Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, DAN ZAHRA (35)


__ADS_3

     Fatih menelepon Zahra, sedang ada dimana? Karena dia akan menjemputnya. Namun Mirna melarangnya, karena Zahra akan menginap di rumah adiknya. Zahra pun mengikuti kata ibunya. Itu membuat Fatih khawatir, karena dalam waktu dua Minggu ini kondisi Zahra harus dalam kondisi baik. Agar bisa melanjutkan tahap pengobatannya.


"Sudah, Mas. Kita do'a kan saja supaya Zahra secepatnya kondisi tubuh dia dalam keadaan baik." Mentari mengelus punggung Fatih yang terlihat sangat kesal saat mengakhiri pembicaraan di telponnya barusan.


"Aku kadang tidak mengerti jalan pikiran ibu. Zahra juga dia terlalu penurut sama ibunya. Katanya takut jadi anak durhaka." Fatih memijat keningnya yang terasa sakit.  


     Kemudian diambil alih oleh Mentari. Dipijatnya kepala Fatih dengan perlahan tapi bertenaga. Fatih sangat suka bila istrinya memahami maunya tanpa harus bicara.


"Mas, ada yang mau aku bicarakan," kata Mentari sambil memijat pundak Fatih.


"Apa itu?" tanya Fatih kemudian menarik Mentari agar duduk di pangkuannya, dan memeluk pinggangnya.


"Beberapa hari ini, sepertinya ada yang mengikuti aku," jawab Mentari sambil melihat wajah suaminya.


"Benarkah?!" Fatih sangat terkejut mendengar apa yang dibicarakan oleh Mentari barusan.


"Lalu Mas, dapat foto-foto itu dari mana kalau tidak ada yang mengambilnya secara diam-diam," kata Mentari gemas sambil menjembel kedua pipi suaminya itu.


"Iya, aku juga sedang menyelidiki orang yang sudah mengirimkan paket itu!" Fatih membalas mentari dengan memencet hidungnya.


"Mas, suka banget memencet hidung aku," Mentari merajuk manja kepada Fatih. Itu malah membuat Fatih semakin gemas kepada Mentari.


    Karena malam itu Zahra tidak tidur di rumah. Maka Fatih pun menghabiskan malam itu bersama Mentari. Walau tadi siang sampai sore sudah dapat jatah. Malam hari Fatih memintanya lagi saat melihat baju tidur transparan milik Mentari. Saat Mentari bilang apa nggak bosan, Fatih jawab nggak. Karena saat bersama Mentari gairah dalam tubuhnya selalu jadi meningkat.


"Kalau begitu, aku tinggal di rumah mama Aurora dulu, ya? Sampai bayi-bayi ini lahir!" kata Mentari sambil tersenyum jahil kepada Fatih.


    Mendengar itu Fatih langsung, panik. Bagaimana mungkin dia bisa jauh dari Mentari. "Nggak mau! Mas nggak akan izinkan kamu pergi jauh-jauh," tolak Fatih sambil menyilangkan tangannya membentuk tanda X.


"Kan capek kalau setiap hari lebih dari satu kali," balas Mentari dengan suaranya yang rendah dan menundukan kepalanya karena malu.


    Saat mereka sedang berbicara di kamar. Terdengar ada suara dari arah dapur. Suara benda jatuh ke lantai sampai membuat bunyi yang nyaring. Itu membuat Fatih dan Mentari terkejut.


"Suara apa itu?" tanya Mentari sambil bangun dari rebahannya.


"Kamu tunggu dulu di sini. Biar Mas, saja yang turun ke bawah." Fatih menarik tangan Mentari agar tetap duduk di kasurnya saja.

__ADS_1


     Fatih turun ke bawah dan mencari sumber suara tadi. Ternyata panci kecil yang tadi di pakai masak sop oleh Mentari, jatuh dan isinya tumpah semua ke lantai. Fatih pun berencana membersihkan lantainya terlebih dahulu. Namun itu diurungkan saat mendengar teriakan Mentari.


"Aaaaaakh! Mas …!" teriak Mentari dari lantai atas.


     Fatih yang mendengar suara teriakan dari Mentari, langsung berlari menaiki tangga. Saat masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka. Terlihat Mentari sedang mengacungkan gunting dengan tangan yang penuh darah.


