Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (10)


__ADS_3

     Zahra bisa melihat betapa besarnya cinta Fatih untuk Mentari. Sebab, selama dia menikah dengan Fatih, dia tidak pernah mendengar kata-kata cinta seperti yang dikatakan oleh Fatih untuk Mentari. Perlakuan Fatih kepada Mentari dan kepadanya sungguh berbeda.


Zahra pun, kembali ke kamarnya dengan derai air mata. Dia sangat kecewa kepada suaminya.


   Zahra tengkurap dia atas kasur, menangis tergugu, dia merasa cemburu. Sebab, suaminya memperlakukan dirinya dengan Mentari, begitu berbeda.


"Kenapa Mas, memperlakukan kami dengan beda," gumam Zahra.


"Apa sekarang aku, sudah tidak ada artinya lagi buatmu?"


"Ya Allah, apakah umurku masih panjang? Kalau boleh memilih aku ingin secepatnya mati saja," gumam Zahra yang dulu tidak pernah terlintas dalam hati dan pikirannya.


     Zahra menangis sampai dia ketiduran. Hatinya yang merasa sakit, malah membuat tubuhnya terasa semakin melemah.


******


     Fatih akhirnya memutuskan berangkat ke kantornya setelah makan siang. Sehabis bercinta dengan Mentari, dia bersiap-siap kembali dengan baju barunya dan tentu saja penampilan yang lebih fresh dan senyum kebahagiaan yang selalu terukir di wajah tampannya.


"My sweetie, ayo kita makan siang!" ajak Fatih kepada Mentari yang malah kembali membaringkan tubuhnya setelah sholat Dzuhur.


"Masih capek. Mau tidur saja." Mentari merengek saat Fatih hendak membangunkannya. Respon Fatih malah tersenyum geli, melihat kelakuan Mentari yang memeluk guling dan berguling menjauhi dirinya.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi ingat! Saat bangun tidur nanti, harus makan yang banyak. Biar tenaganya cepat pulih kembali," kata Fatih sambil mencium kepala Mentari, yang wangi shampo.


******


     Fatih pun masuk ke kamar Zahra, dan mengajaknya makan siang bersama. Dia melihat Zahra sedang tidur tengkurap, maka Fatih pun membalikkannya. Dia terkejut saat melihat ada jejak air mata di pipi Zahra. Bulu matanya pun masih basah.


"Zahra habis menangis? Atau mimpi buruk, ya?" gumam Fatih.


"Sayang, bangun! Sudah siang." Fatih membelai kepala Zahra yang tertutup jilbabnya.


"Sayang, sudah sholat Dzuhur?" Kali ini Fatih membelai pipi Zahra. Menghapus sisa-sisa air matanya.


    Zahra pun membuka matanya. Dia melihat Fatih memakai pakaian yang berbeda dengan yang dia pakai tadi pagi. Rambutnya juga terlihat lembab, menunjukan kalau dia baru keramas. Wajahnya tampannya sangat fresh dan semakin enak untuk terus dipandang. Apalagi senyumannya yang selalu bisa menjerat siapa saja yang melihatnya.


"Ayo bangun, Sayang! Sholat Dzuhur, dulu. Lalu kita makan siang bersama," ajak Fatih kepada Zahra.

__ADS_1


"Kenapa Mas di sini! Sana makan berdua saja sama Mentari! Aku mau tidur, capek!" Zahra berkata ketus kepada Fatih.


    Fatih awalnya terperangah mendengar kata-kata Zahra, barusan. Kemudian, dia memahami kalau istrinya itu lagi merajuk.


"Ada apa? Ayo katakan! Bila aku ada salah, biar selanjutnya lagi aku nggak akan melakukan kesalahan itu lagi," kata Fatih.


"Baguslah, kalau Mas, sadar sudah berbuat kesalahan!" Zahra mendudukkan dirinya di atas kasur, berhadapan dengan Fatih.


"Dan sepertinya kesalahan itu akan terus, Mas lakukan sampai kapanpun!" Zahra menekan setiap kata-katanya.


     Fatih mengerutkan keningnya. Memikirkan kesalahan apa yang sudah dia lakukan kepada Zahra. Bahkan kesalahan itu akan dia lakukan terus menerus.


"Sayang, bicara yang benar. Agar aku mengerti. Langsung saja bilang apa kesalahanku?!"


"Apa Mas, tidak pernah merasa kalau sudah membedakan aku dan Mentari!"


"Perlakuan aku yang mana? Membedakan dalam hal apa?" Suara lembut Fatih masih mengalun dengan indah di telinga Zahra.


"Mas, tidak pernah merayuku dengan kata-kata cinta. Seperti yang sering, Mas lakukan kepada Mentari." Zahra menjeda dan menarik napasnya, "Mas juga dulu saat hanya punya aku sebagai istri. Tidak pernah melakukan hubungan suami-istri di pagi atau siang hari. Hanya di malam hari saja, itu juga dalam seminggu satu atau dua kali. Berbeda dengan Mentari, kalian melakukannya tiap hari. Tidak tahu waktu mau itu malam, pagi, siang, atau sore hari."


     Fatih diam mendengarkan Zahra meluapkan isi hati dan apa yang ada dipikirannya. Wanita itu akan merasa puas setelah melampiaskan isi hatinya, mau itu dengan marah-marah atau menangis.


