Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (74)


__ADS_3

     Mentari sedang berjuang melahirkan anaknya. Rasa mulas ingin mengeluarkan si buah hati butuh perjuangan yang sangat besar. Meski Mentari sudah berusaha dengan melakukan dorongan yang kuat si bayi belum juga mau keluar.


"Sayang, ayo kamu pasti bisa!" Fatih memberi dukungan.


"Mas, ini anak kita–kenapa belum–mau keluar–juga!" Mentari bicara diselingi dengan teriakan.


"Anak Ayah yang sholehah, ayo keluar ya! Nanti kita jalan-jalan bersama," kata Fatih bicara bada putrinya yang masih berada dalam perut Mentari.


     Bayi dalam perut Mentari memberikan respon. Dia sudah mau mulai ke luar, tetapi masih belum bisa keluar juga.


"Ayo, Bunda rambut si Nona Cantik sudah terlihat.


"Mas!" Mentari mermat tangan Fatih dengan sangat kuat.


"Iya, Sayang. Kamu pasti bisa," Fatih masih menyemangati Mentari.


"Putri Ayah yang cantik, yang pinter. Yuk keluar dari perut Bunda, nanti kita makan makanan yang enak." Fatih mengelus perut Mentari agar putrinya mau keluar.


     Mentari merasakan kalau putri mereka bergerak dalam perutnya dengan aktif. Namun, belum juga bisa keluar. 


"Nyonya dorong lagi yang lebih kuat!" Dokter kandungan meminta Mentari untuk mengeluarkan tenaga lagi.


     Mentari merasa kesulitan dalam melahirkan kali ini. Berbeda dengan saat melahirkan si kembar. Semakin dia mendorong bayinya untuk keluar, semakin kuat cengkraman tangan Mentari kepada Fatih.


     Mentari yang berteriak antara menahan sakit dan memberikan dorongan pada bayinya. Membuat Fatih merasa kasihan, dia melihat perjuangan istrinya untuk melahirkan buah hati mereka. Bukan hanya Mentari saja yang sakit, Fatih juga merasa kesakitan melihat belahan jiwanya mengerang dan mengeluarkan air mata, tangannya lecet-lecet dan ada yang berdarah karena cengkraman istri tercinta.


"Putri Ayah, yang cantik, yang pinter, yang sholeha, ayo keluar dari perut Bunda!" Fatih mengelus-elus perut Mentari dan pergerakan si bayi semakin aktif. Mentari malahan merasa semakin linu.


"Ya Allah, mudahkanlah istriku saat melahirkan," gumam Fatih berdoa.


     Fatih merapalkan beberapa ayat suci dan meniupkan ke ubun-ubun Mentari. Setelah itu si bayi keluar dengan tangisan yang sangat nyaring.


"Alhamdulillah, akhirnya keluar juga." Fatih mencium kening Mentari, "terima kasih, Sayang."


     Mentari memejamkan matanya dengan napas yang memburu. Dia sangat senang karena putrinya bisa keluar dengan selamat. Drama mengeluarkan si kecil pun berakhir dengan happy ending. Mentari pun langsung memberikan ASI untuk putrinya yang ternyata memiliki ukuran berat badan normal. Beda dengan si kembar dahulu.


     Fatih meneteskan air mata, saat melihat istri dan bayi mereka. Dia merasa bahagia kedua orang yang dicintainya bisa selamat.

__ADS_1


"Terima kasih, my lovely." Fatih mencium Mentari dan mendapatkan balasan. Mereka lupa kalau di sana ada orang lain.


"Mas, aku ngantuk ingin tidur," kata Mentari begitu selesai menyusui anaknya.


     Mendengar itu Fatih meminta dokter untuk menyelesaikan semuanya dan memindahkan Mentari ke ruang rawat. Fatih terkejut saat melihat dokter kandungan memegang jarum dan benang.


"Tunggu Dokter! Apa yang akan Anda lakukan?" tanya Fatih dengan panik dia takut telah terjadi sesuatu kepada Mentari, sampai-sampai dokter harus menjahitkan benang yang sedang dipegangnya.


"Untuk menjahit," jawab dokter dan malah membuat Fatih mengerutkan keningnya.


     Melihat Fatih berekspresi seperti itu, dokter pun menjelaskan semuanya. Saat dokter bicara Fatih merinding membayangkan hal itu. Dia jadi takut kalau nanti akan terjadi pada Mentari.


     Mentari yang sudah ingin tidur, malah harus mendengarkan tanya jawab antara Fatih dan dokter kandungan itu. Dia menjadi kesal karena merasa dirinya diabaikan.


"Mas, sudah sini peluk aku saja. Biarkan dokter bekerja agar semuanya cepat selesai."


