
Mentari dan Fatih dapat menyelesaikan penandatanganan semua kerja sama dengan perusahaan asing, dengan baik. Sore harinya mereka akan bersiap-siap. Si kembar juga sangat antusias, bahkan mereka sudah memakai ban renang bebek miliknya.
"Sayang, kenapa pakai itu?" tanya Mentari kepada si kembar.
"Buat belenang, Bun!" jawab Raihan yang belum bisa mengucapkan huruf R.
"Kata Rain tadi, di sana ada kolam renang yang besar dan seru buat kita berenang," lanjut Rayyan.
Mentari tersenyum geli karena anak-anak ingin berenang di sana dengan memakai ban renang bebek yang ada di rumah.
"Kalian nggak perlu bawa itu. Nanti di sana juga ada." Mentari mengelus kepala keduanya.
Fatih yang baru turun langsung tertawa melihat anak-anaknya memakai ban renang dengan baju setelan casual. Dia tidak tahu kenapa mereka memakai itu. Setelah Mentari menceritakan, dia semakin tertawa kencang sedangkan si kembar hanya nyengir.
"Sebaiknya kita jangan membawa banyak mainan. Di sana nanti anak-anak akan bermain di alam bebas." Mentari menyimpan kembali mainan milik Rayyan dan Raihan.
"Kalau kamu banyakan bawa baju dinas ya, Sayang!" pinta Fatih dengan nada menggoda.
"Sudah aku bawa sepuluh. Awas kalau itu di sebut masih kurang!" Balas Mentari sambil memanyunkan bibirnya dan mendapat serangan kilat dari Fatih.
"Kalau kurang, di sana kita bisa beli." Fatih tersenyum manis sedangkan Mentari melotot.
"Jangan begitu, Bun. Sabar, demi program bayi selanjutnya," kata Rayyan.
"Iya, Bunda pasti bisa!" lanjut Raihan.
Fatih dan Mentari sangat terkejut mendengar kata-kata si kembar barusan. Saking shock, mereka tidak bisa bicara.
"Kalian dengar kata-kata itu dari mana?" tanya Mentari dengan nada agak tinggi.
"Iya, siapa yang mengajari kalian bicara seperti itu?" Fatih ikut-ikutan bertanya.
"Dari Ayah dan Bunda! Terus Om Ghazali, Om Alex, Om Erlangga, Tante Gaya, Tante Pelangi, dan Tante Cantika," jawab Rayyan menyebutkan nama-nama yang mereka kenal.
"Astaghfirullahal'adzim. Mas, makanya kalau lagi ada anak-anak itu bicaranya di saring, jangan asal ngomong." Mentari memijat keningnya.
"Mas 'kan kalau bicara sambil bisik-bisik, biar nggak kedengaran sama orang lain." Fatih membantah tuduhan terhadapnya.
Si kembar yang tidak tahu apa-apa, merasa tidak bersalah dengan yang mereka bicarakan. Keduanya menatap Fatih dan Mentari yang sedang bisik-bisik.
__ADS_1
"Pokoknya nanti ingatkan juga mereka, jangan bicara sembarangan di depan si kembar. Aku nggak mau anak-anakku bicaranya seperti itu lagi!" Mentari mengelus-elus dadanya dan beristighfar.
"Kalian berdua, dengarkan Bunda! Jangan sembarang mengucapkan lagi apa yang kalian dengar dari pembicaraan orang-orang dewasa," kata Mentari dan di angguki oleh keduanya.
******
Perjalanan ke Bali kali ini begitu sangat menyenangkan bagi si kembar. Mereka senang karena bisa liburan dengan Rain dan Mega.
Begitu sampai di Bali, Mentari dan Fatih mengumpulkan para orang dewasa. Sementara itu, anak-anak sedang asik bermain tidak jauh dari sana.
"Ada apa, sih? Menyuruh kita kumpul!" Gaya penasaran dengan perintah Fatih yang dari tadi menyuruhnya untuk kumpul.
"Mau kasih pengumuman!" Mentari maju ke depan.
"Mohon perhatian kepada semua saudaraku! Aku harap kalian jaga bicara di depan anak-anak ya!" Fatih mengungkapkan apa yang menjadi masalah.
"Contohnya bicara seperti apa?" tanya Alex.
"Iya, seperti—program bayi, hamil, pokoknya hal-hal yang berbau orang dewasa," jawab Fatih.
