Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI - WILLIAM (29)


__ADS_3

    Mentari dan William saling melempar senyum kebahagiaan. Ketika keduanya sedang berjalan sambil bergandengan tangan, dan akan menuju anak tangga, dikejutkan oleh suara dari Ja'far. Mertuanya itu berdiri tidak jauh dari mereka.


"Mau kemana kamu William?" tanya Ja'far dan sukses membuat menghentikan langkah kedua sejoli yang lagi dimabuk asmara itu.


"Mau ke kamar Mentari, Yah." William menunjuk lantai atas tempat kamar tidur Mentari berada.


"Ingat kamu sudah menjatuhkan talak kepada Mentari, dengan kata-kata meminta perpisahan di antara kalian! Kini kamu harusnya melakukan rujuk kalau ingin bersatu kembali dengan Mentari," kata Ja'far dengan tegas kepada William juga Mentari.


"Ayah," kata Mentari dengan suaranya yang pelan dan matanya yang berkaca-kaca.


"Ingat hukum agama, William!" Ja'far mengingatkan menantunya itu.


"Iya, Ayah. William sudah siap!" balas William dengan tegas juga dan menyakinkan mertua dan istrinya itu.


    Mentari menggoyangkan tangan William, untuk mengalihkan perhatian kepadanya. William pun melihat Mentari. Kemudian dia tersenyum dan mengangguk.


"Tenang, Baby. Aku akan menyelesaikan semuanya sampai akhir dengan cepat," kata William sambil mengelus kepala Mentari penuh perasaan sayang.


    Mentari pun menganggukkan kepalanya beberapa kali dan air matanya lolos membasahi pipinya yang mulai terlihat chubby. William menghapus air mata wanita yang begitu dicintainya itu. Kemudian mencium kepala Mentari memberikan ketenangan untuknya.


    Mentari pun menaiki anak tangga untuk masuk ke kamar tidurnya. Langkahnya gontai tidak bersemangat, karena masih tidak bisa bersama orang yang dicintainya, malam ini.


"Kakak mau kemana?" tanya Sinar kepada Mentari saat melihat putri sulungnya menaiki anak tangga.


"Ke kamar, Bun." Mentari yang sedang tidak semangat menjawab pertanyaan Sinar dengan lemah.


"Nanti dulu, sebaiknya kita kedepan dulu! Kasihan pak Ustadz Amir dan pak RT, kalau menunggu kalian terlalu lama nanti," kata Sinar yang membuat Mentari mengerutkan keningnya, kemudian tersenyum bahagia dan berlari menuruni anak tangga dengan semangat.


    William pun panik saat melihat Mentari menuruni anak tangga dengan berlari. "Baby, hati-hati jangan berlarian seperti itu!"

__ADS_1


    William yang langsung berlari ke arah Mentari, dan mencoba menahan laju tubuh wanita yang sedang mengandung buah hatinya itu. Jantung William berdetak kencang saat berhasil menahan tubuh Mentari di pertengahan anak tangga.


"Baby, kamu jangan berlari saat menuruni anak tangga!" William melihat wajah Mentari dan saling beradu pandang. "Ingat! Ada bayi di dalam perutmu, Sayang!" kata William dengan suaranya yang ditekan saking paniknya dia kepada Mentari.


"Maaf Oppa … tidak akan seperti itu lagi kedepannya," balas Mentari dengan penuh penyesalan karena lupa ada bayi yang sedang berkembang di dalam rahimnya itu.


    William, Mentari, Ja'far, dan Sinar duduk di ruang tamu. Dimana di sana sudah ada Ustadz Amir dan pak RT yang sedang duduk di hadapan mereka.


    Mereka berdua menjadi saksi atas rujuknya William dan Mentari. Ja'far dan Sinar tersenyum bahagia saat Mentari menyatakan kesediaan dirinya kembali dirujuk oleh William.


    William mencium ubun-ubun Mentari. Kedua orang itu berdoa semoga kedepannya, rumah tangga mereka bisa langgeng sampai maut memisahkan.


******


    Kini kedua sejoli yang baru saja rujuk itu sedang saling pandang. Mengagumi keindahan wajah pasangannya itu.