    Ternyata di dalam kamar ada dua orang berpakaian serba hitam dan memakai topeng. Fatih pun langsung menghajar kedua lelaki itu. Tidak sampai dua menit kedua laki-laki itu sudah terkapar tidak sadarkan diri.


    Fatih pun langsung berlari ke arah Mentari. Daster dan jilbabnya banyak darah yang tertempel. Fatih begitu panik, melihat itu.


"Mentari, mana yang terluka?" tanya Fatih sambil memeriksa semua tubuh istrinya.


"Hanya kedua telapak tanganku. Mereka mau menusuk perutku, namun Allah masih melindungi anak-anak kita. Aku bisa menahannya menggunakan tanganku," jawab Mentari dengan menunjukan kedua telapak tangannya yang terluka.


"Astagfirullahaladzim, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Fatih sambil membopong Mentari.


    Fatih pun memberi tahu Khalid, kalau ada dua penyusup masuk ke dalam rumahnya. Mereka berniat menusuk perut Mentari. Kini mereka tak sadarkan diri di dalam kamar Mentari.


    Setelah mendapat perawatan untuk kedua telapak tangannya. Mentari memeriksakan keadaan bayi yang ada di dalam kandungannya. Dia takut terjadi apa-apa kepada anak-anaknya.


     Mentari sudah merasa tenang sekarang, apalagi kini dia sudah tahu jenis kelamin kedua bayinya itu. Gerakan mereka tadi sempat terasa lebih lama dari biasanya. Bayi-bayi itu tidak bisa diam, dan itu membuat Mentari khawatir.


******


     Khalid membawa dua pelaku penyusup di rumah Fatih, ke markas keamanan Keluarga Hakim yang ada di pinggir kota. Ternyata mereka hanya penjahat biasa yang suka mencuri di rumah-rumah kosong.


"Jadi siapa yang menyuruh kalian untuk membunuh menantu dan cucu-cucuku?!" tanya Khalid sambil menatap tajam ke arah mereka berdua.


    Kedua pelaku penyusupan itu, malah ketakutan, saat ditatap seperti itu oleh Khalid. Bahkan salah seorang di antaranya ngompol di celana.


"Seorang wanita paruh baya," jawab salah satunya.


"Siapa namanya?" tanya Khalid sambil berjalan mendekat ke arah mereka.


"Tidak tahu namanya. Hanya saja di sering belanja ke minimarket dekat terminal," jawabnya lagi dengan suara yang bergetar karena takut sama Khalid.

__ADS_1


"Bisa kalau kalian tunjukan orangnya besok?" tanya Khalid dengan tatapan intimidasi kepada keduanya.


"Bisa … bisa!" jawabnya sambil menganggukkan kepalanya dan menangis.


    Kedua penyusup yang di ikat di kursi kayu itu, kini sedang menangis. Antara takut dan senang, karena Khalid telah keluar dari ruangan interogasi itu.


******


    Keesokan harinya, kedua orang itu digiring oleh tim keamanan keluarga Hakim. Ke minimarket dekat terminal, tempat mereka sering bertemu dengan wanita yang menyuruhnya.


    Sudah hampir tengah hari, tapi si target belum juga muncul. Membuat kedua penjahat kelas remahan nasi itu begitu ketakutan. Mereka berdua takut di sangat tukang bohong, dan hukumannya nanti akan lebih berat.


"Sepertinya kalian berdua sudah membohongi kami," kata salah seorang anggota tim keamanan.


"Tidak tuan! Kami jujur, pada kalian. Hanya saja, hari ini sepertinya dia tidak datang ke sini," balas salah seorang di antara mereka.


"Kita periksa cctv saja! Minta ke karyawan minimarket," kata satu temannya lagi memberi saran.


"Ya, sebaiknya kita lakukan itu saja!" teman satunya lagi memberi dukungan atas ide temannya itu.


Para tim anggota keamanan keluarga Hakim saling pandang. Kemudian salah seorang mereka melaporkan hasil pengintaiannya kepada Khalid. Maka Khalid pun menyetujuinya.


******


MAAF BARU BISA UP, KARENA LAGI SAKIT. INI JUGA NULIS DARI PAGI BARU SELESAI SEKARANG. JADI HARAP MAKLUM BILA ADA KESALAHAN. MUNGKIN KEDEPANNYA AKAN ADA REVISI.


TERIMA KASIH UNTUK PENGERTIANNYA.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA MUMPUNG HARI SENIN.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2