Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (44)


__ADS_3

     Mentari didorong oleh Zahra sampai ke depan pintu ruang kerja. Gugup dan jantung berdebar dengan kencang, saat ini yang Mentari rasakan.


"Bismillah, Ya Allah mudah-mudahan lancar," kata Mentari.


"Aku yakin kamu bisa membuat Mas Fatih, kembali bahagia lagi. Jangan ragu lancarkan serangan rayuan kamu!" Zahra mengkompori semangat untuk Mentari.


"Aduh, kok perasaanku menjadi nggak enak begini," ucap Mentari sambil menatap Zahra.


"Kamu itu terlalu banyak pikiran. Sudah sekarang fokus dulu sama Mas Fatih," balas Zahra.


     Zahra pun pergi meninggalkan Mentari yang masih memegang handle pintu. Dalam hati Mentari terus berdoa semoga suaminya bisa memaafkan dirinya.


"Bismillah," Mentari memulai misinya untuk mengembalikan Fatih agar menjadi suami yang penuh senyuman.


     Dengan perlahan Mentari memutar handle pintu ruang kerja. Kepalanya muncul sedikit ingin melihat suaminya sedang melakukan, apa?


     Mentari mengedarkan penglihatannya, tetapi sosok yang dicarinya tidak ada. Akhirnya, Mentari pun memutuskan masuk ke dalam ruangan itu.


"Mas ...!" panggil Mentari dengan pelan.


     Langkahnya mulai mendekati meja kerja Fatih. Pandangannya masih mencari di seluruh ruangan di sana.


"Mas Fatih ...!" panggil Mentari lagi.


"Mas, kamu dimana?" tanya Mentari dengan suara lebih tinggi.


     Kaki Mentari menyandung sesuatu sampai hampir jatuh. Untungnya, dia berpegangan pada meja kerja. Jadi, tidak jatuh, hanya rasa terkejut saja yang dirasakan oleh Mentari.


     Mentari melihat ke arah bawah. Ingin tahu yang membuatnya hampir terjatuh karena tersandung.

__ADS_1


"Mas!" panggil Mentari dengan berteriak, begitu melihat Fatih sedang tergeletak tidak sadarkan diri.


     Mentari mencoba menyadarkan Fatih. Dia memegang badan dan menggoyangkannya. Terasa sangat panas badan Fatih. "Mas, bangun!"


     Disentuhnya kening, pipi dan leher Fatih. Semuanya terasa sangat panas dirasakan oleh Mentari. "Mas Fatih, demam," kata Mentari bermonolog.


     Mentari meraih telepon yang ada di meja kerja. Kemudian, dia menghubungi keluarga Khalid dan memberi tahu kondisi Fatih saat ini.


"Mas, bangun! Maafkan aku, yang sudah membuat kamu seperti ini!" Mentari tanpa sadar sudah menangis melihat kondisi Fatih yang sedang sakit.


******


"Tuan Fatih mengalami kelelahan yang terlalu berlebihan dan terlalu banyak pikiran. Biarkan dia istirahat selama tiga hari ini. Jangan biarkan dia mengerjakan sesuatu." Dokter keluarga juga langsung dipanggil oleh Mentari.


     Khalid, Aurora dan Zahra menatap Fatih yang kini terbaring lemah dengan selang infus yang terpasang di tangan kanannya. Khalid dan Airora langsung datang ke rumah putra mereka begitu mendengar kabar Fatih tidak sadarkan diri. Suatu kejadian langka kalau Fatih sampai tidak sadarkan diri. Fatih tipe orang yang pandai menilai kondisi tubuh miliknya.


    Mentari hanya duduk di sisi Fatih, sambil menggenggam tangan Fatih. Air mata juga tidak mau berhenti terus membasahi pipinya yang chubby. Dia masih menyalahkan dirinya karena keadaan suaminya seperti itu gara-gara dia.


"Mas, bangun! Kalau kamu kesal dan marah sama aku. Kamu boleh maki aku balik dan marahin aku," ucap Mentari sambil mengelus wajah Fatih yang baru dia sadari menjadi tirus dan tangannya juga agak mengurus tidak sekekar biasanya. Satu Minggu ini memang, Mentari tidak memperhatikan keadaan Fatih. Hanya saat makan saja mereka bertemu.


     Khalid dan Aurora pun keluar dari kamar Mentari. Ingin membiarkan Mentari, leluasa untuk bersama Fatih. Zahra pun hanya bisa menepuk dan mengusap punggung Mentari yang tidak mau berhenti menyalahkan dirinya karena kondisi suaminya sampai sakit demam tinggi.


"Sudah, jangan seperti ini. Ini semua sudah takdir," kata Zahra mencoba menenangkan Mentari.


"Seandainya saja aku tidak berbuat bodoh dan mengatakan hal itu. Mungkin tidak akan membuat Mas Fatih seperti ini." Mentari masih saja menciumi tangan Fatih yang terasa panas.


"Mungkin bukan itu yang membuat Mas Fatih, sakit. Bukannya dokter bilang Mas sakit karena kelelahan," balas Zahra tanpa sadar itu malah membuat Mentari semakin merasa bersalah lagi.


"Aku sudah menjadi istri yang lalai dalam mengurus suami, dan tidak memperhatikan keadaannya. Aku istri macam apa? Tidak tahu keadaan suaminya karena marah, malah membuat semuanya semakin kacau dan membuat dia semakin menderita." Mentari memukul-mukul dadanya dan tangisannya semakin histeris.

__ADS_1


"Lalu sebutan apa yang pantas untuk aku?Istri macam apa aku ini? Aku tidak pernah bisa memberikan kepuasan batin Mas Fatih. Aku hanya bisa membuatnya kesusahan dan kelelahan karena mengurus aku yang sakit-sakitan ini!" Zahra merasa kalau dirinya juga istri yang lebih parah dari Mentari.


"Maafkan aku. Aku ... tidak bermaksud ... begitu. Maaf kalau ucapan aku telah melukai hati kamu. Aku hanya merutuki diriku saja." Mentari memeluk tubuh Zahra dan menangis bersama.


"Kamu, jangan suka menyalahkan dirimu sendiri karena keadaan yang berada di sekitarmu. Mana Mentari yang aku kenal selalu berpikir positif dan optimis dengan apa pun yang dilakukan. Kemana Mentari yang selalu penuh semangat dan ceria, yang selalu membawa kebahagian dan keceriaan di mana pun kamu berada?" Zahara menepuk-nepuk punggung Mentari.


     Mentari yang masih kadang muncul baby blues syndrom, sering membuat moodnya berubah-ubah dan sensitif. Tanpa sadar gejala-gejala itu masih sering muncul.


"Ya kamu benar. Kenapa aku jadi seperti ini? Ini seperti bukan diriku saja!" ucap Mentari sambil menguraikan pelukannya.


"Sepertinya kamu masih mengalami baby blues syndrom," jawab Zahra.


"Hah! Padahal si kembar sudah besar," kata Mentari.


"Besar apanya? mereka itu tengkurap sendiri saja belum bisa," balas Zahra.


\_ Mentari hanya bisa tersenyum dan mengiyakan perkataan Zahra.


"Sudah ah, aku mau menunggui si kembar. Kamu jaga Mas Fatih. Aku yakin, orang yang pertama kali dicarinya begitu sadar nanti, adalah kamu," ucap Zahra lalu pergi meninggalkan Mentari.


******


Kira-kira apa yang akan Fatih lakukan saat dirinya sadar nanti?


Tunggu kelanjutannya ya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS, AGAR SELALU SEMANGAT DALAM BERKARYA.


TERIMA KASIH.


__ADS_2