Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN ZAHRA (30)


__ADS_3

     Zahra hari ini dan Fatih melakukan cek up, untuk pengobatan penyakit Leukemia. Dokter yang menanganinya, ternyata begitu menyenangkan orangnya. Sehingga membuat Zahra nyaman.


"Apa nanti saya harus di kemo, Dok?" Zahra dalam hatinya merasa ketar-ketir, kalau harus melakukan itu.


"Iya, tapi kita lihat kondisi Nyonya dulu. Kita akan cek kembali dua Minggu lagi. Mudah-mudahan, hasilnya lebih bagus dari sekarang." Dokter Silvana tersenyum dan menutup hasil laporan kesehatan milik Zahra.


"Kalau begitu terima kasih, Dok!" Zahra dan Fatih pamit dan meninggalkan ruangan Dokter Silvana.


     Zahra terdiam, wajahnya sendu. Terlihat jelas guratan kesedihan di wajahnya. Fatih selalu merasa cemas, kalau Zahra menjadi down lagi.


"Sayang, kita jalan-jalan yuk!" ajak Fatih sambil tersenyum lembut kepadanya.


"Kemana?" tanya Zahra dengan tersenyum senang.


"Kemana, kamu maunya saja. Akan aku temani," balas Fatih sambil menggenggam tangannya.


     Zahra senang, saat berdua dengan suaminya itu. Seolah sudah melupakan hasil kesehatannya tadi.


"Aku ingin pergi ke taman bermain seharian ini. Hanya berdua saja denganmu, Mas. Tidak mau diganggu dengan hal-hal yang lainnya. Terutama pekerjaan kantor!" pinta Zahra, dan Fatih menganggukan kepalanya. 


    Jadinya seharian itu Zahra dan Fatih menghabiskan waktu di taman bermain. Alasan Zahra melakukan ini, karena dia dulu iri sama Mentari dan William yang sering pergi berkencan tiap akhir pekan. Mereka mengabadikannya dalam foto dan video. Zahra juga penasaran, kencan di taman bermain, itu seperti apa?


     Zahra di sana naik komedi putar, bianglala, dan masuk ke rumah es. Dia dan Fatih menikmati waktu liburannya berdua saja, makan siang sampai makan malam mereka melakukannya di luar rumah.


      Fatih sempat memberitahu Mentari tentang hasil tes kesehatan Zahra, dan dia sedang ingin menghiburnya seharian ini. Mentari tidak mempermasalahkannya. Justru dia mendukung apa yang dilakukan oleh suaminya itu. 


     Zahra ternyata belum puas menghabiskan waktunya dengan Fatih. Dia masih ingin pergi menonton bioskop yang tidak pernah dilakukannya. Karena di rumah juga ada mini bioskop yang sengaja dibuat oleh Fatih. Fatih pun menyanggupinya. Akhirnya mereka pulang tengah malam.


     Fatih masuk ke kamar Mentari, untuk melihat keadaannya. Ternyata Mentari sedang membaca buku.


"Kenapa belum tidur?" tanya Fatih begitu masuk kamar Mentari.


"Belum ngantuk, karena tadi aku sudah ketiduran selepas magrib. Jadi nggak ngantuk lagi," jawab Mentari sambil tersenyum.

__ADS_1


     Fatih yang merindukan istri keduanya itu langsung menyimpan buku yang ada di tangannya. Kemudian dia membaringkan dan memeluknya. Di ciumnya kening Mentari beberapa kali.


"Aku merindukanmu!" bisik Fatih dengan mesra di telinga Mentari.


"Hm … aku juga merindukanmu, Mas!" balas Mentari.


     Setelah puas menyalurkan rasa rindunya, Fatih baru melepaskan Mentari. Ditatapnya mata berbulu lentik dan lebat itu. Mata yang selalu membuatnya selalu ingin melihatnya, karena kecantikannya. Di usapnya mata Mentari.


"Kenapa, kamu begitu cantik?" Fatih menelusuri wajah Mentari.


     Pertanyaan Fatih malah membuat Mentari terasa terbang ke awang-awang. Senyumnya langsung terpatri si wajahnya. Mendapat pujian dari Fatih sering membuat Mentari berdegup kencang jantungnya.


"Hm … kenapa, ya? Mungkin karena Allah yang menciptakannya demikian, agar Al Fatih Green Hakim, menyukaiku. Hehehe …," kata Mentari sambil tersenyum jahil.


    Mendengar kata-kata Mentari barusan membuat Fatih gemas. Diserangnya wajah Mentari dengan ciumannya. Itu malah membuat Mentari tertawa senang.


