
Mentari masih duduk setia di samping Fatih. Dia pun mengompres, berharap demamnya segera turun. Wajah tampan suaminya kini terlihat merah karena demam yang sangat tinggi. Ini pertama kalinya selama pernikahan mereka, Fatih jatuh sakit seperti ini. Mentari mengusap-usap punggung tangan suaminya, berharap dia segera sadar. Sudah dua jam lebih, tetapi Fatih belum juga sadar. Itu semakin membuat Mentari, khawatir.
"Mas ... bangun dong!" pinta Mentari dengan suaranya yang lirih.
"Ada yang mau aku katakan," kata Mentari.
"Aku minta maaf. Aku mengaku salah sudah bicara seperti itu. Aku sungguh-sungguh sangat mencintaimu, Mas. Aku tidak pernah menyesali pernikahan ini. Jangan buang aku. Aku nggak mau berpisah denganmu. Selamanya aku ingin terus bersamamu, Mas." Mentari mengungkapkan isi hatinya.
Tangan Mentari terulur mengusap pipi Fatih. Air mata Mentari kadang masih keluar meski dia sudah sejak tadi menangis. Mentari baru beranjak dari tempat duduknya saat terdengar suara adzan Ashar. Mentari pun menjalankan ibadahnya dan berdoa untuk kesembuhan suaminya.
"Mas Fatih belum juga bangun?" suara Zahra terdengar dari arah pintu.
"Iya," jawab Mentari singkat dengan suaranya yang serak karena kebanyakan menangis.
"Kamu makan dulu, biar aku yang menjaga Mas Fatih. Susui si kembar sekalian, mereka tidak mau minum susu formula." Zahra memberitahu ke adaan si kembar yang sejak tadi belum dia susui.
Mentari pun beranjak dari sana dan mendatangi kamar si kembar yang berada di samping kamarnya. Mentari pun menyusui mereka satu-persatu. Setelah selesai menyusui, Mentari kembali ke kamarnya. Dia tidak makan, tidak ada selera untuk melakukan itu.
Saat masuk ke dalam kamarnya, hal pertama kali yang dilihatnya adalah Fatih dan Zahra sedang berciuman. Ada rasa sakit saat melihat itu. Mentari merasa sakit bukan melihat mereka berciuman. Hanya saja sejak tadi dia menunggu suaminya tidak bangun-bangun. Namun, saat dia tinggal, Fatih malah sadar.
"Mas ... sudah sadar," kata Mentari saat keduanya mengurai pelukan dan ciuman mereka.
Fatih melihat ke arah Mentari, kemudian tersenyum simpul. Fatih pun mencoba bangun karena akan sholat Ashar. Zahra pun membantu memapahnya. Begitu juga dengan Mentari.
"Aku bisa berjalan sendiri. Kalian duduklah," kata Fatih.
Zahra pun melepaskan rangkulannya, dan membiarkan Fatih berjalan sendiri menuju ke kamar mandi. Mentari pun mendekat ke arah Zahra.
"Sejak kapan Mas Fatih, sadar?" tanya Mentari.
"Tidak lama setelah kamu keluar kamar," jawab Zahra.
Mentari menarik napasnya lewat hidung dan mengeluarkan secara perlahan lewat mulutnya. Dia mengulangi itu sampai tiga kali, untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.
Fatih pun keluar dari kamar mandi kemudian dia melaksanakan shalat. Mentari duduk di sofa, sedangkan Zahra memilih pergi untuk menjaga si kembar.
__ADS_1
Mentari duduk sambil memperhatikan Fatih, sampai selesai sholatnya. Kemudian, dia menghampiri dan memeluk tubuhnya.
"Mas, aku senang melihat kamu sudah sadar," kata Mentari.
Namun, Fatih menguraikan pelukannya, dan berjalan ke arah pintu. Mentari merasa kecewa saat Fatih menguraikan pelukannya. Ditambah pergi meninggalkannya. Mentari menundukan kepalanya, dan air matanya pun kembali menguar dan membasahi pipinya.
'Kenapa sih, ini air mata keluar melulu? Apa nggak ada habisnya,' batin Mentari.
Tiba-tiba Mentari merasakan pelukan hangat yang mendekapnya dengan erat. Dia pun membalas pelukan itu dan tangisannya pun pecah. Suara tangan Mentari seperti anak kecil yang menangis meminta jajan sama emaknya.
Fatih hanya tersenyum mendengar suara tangisan Mentari.
"Aku baru tahu, kalau kamu menangis kencang mengalahkan tangisan si kembar." Fatih tertawa terkekeh.
"Aku rindu kamu, Mas!"
"Aku jauh sangat merindukan dirimu, Honey!"
"Maafkan aku!"
"Iya."
"Lalu?"
"Apanya?"
"Sekarang kamu—" Fatih kembali tidak sadarkan diri.
"Mas ...?" Mentari memangil Fatih yang tiba-tiba saja tidak melanjutkan ceritanya.
Mentari merasakan beban pada tubuhnya menjadi semakin berat. Dia pun menggoyangkan tubuh suaminya.
"Mas? Mas!" Mentari pun menjadi panik lagi. Kemudian, dia menyeret tubuh Fatih yang masih berada dalam pelukannya, menuju kasur dan membaringkannya dengan hati-hati.
Mentari mengukur suhu tubuh Fatih, demamnya masih tinggi walau tidak setinggi tadi. Saat hendak menghubungi dokter keluarga, Fatih terbangun dan memanggil nama Mentari.
__ADS_1
"Mentari," panggil Fatih dengan suaranya yang lirih.
"Mas, iya ini aku!" Mentari menggenggam tangannya.
"Jangan tinggalkan aku!" Lanjut Fatih.
Mentari memandangi wajah suami yang ternyata masih belum sadar. Fatih memanggil Mentari dalam di bawah alam sadarnya. Mentari pun kembali mengompres Fatih.
"Mas, kenapa meski pingsan lagi sih?"
Mentari menundukan kepalanya dan mencium bibir yang biasanya tidak pernah absen selalu mendaratkan di seluruh wajahnya. Kini terasa agak kering dan sangat panas. Saat ciuman mereka terputus, ada tangan yang menahan tengkuknya. Sehingga, ciuman itu berlanjut.
"Mas …," ucap Mentari ketika ciuman mereka berakhir.
"Ternyata ciuman dari seorang Ratu, bisa membangunkan Raja yang sedang tertidur," kata Fatih sambil tersenyum jahil.
Mentari pun langsung merah merona wajahnya karena malu. Kedua tangannya langsung menutupi wajahnya.
"Hei, kenapa ditutupi wajahnya, Honey?" Fatih masih tersenyum geli, dan berusaha membuka tangan Mentari yang menutupi wajahnya.
"Aku malu, Mas!" Mentari masih menutup wajahnya.
"Kayak anak gadis saja yang ketahuan mencuri ciuman ...," ucapan Fatih terhenti karena tiba-tiba Mentari memeluk tubuhnya.
"Jangan membuat aku ketakutan, seperti tadi lagi! Aku tidak mau kehilangan kamu, Mas!" Pinta Mentari dengan suaranya yang serak.
******
Karena hati Author dalam mood bagus. Jadi, langsung nulis dan lancar. Karena mau mengerjakan tugas, jadi aku up dulu karya ini.
Tunggu kelanjutannya ya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.