     Mendengar permintaan Mentari Fatih pun menurut. Dia jadi ragu meminta anak lagi nantinya kalau harus melihat Mentari kesakitan terus. Untuk mengeluarkan bayi saja melihat kesakitan seperti itu membuatnya ikut sakit. Apalagi ditambah harus dijahit area pribadinya, membuat Fatih tidak tega, walau dokter sudah bilang untuk membuatnya cantik seperti semula.


******


"Rania, kemana ya?" Mentari masuk ke kamar dan putrinya tidak ada di dalam box bayi.


     Mentari mencari Fatih dan anak-anaknya ke halaman belakang. Ternyata Rania sedang diasuh oleh Bintang dan Ghazali bersama si kembar.


"Lagi-lagi Bintang yang bawa Rania," kata Mentari bermonolog.


"Tante Mentari, sini!" Panggil Bintang yang sedang memangku Rania, sedangkan si kembar bersama Ghazali.


     Meski kini status Bintang itu istri Ghazali, tetap saja memanggil Mentari dengan sebutan Tante dan kepada Fatih, masih memanggil Om. Walau begitu tidak ada yang mempermasalahkannya.


"Tante mau menyusui Rania, dulu. Kasihan dia nanti kehausan." Mentari mengambil Rania dari gendongan Bintang.


"Iya, cepat susui. Aku mau bawa Rania ke rumah Mama–Aurora."


     Bintang selalu membawa Rania ke mana pun dia pergi. Rasa sakit karena telah kehilangan calon bayinya, terobati dengan kehadiran Rania. Baik Fatih atau Mentari tidak keberatan saat Bintang selalu membawa anaknya untuk diajak main. Baik itu di rumahnya, di kediaman Khalid, atau di Mansion Hakim.


******

__ADS_1


Lima bulan kemudian...


     Usia Rania kini delapan bulan, dia sudah bisa merangkak dan bicara sepotong-sepotong. Bintang sering membawa Rania bersamanya mau itu ke rumahnya atau ke kantornya. Hal itu sering membuat Mentari panik dan kesal.


"Rania! Rania! Kamu di mana, Sayang?" Mentari yang baru meninggalkan ke dapur untuk membuat bubur bayi, saat kembali putrinya tidak ada.


"Ini pasti perbuatan Bintang," gumam Mentari.


     Mentari pun menelpon keponakannya itu, karena sudah biasa kalau Rania menghilang, pasti di bawa oleh Mentari. Bintang selalu bawa Rania sampai sore hari. Setelah itu dia akan mengembalikannya. Rania juga selalu saja ingin ikut sama Bintang dan Ghazali. Bahkan memanggil mereka dengan sebutan mommy dan Daddy.


     Kadang itu membuat sedih Mentari, Rania malah selalu ingin ikut Bintang kalau melihatnya. Ghazali juga meminta Mentari dan Fatih untuk membiarkan Bintang mengasuh Rania, untuk membantu proses penyembuhan psikis istrinya.


"Mas, ayo kita buat bayi lagi!" ajak Mentari kepada Fatih.


     Fatih yang masih agak trauma melihat Mentari saat melahirkan, dia menolaknya. Dia tidak mau melihat Mentari seperti itu lagi, antara hidup dan mati.


     Sudah dua bulan ini Mentari merengek ingin punya anak lagi. Meski Rania masih menyusu padanya, Mentari merasa ada yang hilang kalau Rania tidak ada bersamanya.


      Saat Mentari bekerja, Rania selalu dibawa oleh Bintang dan akan dijemput saat sore hari. Rania pun merasa sangat senang punya ibu dua orang. Dengan begitu dia tidak kehilangan perhatian satu detik pun.


"Mas, pokoknya aku mau hamil lagi saat usia Rania satu tahun. Titik!" Ancam Mentari kepada Fatih yang sedang duduk memangku laptopnya.


"Nggak Sayang," jawab Fatih kukuh nggak mau membuat Mentari hamil lagi.


"Ya, udah kalau begitu, Mas tidurnya di kamar terpisah, ya!" Ancam Mentari dan pergi dari sana, meninggalkan Fatih.


"Nggak bisa gitu, Sayang! Aku nggak akan bisa tidur kalau nggak memeluk kamu." Fatih pun berjalan mengikuti langkah Mentari.


******


Akankah Fatih menuruti keinginan Mentari untuk punya anak lagi?


Tunggu kelanjutannya ya.


Baca juga cerpen karya aku, mengandung bin cabe level 3. Kalau kalian mau buat versi novelnya komen, ya. Siapa tahu nanti aku akan buat bon cabe level 10. kasih lope juga.


__ADS_1


__ADS_2