
Mentari menatap Billi, kenapa orang yang mengaku bisu itu, kini bisa bicara. Suaranya juga mirip William, mantan suaminya. Namun, wajah mereka berbeda.
Thomas terkejut saat melihat laki-laki asing yang mengenal dirinya. Dia yakin, belum pernah bertemu dengan laki-laki yang kini berjalan mendekatinya.
"Aku bilang lepaskan Mentari!" teriak William.
"William?" tanya Thomas tak percaya.
Thomas tertawa terbahak-bahak, saat menyadari laki-laki asing itu adalah William yang sedang menyamar. Ternyata, bukan hanya dirinya saja yang sudah membohongi lawannya. Ternyata lawannya juga sama membohongi dirinya.
"Aku kira cuma aku saja yang memikirkan cara dengan membohongi lawan. Ternyata kamu juga sama! Kita memang setipe," kata Thomas kepada William.
"Jangan sama 'kan aku denganmu!" kata William kesal.
"Aku tahu apa yang terjadi kepada kalian berdua, dulu. Bisakah kalian jangan libatkan istriku!" Fatih sudah berdiri di dekat Thomas dan mengulurkan tangannya ke arah Mentari.
"Maaf, wanita ini adalah sandera yang berharga." Thomas semakin mengencangkan pegangan tangannya kepada Mentari.
"Tapi dia tidak ada hubungannya dengan perkelahian kalian! Jika kau macam-macam kepadanya. Aku tidak akan tinggal diam!" Bentak Fatih sambil menodongkan pistolnya.
Fatih tidak bisa langsung nembak Thomas karena pelatuk pistol yang berada di pelipis Mentari, sudah ditarik. Fatih tidak mau kalau tindakan gegabah dirinya, malah membuat celaka Mentari.
William juga menyadari kalau posisi Mentari saat ini dalam keadaan tidak menguntungkan. Dia bisa tahu dari diamnya Fatih yang masih mematung. William tahu Fatih bukan orang yang akan bertindak tanpa perencanaan dan pastinya ingin hasil yang terbaik baginya. Mentari adalah orang paling berharga bagi Fatih juga baginya. Jadi, mana mungkin mereka akan membiarkan Mentari terluka.
Tanpa Thomas rencanakan, Melisa menembakan pistol ke arah Fatih. Tindakannya itu membuat orang-orang yang ada di sana terkejut. Tubuh Melisa sendiri juga langsung gemetaran. Ini pertama kali baginya membunuh orang.
"Mas! Mas Fatih!" teriak Mentari histeris melihat suaminya tertembak.
Fatih yang memakai baju anti peluru, pura-pura terkena tembakan. Agar membuat lawan lengah. Tak lama kemudian, terdengar letusan pistol ditembakan sebanyak tigakali berturut-turut. Ternyata, itu William yang menembak ke arah Thomas mengenai tangan dan dada atas. Tembakan yang pertama William, sebenarnya kena pistol milik Thomas, hingga rusak.
__ADS_1
Mentari tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia menggigit tangan Thomas yang masih memeganginya. Kemudian, berlari ke arah Fatih.
"Melisa, tembak William sekarang!" Perintah Thomas kepada kekasihnya itu. Namun, William di saat bersamaan menembak dada dibagikan perut, paha dan kaki Thomas.
Melisa pun menembak secara membabi buta ke arah William. Dia menatap kosong karena sudah menembak tubuh William. Sedangkan, dia tidak sadar kalau tangan dan kakinya juga sudah terkena tembakan Fatih.
"Ahk, tidak! Aku ... aku nggak mau mati!" teriak Melisa saat sadar dirinya juga bersimbah darah terkena tembakan dari peluru dari pistol milik Fatih.
Fatih memeluk tubuh Mentari, tetapi dia tidak melepaskan pandangannya dari Thomas dan Melisa. William pun berjalan ke arah Fatih dan Mentari sambil memegang perutnya yang terkena tembakan. Dia juga melepaskan topeng yang dia pakai selama menyamar menjadi Billi.
Mentari melihat ke arah William yang berjalan ke arahnya. Air mata Mentari meleleh melihat William yang terluka.
Thomas yang masih dalam sadar, mengambil pistol yang dipakai oleh Melisa, tadi dilihatnya masih ada satu peluru yang tersisa. Maka, dia mengarahkan ke arah Mentari.
William yang melihat itu berlari dan menghadang peluru itu, menjadikan tubuhnya sebagai pelindung bagi Mentari dan Fatih. Peluru itu mengenai bahu kirinya. Fatih juga menembakan pelurunya ke arah Thomas ke tangan dan dadanya karena posisinya yang terduduk.
"Oppa!" teriak Mentari begitu melihat William mengorbankan dirinya demi melindunginya.
Bagaskara dan tim keamanan yang lainnya datang dengan mobil mereka. Tim Keamanan pun mengepung Thomas dan Melisa, yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Panggil ambulans!" Perintah Bagaskara kepada salah satu anggota Tim Keamanan.
Mentari dan Fatih pun menghampiri ke William yang kini terduduk di jalanan aspal dan bersimbah darah. Banyak darah yang keluar dari tubuhnya.
"Oppa. Sadarlah, jangan mati!" Mentari menarik dan menyandarkan kepala William di lengan dan bahunya. Saat tubuh William hampir jatuh ke jalan aspal.
Fatih pun mengambil alih William, dia tidak mau kalau Mentari, terlalu memberikan perhatian lebih kepada Mentari. Bisa-bisanya dia merasa cemburu di saat keadaan begini.
"Kakek Willi ... kamu bisa mendengarkan suaraku?" tanya Fatih sambil menepuk pipi William.
__ADS_1
"Ya, kenapa sekarang malah kamu. Padahal tadi aku sudah sangat senang saat Mentari, menyandarkan tubuhku kepadanya," kata William dan itu membuat jengkel Fatih.
"Apa mau aku tambahkan lagi lukanya?" tanya Fatih dengan kesal.
William malah tertawa terkekeh. Kemudian, melihat ke arah Mentari. Tangannya terulur menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Kenapa kamu masih saja cengeng? Kamu itu selalu membuat aku khawatir!" William memasang wajahnya yang sendu karena merasakan sedih melihat wanita yang dicintainya menangis.
"Kenapa, Oppa melakukan ini?" Suara Mentari terisak, dia melupakan janjinya kepada Fatih, untuk tidak memanggil William dengan panggilan Oppa.
"Karena aku masih mencintaimu. Selamanya aku akan melindungi kamu!" William tersenyum dalam menahan sakit di luka tembakannya.
******
Waduh, si Kakek Willi malah mancing-mancing emosi Fatih lagi.
Apa Kakek Willi akan selamat dari maut?
Bagaimana nasib Thomas dan Melisa?
Tunggu kelanjutannya ya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1
Bagi yang ingin ikutan give away masih banyak waktu.