    Zahra menangis tergugu, dihadapan Fatih. Dia sudah mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya.


     Maka Fatih pun memeluk tubuh yang semakin kurus itu. Dicium kepala Zahra, dengan penuh perasaan sayang.


"Maksud kamu kata-kata cinta itu, seperti merayu atau menggombal?" tanya Fatih dengan lembut dan tangannya tidak berhenti membelai kepala Zahra.


"Kalau itu, Mas hanya membalikkan kata-katanya Mentari. Kamu tahu sendiri, kalau Mas tidak bisa merangkai kata-kata rayuan. Kalau mau, Mas akan belajar lagi sama Mentari. Agar nanti bisa Mas pakai, untuk merayumu." Fatih merasakan Zahra memeluk pinggangnya, dengan erat.


"Hm, kalau bercinta. Dulu kita 'kan sama-sama bekerja dari pagi sampai sore. Baru malam hari kita punya banyak waktu buat berduaan. Kamu juga selalu bilang capek, banyak pasien, habis operasi, dan yang konsultasi."


     Zahra pun menyadari kalau dulu, waktu mereka berdua kebanyakan di luar. Berbeda dengan sekarang, mereka bisa bertemu kapan saja. Zahra juga bebas menemui Fatih di kantornya. Hanya di hari Sabtu dan Minggu saja, mereka dulu sering bisa menghabiskan waktu bersama. Itu juga setelah Zahra pindah ke Rumah Sakit Harapan milik keluarga Hakim. Sebelumnya, jadwal dia dan Fatih sering berbenturan. Zahra libur, Fatih kerja, atau sebaliknya. Jarang ada waktu libur di waktu bersamaan, kecuali mengajukan cuti.


    Fatih sendiri juga tidak mengerti. Hanya memikirkan Mentari saja, dia sudah merasa bahagia. Apalagi kalau bertemu, inginnya dia selalu memadu kasih. Padahal sebelum mereka menikah, hanya kejahilan saja yang selalu dia ingin lakukan kepada Mentari. Membuatnya kesal dan mendengar rengekannya malah selalu menjadi penghilang kepenatan dalam kepalanya. Makanya dulu Fatih selalu menyuruh Cantika mengajak Mentari, kalau ada acara di kantornya.


     Fatih orangnya kaku dan pendiam, sering dibuat kesal dan pusing oleh tingkah laku dari Alex, William, Ghazali, dan Mentari. Mereka adalah orang-orang yang sering memberi warna di hidupnya dulu.

__ADS_1


******


     Mentari yang melihat jam tangan milik Fatih masih ada di atas nakas, berniat memberikannya. Saat dia pergi ke meja makan, ternyata suaminya itu tidak ada di sana.


    Maka Mentari pun pergi menuju kamar Zahra, atau dulunya itu milik Fatih. Ternyata pintunya terbuka sebagian. Mentari pun mendengarkan percakapan antara Fatih dan Zahra.


     Hormon ini hamil membuat dia jadi mudah berperasaan. Dia mengasihani Zahra, yang merasa telah diperlakukan tidak adil oleh suaminya.


     Padahal Mentari, mengeluarkan kata-kata rayuan itu, karena iri kepada Zahra, yang sering dipanggil 'Sayang' oleh Fatih. Sedangkan, dia dipanggil namanya saja 'Mentari' tanpa embel-embel panggilan sayang lainnya. Mentari pikir suami-isteri harus punya panggilan sayang, kalau mereka saling mencintai. Seperti dulu, dia mendapatkan banyak panggilan sayang dari William. Jadinya, bila dia kirim pesan sama Fatih, "My love, lagi menahan rindu sama suaminya. Baru saja tidak bertemu beberapa jam, tapi rindunya sudah kagak nahan!". Atau, "My sweetie, lagi menunggu suaminya, yang belum juga pulang-pulang!"


    Mentari hanya memberi kode saja. Namun, itu malah membuat Fatih yang memanggil dia seperti itu. Mentari pernah protes saat Fatih memanggilnya ' My Angel'. Dia tidak mau dipanggil itu, karena mengingatkannya dengan ingatan yang buruk.


     Kalau urusan bercinta, dia tidak tahu. Sebab saat dia menjadi istrinya William. Mereka sering melakukan hal itu. Jadi, saat sekarang menjadi istrinya Fatih pun, dia tidak merasa beda jauh. Dia cuma berpikir kalau laki-laki itu suka melakukan hal begitu.


******


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Bagaimana hubungan Mentari, Fatih, dan Zahra setelah ini?


Tunggu BAB kelanjutannya ya.


******


Aku ucapakan banyak terima kasih sama teman-teman yang sudah aku like dan komen.


Aku senang punya pembaca seperti kalian. Walau pembacaku tidak banyak, tapi kalian orang-orang yang baik. Tidak memberikan komen buruk yang membuat Author down karena komentar jahat dari reader nya, seperti punya temanku. Aku pesan buat kalian, boleh kasih kritikan membangun. Terus kalau menghujat tokoh penjahat juga boleh. Kalian jangan menghujat Author nya ya. Apalagi mengata-ngatai yang nggak-nggak.


Peluk Sayang buat kalian deh!!!


Terima kasih.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2