Orang dewasa di sana langsung tertawa. Mereka membayangkan bagaimana kelabkannya Fatih dan Mentari menghadapai si kembar. Hal itu membuat Fatih kesal.
Cantika dan Gaya langsung menginterogasi Mentari. Mereka penasaran cerita selengkapnya seperti apa. Mentari dengan polosnya bercerita kejadian yang menimpa mereka. Hal yang paling memalukan adalah saat dirinya mendengar si kembar bilang 'nggak akan kasih jatah' kepada Fatih. Sontak Cantika, Gaya dan Pelangi tertawa terbahak-bahak.
"Makanya jangan suka bicara sembarangan!" Gaya memegangi perutnya yang terasa kram karena kebanyakan tertawa.
"Aku itu bicara begitu sama Mas Fatih sambil berbisik," ucap Mentari sambil masang wajah cemberut.
"Lucuan Rain, di bilang tidur nggak mau pakai baju biar kayak Papa." Tiba-tiba Alex datang dari arah belakang Cantika.
Mendengar itu Cantika langsung membelalakkan mata dan menepuk lengan Alex. Gantian yang lain pada tertawa menertawakan Cantika dan Alex.
Pelangi dan Erlangga juga sebenarnya mengalami hal yang sama. Hanya saja mereka diam. Nggak mau menjadi bahan bulli-an saudaranya. Mega memarahi Erlangga karena membuat perut Pelangi menjadi besar, sehingga dia tidak bisa digendong lagi.
"Anak-anak aku nggak pernah kayak gitu. Mereka biasa saja, tidak ikut-ikutan omongan orang dewasa," kata Gaya.
"Bagaimana bisa begitu?" tanya Mentari penasaran.
"Ya, karena Arga nggak pernah ngomongin begituan sama aku di dekat anak-anak," jawab Gaya sambil tertawa.
__ADS_1
Semua yang ada di sana menatap Gaya tidak percaya. Mereka benar-benar sangat penasaran. Alex pun memanggil dua anak Gaya karena anak ke tiga lagi bersama baby sitter.
"Mami sama Papi kalau malam hari mereka ngapain?" tanya Alex pada putra sulung Gaya dan Arga.
"Tentu saja tidur Om. Hanya saja Papi kalau tidur suka pegang dada Mami," jawabnya polos.
Semua orang dewasa yang ada di sana tertawa kecuali Gaya yang kini sangat malu. Sementara itu Arya hanya tersenyum simpul.
"Makanya kita orang dewasa jangan bicara seenaknya di dekat anak-anak. Jadinya, mereka bicara seperti itu." Mentari bicara dengan melirik ke arah Fatih.
"Kok melihatnya ke aku sih, Yang!" Fatih merasa menjadi tokoh yang harus disalahkan.
"Biar Mas nggak selalu mesum!" Mentari bicara dengan nada sindiran.
"Wajar kayaknya kalau suami mesum sama istrinya sendiri." Alex tersenyum ke arah Cantika, kemudian berkata lagi, "benar nggak?"
"Ya, benar!" jawab para suami kompak.
******
Mentari dan Fatih saat malam hari benar-benar menjalankan program adik untuk si kembar. Untungnya si kembar ingin tidur dengan Rain. Otomatis mereka tidur dengan Alex dan Cantika. Malam yang menyenangkan bagi Fatih, berbanding terbalik dengan Alex.
"Besok giliran Rain ikut tidur dengan Raya dan Ian. Kalian tidur sama Ayah dan Bunda, ya!" kata Alex meminta anak-anak balita itu untuk menjalankan perintahnya besok.
"Iya, besok kita tidur bersama Ayah dan Bunda," kata Raya mengulangi perintah Alex.
"Bagus, anak pintar!" kata Alex senang.
"Sayang," panggil Cantika.
Melihat tatapan Cantika, Alex mengacungkan dua jarinya sambil tersenyum manis. Dia nggak mau membuat mood Cantika menjadi buruk.
'Tunggu saja pembalasan, aku Fatih', batin Alex karena dia tidak bisa berduaan dengan Cantika malam ini.
******
Abaikan dialog faedah dan unfaedah di atas. Itu terinspirasi dari obrolan teman-teman yang lagi ngumpul. si Author hanya jadi tim hore saja, mentertawakan omongan mereka. Otak mentok lagi ngurus sesuatu yang kasat mata 😆😆😆😆.
Jangan lupa untuk klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.
__ADS_1