    William malam ini tidur di kamar Mentari, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Dia harus tidur di mobil. William menelusuri wajah Mentari yang selalu terlihat cantik di matanya. Menggunakan jari tengah dan telunjuknya. 


    Kedua sejoli yang baru saja rujuk itu. Menghabiskan malam itu dengan mereguk cinta yang menggelora. Mereka tidak sadar kalau rumah peninggalan leluhur Mentari itu tidak memasang peredam suara dikamarnya.


"Bun, mereka sudah berapa lama melakukannya? Sampai sekarang masing saja belum berhenti!" tanya Ja'far dengan nada suaranya yang terdengar kesal.


"Sudah, Ayah. Biarkan saja mereka," jawab Sinar sambil menahan senyumnya.


"Ternyata si William kuat juga. Awas kalau sampai terjadi apa-apa sama putriku!" Ja'far masih saja ngedumel penuh emosi.


    Sinar hanya tersenyum geli, saat suaminya merutuki menantunya itu. Bagi Sinar nggak kaget juga, karena Aurora selalu bilang dan menasehati para menantunya itu, saat melayani suami mereka. Keluarga Green punya hormon yang unik di dalam tubuhnya. Mereka tidak akan mudah terangsang, jika bukan dengan pasangannya. Serta ada kelebihan lainnya, yang hanya mereka tahu bersama pasangnya.


    Sinar pun mengusap-usap dada bidang Ja'far. Biasanya itu akan membuat Ja'far cepat tidur. Baru saja lima menit, suaminya sudah tertidur. Sinar pun tidur dengan memeluk tubuh Ja'far.

__ADS_1


******


    William dan Mentari menyambut hari ini dengan penuh dengan semangat. Keduanya serasa menjadi pengantin baru lagi. Pancaran kebahagiaan dapat dilihat dari keduanya.


    Mentari ikut menyiapkan sarapan pagi ini, bersama bi Eneng. Keduanya berbicara ngalor-ngidul sambil memasak. Sesekali mereka berdua tertawa. Sinar yang baru masuk ke dapur merasa sangat senang melihat putrinya kembali ceria lagi. Setelah menyelesaikan masalah yang menimpa rumah tangganya.


    Sementara William dan Ja'far yang baru pulang dari masjid pun duduk di teras samping. Sambil menikmati teh hangat dan goreng pisang yang masih panas.


******


     Mentari dan William berencana akan pulang lagi ke Amerika, keesokan harinya. Maka hari ini mereka akan menginap di rumah Khalid. Apalagi William semenjak datang ke Indonesia belum menemui orang tua yang sudah mengasuh dan mendidik dirinya itu.


    Mentari dan William di antar oleh Ja'far dan Sinar ke rumah Khalid. Sekalian mereka mau bersilaturahmi, karena sudah agak lama mereka tidak bertemu. Biasanya mereka saling mengunjungi tiap minggunya.


******


    Aurora yang sudah mendapat kabar dari William, saat subuh tadi. Menyambut mereka semua dengan suka cita, bahkan dia sudah menyiapkan hidangan spesial. Masakan khusus kesukaan William dan Mentari. Tentu juga lalapan plus sambel, kesukaan Ja'far dan Sinar.


"Sayang apa kabarmu? Selamat ya, untuk kehamilan kamu. Semoga sehat dan semuanya berjalan dengan lancar," kata Aurora sambil memeluk Mentari dengan lembut karena takut menekan perutnya yang sudah terlihat membuncit. Dia juga mengelus perut Mentari sambil tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah, baik Ma." Mentari menganggukkan keplanya dengan pelan, "Terima kasih Mama Aurora," balas Mentari sambil tersenyum hangat.


"Kamu sudah tahu kalau Mentari sedang hamil?" tanya Sinar kepada Aurora.


"Iya, Jennifer begitu tahu menantunya hamil langsung mengabari aku saat itu juga," jawab Aurora sambil tersenyum senang. "Dia selalu membanggakan Mentari kepadaku!"  Suara Aurora terdengar sangat kesal kepada sahabatnya yang kini menjadi nenek tirinya itu.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2