Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (38)


__ADS_3

    Malam ini giliran Fatih tidur dengan Mentari. Hal baru setelah kelahiran si kembar adalah anaknya juga ikut tidur di ranjang mereka. Fatih senang bermain bersama anaknya begitu juga sebaliknya. Kedua anaknya begitu senang bisa berinteraksi dengan ayah mereka. Hal baru lainnya adalah Fatih tidak malu-malu melantunkan bersholawat saat meninabobokan si kembar. Awalnya Mentari terkejut mendengar suara Fatih yang memiliki alunan melodi yang indah. Justru kadang Mentari terlebih dahulu tidur dibandingkan si kembar, ketika mendengar suara Fatih yang lembut itu bersholawat.


"Jagoan kesayangan Ayah, belum mau tidur, nih! Nanti Bunda marah, loh," kata Fatih ketika kedua anaknya masih semangat berbicara dengan bahasa bayinya.


"Mas, lantunkan sholawat saja. Biar mereka cepat tidur. Ini sudah hampir jam sembilan malam." Mentari baru selesai merapikan box bayi si kembar.


"Nanti yang tidur terlebih dahulu malah Bunda, ya 'kan?" tanya Fatih kepada kedua anaknya dan memberi respon dengan tawa oleh kedua anaknya.


     Mentari langsung melingkarkan tangannya di leher Fatih, kemudian mencium pipinya. "Habisnya, suara Ayah sangat merdu. Bunda sampai selalu terbuai."


"Justru sebaliknya. Suara Bunda 'lah yang paling merdu. Sering membuat Ayah semakin bersemangat!" Senyum jahil terpatri di wajah Fatih dan diikuti tawa si kembar.


"Mas, jangan menularkan ke mesuman pada anak-anak! Awas!" Ancam Mentari sambil mencubit kedua pipi Fatih.


     Akhirnya Fatih pun melantunkan sholawat dan ketiga orang yang dicintainya langsung tertidur dalam waktu singkat. Fatih pun memindahkan si kembar ke box bayi. Kemudian dia juga tidur dengan memeluk tubuh Mentari.


******


     Saat berjemur bersama, Fatih dan Zahra membicarakan tentang liburan itu. Tadinya Mentari meminta mereka membicarakan berdua saja. Namun, Zahra memintanya untuk ikut membicarakan hal ini bersama-sama.


"Jadwal Zahra untuk proses pengobatannya adalah satu bulan lagi. Sementara satu Minggu ke depan, Mas, tidak punya waktu senggang. Jadwal untuk satu Minggu itu sudah tidak bisa diganggu lagi." Fatih memberitahu jadwal miliknya.


"Kalau Mentari?" tanya Zahra.


"Kenapa tanya jadwal aku? Yang mau liburan 'kan kalian," kata Mentari.


"Aku ingin ini menjadi acara liburan keluarga," jawab Zahra.


     Mentari dan Fatih terkejut saat mendengar perkataan Zahra, barusan. Mereka tidak menyangka kalau Zahra memikirkan itu.


"Tapi, si kembar masih kecil, tiga bulan juga belum ada usianya. Mereka tidak boleh melakukan perjalanan jauh," tolah Mentari secara halus.

__ADS_1


"Kita pergi berlibur di tempat terdekat saja. Misal ke puncak? Kita 'kan punya villa di puncak. Iya 'kan, Mas?" Zahra melihat ke arah Fatih meminta dukungannya.


"Iya, boleh juga. Tetapi, kalian jangan lama-lama pergi liburannya. Seminggu lagi giliran si kembar di imunisasi. Berarti jadwal keberangkatan juga akan di undur. Apalagi, kalau nanti si kembar mengalami panas setelah imunisasi. Walau sudah dikasih yang paling bagus, kemungkinan itu bisa saja terjadi." Fatih dulu ingat saat si Trio Kancil, masih bayi, mengalami panas setelah imunisasi. Dia malah yang panik dan rela ikut begadang.


"Alhamdulillah, kemarin si kembar sudah di imunisasi, tidak mengalami panas." Mentari yang masih menyusui Rayyan, berkomentar.


"Anak Ibu, jagoan, sih!" Zahra menimpali yang juga sedang memangku Raihan.


"Jadi, kita semua akan pergi berlibur ke villa di Puncak!" Fatih memastikan lagi.


"Iya, deal." Zahra memberikan jawabannya.


