
Fatih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena ingin cepat sampai ke rumah, dan melihat Mentari. Untuk memastikan bahwa, istrinya itu masih ada di rumah orang tuanya.
Begitu sampai ke rumah, Fatih langsung berlari ke dalam rumah Khalid. Untuk mencari keberadaan istri mudanya itu. Sampai-sampai dia lupa sama istri tuanya yang ikut berlari, karena melihat suaminya yang berwajah pucat. Fatih langsung berlari setelah membukakan pintu mobilnya untuk Zahra. Biasanya dia akan menggandeng tangan istrinya, begitu turun dari mobil.
"Assalamu'alaikum, Mentari … Mama …!" panggil Fatih begitu masuk ke dalam rumah.
Mendengar salam dari Fatih yang begitu kencang, lain dari biasanya. Membuat Mentari dan Aurora terkejut dan saling berpandangan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mentari dan Aurora bersamaan yang sedang berada di ruang keluarga, karena lagi nonton berita.
Mendengar suara istrinya dari arah ruang keluarga, Fatih langsung berlari ke sana. Dilihatnya wanita yang mengenakan gamis berwarna hijau mint dengan perut yang sudah jelas terlihat kalau dia sedang berbadan dua. Sedang duduk di sofa, sambil makan rujak buatannya sendiri.
Mentari bangun dari duduknya, dan tersenyum menyambut kepulangan suaminya. Karena dia mengira suaminya akan pulang terlambat, apalagi akan menjemput Zahra di rumah adik iparnya.
"Mas sudah--" Mentari tidak bisa menyelesaikan ucapannya, karena Fatih langsung memeluknya erat, begitu dia berlari arahnya.
"Alhamdulillah, kamu masih ada di sini," kata Fatih dengan suaranya yang pelan. Diciumnya semua wajah istrinya itu, untuk mengungkapkan rasa senangnya.
"Mas … ada apa?" tanya Mentari tidak mengerti, karena tiba-tiba suaminya melakukan hal itu.
"Iya, Mas. Ada apa sich? Tiba-tiba berwajah pucat, kayak habis melihat hantu!" Zahra yang sudah masuk ke ruang keluarga, penasaran ingin tahu penyebab suaminya berkelakuan seperti itu.
Aurora melihat ke arah anaknya, dengan isyarat mata, dia bertanya kepada Fatih, apa yang sudah terjadi. Fatih membalas tatapan mamanya itu, seolah menjawab nanti akan menceritakan semuanya.
"Mas, hanya ingin memastikan kalau kalian berdua baik-baik saja," jawab Fatih sambil memeluk kedua istrinya ke dalam pelukan hangatnya.
Mentari dan Zahra saling berpandangan dalam pelukan suaminya. Mereka tahu Fatih sedang menyembunyikan sesuatu yang ditakutinya dari mereka berdua.
"Ada apa?" tanya Mentari tanpa suara.
"Nggak tahu," jawab Zahra tanpa suara juga.
__ADS_1
Fatih pun menguraikan pelukan kepada istri-istrinya itu. Dilihatnya satu persatu wajah istrinya. Kemudian dikecup kening mereka dengan rasa sayang.
"Ingat kalian berdua adalah istri aku, Al Fatih Green Hakim! Jangan lupakan itu, selamanya kalian berdua adalah istriku." Fatih melihat kedua istrinya menganggukan kepala mereka.
Fatih pun masuk ke kamar bersama Mentari. Di dalam kamar, dia terus memeluk dan mencium istrinya. Seolah meyakinkan kalau istrinya itu masih ada bersamanya. Mentari masih bingung dengan sikap Fatih. Dia tahu suaminya menyembunyikan sesuatu darinya. Namun dia akan menunggu sampai waktu yang tepat untuk bertanya, atau biar Fatih sendiri yang bercerita duluan.
"Mandi bareng, yuk!" ajak Fatih kepada Mentari sambil tersenyum jahil. Mentari malah tersenyum malu-malu, dengan mukanya yang sudah merah merona. Membuat Fatih makin gemas kepada istri mudanya itu.
Fatih yakin kalau yang dilihatnya tadi, adalah Kakek Willi. Ada kemungkinan William yang sudah mengirimkan foto-foto Mentari dan Arman, agar membuatnya bertengkar dengan Mentari. Karena William tidak mengenal Arman, jadi dia menyangka kalau Mentari dekat dengan laki-laki lain.
