
Suasana di ruang utama menjadi hening setelah Aurora bicara. Kata-katanya agak bikin hati nyelekit. Namun, itu adalah kenyataannya. Punya besan kelakuannya malah membuat masalah di rumah tangga sang anak. Untung saja istri dan anaknya nggak saling membenci dan menjatuhkan. Mungkin kalau orang lain belum tentu bisa sabar dan ikhlas menjalani kehidupan keluarga yang selalu direcoki oleh salah satu orang tua mereka.
"Mentari apa ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Khalid kepada Mentari.
"Apa yang harus aku, sampaikan Pah? Semuanya sudah dikatakan oleh Mas Fatih dan Zahra," jawab Mentari.
"Ummi, minta maaf Mentari. Bukan maksud membuat kamu dan Fatih supaya berpisah atau saling benci. Demi Allah, Ummi tidak punya pikiran itu. Saat itu yang Ummi inginkan adalah Fatih selalu bersama dengan Zahra."
"Ummi ingin Fatih dan Zahra seperti dulu. Ummi sangat senang saat melihat mereka bahagia tidak ada air mata. Ummi, bodohnya langsung percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Jihan dan Widuri. Sebab, apa yang Ummi lihat sekarang, Zahra memang kelihatan tidak bahagia. Satu-satunya yang bisa membuat Zahra bahagia adalah saat Fatih bersamanya."
Mentari terasa tergores hatinya saat mendengar kata-kata Mirna barusan. Seakan memang benar dirinya adalah perusak kebahagian Zahra.
"Makanya, Ummi minta mereka untuk liburan sebelum melakukan pengobatan. Agar hati dan pikiran Zahra, dalam keadaan senang dan tenang. Maka, proses pengobatan pun akan berjalan lancar." Mirna mendekati Mentari dan memegang kedua tangan Mentari.
"Maafkan Ummi, Mentari." Mirna menatap ke mata Mentari. Keduanya pun saling menatap.
"Iya, Ummi. Mentari tahu kalau Ummi itu sayang kepada Zahra. Aku juga sama sangat sayang pada Zahra, melebihi rasa sayang Ummi untuknya. Makanya, Mentari tidak mengizinkan Zahra untuk lelah fisik dan mentalnya. Mentari tidak banyak bicara sesuatu yang malah membuat Zahra banyak pikiran. Mentari cukup mendengarkan keluh kesahnya, memberi dukungan dan semangat untuknya." Tanpa sadar Mentari juga menyindir Mirna.
"Kalaupun berbicara tidak menyinggung perasaan Zahra, mengenai apapun itu. Mentari tidak pernah bertanya sesuatu yang memicu emosinya. Namun, Ummi selalu melarang Mentari dan Zahra bermain dan berbicara. Mentari sampai berpikir 'apa aku sudah menyakiti perasaan Zahra sampai-sampai Ummi melarang kita menghabiskan waktu bersama.' " Mentari dari sejak dulu ingin tahu kenapa Ummi, selalu melarangnya untuk berbincang-bincang bersama Zahra. Selalu saja ada alasan sehingga Mentari dan Zahra tidak bisa bersama.
Mirna menghapus air matanya, "Ummi ingin agar Zahra, banyak istirahat. Jangan banyak aktivitas apalagi Zahra ikut terancam nyawanya kalau bersama kamu."
Mentari mengerutkan keningnya, berpikir tentang apa yang Mirna bicarakan barusan.
"Maksud Ummi, bila dekat dengan Mentari, membuat nyawa Zahra terancam?"
"Iya. Bukannya selama ini kamu selalu diikuti oleh orang-orang yang ingin membunuh kamu. Ummi hanya ingin melindungi Zahra, agar jauh-jauh dari orang jahat yang sedang mengincar kamu," jawab Mirna.
Semua orang yang ada di sana, hanya bisa melongo mendengarkan kata-kata Mirna barusan. Aurora malah semakin percaya kalau otak Ummi, itu benar-benar dangkal.
__ADS_1
"Jeng Mirna, aku salut dengan cara Anda berpikir. Dengan otak itu wajar kalau pikiran Anda akan seperti itu. Berbeda dengan otaknya Sinar, dia percaya apa yang dilakukan oleh orang-orang itu. Tidak akan mampu menyakiti Mentari, apalagi ada banyak para penjaga dan pengawal di rumah." Aurora akhirnya menimpali Mirna.
