
Fatih mengelus kepala Zahra, meski pelan rambutnya pun ikut menempel ditangannya. Beberapa hari yang lalu saat Zahra selesai mandi, kemudian menyisir rambutnya. Banyak Rambut yang rontok di lantai dan di sisir. Fatih pun meminta Zahra jangan sering menyisir rambutnya. Sebab, pancaran mata Zahra terlihat sedih saat melihat rambutnya yang rontok.
"Sayang, apa kamu bisa membuka matamu?" tanya Fatih dengan berbisik lembut.
Zahra diam saja tidak memberi respon apapun.
"Sayang, apa kamu bisa mendengar suaraku?" tanya Fatih dengan suaranya yang mulai parau karena menahan tangisnya.
Zahra menggerakkan sedikit jarinya digenggaman tangan Fatih.
Fatih pun mencium tangan Zahra dengan berlinang air mata. Begitu juga dengan Zahra, air matanya meleleh ke samping.
"Beristirahatlah! Agar besok pagi kamu merasa lebih baik," pinta Fatih kepada Zahra.
Tidak ada respon dari Zahra.
"Aku akan tetap di sini. Di samping kamu. Jadi, tidurlah!" Lanjut Fatih sambil menghapus jejak air mata Zahra.
Zahra pun menggerakkan sedikit jarinya. Fatih pun melanjutkan kembali membaca Al Quran di samping Zahra.
Sepanjang malam Fatih melantunkan ayat-ayat suci. Tidak tahu sudah berapa lama dia mengaji, yang pastinya sudah hampir setengahnya Al Quran itu dibaca.
"Mas ...." Suara Zahra yang sangat pelan terdengar oleh Fatih.
Fatih pun mengalihkan perhatiannya kepada Zahra. Istri pertamanya itu kini, membuka mata dan tersenyum lemah.
"Sayang ... bisa lihat a–aku?" tanya Fatih dengan gugup.
Zahra mengedipkan matanya.
"Alhamdulillah, Sayang ... akhirnya kamu benar-benar sadar." Fatih pun mengusap pipi tirus Zahra, yang pucat.
Zahra senang karena Fatih berada di sisinya. Dia merasa masih dicintai dan disayangi oleh suaminya.
__ADS_1
Sebenarnya, Zahra tahu kalau dia tidak akan pernah bisa sembuh. Satu hari sebelum jadwal cek up bersama Fatih. Zahra datang ke rumah sakit diam-diam yang sebelumnya sudah menghubungi dulu dokter yang bertanggung jawab menanganinya.
Hasilnya sungguh mengecewakan, kanker sudah mulai menyebar. Zahra harus segera menjalani kemoterapi lagi dan itupun bukan untuk bisa membunuh sel kanker ganasnya. Namun, untuk mencegah agar tidak cepat berkembang. Kanker Leukemia yang diderita Zahra, sudah stadium akhir dan itu tidak akan punya banyak waktu lagi.
Zahra meminta penangguhan waktu untuk masa pengobatannya. Dia ingin menghabiskan waktu yang tersisa dengan orang-orang yang disayangi. Bahkan dia memaksa kepada Dokternya untuk menyembunyikan hasil tes saat terakhir kali. Zahra juga membuat video yang meminta agar dokternya tidak membicarakan perkembangan kesehatan dirinya kepada seluruh keluarganya, atas keinginan Zahra, sendiri. Meski sang dokter melarangnya, tetapi Zahra sebagai pasien, tidak mau kalau kondisinya diketahui oleh orang lain, demi kebaikan bersama. Maka, itu pun menjadi rahasia mereka.
Zahra melakuakan itu agar tidak membuat sedih dan panik keluarganya. Apalagi dia tidak mau kalau harus tinggal di rumah sakit lagi. Dia sudah punya pirasat kalau umurnya tidak akan lama lagi.
Maka, saat keesokan harinya dia melakukan cek up bersama Fatih, dokter bilang tidak ada kemajuan yang berarti. Semuanya masih sama, tidak perlu panik.
Fatih berpikir kalau itu kesehatan Zahra baik-baik saja. Seperti saat dia akan pulang dari rumah sakit dahulu. Zahra pun bilang kalau dia merasa baik-baik saja dan siap akan melakukan kemoterapi lagi.
Zahra tahu sudah berdosa karena telah membohongi suami dan yang lainnya tentang kondisi kesehatan dia. Namun, dia tidak mau membuat semuanya khawatir dan itu malah membebani dirinya. Sebab, di sisa hidupnya, Zahra, sudah memimpikan membuat kenangan indah bersama orang-orang yang disayanginya. Zahra berusaha sekuat tenaga agar terlihat baik-baik saja di depan semuanya. Dia juga memakai make up untuk menutupi wajahnya yang sangat pucat.