"Akan seru kalau orang tua kita ikut juga, ya," kata Mentari memberikan ide.


     Otak Fatih, langsung terpikirkan Mirna. Dia tidak mau acara liburan keluarganya harus rusak karena kehadiran orang yang selalu menyalahkannya.


    Zahra tidak mau jadwal liburannya nanti di bebani oleh omongan Umminya. Dia ingin acara liburannya diisi dengan senang-senang bersama keluarganya.


******


     Fatih pun memberitahu rencana liburan mereka kepada Orang tua dan mertuanya. Kini semuanya berkumpul di rumah Fatih. 


" Mama, tidak mengizinkan kalian pergi," kata Aurora menolak keinginan Zahra untuk liburan bersama keluarga. 


"Jeng Aurora, jangan melarang mereka! Biarkan mereka bersenang-senang. Agar hati dan pikiran mereka bahagia dan tenang." Mirna mendukung acara liburan itu.


"Tidak akan ada liburan! Kalau kalian ingin pergi berlibur lakukan setelah si kembar bisa jalan." Aurora tidak menerima bantahan.


"Papa, setuju dengan apa yang Mama kalian ucapkan. Kalau mau liburan membawa si kembar. Lakukan setelah dia agak besar. Kondisi badan bayi berbeda dengan orang dewasa." Khalid mendukung keputusan istrinya.


"Tapi, mereka cuma pergi ke puncak. Tidak lintas pulau atau negara," kata Mirna lagi.

__ADS_1


"Sebaiknya, kalian pikirkan lagi. Mumpung masih ada waktu. Abah mengerti keinginan kalian untuk bersenang-senang bersama seluruh anggota keluarga. Tapi, lihat apa akan ada sisi merugikannya atau tidak saat kalian pergi liburan nanti," lanjut Abah.


"Benar, Mentari. Bunda, takut terjadi apa-apa sama kamu dan anak-anak. Bagaimana kalau ada yang ingin mencelakakan kalian saat liburan nanti? Bisa saja mereka akan berbuat jauh lebih nekat lagi." Sinar kurang setuju dengan alasan yang berbeda.


"Apa maksudnya, Bu Sinar?" tanya Abah tidak mengerti.


"Apa, Abah tidak tahu. Kalau Jihan, keponakan dari Jeng Mirna. Sudah membuat surat gugatan cerai palsu atas nama Fatih dan Mentari. Dia memfitnah Fatih sudah melayangkan gugatan cerai untuk Mentari. Tujuannya ingin merusak rumah tangga mereka. Jihan mengirimkan surat itu ke rumah orang tua Mentari. Akibatnya, Mentari mengalami shock dan bayi mereka lahir secara prematur demi menyelamatkan nyawanya." Aurora bercerita penuh emosi sambil melihat ke arah Abah dan Mirna yang duduk bersebelahan.


"Astaghfirullahal'adzim. Kenapa itu bisa terjadi? Ummi apa kamu tahu kejadian ini?" tanya Abah kepada Mirna.


"Tidak. Ummi juga baru mendengarnya hari ini," jawab Mirna sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Jihan berusaha merusak rumah tangga Fatih dan Mentari?" tanya Abah kepada Mirna. Dia berpikir istrinya akan tahu alasannya kenapa keponakannya melakukan hal tercela seperti itu.


     Mirna terdiam, dia kurang tahu alasan yang tepat kenapa Jihan berusaha merusak rumah tangga Mentari dan Faris. Meski dulu Widuri dan Jihan berbicara alasan tidak suka kepada Mentari.


"Ummi juga kurang tahu, Bah. Tapi, dia dulu pernah bilang kalau Jihan tidak suka sama Mentari karena ... Jihan sering mendengar Zahra menangis sendirian di kamarnya." Mirna bicara dengan mata berkaca-kaca membayangkan kalau duku setiap malam Zahra selalu menangis. Sementara Mentari dan Fatih bersenang-senang memadu kasih. Hati ibu mana yang tidak terluka saat mendengar kalau putri kesayangannya selalu menangis setiap malam. Namun, selalu tersenyum saat dihadapan orang lain.


******


Nah, sudah tahu 'kan. Kenapa Mirna sentimen sama Mentari.


Kira-kira bagaimana reaksi Mentari, Zahra, dan Fatih setelah pengakuan Mirna?


Tunggu kelanjutannya ya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2