
Fatih bersama kedua istri dan anaknya, sedang berjemur di taman samping rumah. Tawa canda terdengar dari mulut mereka. Zahra sangat bahagia karena kedua anak Mentari, mau dia gendong atau dia pangku. Apalagi keduanya selalu memberi respon saat di ajak bicara. Zahra juga ikut memandikan si kembar tadi. Sebagai mantan dokter kandungan, dia tahu apa yang harus dilakukan saat mengurus bayi. Mentari yang sudah berpengalaman punya anak pun, melakukan metode yang sama.
Fatih senang saat melihat senyum dan tawa kebahagiaan tercipta dari wajah kedua istri dan anaknya. Dia selalu ingin waktu bersama seluruh anggota keluarganya, di isi dengan hal yang membuatnya bahagia. Sebisa mungkin dia membuat banyak kenangan yang indah, bersama. Kalau dulu saat Zahra divonis, tidak akan bisa punya anak. Dirinya juga sudah pasrah, tidak akan memiliki keturunan. Namun, saat dia menikah dengan Mentari, keinginannya itu cepat terwujud. Belum satu tahun dirinya menikah dengan Mentari, kehidupannya sudah merasa sempurna.
Fatih tidak mau serakah, dengan melihat Zahra sembuh, Mentari selalu berada di sisinya, serta kedua putranya bisa tumbuh menjadi anak yang bisa membawa kebahagian, sudah cukup. Dia tidak mau apa-apa lagi, kecuali nambah anak, yang wajahnya mirip Mentari. Biar istrinya itu nggak iri, karena wajah si kembar sangat mirip dirinya.
Fatih pun sudah siap untuk memproses anak selanjutnya. Apalagi semalam dia baru saja buka puasa, setelah masa nifas Mentari, selesai. Setelah sekian lama tentu saja itu terasa malam pertama lagi. Mentari yang rajin minum jamu dan merawat tubuhnya. Membuat berat badannya cepat normal kembali, Mentari seperti kembali ke saat gadis. Fatih malam tadi, merasa sangat bahagia dan nggak pernah puas. Bahkan, tadi setelah subuh pun dia menginginkannya lagi. Meski Mentari sempat menolak, akhirnya pasrah juga tidak kuasa menolak pesona suaminya.
******
Zahra sangat sayang sekali kepada si kembar, bahkan dia tidak ingin jauh-jauh darinya. Aurora juga yang melihatnya merasa senang. Meski bukan Zahra yang mengandung dan melahirkan, terlihat jelas dia bisa berperan sebagai ibu. Walau kadang Zahra lebih posesif dibanding Mentari. Zahra juga selalu mengingatkan Mentari jangan makan yang aneh-aneh karena sedang menyusui. Mentari, saat menyusui menjadi tipe pemakan segala. Menyusui dua bayi, membuatnya mudah cepat lapar dan makan dalam porsi yang banyak. Meski begitu bentuk tubuhnya tetap seksi dan berbodi.
"Awas, kamu jangan makan yang pedas-pedas. Walau hanya sedikit, kasihan sama si kembar. Jangan sampai dia sakit perut karena makan makanan kesukaan kamu!" Zahra mengingatkan saat Mentari sudah ingin memakan udang pedas yang dibawa Mirna, untuk Fatih.
"Cuma satu ... aja. Ya?" Mentari mengacungkan jari telunjuknya sambil tersenyum lebar.
"Tidak boleh," jawab Zahra sambil mengambil wadah kotak yang berisikan udang pedas buatan Ummi, dan menyimpannya ke dalam kulkas.
"Nanti ngiler, loh." Mentari menatap dengan memohon dengan mata yang berkedip.
"Tetap tidak, boleh!" Zahra bersikukuh.
Mentari pun akhirnya menyerah. Dia lebih baik makan sayur katuk saja, biar ASI-nya banyak dan lancar. Buah-buahan juga, tidak boleh yang disimpan di kulkas. Mentari tidak boleh makan yang dingin dan pedas.
Sinar dan Aurora pun menginap bergiliran di rumah Fatih. Kadang Mirna juga, walau baru beberapa kali, bisa di hitung sama jari. Mirna juga suka sama si kembar walau kadang dia juga membandingkan dengan anaknya Aisyah. Meski begitu, tetap saja pesona si kembar tidak terkalahkan. Zahra sering memposting si kembar di media sosial miliknya. Dia juga selalu mengirimkan foto ke acara lomba-lomba bayi. Wajah campuran dengan senyuman yang menawan, sering membuat si kembar menjadi juara. Bahkan, uang hadiah di tabungan mereka sudah sangat banyak.
