impiannya mempunyai suami yang bisa mengimami, akhirnya terkabul.
Setelah selesai sholat, Mentari mencium tangan William dengan takzim. Serta William mencium kening Mentari dengan sangat lembut.
" Ayo, kita lanjut dengan ibadah lainnya." Suara William yang mengalun lembut membuat Mentari gugup dan deg-degan.
" Kalau sekarang aku sudah boleh mencium kamu 'kan, Baby?" William tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapi.
Mentari yang wajahnya sudah merah, hanya mengangguk karena sangat malu. William juga melihat Mentari sedang senyum tersipu. Sungguh William sangat gemas melihat Mentari saat ini. Sudah tidak sabar, ingin segera menjadikan Mentari milik dia seutuhnya.
Diciumnya kening Mentari, kemudian diciumnya kedua kelopak matanya bergantian. Hidung mancung dan mungil diciumnya gemas bahkan rasanya William ingin menggigitnya. Pipi kiri dan kanan dicium bergantian. Dan terakhir bibir ranum yang selalu menggoda itu akhirnya bisa William rasakan lagi, setelah sekian lama.
William mencium mesra bibir Mentari, lembut tapi menuntut. Dia begitu senang karena Mentari membalas ciumannya juga dengan penuh kelembutan.
Malam itu William membuat Mentari, menjadi wanita seutuhnya milik dia. Surga dunia yang membuatnya terasa terbang ke puncak. Mereka rasakan entah berapa kali.
Malam pertama William dan Mentari, lancar jaya. Tidak seperti malam pertama Fatih juga Alex, yang mendapat gangguan dari orang-orang sekitar, termasuk dirinya.
__ADS_1
******
Pagi harinya Mentari dan William ikut sarapan bersama dengan yang lainnya. Disana mereka berdua mendapat gurauan dan candaan dari yang lainnya. Apalagi Mentari begitu terlihat sangat pucat dan lemah.
"Hei, William berapa lama, kamu melakukan itu?" tanya Aurora sambil berbisik dan di angguki oleh Jennifer.
"Apaan sich, Mama dan Mommy ini!" William malah tersipu malu.
"Oh, Jeni. Sepertinya William itu nggak ada apa-apa dibanding dengan Fatih dan Alex." Aurora memanasi William.
"William kamu harus bisa membuat Mentari hamil! Karena aku juga mau menjadi seorang grandma," kata Jennifer sambil berbisik kepada putranya itu.
"Tenang Mom, William akan buat Mentari secepatnya hamil. Aku juga mau punya anak yang lucu-lucu. Seperti anak-anaknya Al," jawab William sambil tersenyum manis.
"Bagus, Mommy dukung!" balas Jennifer dengan penuh semangat.
Tak jauh dari William, Mentari juga mendapat serangan pertanyaan dari Cantika dan Zahra. Keduanya semangat menggoda Mentari. Namun Mentari malah balik menggoda keduanya. Karena mereka juga masih pengantin baru. Apalagi Cantika yang merupakan kakak sepupunya itu, malah di buat mati kutu sama Mentari.
"Kamu belum merasakan, bagaimana tingginya hasrat laki-laki yang mengalir di darahnya keluarga Green," kata Cantika sambil manyun karena terus digoda oleh Mentari.
"Oh, ya. Tapi kalau tiap hari …?!" Mentari tersenyum menggoda. Zahra pun ikut tertawa tertahan.
******
Mentari ikut William tinggal di Amerika, dan membantu bekerja di perusahaannya. Mentari mendapatkan banyak ilmu dari Christhopher dan William dalam menjalankan perusahaan agar menjadi lebih berkembang dan maju. Mentari lebih suka saat dirinya menjadi asisten William, daripada harus memegang sebuah anak perusahaan milik Christopher yang diberikan untuknya.
Karena hampir dua puluh empat jam selalu bersama dengan suaminya. Membuat Mentari sering kewalahan dalam menjalankan tugasnya. Baik sebagai asisten maupun seorang istri. Kini Mentari tahu maksud dari Cantika dulu. Kalau laki-laki berdarah Green itu memiliki hasrat yang tinggi dan itu sering membuat Mentari harus kabur ke mansion Edward atau Albert, pura-pura berkunjung demi menghindari William.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
TERIMA KASIH.