Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (33)


__ADS_3

     Fatih meminta kepada Tim Keamanan Keluarga Hakim, untuk memeriksa sidik jari yang ada di handphone miliknya. Dia sangat marah karena saat itu dia mencari-cari benda itu, tapi semua orang bilang tidak tahu. Akibatnya, dia tidak tahu saat, Mentari melahirkan. Fatih tidak mau suudzon kepada ibu mertuanya. Hanya saja hari itu hanya ada dirinya, Papa, Abah, dan Ummi. Dia baru sadar handphone miliknya tidak ada setelah magrib. Saat dia ingin menghubungi Mentari. Fatih menanyakan kepada mertuanya, bilangnya tidak tahu.


     Tidak butuh waktu lama, bagi tim keamanan bekerja, untuk mencari tahu pemilik sidik jari itu.


"Tuan, pemilik sidik jari ini adalah Ibu Mirna, mertua Anda. Meski sudah beberapa kali memeriksanya, memang tidak diragukan lagi, ini milik Ibu Mirna," kata salah seorang pasukan tim keamanan.


"Oke. Terima kasih," balas Fatih.


     Perasaan Fatih saat ini adalah sangat marah, kesal dan dongkol. Terhadap ibu mertuannya. Selama ini Fatih selalu menjaga perasaan orang tua istrinya. Bagaimanapun juga mereka adalah sosok yang berjasa bisa menjadi Zahra pribadi yang baik. Mereka yang telah merawat dan mendidik Zahra. Dia juga selalu berusaha berbuat yang terbaik buat kedua mertuanya itu. Menuruti keinginan mereka, walau kadang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Fatih.


     Walau nasi sudah menjadi bubur, tetapi, semua ini tidak boleh dilupakan. Agar menjadi pelajaran kedepannya. Menyembunyikan barang penting milik orang lain, sangat tidak dibenarkan.


*******


     Mentari dan Fatih menempati lagi rumah mereka, meski harus menempatkan beberapa tim keamanan dan para pelayan di rumahnya. Suasana rumah pun menjadi agak ramai karena para pelayan atau pengawal selalu berkeliaran di sekitar Mentari dan si kembar. Meski begitu si kembar tidak merasa terganggu. Mereka juga tidak rewel hanya saja mereka suka mendengar orang bicara. Jika tidak di ajak bicara akan ngambek.


"Ini anak mirip siapa sih?" tanya Mentari sambil bicara dengan si kembar. Ditanggapi oleh mereka dengan ketawa.


"Kalian malah ketawa, lagi." Mentari mengeliatkan perut anaknya.


"Assalammu'alaikum. Honey, Raihan dan Rayyan. Kalian sedang apa?" tanya Fatih begitu masuk kamar, dikecupnya kening Mentari.


"Wa'alaikumsalam, Ayah. Kita sedang bermain," jawab Mentari, menirukan suara anak kecil.


"Ah, Ayah jadi gemes sama Bunda!" Fatih mencuri satu ciuman di bibir Mentari, dan kedua anaknya malah berteriak kegirangan.


"Mereka ini, mirip siapa sih? Tidak mau diam, ngoceh ala baby melulu." Fatih bertanya kepada Mentari.


"Entahlah, aku tidak tahu mirip siapa tingkah mereka itu," jawab Mentari.


"Sudah sana cepat mandi! Nanti ajak main si kembar. Giliran aku baru mandi nanti," suruh Mentari.


"Siap, Bunda!" Lagi-lagi Fatih mencuri satu ciuman ke pipi Mentari dan seperti biasa kedua anaknya akan menjerit.


     Keseharian Mentari dan Fatih adalah mengasuh si kembar. Sinar dan Aurora bergantian menginap di sana. Sebab, Fatih saat malam hari harus menemani Zahra. Aurora mulai kelelahan kalau mengurus suami, perusahaan, dan Zahra di rumah sakit. Tapi hari Sabtu dan Minggu, giliran si kembar full sama ayahnya. Seandainya, tidak ada si kembar, Mentari pun tidak akan memaksa meminta waktu untuknya.

__ADS_1


"Honey, ini sudah satu bulan lebih loh. Jadi, kapan?" tanya Fatih dengan berbisik.


"Emangnya ada apa dengan satu bulan?" Mentari, malah balik bertanya kepada Fatih.


"Ish, aku buka puasa, tinggal berapa hari lagi? Kalau bisa titipkan si kembar sama Mama," bisik Fatih.


     Mendengar ucapan Fatih, wajah Mentari langsung merah. Mana mungkin dia minta kepada mertuanya, untuk menjaga si kembar. Hanya karena suaminya mau buka puasa.