"Mas, sebaiknya. Malam ini juga tidur lagi sama Zahra. Perlihatkan perhatian Mas kepadanya, sebagai seorang suami. Karena saat ini Zahra yang lebih membutuhkan dirimu!" pinta Mentari sambil menelusuri wajah suaminya, menggunakan dua jarinya.


"Nggak apa-apa, nih?!" tanya Fatih dengan menaikan sebelah alisnya.


"Kamu … mengusir Mas?"


"Eh … enggak! Aku salah ngomong, ya?!" Mentari malah tertawa terkekeh.


"Mas, akan temani Zahra tidur. Tapi setelah Mas, melihatmu tidur dulu."


     Fatih mendekap Mentari sambil mengelus perutnya. Mentari pun cepat-cepat memejamkan matanya. Fatih pun pergi ke kamar Zahra, setelah memastikan Mentari tidur.


    Fatih merapikan selimut milik Zahra, kemudian memeluknya dari belakang. Zahra yang tidurnya terusik, akhirnya membuka matanya. Saat di lihat, ada suaminya. Dia begitu senang, dan membalikkan posisi tidurnya, jadi berpelukan.


******


     Pagi harinya, Fatih pergi bekerja dengan semangat empat lima. Setelah tadi pagi mendapatkan jatahnya dari Mentari. Senyuman terus tercetak diwajah tampannya. Berkas yang menumpuk karena kemarin bermain seharian dengan Zahra. Dia kerjakan dengan senang hati, dan dapat diselesaikan begitu dengan cepat.

__ADS_1


    Saat menjelang makan siang, ada paket untuk Fatih. Dibukanya paket itu. Fatih mengambil isi paket yang isinya foto Mentari dengan Arman. Rahang Fatih langsung mengeras. Matanya juga memerah, menandakan kalau saat ini dia benar-benar sangat marah sampai level tinggi.


     Dengan mengendarai mobilnya, dengan kecepatan tinggi. Fatih mendatangi kantor Mentari. Namun saat itu Mentari sedang pergi keluar untuk bertemu dengan kliennya.


     Fatih pun melajukan lagi mobilnya, setelah mendapatkan tempat pertemuan Mentari bersama kliennya. Dia menuju restoran Nusantara milik Andromeda, adik iparnya.


    Fatih mencari keberadaan Mentari di sana. Saat dilihatnya, sang istri sedang tertawa riang dengan seorang laki-laki. Maka dia pun menghampiri meja Mentari.


"Oh, jadi begini kelakuan kamu, di belakangku!" kata Fatih saat melihat Mentari makan siang dengan Arman.


"Aku tidak menyangka!" Fatih tersenyum meremehkan kepada keduanya.


    Mentari dan Arman, terkejut saat melihat Fatih ada di depannya. Mentari melihat garis kemarahan di wajah suaminya itu. Mentari merasa tidak melakukan kesalahan, apa-apa.


"Apa maksudnya, Mas?" tanya Mentari sambil memandang Fatih.


"Kamu, ternyata selalu diam-diam menemui dia di belakangku!" Tunjuk Fatih kepada Arman.


    Mentari menarik napasnya, dan menghembuskannya melalui mulutnya secara perlahan. Kemudian dilihatnya orang-orang melihat ke arah mereka.


"Sepertinya Mas, salah paham. Aku bertemu dengan Arman kebetulan saja, tadi--" ucapan Mentari di potong oleh Fatih.


"Tidak perlu banyak berdalih! Aku punya bukti. Bukan hari ini saja, kamu menemuinya 'kan!" Fatih menatap tajam ke arah Mentari, ada rasa benci dari pancaran matanya.


     Melihat Fatih memandangnya seperti itu membuat hati Mentari terluka. Tatapan matanya yang seolah-olah sedang merendahkan dirinya. Mata Mentari bergetar mulai berkaca-kaca, tak lama air matanya langsung terjatuh saat itu juga. Bibirnya bergetar tanpa mampu berbicara.


"Sepertinya anda sudah salah paham, tuan. Hari ini saya ada pertemuan di sini dengan guru-guru yang akan membimbing murid-murid yang akan ikut perlombaan Olimpiade tingkat provinsi. Kebetulan aku sudah selesai, dan melihat Mentari juga baru selesai bertemu dengan kliennya. Kami baru saja saling menyapa, begitu anda datang," jelas Arman, karena merasa kasihan dengan Mentari yang sudah dituduh selingkuh oleh suaminya.


Fatih tidak mengindahkan ucapan Arman. Dia hanya memandang ke arah Mentari dengan tatapannya yang tajam.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2