Fatih juga yakin kalau kakek Willi, yang sudah menyabotase sistem keamanan rumahnya. Sehingga ada penyusup yang bisa masuk ke dalam rumahnya. Karena hanya orang-orang yang ahli dan kemampuan hacker yang hebat. Baru bisa membobol sistem yang berhasil dibuat oleh Alex.
******
Malam itu, Fatih minta izin kepada Zahra untuk tidur dengan Mentari. Awalnya Zahra nggak mengizinkan setelah dijelaskan, maka dia pun membolehkannya.
"Apa Mas yakin, kalau itu adalah kakek Willi," tanya Zahra yang mulai merasa khawatir.
"Sayang, apa ada jadwal minum obat yang kamu lupa meminumnya?" tanya Fatih sambil melihat ke arah iris mata Zahra.
Zahra terkejut saat mendengar pertanyaan barusan dari suaminya itu. Zahra sudah dua kali melewatkan jadwal minum obatnya. Malam kemarin, dan kemarin siang. Karena merasa bersalah, maka Zahra pun terdiam dan menundukkan kepalanya.
Fatih hanya menarik napas dan menghembuskan melalui mulutnya. Fatih kemarin tidak memberikan izin untuk menginap. Karena Zahra itu sudah biasa kalau minum obat selalu Fatih dan Mentari yang nyiapin dan mengingatkannya. Kadang waktu makan siang, bila tidak bisa pulang ke rumah, Fatih akan meneleponnya hanya untuk mengingatkan minum obatnya.
Kemudian dipeluknya tubuh Zahra, "nggak apa-apa … jangan bersedih begitu. Kedepannya lagi jangan sampai lupa, ya!" Fatih mencium pucuk kepala mencoba menenangkan Zahra yang sudah mulai berkaca-kaca matanya.
"Maafkan aku, Mas." Zahra membalas pelukan suaminya dengan begitu erat.
Akhirnya Fatih menunggu dulu Zahra sampai tidur. Setelah itu, dia baru ke kamar Mentari, dan tidur di sana.
Betapa terkejut dan takutnya Fatih saat masuk ke dalam kamar, tidak ditemukannya Mentari di sana. Di kamar mandi pun tidak ada. Hati dan pikiran Fatih mulai kacau. Mau menghubungi lewat telepon, handphone Mentari ada di atas nakas.
__ADS_1
Kemudian dicarinya Mentari keluar kamar. Saat Fatih berlari melewati ruang makan, tercium wangi masakan dari arah dapur. Maka Fatih pun masuk ke dapur, dan dilihatnya sang istri sedang memasak sesuatu di sana. Dia pun tersenyum dan merasa lega.
Fatih pun memeluk tubuh Mentari dari belakang. Perbuatannya itu membuat Mentari terkejut. Namun Mentari membiarkan suaminya memeluk tubuhnya dari belang, karena dia juga suka diperlakukan seperti itu.
"Mas, kenapa belum tidur?" Mentari sambil membalikan telur dadarnya.
"Aku mau tidur, tapi istriku tidak ada di kamar. Jadi aku mencarinya … ternyata malah asik memasak di dapur," kata Fatih sambil menopangkan dagunya di atas bahu Mentari.
"Hehe … aku lapar, Mas." Mentari tertawa menahan malu karena sudah lapar lagi. Padahal tadi dia sudah makan malam, banyak lagi porsinya.
"Hm, katanya ibu hamil itu makannya suka banyak? Karena nutrisinya dibagi sama bayi dalam kandungannya. Apalagi istri tercintaku ini lagi hamil anak kembar. Jadi makannya harus tiga kali lipat dari biasanya," kata Fatih sambil mengelus perut Mentari, dan merasakan pergerakan dari bayi di dalam perut istrinya.
"Mentari, mereka bergerak!" kata Fatih senang, terharu, dan takjub secara bersamaan.
"Iya, usia kandungannya sudah empat bulan," balas Mentari sambil ikut mengelus perutnya.
"Terima kasih, cintaku. Sudah membuat hidupku semakin terasa sempurna. Dengan kehadiranmu dan mereka berdua." Fatih pun mematikan kompornya. Kemudian mencium Mentari dengan sangat lembut tapi menuntut. Membuat Mentari terbuai, akan perlakuan suaminya itu. Sehingga dia mengalungkan kedua tangannya.
******
Tanpa mereka sadari kalau sejak tadi ada orang yang mengawasi mereka berdua lewat monitor.
******
MUDAH-MUDAHAN MULAI HARI INI SAMPAI AKHIR BULAN, BISA CRAZY UP.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.