Sementara, Mentari yang dulu di ajarkan oleh William. Jangan pernah memposting ke publik wajah anak mereka. Cukup dunia tahu namanya saja, tidak dengan wajahnya. Dunia bisnis yang kadang kejam, suka melibatkan anggota keluarga dalam menjatuhkan atau mencelakainya. Mentari, jadi tidak pernah melakukan hal itu. Mentari lebih suka membuat video kebersamaan mereka. Agar suatu saat kelak bisa menjadi kenang-kenangan yang indah saat dikenang kembali.
__ADS_1
******
Saat makan malam, Zahra menyajikan udang pedas yang sudah dipanaskan. Mentari hanya bisa meliriknya saja dan menelan air liurnya. Fatih yang melihat itu, hanya tersenyum geli. Jiwa jahilnya muncul, ingin menggoda Mentari.
"Sayang, ini udang pedasnya enak banget. Bilang sama Ummi, terima kasih." Fatih berkata setelah makan satu udang pedas dan langsung memuji masakan mertuanya.
"Enak, ya ... Mas?!" tanya Mentari dengan tatapan memelas ingin mencoba mencicipinya.
"Iya, enak banget. Kamu mau?" tanya Fatih dan dijawab dengan anggukan oleh Mentari.
"Mas ... Mentari lagi menyusui, tidak boleh makan yang pedas!" Zahra langsung menimpali. Sedangkan Fatih, hanya tersenyum saja.
Fatih memasukan satu udang dalam mulutnya, dan mengemut agar bumbu pedasnya hilang. Saat dilihatnya Zahra menundukkan kepalanya. Dengan cepat, Fatih menarik tengkuk Mentari dan memasukan udang lewat mulutnya ke mulut Mentari. Mentari yang sempat terkejut, akhirnya tersenyum senang. Dia akhirnya, bisa makan udang itu. Senyum Mentari langsung merekah, saat Fatih mengedipkan matanya.
Mentari pun mengacungkan telunjuknya, minta satu lagi. Namun, Fatih menolak permintaan istri kedua itu, dengan menggelengkan kepalanya.
"Cukup satu," kata Fatih tanpa suara hanya gerak bibir saja.
Ketika Zahra mengambil air, Fatih pun melakukan hal yang sama seperti tadi, sekali lagi.
"Sudah, tidak akan aku kasih lagi," kata Fatih sambil mengusap bibir Mentari yang tertempel bumbu. Mentari pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Zahra karena merasa ada yang aneh dengan Mentari dan Fatih.
"Tidak ada apa-apa," jawab Fatih sambil tersenyum simpul.
******
__ADS_1
Sudah satu bulan semenjak kepulangan Zahra ke rumah. Hari ini dia pun harus melakukan cek up rutin ke rumah sakit. Kalau sebelumnya, dokter 'lah yang ke rumah. Untuk mengecek kondisi Zahra, selama tinggal di rumah.
"Bagus, untuk pengobatan tahap selanjutnya, mudah-mudahan lancar, ya!" kata dokter dengan antusias saat melihat perkembangan kesehatan Zahra.
Zahra ke rumah sakit, diantar oleh Fatih dan Mirna. Kedua orang itu pun sangat senang mendengar hasil pemeriksaannya.
"Dokter, bila Zahra melakukan perjalanan ke luar kota, tidak apa-apa 'kan?" tanya Mirna.
"Asal jangan jauh-jauh aja dulu, Bu," jawab dokter.
"Apa maksud, Ummi, menanyakan hal itu?" tanya Zahra, tidak mengerti.
\_Mirna tersenyum ke arah Zahra, dan menepuk tangan anaknya itu. Dia tidak akan lupa perkataan Fatih, yang akan mengajak honeymoon, bila Zahra sudah sembuh.
******
Hai, teman-teman ada yang masih setia menunggu up dari aku nggak?
Ini si Mirna maunya apa sih, bikin rusuh prahara rumah tangga orang saja?
Tunggu kelanjutannya ya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
__ADS_1
TERIMA KASIH.