"Nggak, Mas. Tidak perlu menitipkan si kembar kepada Mama," kata Mentari menolak permintaan suaminya.


"Aku nggak mau sampai terganggu karena mereka menangis," ucap Fatih dengan tatapan menggodanya.


"Akan aku buat agar mereka tidur nyenyak sampai pagi!" Mentari pergi meninggalkan Fatih yang pikirannya sudah mengarah hal mesum, tapi malah ditanggapi dengan tawa oleh suaminya.


******


     Malam Minggu adalah waktu yang selalu dinanti oleh Fatih dan Mentari. Mereka selalu bisa berbagi cerita, keluh kesah selama seminggu yang mereka jalani. Tentu saja tempat favorit mereka adalah di atas ranjang. Mentari duduk bersandar dan Fatih tiduran di pangkuan istrinya. Pijatan ringan sering Mentari, berikan di kepala Fatih. Ini selalu membuatnya terasa nyaman.


"Honey, ada yang mau aku ceritakan," kata Fatih.


"Kamu, ingat tidak! Dulu saat aku kehilangan handphone." Fatih membuka matanya dan menatap ke arah Mentari.


"Iya, mana mungkin aku lupa! Mas, tidak membalas chat aku. Ditelpon tidak aktif. Aku melahirkan tidak ditemani, kamu ingkar janji!" Mentari mulai emosi lagi kalau mengingat hari-hari saat itu.


"Hm, maafkan aku, Honey!" Fatih pun bangun dari rebahan, kemudian, menangkup wajah Mentari.


"Handphone aku itu ternyata ada yang menyembunyikan!" Lanjut Fatih dengan nada sedikit emosi karena kesal.


"Benarkah! Oleh siapa?"


"Ummi," jawab Fatih.


     Mentari terkejut mendengar jawaban dari Fatih. Dia tidak menyangka kalau ummi, akan melakukan hal seperti itu. Entah apa maksud dan tujuan dia melakukan hal yang seperti itu.


"Mas, tahu dari mana?"

__ADS_1


"Sidik jari Ummi, terlihat jelas di layar handphone. Jadi, Mas minta tolong diselidiki, ternyata hasilnya ... itu memang benar, milik Ummi," jawab Fatih.


"Kenapa Ummi, melakukan hal itu?"


"Karena Ummi, ingin Mas selalu bersama dengan Zahra dan fokus mengurusnya. Jangan sampai terbagi perhatian Mas, sama kamu."


"Astaghfirullahal'adzim, Ummi. Kenapa aku merasa, kalau Ummi itu selalu berusaha menjauhkan kita, Mas. Seakan aku ini adalah orang yang sudah merusak kebahagian Zahra.


"Padahal selama ini, aku selalu mengalah padanya. Aku sadar diri, kalau posisi aku itu hanya istri kedua. Kebanyakan orang pasti akan menilai aku dengan negatif. Makanya, aku tidak mau banyak menuntut kepadamu. Aku juga tidak mau menyusahkan kamu, Mas.


"Aku juga bisa saja egois waktu itu. Aku juga ingin diperhatikan, apalagi saat itu sedang hamil besar. Tetapi, aku ingat pesan Bunda, jangan mempersulit keadaan suami. Makanya aku ... melawan egoku!"


     Mentari menangis, meluapkan emosinya saat dia hamil dulu. Seharusnya dia diperhatikan juga, karena ibu hamil itu sering mengalami kesusahan saat perutnya sudah besar. Namun, dia menjalaninya tanpa suami. Untungnya, ada orang tua yang selalu menjaga dan membantunya.


"Maafkan, Mas."


     Fatih memeluk tubuh Mentari. Air matanya pun ikut mengalir. Membayangkan perjuangan yang dialami oleh Mentari, di mana seharusnya mendapatkan perhatian ekstra, dari suami.


"Aku, masih belum bisa memberimu kebahagian yang utuh," bisik Fatih sambil mendekap erat tubuh Mentari.


"Tidak, Mas. Aku sudah merasa sangat bahagia. Aku mencintaimu, kamu juga mencintaiku. Kita juga punya anak-anak yang menjadi pelengkap kebahagian dalam rumah tanggaku." Mentari tidak mau membuat Fatih merasa bersalah. Bagaimanapun dia selalu merasa bahagia hidupnya.


******


Cuap-cuap para tokoh: Abah vs Author


Abah: Assalammu'alaikum


Author: Wa'alaikumsalam, Abah.


Abah: Thor sekarang 10 hari akhir bulan nggak 3X up.


Author: Nggak, Bah. Para reader lagi malas baca kayaknya. Jadinya aku juga malas crazy up.


Abah: Oh. Padahal Abah masih ingin menasehati Mirna.

__ADS_1


******


__ADS_2