******
Abah dan Ummi pagi-pagi bergantian menjaga Zahra. Mereka tahu, semalam Fatih tidak tidur. Apalagi setelah Zahra bisa membuka matanya dan berbicara. Dia tidak mau Fatih jauh darinya. Fatih pun sholat subuh di kamar isolasi. Dokter juga berusaha memberikan perawatan yang terbaik untuk Zahra.
Saat sarapan Fatih pun berada di ruang sebelah dan Zahra masih bisa melihatnya. Abah pun meminta Fatih untuk tidur saat pagi menjelang siang hari karena semalam sudah begadang. Dia tidak mau menantunya jatuh sakit.
"Bagaimana kabar si Kembar?" tanya Mirna begitu Mentari duduk didepannya.
"Alhamdulillah, mereka baik. Bagaimana dengan Ummi, sendiri? Sehat?" Mentari balik bertanya.
"Alhamdulillah, baik. Ummi juga sangat senang dan betah tinggal di sana. Kamu juga kapan-kapan datang ke sana! Suasana tenang dan sejuk. Warganya juga baik-baik dan ramah. Ummi merasa sudah dianggap keluarga sendiri oleh warga sekitar." Mirna menceritakan kehidupannya sekarang di tempat tinggalnya yang baru.
Mirna di sana juga mengajari ibu-ibu yang belum bisa mengaji dan menulis huruf Hijaiyah. Meski Mirna harus berjalan sejauh 2-3 kilometer dengan berjalan kaki karena kondisi jalan perbukitan yang terjal. Dia berjalan yang tadinya di tempuh satu jam lebih, kini bisa satu jam kurang karena sudah tahu medan dan terbiasa di jalanan seperti itu.
Mentari menyimak cerita Abah dan Mirna, tentang pengalaman mereka di sana. Mentari sangat senang mendengarnya, bahkan rasanya dia juga ingin datang ke sana dan menginap. Untuk menikmati keindahan alam dan keramahan warganya.
Waktu bergulir dengan cepat dan sudah dua jam lebih Mentari duduk di sana dan berbicara dengan Abah dan Mirna. Mentari melihat ke arah Fatih, terlihat wajahnya yang kelelahan. Ingin rasanya dia memeluk tubuh suaminya itu agar bisa berbagi. Mentari ingin meringankan beban yang dimiliki Fatih. Dia tahu Fatih tipe orang yang tidak akan memperlihatkan kelemahan atau rasa sakitnya kepada orang lain, kecuali dirinya dan Aurora.
Mentari tidak tega untuk membangunkan Fatih. Namun, dia juga harus segera pulang untuk menyusui si kembar. Sumber ASI sudah terasa sakit dan harus segera dikeluarkan. Maka, mau nggak mau Mentari harus pulang.
__ADS_1
"Abah ... Ummi, Mentari pulang dulu, ya! Kasihan si kembar sudah waktunya mimik ASI." Mentari berkata sambil berdiri dan mencium tangan Abah dan Ummi secara bergantian.
"Apa sebaiknya, Nak Fatih dibangunkan dulu? Dia pasti ingin bertemu dan bicara denganmu, Mentari," kata Abah.
"Nggak perlu, Abah. Biarkan Mas Fatih istirahat. Dia pasti semalam tidak bisa tidur," balas Mentari.
"Iya, Fatih begadang sampai subuh. Baru istirahat tadi jam sembilan," kata Mirna.
Mentari tahu, mana mungkin Fatih akan tidur. Jika, Zahra dalam keadaan sakit parah begitu. Saat kemarin Mentari sakit, Fatih juga tidak tidur. Dia menunggui dirinya dan terus mengecek kondisi tubuhnya.
"Sampaikan salam aku saja, kepada Mas Fatih. Jika, sempat menelpon, Mentari akan sangat senang," lanjut Mentari sebelum pamit.
Sesaat Mentari pulang, Fatih terbangun. Dia menyadari kalau Mentari tadi berada di dekatnya. Wangi tubuh istrinya masih bisa tercium olehnya.
"Abah ... Ummi, apa tadi Mentari kesini? tanya Fatih.
"Iya, barusan dia pulang. Tadinya, Abah mau bangunkan kamu! Tapi, Mentari bilang nggak boleh. Nanti, Nak Fatih diminta menelponnya," kata Abah.
Fatih pun berjalan ke toilet untuk mencuci wajah dan berwudhu karena sudah masuk waktu Dzuhur. Dia rasanya sudah tidak sabar ingin menghubungi Mentari dan melihat si kembar.
Selesai sholat, Fatih makan siang yang dibawakan oleh Mentari. Rasa masakan Mentari, semakin menguatkan rasa rindunya kepada sang istri. Namun, saat dia hendak menghubungi Mentari. Mirna memberitahu kalau Zahra memanggilnya.
******
Aku merasa kalian akan marah 😬 karena Fatih nggak jadi menelepon Mentari 😁
Tunggu kelanjutannya ya.
Jangan lupa klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga.
terima kasih.
Ramaikan karya baru aku untuk lomba merubah takdir : AYU SANG PENAKLUK
__ADS_1