"Benar Ummi, kita sebagai seorang ibu pastinya ingin menjaga, melindungi, melihat putri kita bahagia, tidak suka saat melihat mereka bersedih atau sakit. Tapi, bukan berarti kita harus selalu ikut campur setiap urusan anak-anak kita dan mengekang mereka. Ada kalanya kita sebagai orang tua hanya mengawasi, memberi nasehat, mendoakan, memberikan dukungan dan apapun hal yang dibutuhkan oleh mereka saat meminta kepada kita, ibunya." Sinar mengemuka 'kan pendapatnya.
Abah menuntun Mirna agar duduk lagi di sofa tempat duduknya tadi. Mirna menyadari semua yang dulu dia lakukan itu kurang tepat dan malah memberikan keburukan pada Zahra.
"Abah meminta maaf sekali lagi. Juga mewakili Ummi minta maaf sebesar-besarnya kepada kedua besan dan keluarga Fatih," kata Abah.
"Iya, Abah. Fatih sudah memaafkan dari jauh-jauh hari." Fatih tersenyum kepada Abah agar mertuanya itu merasa tenang.
"Jadi, bagaimana sekarang? Apa liburannya jadi atau di pending dulu?" tanya Khalid ke awal pokok permasalahan tadi.
Mentari melihat ke arah Zahra, yang terlihat sangat senang saat membicarakan liburan mereka. Semuanya biarkan Zahra yang menentukan.
"Zahra, ingin pergi berlibur bersama," jawab Zahra.
"Zahra, bagaimana kalau nanti, itu malah membuat kamu kelelahan? Sehingga menurunkan kondisi tubuh kamu?" tanya Aurora dengan nada suara yang lembut.
"Baiklah, jadi keputusannya adalah kalian akan pergi berlibur ke vila di puncak. Selama tiga atau empat hari," kata Khalid.
Kesepakatan diambil kalau Fatih beserta seluruh keluarganya akan liburan ke vila di puncak. Zahra senang bisa menghabiskan waktunya bersama keluarganya, suami, adik madunya, dan si kembar. Keberangkatan mereka sekitar dua Minggu lagi.
******
Mentari memandangi si kembar yang sedang tidur siang. Fatih masuk ke kamar mereka dengan membawa salad buah kesukaan Mentari. Fatih ingin menghibur hati istrinya yang sejak tadi banyak melamun.
"Honey, ada apa?" bisik Fatih sambil memeluk Mentari dari belakang.
"Hanya sedang berpikir dan mengingat-ingat sesuatu," jawab Mentari, menikmati aroma tubuh dan pelukan dari suaminya.
__ADS_1
Fatih mengajak Mentari duduk di sofa. Kemudian menyuapi salad buah yang dia bawa tadi. Keduanya menghabiskan salad buah ukuran boks large. Tentu saja keduanya saling menyuapi. Fatih masih melihat kabut kesedihan di mata Mentari.
"Ada apa? Katakan kepadaku. Jangan dipendam di dalam hati dan pikiran, ungkapkan 'lah!" pinta Fatih sambil membelai pipi Mentari menggunakan ibu jarinya.
Mentari memandangi wajah Fatih. Dilihatnya pahatan wajah yang sangat sempurna di matanya. Senyuman yang selalu membuat dia terhipnotis.
"Apa Mas, merasa kehidupan rumah tangga sekarang berbeda dengan saat sebelum aku masuk ke keluarga Mas Fatih?" tanya Mentari dengan nada yang serius.
"Iya, tentu saja, merasa sangat berbeda. Banyak malah perbedaannya!" seru Fatih dan itu mendapat respon senyuman dari Mentari.
"Apakah, aku membawa perbedaan kepada keluarga ini, pada kebahagiaan atau sebaliknya. Pada kehancuran?" tanya Mentari dengan menahan air mata yang telah menumpuk di pelupuk matanya.
Fatih terkejut mendengar kata-kata Mentari barusan. Dipeluknya tubuh yang kini sedang menangis itu.
"Tentu saja kehadiran kamu membuat kebahagiaan di keluarga ini! Kamu jangan berpikiran macam-macam," jawab Fatih sambil mengeratkan pelukannya.
"Entah mengapa aku merasa bahwa kehadiranku malah membuat rumah tangga kamu, menjadi kacau," ucap Mentari.
"Dengarkan aku! Kamu adalah sumber kebahagiaan di rumah ini, bagi semua orang. Jadi, jangan berani mengatakan kata-kata itu lagi." Fatih mencium kening Mentari dengan penuh rasa sayang.
*******
Aku bingung harus ngomong apa? nulis dari jam depan sampai selesai sudah 3x tertidur.
Jangan minta crazy up ya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.